Cerpen - Misteri Bola Hitam dan Bola Putih



Seorang anak laki-laki tunggal kehilangan ibunya saat proses persalinan. Sejak saat itu, ayahnya menjadi sosok yang sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaan dan tidak pernah menikah lagi. Anak itu tumbuh dalam pengasuhan seorang perawat rumah tangga, dengan kepribadian yang lembut, pendiam, dan berhati baik.

Saat taman kanak-kanak, ketika anak-anak lain sudah memiliki sepeda, ia masih berjalan kaki. Sang pengasuh merasa iba dan menyampaikan hal itu kepada ayahnya.

“Tuan, tidakkah Anda kasihan kepada Den Bagus? Masa ia tidak memiliki sepeda? Bukankah Anda mampu?”

Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki banyak perusahaan. Ia pun memanggil anaknya dan bertanya, sepeda merek apa yang diinginkannya.

Namun anak itu menjawab pelan,
“Tidak perlu, Ayah. Cukup belikan aku bola hitam dan bola putih saja.”

Ayahnya bingung.
“Mengapa bola hitam dan bola putih?”

“Tidak perlu dijelaskan, Ayah. Kalau Ayah mampu, belikan itu saja.”

Karena hubungan mereka jarang terjalin dengan percakapan, sang ayah menerima permintaan itu begitu saja. Ia membeli sepeda tercanggih sekaligus bola hitam dan bola putih untuk anaknya.

Memasuki sekolah dasar, tren sepatu roda mulai marak. Anak itu tidak pernah meminta apa pun, hanya duduk diam pada sore hari. Sepedanya dibiarkan di gudang. Pengasuh kembali melapor, dan ayahnya memanggil anak itu.

“Kamu mau sepatu roda seperti teman-temanmu?”

Anak itu menggeleng.
“Tidak, Ayah. Bola hitam dan bola putihku sudah rusak. Tolong belikan lagi saja. Bola lebih murah, bukan?”

Hal itu membuat ayahnya kesal, tetapi tetap membelikannya sepatu roda dan, kembali, bola hitam dan bola putih.

Tahun-tahun berlalu. Di SMP, teman-temannya menggunakan rollerblade. Anak itu tetap setia dengan sepatu rodanya yang lama. Suatu hari ayahnya pulang dari luar negeri dan melihat anaknya tampak ketinggalan zaman. Keesokan harinya, ia mendapati sepasang rollerblade baru di kamar anak itu dengan catatan:
“Agar kamu tidak dianggap ketinggalan zaman.”

Namun malamnya, di meja kerja sang ayah, terdapat catatan balasan:
“Ayah, mengapa tidak membelikan bola hitam dan bola putih? Aku lebih menyukai itu.”

Rasa bingung dan kesal terus bercampur dalam diri sang ayah. Namun akhirnya, ia kembali membeli bola itu, dan anaknya pun kembali diam.

Memasuki SMA, jarak sekolah cukup jauh. Anak itu tetap naik bus sementara teman-temannya sudah membawa sepeda motor dan mobil. Suatu hari ia pulang diantar temannya. Sang ayah merasa malu. Ia pun menawarkan untuk membelikan mobil. Anak itu menolak dan hanya meminta bola hitam dan bola putih.

Akhirnya diputuskan: ia dibelikan sepeda motor, serta—sekali lagi—bola hitam dan bola putih.

Saat kuliah, karena bangga anaknya masuk perguruan tinggi negeri, sang ayah memberikan hadiah sebuah mobil. Namun anak itu tetap menggunakan motor. Pacarnya heran.

“Ayah tidak membelikan bola hitam dan bola putih,” begitu jawabnya.

Saat makan malam bersama, pacarnya memberanikan diri bertanya langsung. Sang ayah makin tersentak—ternyata bukan hanya dirinya yang dibuat bingung oleh bola-bola itu. Meski kamar anaknya telah dipenuhi banyak bola hitam dan bola putih, sang ayah akhirnya tetap membelinya lagi.

Suatu hari, anak itu pergi ke kawasan Puncak seorang diri menggunakan mobil. Malam telah turun, jalanan lengang, dan kabut tipis mulai menyelimuti tikungan pegunungan.

Di tengah perjalanan, konsentrasinya terganggu oleh pikirannya sendiri. Sebuah tikungan tajam datang terlalu cepat.

Terjadi kecelakaan hebat.

Ia tidak mengenakan sabuk pengaman, dan tubuhnya terlempar ke depan dengan benturan keras. Sang anak berada dalam kondisi kritis ketika ditemukan warga dan dilarikan ke rumah sakit.

Ayahnya bergegas ke rumah sakit.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”

Dokter menjawab dengan raut penuh empati,
“Maaf, Pak. Kami tidak bisa berbuat banyak. Sepertinya waktunya sudah hampir tiba. Sebaiknya Bapak memanfaatkan waktu terakhir.”

Sang ayah masuk ke ruang perawatan. Ia menggenggam tangan anaknya.

“Ayah minta maaf… karena terlalu sibuk selama ini…”

Dengan suara lemah, anak itu menjawab,
“Tidak apa-apa, Ayah… aku mengerti… aku hanya kesal karena Ayah sering membelikan barang macam-macam… padahal aku hanya meminta bola hitam dan bola putih…”

Kesempatan itu terasa tepat. Rasa penasaran yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya ia lontarkan.

“Nak… mengapa kamu selalu meminta bola hitam dan bola putih? Ada apa dengan benda itu?”

Anak itu terengah-engah. Nafasnya terputus-putus.

“Karena, Ayah… aku…”

Kalimat itu terhenti. Kepalanya jatuh ke samping. Nafasnya berhenti.

Ia meninggal dunia sebelum sempat menjelaskan.

Dan hingga hari itu, sang ayah tidak pernah tahu.

Apa sebenarnya rahasia di balik bola hitam dan bola putih?


Setelah Pemakaman

Rumah besar itu menjadi senyap.

Sang ayah masuk ke kamar anaknya.

Ia baru menyadari sesuatu yang selama ini luput:

Bola hitam dan bola putih tidak hanya dua.
Bukan sepuluh.
Tapi ratusan.

Disusun rapi seperti altar.

Di meja belajar terdapat sebuah laptop.

Tidak terkunci.

Satu folder terbuka otomatis:

PROJECT_BW_ONLY

Ia mengkliknya.

Video muncul.
Wajah anaknya.

“Kalau Ayah melihat ini… berarti aku sudah tidak ada.”

Rekaman lain:

“Aku tidak minta benda mahal.
Aku hanya ingin dunia sederhana.
Hitam berarti sunyi… putih berarti tenang…”

File lain terbuka:

MEDICAL_LOG.txt

Tercatat laporan yang tak pernah ia lihat:

• Depresi berat sejak usia 7 tahun
• Overstimulasi sensorik
• Disosiasi kronis

Dan akhirnya:

LAST_SIMULATION

Grafik muncul terlebih dahulu.

Kecepatan.
Arah kemudi.
Sudut kemiringan jalan.

Lalu tulisan kecil di pojok layar:

Cloud Sync: Completed

Grafik berubah.

Menjadi video.

Rekaman dashcam mobil.

Timestamp:

03:12 AM – 1 jam sebelum kecelakaan

Ia melihat anaknya.

Seorang diri.

Mengemudi dalam sunyi.

Anaknya menatap kamera dan berbisik:

“Akhirnya… dunia menjadi hitam.”

Rekaman berhenti.

Di dinding kamar, tertempel secarik kertas kecil:

“Ayah ingin aku kuat.
Aku hanya ingin diam.”

Laptop itu ditutup.

Dan sang ayah akhirnya mengerti.

Bola hitam dan bola putih bukan mainan.

Itu adalah bahasa yang tidak pernah ia pahami.

Dan mungkin…

Itulah cara terakhir anaknya berpamitan.

TAMAT
Depok, 14 Februari 2026

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Seorang ayah yang terlalu sibuk baru menyadari arti permintaan misterius putranya akan “bola hitam dan bola putih” setelah sang anak meninggal dalam kecelakaan tunggal dan meninggalkan rekaman rahasia yang mengungkap dunia batinnya yang kelam.

Sebuah memoar tentang perjalanan panjang seorang penulis yang sejak 1993 menanamkan cintanya pada satu sosok perempuan yang terus menjelma dalam puisi dan cerpen dengan banyak nama, hingga kata-kata itu sendiri menuntunnya dari hubungan kakak–adik, pengorbanan batin, dan ujian kesetiaan, menuju pernikahan yang telah lebih dulu diikrarkan oleh sastra.

Cerpen Lanjutan - Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang perantau pulang kampung dengan hati remuk dan kepala panas setelah pacarnya justru dilamar—dan dinikahi—oleh pamannya sendiri yang kaya raya tapi miskin akal sehat.

Cerpen psikologis “Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan” merupakan pengakuan dingin seorang pria bernama Jefri, pendiri lembaga investasi P2P lending Dana Amanah Nusantara. Dengan kesadaran penuh, ia mengubah harapan dan kepercayaan orang-orang yang menitipkan amanah kepadanya menjadi mesin kebohongan yang terus ia pelihara—hingga akhirnya, seluruh bangunan keyakinan itu runtuh bersama dirinya..

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Sebuah pengakuan batin tentang satu cerpen yang lahir paling dekat dengan hidup sang penulis—menjadi poros jujur dari seluruh kisah lain yang, meski berwujud fiksi, sesungguhnya adalah bayangan-bayangan dari pengalaman, luka, dan emosi yang benar-benar pernah ia jalani.

Esai ini merangkum perjalanan batin seorang pembelajar fisika yang memaknai cinta dengan kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati yang sama seperti ia membaca hukum alam, lalu menjadikannya sastra sebagai catatan observasi terdalam tentang diri dan kehidupan.

Cerpen Akuarium di Ruang Tamu mengisahkan seekor ikan hias yang menjadi saksi bisu kemewahan, keserakahan, dan kejatuhan sebuah keluarga pejabat, hingga menyadari ironi kehidupan manusia yang rumit dan penuh tipu daya dibanding dunia ikan yang sederhana dan jujur.

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)