Memoar - Mencintai Tanpa Mengubah Peran
Agustus 1997. Malam itu Jakarta tidak benar-benar tidur. Ia hanya menurunkan suaranya—seperti orang dewasa yang lelah, tapi masih harus terjaga. Aku menunggu angkot D01 di Tanah Kusir dengan kepala penuh coretan tangan dan kalimat-kalimat yang baru saja kami rapikan. Makalah itu—tulisan tangan yang besok harus diketik dan dicetak—masih hangat di benakku, seperti bara kecil yang dijaga agar tidak padam.
Aku pikir tidak ada bus ke Depok yang masuk akal untuk kutunggu. Jam sudah terlalu larut, dan besok pagi kami harus mencari rental komputer. Maka aku turun dari angkot dan langkah kakiku berbelok ke masjid di Pondok Pinang. Lampunya temaram, lantainya dingin, dan udara malam merayap ke tulang. Aku menempelkan punggung pada karpet. Di sudut-sudut, nyamuk bekerja tekun, seakan tahu siapa yang tak punya pilihan selain pasrah.
Aku tidak mengeluh. Tidak ada satu pun pikiran yang meminta imbalan. Yang ada hanya satu kalimat sederhana berulang di dada: biarlah aku di sini, asal lusa ia tidak gugup.
Hapsi, gadis yang selama ini aku anggap adik—baru saja melangkah ke dunia yang lebih luas. Kampus, penataran P4, presentasi; kata-kata itu baginya masih seperti pintu-pintu besar yang berat. Aku tahu rasa itu. Aku tahu bagaimana jantung bisa berdetak terlalu cepat ketika nama kita dipanggil, bagaimana tangan bisa gemetar saat harus berdiri di depan orang banyak. Malam ini, tugasku bukan menenangkan diriku, tapi menenangkan masa depannya yang masih bergetar.
Di masjid itu, aku tidak memikirkan apa-apa tentang diriku. Tidak tentang dingin, tidak tentang nyamuk, tidak tentang lantai keras. Aku memikirkan wajahnya yang tadi sore serius menunduk, mencoret-coret kertas, bertanya pelan apakah kalimat ini sudah tepat. Aku ingat caranya mengangguk kecil saat kami sepakat pada satu paragraf. Aku ingat betapa ia ingin terlihat layak di mata orang-orang yang baru dikenalnya.
Rasa sayang memang aneh. Ia membuat seseorang rela memilih ketidaknyamanan sebagai tempat bermalam.
Di sela-sela suara kendaraan yang sesekali lewat, aku terlelap dalam potongan tidur yang pendek-pendek. Setiap terbangun, aku melihat langit-langit masjid dan berpikir: sebentar lagi pagi. Aku menghitung waktu bukan untuk diriku, melainkan untuknya. Waktu yang akan membawanya ke rental komputer, ke lembar-lembar cetak, ke ruang presentasi.
Subuh datang dengan cahaya pucat. Aku bangun, mensucikan diri dan ikut bersujud. Ada ketenangan kecil yang menetap—ketenangan orang yang tahu ia memilih hal yang benar. Kami bertemu lagi pagi itu, dan bersama-sama menyusuri Ciputat mencari rental komputer. Bunyi mesin cetak menjadi musik kemenangan kecil. Kertas-kertas keluar rapi, hitam di atas putih, seperti janji yang ditepati.
Beberapa hari kemudian, ia bercerita: makalahnya dinilai bagus. Ia mengatakannya tanpa berlebihan, seolah itu hanya kabar biasa. Aku mengangguk, tersenyum, dan menyimpan rasa bangga itu rapat-rapat. Aku tahu, pujian itu bukan hanya untuk tulisannya, tetapi untuk keberaniannya berdiri.
Malam di masjid Pondok Pinang tidak pernah ia lihat. Dan memang tidak perlu. Ada jenis cinta yang tidak perlu disaksikan, cukup dijalani. Ada peran yang tidak perlu dipuji, cukup setia pada batasnya.
Saat itu kami adalah kakak dan adik—dan di sanalah rasa sayang menemukan bentuknya yang paling aman. Ia aman karena tahu aku tidak menuntut apa pun selain kemajuannya. Aku tenang karena tahu tugasku bukan melangkah di depannya, melainkan menjaga dari belakang, memastikan jalannya cukup terang.
Jika malam itu harus terulang, dengan dingin dan nyamuk yang sama, aku akan tetap memilih masjid itu. Sebab di lantai dingin Masjid Pondok Pinang, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di kelas mana pun: mencintai tanpa mengubah peran, menyayangi tanpa menggeser batas, dan hadir sepenuhnya, agar dia bisa tumbuh.
Depok, 24 Januari 2026
