Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat
Tegal, Sabtu 4 Agustus 1990. Angin pagi masih membawa aroma nasi ponggol yang dijual di seberang jalan ketika halaman sekolah kami mulai ramai oleh siswa-siswa kelas satu yang memanggul ransel besar, membawa tenda, dan menenteng berbagai perlengkapan kemah. Hari itu, seluruh siswa kelas satu SMA Negeri 1 Tegal bersiap berangkat menuju Bumi Perkemahan Martoloyo di Desa Suniarsih, Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal, di lereng Gunung Slamet. Udara di sana terkenal dingin; kebun-kebun teh membentang seperti permadani hijau, sementara hutan pinus berdiri rapat—seakan menjadi gerbang raksasa yang membuka jalan menuju dunia lain.
Aku—Kudin, kelas 1-3—masih menyesuaikan diri dengan kehidupan SMA yang baru. Masuk sekolah belum genap satu bulan, rasanya semuanya masih asing. Teman-teman baru, guru baru, dan kegiatan pramuka yang harus kami ikuti sebagai syarat diterima menjadi “tamu penegak”. Tidak ada yang boleh absen.
Aku sama sekali belum mengenal Sari dari kelas 1-7. Setidaknya sampai suatu kejadian kecil, bodoh, dan sangat tidak kusengaja, membuatnya membenciku bahkan sebelum kami saling mengenal.
Kejadian di Pagi Keberangkatan
Pagi itu aku sedang menurunkan ransel besar dari bahuku untuk dikumpulkan dengan ransel teman-temanku satu regu. Di dekatku, banyak siswa perempuan sibuk mengikat tali sepatu, memeriksa bekal, dan merapikan hasduk. Salah satu dari mereka adalah Sari—yang saat itu belum kukenal.
Karena terburu-buru, aku menggeser ranselku dengan kaki agar tidak menghalangi jalan. Tapi ransel itu tidak hanya bergeser… terpental dan mengenai sebuah botol air yang sedang diletakkan seseorang di tanah. Botol itu roboh, menabrak tas kecil yang terbuka, dan isinya—sebuah kotak bedak dan kaca kecil—terhempas dan retak ketika jatuh.
Suara kecil kaca pecah membuat semua orang menoleh.
Dan pemiliknya adalah Sari.
Wajahnya merah padam, campuran antara kaget, kesal, dan malu dilihat banyak orang.
“Masya Allah… kaca kesayanganku…” gerutunya lirih namun jelas. “Kamu sih… seenaknya nyeruduk!”
Aku kaget bukan main.
“Maaf—maaf banget, aku gak sengaja. Tadi ranselku—”
“Udah! Ngomong aja gampang. Bedakku jadi berantakan…malu aku”
Aku ingin membantu memunguti pecahan itu, tapi ia sempat menepis tanganku.
“Aku bisa sendiri!”
Sejak itu, setiap aku menatapnya, Sari akan memalingkan wajah. Dan entah kenapa kejadian itu rasanya mengawali segala hal buruk di hari keberangkatan itu.
Kuperhatikan ketika ia naik kendaraan yang akan membawanya ke bumi perkemahan, ia langsung memalingkan wajah dariku. Bahkan sebelumnya ketika panitia membagi kelompok kerja, setiap kami bertemu ia selalu memasang muka tidak bersahabat.
Entahlah, mungkin memang kesan pertama itu penting. Dan kesanku di matanya sudah benar-benar buruk.
Bumi Perkemahan di Lereng Gunung Slamet
Setibanya di lokasi, hawa dingin langsung menusuk. Di sisi kiri, hamparan kebun teh bergradasi hijau tua. Di sisi kanan, hutan pinus berdiri rapat, seperti pagar raksasa yang menyimpan banyak misteri. Lapangan besar di tepinya menjadi lokasi peletakan tenda setiap regu.
Setiap regu sudah mendapatkan satu kavling berukuran kira-kira lima kali lima meter persegi—sebidang tanah yang nantinya menjadi “rumah kecil” kami selama lima hari empat malam ke depan. Begitu pembina memberi aba-aba, seluruh regu langsung bergerak lincah. Suara bilah-bilah bambu saling beradu, suara tenda digelar, tiang dipukul dengan palu kayu, dan teriakan kecil saling memberi instruksi bercampur menjadi satu irama khas perkemahan.
Reguku mulai dengan mendirikan tenda berbahan kain tebal warna putih kusam. Dua orang memegang tiang utama, sementara yang lain menarik tali pancang, mengikatnya dengan pasak dan menancapkannya ke tanah yang agak lembap. Angin gunung membuat proses itu sedikit sulit—tenda beberapa kali menggembung, hampir terangkat sebelum sempat dikaitkan dengan benar.
Setelah tenda berdiri kokoh, kami beralih mengurus area sekitar. Beberapa teman mulai meraut bambu untuk membuat pagar sederhana sebagai batas kavling, satu per satu bilah ditancapkan membentuk barisan rapi. Pada bagian depan kami membuat gapura kecil dari dua batang bambu yang diikat simpul palang—tidak terlalu megah, tapi cukup membuat regu kami terlihat kompak.
Regu-regu lain tak kalah sibuk. Ada yang membuat rak piring dari bambu yang disusun bersilang, gunanya menaruh peralatan masak, panci, wajan kecil, serta bahan makanan seperti beras, lauk kering, sayuran mentah, dan tentu saja mie instan yang menjadi penyelamat di saat-saat genting. Rak itu ditutup dengan daun pisang agar barang-barang di atasnya tidak langsung terkena embun malam.
Di pojok kavling, kami membuat jemuran pakaian dari dua tiang bambu. Meski belum ada yang basah, pembina berpesan agar semua regu menyiapkannya sejak awal—“lebih baik berjaga-jaga,” katanya. Tak jauh dari situ, kompor minyak tanah didirikan di atas bebatuan datar. Bau minyak yang khas langsung menyeruak ketika kami mencoba menyalakan lampu minyak sebagai penerangan untuk malam nanti.
Dalam satu jam, kavling kami akhirnya tampak seperti sebuah kamp kecil yang tertata. Meski sederhana, suasananya memberi rasa nyaman tersendiri—seperti punya wilayah sendiri di tengah dinginnya lereng Gunung Slamet.
Malam pertama setelah sore tadi dilaksanakan upacara pembukaan kemah berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Api unggun kecil menyala di beberapa titik, lampu minyak bergoyang karena angin, dan suara jangkrik dari arah hutan pinus menjadi musik latar yang tak putus-putus. Namun setiap kali aku tak sengaja berpapasan dengan Sari—entah ketika aku mengambil air, menuju dapur umum, atau sekadar lewat di depan tendanya—ia tetap memasang wajah kesal. Seolah kejadian pagi itu adalah dosa besar yang tak bisa ditebus oleh apa pun.
Aku ingin meminta maaf sekali lagi, tapi ia selalu menghindar. Dan jarak yang tercipta itu terasa makin panjang dari menit ke menit, seakan tenda kami berdiri di dua dunia yang berbeda.
Jejak Petualang
Pagi hari kedua, kegiatan mencari jejak dimulai. Satu regu berisi sepuluh orang harus menyusuri rute panjang yang melewati sungai, hamparan kebun teh, bukit-bukit landai, hingga akhirnya masuk ke kawasan hutan pinus. Setiap regu telah dibekali perlengkapan lengkap—baik peralatan pribadi maupun perlengkapan bersama seperti kotak P3K. Rute telah dipasangi tanda-tanda penunjuk arah, memastikan setiap peserta bisa mengikuti jalur dengan aman.
Aku menjadi ketua Regu Rajawali 1-3.
Salah satu regu putri dari kelas 1-7 dinamai Regu Anyelir 1-7. Waktu berangkat, aku hanya tahu Sari berada di regu itu. Dan aku tidak berharap bertemu dengannya, sejujur-jujurnya.
Langit cerah. Embun masih menggantung di pucuk rumput. Namun sekitar satu jam sejak kami masuk ke hutan pinus, awan gelap bergulung-gulung seperti ditarik ke tengah udara.
“Eh… kok mendungnya cepet banget?” ujar Wahyu, salah satu anggota reguku.
Angin mulai berputar. Daun-daun pinus berdesir keras. Beberapa tanda panah dari kayu mulai jatuh. Belum sempat kami memutuskan untuk kembali, badai datang.
Bukan hujan biasa.
Ini hujan deras plus angin kencang yang membuat kami mustahil melihat apa pun selain batang pinus gelap dan tanah basah.
“Tanda arahnya hilang semua!” teriak Randi.
Kami mencoba mencari arah, tapi di dalam hutan pinus hujan seperti tirai yang menutup pandangan. Semua tampak sama.
Aku mengambil keputusan, “Cari tempat teduh dulu! Jangan pisah!”
Namun saat kami merunduk di balik pohon besar, kami mendengar suara teriakan dari jauh.
“Tolooong…!”
Suara itu lirih, tertelan badai, tapi jelas suara regu putri.
Kami berlari mengikuti sumber suara. Di balik kumpulan pinus yang tampak mirip satu sama lain, kami menemukan mereka—Regu Anyelir 1-7—berkumpul sambil mengelilingi seseorang.
Dan seseorang itu adalah Sari.
Wajahnya pucat. Kakinya dibalut seadanya menggunakan hasduk. Nafasnya tampak menahan sakit.
Ketua regu putri berkata panik,
“Sari terkilir waktu terpeleset!”
Sari mendongak sebentar, dan aku bisa melihat ia terkejut melihatku. Tapi ia tidak bicara apa pun—mungkin karena kesakitan.
Situasi genting itu membuat ego dan rasa kesal menjadi tidak penting.
“Kita harus bikin tandu. Wahyu, Rudi, tongkat dan tali kalian bawa ke sini?” ujarku.
Wahyu dan Rudi segera menyerahkan tongkat serta tali pramuka mereka—perlengkapan khas pramuka penggalang yang selalu dibawa ke mana-mana. Dalam kondisi darurat seperti itu, latihan tali temali saat SMP yang dulu terasa membosankan tiba-tiba menjadi sangat berarti, seakan berubah menjadi penyelamat. Kami menyusun dua tongkat panjang sebagai rangka, mengikatnya silang di beberapa titik hingga terbentuklah sebuah tandu sederhana. Pekerjaan itu hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit, namun terasa jauh lebih lama karena kami melakukannya sambil menahan dingin yang menusuk hingga tulang.
“Bisa naik pelan-pelan?” tanyaku pada Sari
Sari mengangguk lemah.
Saat teman-teman regunya membantu mengangkatnya ke tandu, ia sempat bergumam, “Maaf… nyusahin…”
Aku menggeleng. “Gak apa-apa, Sari.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian kaca itu pecah, ia tidak menatapku dengan marah. Tatapannya kini bersahabat.
Tersesat di Hutan Pinus
Setelah hujan benar-benar mereda, hutan masih basah, licin, dan terasa asing. Setiap langkah memercikkan air dari tanah yang becek. Ketika kami mencoba mengikuti arah yang kami kira benar, semuanya tampak serupa: deretan batang pinus yang lurus, ilalang yang menutup jalan, embun yang jatuh dari dahan tinggi.
Tidak ada lagi tanda panah.
Tidak terdengar suara regu lain.
Tidak ada panitia. Hanya napas kami sendiri yang terdengar berat.
Dua regu berjalan memanjang, mengikuti perkiraan arah pulang. Bersama tiga anggota regu putra, aku memegang salah satu ujung tandu yang membawa Sari, berusaha menjaga keseimbangannya di medan yang menanjak dan licin.
“Kita bener-bener tersesat…” bisik Wahyu, suaranya hampir hilang tertelan gemerisik hutan.
Aku menoleh ke barisan belakang. Wajah-wajah anggota regu putri mulai pucat—antara panik, lelah, dan ketakutan. Sari yang terbaring di tandu juga tampak gelisah, matanya sesekali terbuka, menatap kami dengan kecemasan yang sama.
Aku mengatur nafas, mencoba tetap tenang. “Yang penting jangan panik.”
Dingin mulai menusuk ke tulang. Kami berhenti di tanah yang agak datar.
Aku berusaha berpikir cepat.
“Korek api di kotak P3K—cepat, bawa ke sini!”
Herman, yang sejak awal bertugas membawa kotak P3K, segera berlutut dan membuka box plastik itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia mengaduk isinya beberapa detik sebelum menghela napas lega.
“Alhamdulillah… masih kering.”
"Cari ranting yang agak kering, di bawah akar pinus biasanya ada.”
Anggota regu putra menyebar, mengumpulkan ranting-ranting kecil. Dengan sedikit kesulitan, akhirnya kami berhasil menyalakan api kecil. Asap naik ke udara, tipis di awal, lalu semakin tebal ketika ranting agak basah ikut terbakar.
“Kita buat kode Morse,” kataku. “Tutup-buka asap pakai hasduk, buat kode S-O-S, pendek tiga kali, panjang tiga kali dan pendek lagi tiga kali”
Beberapa anak melepas hasduk mereka untuk menutup dan membuka jalur asap dengan irama pendek-panjang.
Aku berdoa dalam hati semoga tim panitia melihatnya.
Sari terbaring di tandu, menggigil.
“Sari… kedinginan ya?” tanyaku.
Ia menatapku singkat sebelum berkata, “Maaf ya… aku dulu marah… gara-gara kaca itu…”
Aku sadar dia berbicara sambil menahan rasa sakit.
“Sudah… tidak apa-apa, Sari. Yang penting kamu baik-baik saja sekarang.”
Ia menunduk, seperti merasa bersalah.
Penantian yang Menegangkan
Hutan pinus setelah badai memiliki suara-suara misterius. Tetesan air dari dahan tinggi terdengar seperti langkah-langkah kecil. Angin yang masih tersisa membuat dedaunan bergetar, menciptakan bunyi gemerisik yang membuatku semakin waspada.
Aku dan Sari saling pandang—kami dua regu putra dan putri sama-sama tegang, mencoba menenangkan diri tetapi justru semakin sadar bahwa kami tersesat. Nafasku mulai tidak beraturan; setiap tarikan terasa pendek, seperti paru-paruku menolak bekerja dengan tenang. Sari memeluk lengannya sendiri, menggigil bukan hanya karena udara dingin setelah hujan, tetapi karena kecemasan yang makin menekan.
“Kalau malam datang sebelum kita ditemukan…?” gumamnya lirih.
Aku menelan ludah. Bayangan gelap yang merayap di sela-sela batang pinus membuat pikiranku berputar—tentang jarum jam yang terus bergerak, tentang suara aneh yang mungkin hanya hembusan angin, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang mengikuti.
Setiap suara ranting patah seakan jadi ancaman baru. Setiap detik tanpa kepastian membuat dadaku semakin sesak.
Kami sudah mencoba berkali-kali membuat tanda asap, tapi menunggu pertolongan terasa seperti menunggu keajaiban. Waktu seakan melar, dan keheningan yang hanya diisi gemerisik dedaunan membuatku hampir panik sepenuhnya.
Namun akhirnya—setelah sekitar satu setengah jam—kami mendengar suara sayup-sayup. Seperti dari megaphone.
“Halo…! Ada yang membuat tanda asap?!”
Ketegangan kami mencair, kali ini oleh harapan yang hampir tidak berani kami percayai.
Aku membalas dengan peluit, meniup kode morse, S-O-S. Nafasku gemetar saat meniupnya, seakan seluruh kecemasan selama satu jam lebih tumpah melalui suara peluit itu.
Beberapa menit kemudian, suara-suara itu terdengar makin dekat—langkah terburu-buru yang meretakkan ranting, disusul teriakan samar memanggil sesuatu. Aku kembali meniup peluit S-O-S, lebih keras dan lebih teratur, berharap gema bunyinya menembus rapatnya pepohonan dan mengarahkan mereka tepat kepada kami.
Tidak lama kemudian, dari balik deretan batang pinus yang basah, muncullah tim penolong dengan wajah tegang namun lega.
“Ah, kalian di sini rupanya!” seru salah satu dari mereka. “Untung kode asap kalian terlihat dari bukit!”
Begitu mendengar itu, aku merasa lega luar biasa.
Sari sempat memejamkan mata, seperti bersyukur.
Kami dibawa kembali ke tenda. Regu putri langsung menyerahkan Sari ke tim kesehatan panitia. Dan setelah itu, semuanya kembali tenang.
Tapi dalam diriku ada sesuatu yang tidak sama lagi.
Entah kenapa, aku tidak bisa mengabaikan tatapan Sari saat teman-teman regunya mengangkatnya ke tandu. Tatapan yang retak tapi hangat. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah ia berikan padaku.
Malam Api Unggun
Udara malam terasa jauh lebih dingin. Api unggun menyala besar di tengah lapangan yang dikelilingi puluhan tenda, memantulkan cahaya jingga ke wajah-wajah kami. Nyala apinya menari, seakan menjadi pusat semesta kecil malam itu. Setiap regu bersiap menampilkan pentas seni, menunggu giliran dengan degup jantung yang berpacu bersama suara kayu-kayu terbakar.
Regu kami tampil lebih awal. Dengan peralatan dapur yang kami bawa—panci, tutup panci, sendok besar, ember dan gelas aluminium—kami menciptakan irama sederhana untuk mengiringi lagu Tegal "Man Droup Tukang Becak". Anak-anak tertawa, bersorak, bahkan guru pembina ikut bertepuk tangan.
Lalu tiba giliran Regu Anyelir 1-7.
Mereka maju membawa sebuah lilin kecil, dan seorang siswi berdiri di depan. Aku terkejut ketika melihat siapa pembaca puisinya.
Sari.
Ia berjalan pelan—kakinya sudah diperban.
Saat berdiri dekat api unggun, angin malam membuat seragam pramukanya sedikit berkibar. Wajahnya terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya—lebih tenang, lebih lembut.
Pembina berkata, “Silakan, Sari.”
Ia menatap sekeliling, lalu menunduk sebentar. Ketika menatap ke arahku, aku merasakan sesuatu yang aneh merayap di dada. Ia membuka kertas kecil di tangannya, lalu mulai membaca.
“UNTUK SEBUAH JEJAK”
Di hutan pinus, badai menepis suara,
Langkah kami hilang, arah pun sirna.
Di tengah dingin yang menusuk sampai dada,
Ada tangan yang terulur tanpa diminta.
Seseorang yang pernah kubenci,
karena kesalahpahaman sepele di pagi hari
Hari itu ia menolongku dari luka kaki,
seperti mengangkat bebanku yang diam-diam kubawa sendiri.
Maka malam ini, lewat api yang menyala tinggi,
aku ucapkan terima kasih dengan hati yang jujur sekali.
Maafkan aku…
dan bila kau sudi—jadilah sahabatku mulai saat ini.
Begitu bait terakhir selesai, suasana hening beberapa detik. Api unggun berapi merah, seakan menghangatkan setiap kata yang baru saja meluncur dari bibirnya.
Lalu tepuk tangan bergemuruh.
Aku merasa wajahku panas—bukan karena api, tapi karena sesuatu yang lain.
Ketika acara selesai dan semua regu kembali ke tenda, Sari sempat menghampiriku. Ia berdiri dan berjalan dengan sedikit pincang, ditemani teman se-regunya.
“Kudin…” panggilnya pelan.
Aku menoleh. “Iya?”
Ia tersenyum—senyum pertamanya kepadaku sejak hari keberangkatan. “Terima kasih… buat semuanya.”
Aku mengangguk. “Sama-sama. Semoga cepat sembuh ya kakinya.”
Ia menunduk sebentar, lalu berkata lirih,
“Mulai saat ini… aku beneran mau jadi teman baikmu.”
Dan malam itu, di bawah cahaya api unggun yang mulai mengecil, aku merasakan sesuatu bergeser di dalam diriku. Sesuatu yang hangat, lembut, dan asing.
Mungkin pertemanan.
Mungkin ketertarikan.
Atau mungkin… awal dari sesuatu yang belum bisa kutebak namanya.
Yang jelas, Agustus 1990 di Bumi Perkemahan Martoloyo Suniarsih itu meninggalkan jejak yang tak pernah hilang—jejak yang bermula dari sedikit kaca pecah, badai di hutan pinus, sebuah tandu sederhana, dan tiga bait puisi yang membuat malam itu tak pernah kulupakan.
TAMAT
Depok, 6 Desember 2025



