Cerpen - Misteri Bola Hitam dan Bola Putih
Seorang anak laki-laki tunggal kehilangan ibunya saat proses persalinan. Sejak saat itu, ayahnya menjadi sosok yang sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaan dan tidak pernah menikah lagi. Anak itu tumbuh dalam pengasuhan seorang perawat rumah tangga, dengan kepribadian yang lembut, pendiam, dan berhati baik.
Saat taman kanak-kanak, ketika anak-anak lain sudah memiliki sepeda, ia masih berjalan kaki. Sang pengasuh merasa iba dan menyampaikan hal itu kepada ayahnya.
“Tuan, tidakkah Anda kasihan kepada Den Bagus? Masa ia tidak memiliki sepeda? Bukankah Anda mampu?”
Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki banyak perusahaan. Ia pun memanggil anaknya dan bertanya, sepeda merek apa yang diinginkannya.
Namun anak itu menjawab pelan,
“Tidak perlu, Ayah. Cukup belikan aku bola hitam dan bola putih saja.”
Ayahnya bingung.
“Mengapa bola hitam dan bola putih?”
“Tidak perlu dijelaskan, Ayah. Kalau Ayah mampu, belikan itu saja.”
Karena hubungan mereka jarang terjalin dengan percakapan, sang ayah menerima permintaan itu begitu saja. Ia membeli sepeda tercanggih sekaligus bola hitam dan bola putih untuk anaknya.
Memasuki sekolah dasar, tren sepatu roda mulai marak. Anak itu tidak pernah meminta apa pun, hanya duduk diam pada sore hari. Sepedanya dibiarkan di gudang. Pengasuh kembali melapor, dan ayahnya memanggil anak itu.
“Kamu mau sepatu roda seperti teman-temanmu?”
Anak itu menggeleng.
“Tidak, Ayah. Bola hitam dan bola putihku sudah rusak. Tolong belikan lagi saja. Bola lebih murah, bukan?”
Hal itu membuat ayahnya kesal, tetapi tetap membelikannya sepatu roda dan, kembali, bola hitam dan bola putih.
Tahun-tahun berlalu. Di SMP, teman-temannya menggunakan rollerblade. Anak itu tetap setia dengan sepatu rodanya yang lama. Suatu hari ayahnya pulang dari luar negeri dan melihat anaknya tampak ketinggalan zaman. Keesokan harinya, ia mendapati sepasang rollerblade baru di kamar anak itu dengan catatan:
“Agar kamu tidak dianggap ketinggalan zaman.”
Namun malamnya, di meja kerja sang ayah, terdapat catatan balasan:
“Ayah, mengapa tidak membelikan bola hitam dan bola putih? Aku lebih menyukai itu.”
Rasa bingung dan kesal terus bercampur dalam diri sang ayah. Namun akhirnya, ia kembali membeli bola itu, dan anaknya pun kembali diam.
Memasuki SMA, jarak sekolah cukup jauh. Anak itu tetap naik bus sementara teman-temannya sudah membawa sepeda motor dan mobil. Suatu hari ia pulang diantar temannya. Sang ayah merasa malu. Ia pun menawarkan untuk membelikan mobil. Anak itu menolak dan hanya meminta bola hitam dan bola putih.
Akhirnya diputuskan: ia dibelikan sepeda motor, serta—sekali lagi—bola hitam dan bola putih.
Saat kuliah, karena bangga anaknya masuk perguruan tinggi negeri, sang ayah memberikan hadiah sebuah mobil. Namun anak itu tetap menggunakan motor. Pacarnya heran.
“Ayah tidak membelikan bola hitam dan bola putih,” begitu jawabnya.
Saat makan malam bersama, pacarnya memberanikan diri bertanya langsung. Sang ayah makin tersentak—ternyata bukan hanya dirinya yang dibuat bingung oleh bola-bola itu. Meski kamar anaknya telah dipenuhi banyak bola hitam dan bola putih, sang ayah akhirnya tetap membelinya lagi.
Suatu hari, anak itu pergi ke kawasan Puncak seorang diri menggunakan mobil. Malam telah turun, jalanan lengang, dan kabut tipis mulai menyelimuti tikungan pegunungan.
Di tengah perjalanan, konsentrasinya terganggu oleh pikirannya sendiri. Sebuah tikungan tajam datang terlalu cepat.
Terjadi kecelakaan hebat.
Ia tidak mengenakan sabuk pengaman, dan tubuhnya terlempar ke depan dengan benturan keras. Sang anak berada dalam kondisi kritis ketika ditemukan warga dan dilarikan ke rumah sakit.
Ayahnya bergegas ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”
Dokter menjawab dengan raut penuh empati,
“Maaf, Pak. Kami tidak bisa berbuat banyak. Sepertinya waktunya sudah hampir tiba. Sebaiknya Bapak memanfaatkan waktu terakhir.”
Sang ayah masuk ke ruang perawatan. Ia menggenggam tangan anaknya.
“Ayah minta maaf… karena terlalu sibuk selama ini…”
Dengan suara lemah, anak itu menjawab,
“Tidak apa-apa, Ayah… aku mengerti… aku hanya kesal karena Ayah sering membelikan barang macam-macam… padahal aku hanya meminta bola hitam dan bola putih…”
Kesempatan itu terasa tepat. Rasa penasaran yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya ia lontarkan.
“Nak… mengapa kamu selalu meminta bola hitam dan bola putih? Ada apa dengan benda itu?”
Anak itu terengah-engah. Nafasnya terputus-putus.
“Karena, Ayah… aku…”
Kalimat itu terhenti. Kepalanya jatuh ke samping. Nafasnya berhenti.
Ia meninggal dunia sebelum sempat menjelaskan.
Dan hingga hari itu, sang ayah tidak pernah tahu.
Apa sebenarnya rahasia di balik bola hitam dan bola putih?
Setelah Pemakaman
Rumah besar itu menjadi senyap.
Sang ayah masuk ke kamar anaknya.
Ia baru menyadari sesuatu yang selama ini luput:
Bola hitam dan bola putih tidak hanya dua.
Bukan sepuluh.
Tapi ratusan.
Disusun rapi seperti altar.
Di meja belajar terdapat sebuah laptop.
Tidak terkunci.
Satu folder terbuka otomatis:
PROJECT_BW_ONLY
Ia mengkliknya.
Video muncul.
Wajah anaknya.
“Kalau Ayah melihat ini… berarti aku sudah tidak ada.”
Rekaman lain:
“Aku tidak minta benda mahal.
Aku hanya ingin dunia sederhana.
Hitam berarti sunyi… putih berarti tenang…”
File lain terbuka:
MEDICAL_LOG.txt
Tercatat laporan yang tak pernah ia lihat:
• Depresi berat sejak usia 7 tahun
• Overstimulasi sensorik
• Disosiasi kronis
Dan akhirnya:
LAST_SIMULATION
Grafik muncul terlebih dahulu.
Kecepatan.
Arah kemudi.
Sudut kemiringan jalan.
Lalu tulisan kecil di pojok layar:
Cloud Sync: Completed
Grafik berubah.
Menjadi video.
Rekaman dashcam mobil.
Timestamp:
03:12 AM – 1 jam sebelum kecelakaan
Ia melihat anaknya.
Seorang diri.
Mengemudi dalam sunyi.
Anaknya menatap kamera dan berbisik:
“Akhirnya… dunia menjadi hitam.”
Rekaman berhenti.
Di dinding kamar, tertempel secarik kertas kecil:
“Ayah ingin aku kuat.
Aku hanya ingin diam.”
Laptop itu ditutup.
Dan sang ayah akhirnya mengerti.
Bola hitam dan bola putih bukan mainan.
Itu adalah bahasa yang tidak pernah ia pahami.
Dan mungkin…
Itulah cara terakhir anaknya berpamitan.
