Postingan

Memoar - Perjalanan Karya dan Cinta Batin

Gambar
  1. Awal Sebuah Nama yang Tak Bernama (1993) Aku mulai menulis bukan karena ingin menjadi sastrawan, tetapi karena ada sesuatu yang tidak bisa kutahan di dada. Tahun 1993, ketika aku masih sangat muda, kata-kata datang seperti banjir—deras, kadang tak sempat kupahami arah dan maknanya. Di tahun itulah sosok yang kelak sering hadir dalam karya-karyaku pertama kali menyentuh kesadaranku. Nama sebenarnya bukan Hapsari. Nama itu kelak lahir sebagai simbol, sebagai tempat bernaung bagi satu wajah, satu jiwa, satu rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Hubunganku dengannya bermula dari sebuah sapaan yang tidak sempat kujawab. Banjir mengalir, membawa suara, membawa jarak, dan membawa kemungkinan yang belum bernama. Dari peristiwa sederhana itu, hubungan kami menemukan bentuk yang aman dan dapat diterima: kakak dan adik. Namun sejak awal aku tahu, di balik sebutan itu, ada getaran lain—lebih halus, lebih dalam, dan lebih berbahaya bila dibiarkan tanpa kendali. Puisi pertamaku yang meman...

Cerpen (Lanjutan) - Kabut di Kota Tanpa Peta

Gambar
Malam tadi adalah tanggal 5 Februari 2026. Aku terbangun karena suara pelan—gesekan kaki dengan lantai semen kontrakan kami. Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Junaidi bangun dari kasurnya tanpa menyalakan lampu, seperti takut mengganggu kesunyian yang sedang ia pinjam. Ia mengambil air wudhu dengan gerakan lambat, nyaris seperti orang sakit yang menahan nyeri. Aku pura-pura tetap tidur. Dari celah mata, aku melihat punggungnya menghadap kiblat. Ia shalat tahajud dengan tubuh yang tampak lebih kurus dari bulan-bulan sebelumnya. Setiap rukuknya lama. Setiap sujudnya seolah menahan beban yang terlalu berat untuk ditopang manusia biasa. Selesai salat, ia tidak langsung kembali ke kasur. Ia duduk, mengambil selembar kertas bekas—bagian belakangnya masih dipenuhi coretan hitung-hitungan—lalu mulai menulis dengan penerangan lampu ponselnya. Tangannya gemetar. Sesekali ia berhenti, menghapus, mencoret, lalu menulis kembali. Malam itu aku tidak tahu apa yang ia tulis. Aku hanya t...

Cerpen Humor - Pacarku Direbut Paman

Gambar
Nama pamanku Warso. Di kampung, orang-orang memanggilnya Man Warso, singkatan dari “Paman Warso” sekaligus julukan tak resmi yang nadanya selalu naik satu oktaf kalau disebut sambil emosi. Man Warso bukan orang sembarangan. Sawahnya luas, uangnya banyak, dan kumisnya tebal seperti pagar bambu baru dipasang. Umurnya sudah tak muda—kalau kalender jujur, ia seharusnya lebih akrab dengan cucu daripada dengan cinta. Tapi hidup kadang memang hobi bercanda, dan Man Warso adalah punchline-nya. Masalah bermula ketika aku merantau ke Jakarta. Aku pergi dengan niat mulia: mengumpulkan uang. Bulan depan aku berencana melamar pacarku, Ening. Gadis kampung dengan senyum sederhana dan suara lembut yang bisa bikin orang lupa cicilan. Sebelum berangkat, aku titip pesan pada semua orang sekampung—termasuk Man Warso. “Man, titip Ening ya,” kataku waktu itu, sambil tertawa. Man Warso juga tertawa. Sawah Luas, Akal Tipis Jakarta panas. Bukan cuma cuaca, tapi juga dompet. Aku kerja serabutan, lembur sampai ...

Cerpen Psikologis - Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan

Gambar
Namaku Jefri. Dan sejak awal, aku tahu apa yang sedang kubangun bukan amanah—melainkan  mesin kepercayaan . Aku tidak pernah tertarik pada syariah sebagai prinsip. Aku tertarik pada  daya jualnya . Kata itu lembut, menenangkan, dan membuat orang menurunkan tingkat kewaspadaan. Di negeri yang penuh luka ekonomi, orang ingin percaya bahwa uang bisa tumbuh tanpa beban dosa. Aku hanya menyediakan mimbar. Nama  Dana Amanah Nusantara  bukan pilihan moral. Itu strategi. Aku tahu betul siapa targetku: para pensiunan tua yang tak sepenuhnya mengerti laporan keuangan, para perantau yang menggenggam mimpi masa depan, orang-orang yang ingin hijrah finansial. Mereka butuh  harapan yang terdengar halal . Sejak hari pertama, aku sudah menghitung risiko. Proyek riil tak pernah cukup untuk menopang arus dana. Maka kami menggunakan data borrower yang ada—nyata, legal—lalu menciptakan proyek-proyek baru di atas kertas. Fiktif, tapi terlihat hidup. Foto bisa dicari. Deskripsi bisa ...

Esai Reflektif - Antara Otobiografi dan Fiksi yang Lahir dari Pengalaman

Gambar
Di antara puluhan cerpen yang kutulis, ada satu yang berdiri dengan cara berbeda. Ia tidak bersembunyi di balik metafora yang terlalu rapat, tidak meminjam terlalu banyak topeng tokoh, dan tidak terlalu jauh menyamarkan peristiwa. Cerpen itu hadir hampir sepenuhnya sebagai diriku sendiri. Ia bukan sekadar kisah cinta. Ia adalah rekaman hidup yang paling dekat dengan kenyataan: relasi, luka, pengorbanan, dan pilihan-pilihan yang benar-benar kujalani. Jika pembaca ingin mengetahui siapa aku tanpa banyak kabut sastra, maka cerpen itulah pintu paling jujur. Di sana, aku tidak sedang berimajinasi; aku sedang mengingat. Sementara cerpen-cerpen yang lain lahir dengan cara berbeda. Mereka bukan kebohongan, tetapi juga bukan pengakuan utuh. Di dalamnya sering hanya ada sepotong hidupku: satu emosi, satu peristiwa kecil, satu kegagalan, atau satu kerinduan. Potongan itu lalu tumbuh menjadi cerita lain—dipanjangkan, dibelokkan, diperhalus, atau bahkan dipatahkan—hingga ia menjelma sebagai fiksi. ...

Esai Reflektif - Fisika dan Cinta

Gambar
  Fisika dan Cinta Aku belajar fisika jauh sebelum aku belajar memahami cinta. Sejak SMP, angka, rumus, dan hukum alam terasa lebih jujur daripada percakapan manusia. Alam tidak berbohong: jika syarat terpenuhi, hasil akan muncul; jika tidak, ia menolak dengan tegas. Dalam kejujuran itulah aku tumbuh—belajar menunggu, mengamati, dan menerima bahwa tidak semua pertanyaan boleh dijawab dengan tergesa-gesa. Namun hidup tidak berhenti di papan tulis. Ketika aku mulai jatuh cinta, aku mendapati diriku membawa kebiasaan yang sama: menunggu tanda, membaca gejala, menahan diri dari kesimpulan dini. Aku mencintai seperti aku mempelajari fisika—dengan kesabaran, kehati-hatian, dan rasa hormat pada hukum yang lebih besar daripada keinginanku sendiri. Hukum dan Penantian Dalam fisika, tidak ada lompatan tanpa sebab. Setiap peristiwa memiliki prasyarat. Demikian pula dalam cintaku: aku tidak memaksa hasil ketika syarat batin belum lengkap. Aku belajar bahwa penantian bukan kekosongan, melainkan...

Cerpen - Akuarium di Ruang Tamu

Gambar
Aku adalah seekor ikan kecil berwarna orange putih, baru tiga hari hidup di dalam akuarium yang diletakkan di ruang tamu sebuah rumah besar. Airku jernih, batu-batu hias berkilau seperti permata palsu, dan tanaman plastik berdiri kaku seolah tak pernah lelah. Dari balik dinding kaca ini, aku menyaksikan dunia manusia—dunia yang bergerak cepat, penuh bunyi, dan penuh sesuatu yang belum kupahami sepenuhnya. Hari pertama aku tiba, aku masih sibuk menyesuaikan napas. Insangku belajar irama baru, siripku mencoba berdamai dengan arus buatan dari mesin penyaring. Dari dalam akuarium, ruang tamu tampak seperti panggung. Sofa empuk berwarna gading, meja marmer yang dingin, lukisan-lukisan mahal yang seolah memandang siapa pun yang lewat dengan tatapan angkuh. Di dinding, jam besar berdetak pelan, mengukur waktu dengan kesabaran yang tidak dimiliki penghuninya. Keluarga itu tinggal di sini: seorang Bapak yang jarang pulang sebelum malam, seorang Ibu yang selalu tampak rapi dan wangi, serta dua o...

Memoar - Kepethuk di Jalan Kemurnian

Gambar
Puisi itu lahir dari perjumpaan yang sederhana, nyaris sepele, tetapi berumur panjang dalam batin. Ia ditulis bukan sebagai pengakuan cinta, melainkan sebagai doa—doa yang kala itu hanya kusimpan, kutitipkan pada bahasa, dan kuserahkan pada waktu. Aku menulisnya untuk seorang gadis yang baru beberapa bulan kukenal. Namanya Hapsari. Dalam puisi itu ia kusapa  Nona —sebuah sebutan puitis yang tak pernah kupakai dalam keseharian. Sehari-hari aku memanggilnya dengan cara yang lebih biasa, lebih hangat, dan lebih jujur pada peran: De Hapsi. Kami berjumpa di awal tahun 1993, pada masa ketika banjir melanda desa kami. Saat itu ia menyapaku ketika aku berangkat sekolah, mengayuh sepeda menerjang genangan yang meluap di depan rumahnya. Aku—entah karena kikuk, takut, atau terlalu menjaga jarak—tidak membalas sapaan itu. Sapaan tersebut pun hanyut bersama arus banjir, dan peristiwa kecil itulah yang  kucatat dalam cerpen  “Sapaan yang Hanyut Terbawa Banjir.”  Sejak saat itu, hu...

Memoar - Tiga Hari yang Panjang

Gambar
Sidakaton, 19 Agustus 1994 Aku membaca surat itu di beranda rumah, sore yang lambat, dengan angin desa membawa bau tanah basah dan sisa panas matahari. Kertasnya tipis, tulisannya berlarian—seperti Hapsi kalau sedang bicara, tidak pernah mau berhenti di satu kalimat. “Langsung aza yah … Mas.” Aku tersenyum kecil. Nada itu. Nada yang hanya ia pakai padaku. Seolah aku duduk tepat di depannya, bukan berjarak beberapa kilometer dari bumi perkemahan di pinggir waduk Cacaban. Namaku ia tulis berkali-kali. Terlalu sering, mungkin. Tapi justru di situlah aku merasa dipanggil, ditarik keluar dari liburanku yang sepi. Seakan ia takut aku pergi terlalu jauh bila tidak diikat oleh namaku sendiri. Ia meminta jaket. Bukan sekadar jaket, ternyata. Ia ingin jaket yang kupakai sebagai mahasiswa. Jaket yang—menurutnya—jaket UI, meski sebenarnya jaket angkatan Fisika '93. Jaket yang berat, tebal, dan hangat. Jaket yang sering kupakai malam-malam di puncak mengikuti rihlah, atau saat angin turun dari ...

Memoar - Mencintai Tanpa Mengubah Peran

Gambar
Agustus 1997. Malam itu Jakarta tidak benar-benar tidur. Ia hanya menurunkan suaranya—seperti orang dewasa yang lelah, tapi masih harus terjaga. Aku menunggu angkot D01 di Tanah Kusir dengan kepala penuh coretan tangan dan kalimat-kalimat yang baru saja kami rapikan. Makalah itu—tulisan tangan yang besok harus diketik dan dicetak—masih hangat di benakku, seperti bara kecil yang dijaga agar tidak padam. Aku pikir tidak ada bus ke Depok yang masuk akal untuk kutunggu. Jam sudah terlalu larut, dan besok pagi kami harus mencari rental komputer. Maka aku turun dari angkot dan langkah kakiku berbelok ke masjid besar bernama Ni'matul Ittihad di Pondok Pinang. Lampunya temaram, lantainya dingin, dan udara malam merayap ke tulang. Aku menempelkan punggung pada karpet. Di sudut-sudut, nyamuk bekerja tekun, seakan tahu siapa yang tak punya pilihan selain pasrah. Aku tidak mengeluh. Tidak ada satu pun pikiran yang meminta imbalan. Yang ada hanya satu kalimat sederhana berulang di dada:  biarla...

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Cerpen Lanjutan - Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang perantau pulang kampung dengan hati remuk dan kepala panas setelah pacarnya justru dilamar—dan dinikahi—oleh pamannya sendiri yang kaya raya tapi miskin akal sehat.

Cerpen psikologis “Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan” merupakan pengakuan dingin seorang pria bernama Jefri, pendiri lembaga investasi P2P lending Dana Amanah Nusantara. Dengan kesadaran penuh, ia mengubah harapan dan kepercayaan orang-orang yang menitipkan amanah kepadanya menjadi mesin kebohongan yang terus ia pelihara—hingga akhirnya, seluruh bangunan keyakinan itu runtuh bersama dirinya..

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Sebuah pengakuan batin tentang satu cerpen yang lahir paling dekat dengan hidup sang penulis—menjadi poros jujur dari seluruh kisah lain yang, meski berwujud fiksi, sesungguhnya adalah bayangan-bayangan dari pengalaman, luka, dan emosi yang benar-benar pernah ia jalani.

Esai ini merangkum perjalanan batin seorang pembelajar fisika yang memaknai cinta dengan kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati yang sama seperti ia membaca hukum alam, lalu menjadikannya sastra sebagai catatan observasi terdalam tentang diri dan kehidupan.

Cerpen Akuarium di Ruang Tamu mengisahkan seekor ikan hias yang menjadi saksi bisu kemewahan, keserakahan, dan kejatuhan sebuah keluarga pejabat, hingga menyadari ironi kehidupan manusia yang rumit dan penuh tipu daya dibanding dunia ikan yang sederhana dan jujur.

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna