Cerpen - Lumutan
Di sudut ruang tamu yang senyap, tergantung sebuah bingkai besar berisi potret tua. Bingkainya kayu jati, diukir halus seperti peti mati bangsawan. Di dalamnya, terperangkap gambar dirinya sebelas tahun yang lalu—pada masa yang ia yakini sebagai puncak hidupnya.
Potret itu bukan sekadar foto. Ia menyebutnya “Warisan Kemenangan.”
Setiap pagi, ia menyeka debu dari permukaannya. Dengan kain mikrofiber paling lembut yang pernah dibelinya dari toko perawatan kamera. Ia menyapunya perlahan, hati-hati, seperti merawat luka yang tak boleh sembuh.
“Warnanya mulai pudar,” bisiknya suatu pagi, alisnya mengerut seperti melihat anaknya yang pulang telat.
Ia lalu mengambil minyak khusus dari botol kecil—olesan yang konon mampu menghidupkan kembali warna. Ia poleskan ke sudut-sudut bingkai, ke celah-celah senyum dalam foto itu, ke matanya yang waktu itu masih penuh cahaya.
Potret itu adalah dirinya—dulu.
Seorang pemuda yang berdiri di podium, memegang piala emas plastik dengan senyum yakin. Di belakangnya, spanduk bertuliskan: “Juara Umum Lomba Inovasi Nasional.”
Sejak hari itu, hidupnya berubah.
Ia menjadi tamu kehormatan di berbagai seminar. Wajahnya muncul di media kampus dan koran lokal. Ia diundang ke radio, bahkan televisi daerah. Orang-orang menyebutnya inspirasi. Ia merasa hidupnya telah sampai.
Tapi waktu tidak peduli pada selebrasi.
Tahun berganti. Sorotan meredup. Undangan mengering. Dunia bergerak, tapi ia tinggal. Ia membingkai momen itu dan menggantungnya, berharap yang dulu bisa jadi yang selamanya.
Setiap tamu yang datang, diseretnya ke depan bingkai itu.
"Itu saya," katanya, nada bangga yang lelah.
"Lomba itu titik balik hidup saya. Dari sanalah saya dikenal."
Tapi lama-lama, hanya ia sendiri yang peduli. Anak-anaknya tak tertarik. Istrinya bosan. Dunia sudah beralih ke pemenang lain.
Meski begitu, ia tak berhenti. Ia bersihkan potret itu dua kali sehari, ia amati tiap sudutnya, seolah bisa menemukan celah menuju masa lalu. Ia tidur sambil memeluk miniatur pialanya, seakan esok pagi ia akan bangun dan dunia masih bersorak menyebut namanya.
Sampai suatu malam, saat ia tengah menggosok kaca bingkai dengan penuh gairah, anak bungsunya yang pulang kampus bertanya,
"Ayah… kenapa tidak bikin potret baru saja?"
Ia tertegun.
Diam.
Lalu tertawa pendek, pahit.
“Ayah sudah menang, Nak.”
“Ya, tapi itu sebelas tahun lalu. Sekarang Ayah cuma… membersihkan lumut.”
Perkataannya menusuk seperti paku ke kayu basah. Tapi bukan karena nada sinis, melainkan karena benarnya.
Ia pandang lagi potret itu. Warna emasnya memudar, dan di beberapa sudut sudah tampak bercak kehijauan. Ia tiup debunya, tapi terasa seperti meniup umur.
Lalu, dengan suara lirih nyaris bisikan, ia berkata pada dirinya sendiri:
"Kamu masih tetap… lumutan."
Tamat
Depok, 18 Desember 2025
