Cerpen - Fisika Tentang Kita yang Berbeda Lintasan
1
Tahun 1995.
Aku mahasiswa Fisika Universitas Indonesia, tahun ketiga, tinggal di sebuah kamar kos sempit di Kukusan, tepat di belakang kampus. Jendela kamarku dari kaca nako menghadap halaman rumah ibu kos, dan setiap malam suara jangkrik bercampur dengan dengung kipas angin tua yang berputar tak seimbang—seperti pikiranku yang jarang benar-benar diam.
Sebulan sekali, biasanya Jumat sore, aku pulang ke rumah orang tua di Pasar Kemis, Tangerang. Bukan karena rindu berlebihan, tapi karena ada semacam keharusan batin: pulang, mencium tangan ibu, mencengkrama dengan saudara dan keponakan.
Rutenya selalu sama.
Dari halte UI naik bus Miniarta ke Pasar Minggu. Lalu Metro Mini 75 ke Blok M. Di sana aku shalat Maghrib—kadang di masjid terminal, kadang di mushala kecil yang pengap. Setelah itu naik bus Patas PPD 45 jurusan Cimone, Tangerang. Dari Cimone, angkot 08 membawaku masuk lebih jauh ke Pasar Kemis, hingga akhirnya turun di Kampung Cilongok.
Perjalanan panjang itu sudah seperti ritual. Aku hafal getarannya, bau jok busnya, suara kernet yang setengah berteriak setengah mengantuk, dan lampu jalan yang menyala satu per satu seperti bilangan prima: sendiri-sendiri, tapi teratur.
Aku tak menyangka, di salah satu perjalanan biasa itu, sesuatu yang kecil dan hampir tak berarti akan menempel di ingatan—dan menetap di sana bertahun-tahun.
2
Di dalam bus Patas PPD dari Terminal Blok M menuju Terminal Cimone, aku melihat seorang siswi SMA duduk beberapa bangku di depanku. Seragam putih abu-abu, tas ransel hitam sederhana, rambutnya dibiarkan terurai. Tak ada yang istimewa. Tidak cantik mencolok, tidak pula berusaha menarik perhatian.
Aku hanya melihatnya sekilas, lalu kembali menatap jendela.
Lampu kota bergerak mundur, dan bus melaju seperti partikel yang patuh pada lintasan. Tidak ada yang perlu kuingat.
Sampai di Terminal Cimone aku turun dan langsung naik angkot 08. Seperti biasa, aku memilih duduk di kursi depan, di samping sopir. Aku suka melihat jalan, suka merasa ikut mengendalikan arah, meski sebenarnya tidak.
Beberapa menit kemudian, siswi SMA itu naik angkot yang sama.
Ia duduk tepat di sampingku.
Aku sempat terkejut kecil—bukan karena apa-apa, hanya karena kebetulan yang terlalu rapi. Angkot pun penuh dan melaju menuju Pasar Kemis.
Awalnya kami diam. Hanya suara mesin angkot dan radio yang memutar lagu dangdut pelan. Aku meliriknya sekilas. Ia menatap lurus ke depan, tangannya memegang tas di pangkuan.
Di tengah perjalanan, entah dari mana keberanianku muncul, aku bertanya.
“Mbak… tadi dari Blok M, ya?”
Ia menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Saya lihat tadi di bus PPD juga,” kataku, merasa perlu menjelaskan agar tidak terdengar aneh.
“Oh… iya,” katanya, lalu diam lagi.
Aku berpikir sejenak, lalu melanjutkan.
“Sekolah di daerah sana?”
“Iya. Di Bulungan,” jawabnya. “SMAN 70.”
“Oh,” aku mengangguk. “Jauh juga, ya.”
Ia tertawa kecil, nyaris tak terdengar.
“Capek, Kak. Berangkat pagi, pulangnya sore.”
“Kelas berapa?”
“Kelas dua.”
“Jurusan apa?”
“IPA,” katanya. “Ambil Fisika.”
Aku tersenyum tanpa sadar.
“Fisika?” kataku. “Saya kuliah Fisika.”
Matanya sedikit membesar.
“Serius?”
“Iya. Di UI.”
Sejak itu, percakapan mengalir lebih lancar. Kami bicara tentang sekolahnya, tentang guru-gurunya yang galak, tentang ulangan yang sulit. Aku bercerita tentang kosanku, tentang praktikum yang membuatku sering pulang senja, tentang kampus yang terasa seperti kota kecil di tengah hutan belantara.
Kami tidak menyebut nama.
Seolah-olah nama terlalu cepat untuk diberikan pada orang asing yang baru saja menjadi akrab.
Di daerah Gelam, sebelum Pasar Kemis, ia minta turun.
“Saya turun di sini, Kak,” katanya.
Sebelum melangkah turun, ia menunjuk ke sebuah gang kecil.
“Rumah saya masuk situ.”
“Oh,” kataku. “Hati-hati, ya.”
Ia tersenyum, lalu turun. Angkot melaju lagi.
Aku menatap gang itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
3
Sebulan kemudian, Jumat sore lagi.
Aku berdiri di Terminal Blok M, menunggu bus PPD ke Cimone. Langit sudah gelap, aku baru saja keluar dari Musala. Aku membuka botol aqua dan meminum isinya, pikiranku melayang entah ke mana.
Tiba-tiba seseorang memanggil.
“Kak?”
Aku menoleh.
Ia berdiri beberapa langkah dariku. Siswi SMA itu. Seragamnya sama, tasnya sama, tapi kali ini aku merasa melihatnya dengan cara yang berbeda.
“Oh,” kataku. “Mbak.”
Ia tertawa kecil.
“Kita ketemu lagi.”
“Iya,” jawabku. “Kebetulan.”
Di dalam bus PPD, kami duduk berdampingan. Bus melaju pelan meninggalkan Blok M, dan percakapan kami mengalir lebih lama dari sebelumnya.
“Kak namanya siapa?” tanyanya.
Aku ragu sepersekian detik, lalu menjawab, menyebutkan namaku.
“Oh,” katanya. “Aku Rahmawati. Panggil Rahma saja.”
“Rahma,” ulangku pelan.
Ia mengangguk.
“Tapi aku tetap panggil Kak saja, ya.”
“Terserah,” kataku, tersenyum.
Ia mulai bercerita tentang sekolahnya, tentang ulangan Fisika yang nilainya jelek, tentang Matematika yang membuatnya pusing.
“Susah banget, Kak,” katanya. “Rasanya kepalaku berhenti mikir.”
Aku tertawa.
“Kadang memang begitu,” kataku. “Aku juga dulu sering begitu.”
“Kakak pinter bisa kuliah di Fisika UI.”
“Pinter? Belum tentu,” jawabku. “Aku hanya suka fisika.”
Aku bercerita bahwa aku juga mengajar les privat Fisika dan Matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar terkenal di Jakarta. Matanya berbinar.
“Serius?” katanya. “Kak bisa ngajarin aku?”
“Kalau ketemu,” jawabku. “Di bus pun bisa.”
Ia tertawa.
“Kak, jelasin dong hukum kelembaman.”
Aku berpikir sejenak.
“Hukum kelembaman,” kataku pelan, “itu hukum Newton yang pertama. Intinya, sebuah benda akan tetap dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kalau tidak ada gaya luar yang bekerja padanya.”
“Contohnya?”
“Kayak kita di bus ini,” kataku. “Kalau bus direm mendadak, tubuh kita terdorong ke depan. Bukan karena ada gaya ke depan, tapi karena tubuh kita ingin mempertahankan geraknya.”
Ia mengangguk-angguk.
“Oh… jadi tubuh kita itu malas berubah, ya.”
Aku tersenyum.
“Iya,” kataku. “Fisika juga mengenal kemalasan.”
Ia lalu bertanya lagi tentang perbedaan Fisika Klasik dan Fisika Modern. Aku menjelaskan sebisaku, tentang Newton dan Einstein, tentang dunia yang bisa diprediksi dan dunia yang penuh probabilitas.
Bus melaju, waktu berjalan.
Sampai di Cimone, kami naik angkot bersama. Masih membahas fisika, masih tertawa kecil di antara penjelasan.
Di depan gang rumahnya, ia turun.
“Makasih, Kak,” katanya. “Penjelasannya.”
“Sama-sama,” jawabku.
Ia melangkah pergi, dan lagi-lagi aku menatap gang itu.
4
Bulan berikutnya, aku menunggu.
Jumat sore di Terminal Blok M, aku berdiri sedikit lebih lama, menoleh ke kanan dan kiri, berharap melihatnya. Tapi ia tak datang.
Sebulan. Dua bulan.
Aku mulai mengenali perasaan itu. Perasaan yang tidak besar, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa sedikit kosong.
Aku pernah berdiri di depan gang itu. Dari kejauhan. Bertanya dalam hati, rumah yang mana. Tapi kakiku tak pernah melangkah masuk.
Aku takut.
Takut melanggar batas. Takut menjadi orang asing yang terlalu berani.
Aku kembali ke kos, kembali ke kampus, kembali ke hidupku.
Tahun berganti. Aku lulus. Aku bekerja. Aku mengajar.
Rahma menjadi bagian kecil dari ingatanku—seperti variabel yang pernah muncul dalam persamaan, lalu dihilangkan, tapi masih membekas di hasil akhirnya.
Kadang, saat mengajar hukum Newton, aku teringat padanya.
Tentang bagaimana sesuatu yang bergerak akan terus bergerak—kecuali ada gaya yang menghentikannya.
Dan kami… mungkin hanya dua benda yang saling melintas, pernah berpapasan, lalu kembali ke lintasan masing-masing.
Tanpa pernah benar-benar bertabrakan.
