Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta
Aku mengenal Junaidi sejak kami masih kecil. Dua tahun lalu, kami sama-sama menginjakkan kaki di Jakarta, berangkat dari desa yang sama—sebuah desa kecil di kaki perbukitan, dengan jalan-jalan tanah dan hamparan sawah yang setiap pagi basah oleh embun. Dari desa itulah aku dan Junaidi, sama-sama lulusan politeknik di kota kelahiran kami, memilih merantau. Junaidi meninggalkan Sekar Ayu Lestari , kekasihnya sejak SMA—gadis yang namanya selalu ia ucapkan lirih, seolah takut patah bila disebut terlalu keras. Aku, Kudin, datang ke Jakarta dengan ransel usang dan kepala penuh rencana sederhana: bekerja, bertahan, lalu pulang jika waktunya tiba. Junaidi berbeda. Ia datang dengan mimpi yang lebih besar—menikah, membangun rumah kecil, dan membebaskan ibunya dari kerja kasar yang tak pernah selesai. Pada awalnya, hidup kami nyaris serupa. Kami menyewa sebuah kamar kontrakan sempit di gang yang tak pernah benar-benar sepi. Bau gorengan, asap knalpot, dan cucian basah bercampur menjadi aro...
