Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

 

Tegal, Sabtu 4 Agustus 1990. Angin pagi masih membawa aroma nasi ponggol yang dijual di seberang jalan ketika halaman sekolah kami mulai ramai oleh siswa-siswa kelas satu yang memanggul ransel besar, membawa tenda, dan menenteng berbagai perlengkapan kemah. Hari itu, seluruh siswa kelas satu SMA Negeri 1 Tegal bersiap berangkat menuju Bumi Perkemahan Martoloyo di Desa Suniarsih, Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal, di lereng Gunung Slamet. Udara di sana terkenal dingin; kebun-kebun teh membentang seperti permadani hijau, sementara hutan pinus berdiri rapat—seakan menjadi gerbang raksasa yang membuka jalan menuju dunia lain.

Aku—Kudin, kelas 1-3—masih menyesuaikan diri dengan kehidupan SMA yang baru. Masuk sekolah belum genap satu bulan, rasanya semuanya masih asing. Teman-teman baru, guru baru, dan kegiatan pramuka yang harus kami ikuti sebagai syarat diterima menjadi “tamu penegak”. Tidak ada yang boleh absen.

Aku sama sekali belum mengenal Sari dari kelas 1-7. Setidaknya sampai suatu kejadian kecil, bodoh, dan sangat tidak kusengaja, membuatnya membenciku bahkan sebelum kami saling mengenal.

 

Kejadian di Pagi Keberangkatan

Pagi itu aku sedang menurunkan ransel besar dari bahuku untuk dikumpulkan dengan ransel teman-temanku satu regu. Di dekatku, banyak siswa perempuan sibuk mengikat tali sepatu, memeriksa bekal, dan merapikan hasduk. Salah satu dari mereka adalah Sari—yang saat itu belum kukenal.

Karena terburu-buru, aku menggeser ranselku dengan kaki agar tidak menghalangi jalan. Tapi ransel itu tidak hanya bergeser… terpental dan mengenai sebuah botol air yang sedang diletakkan seseorang di tanah. Botol itu roboh, menabrak tas kecil yang terbuka, dan isinya—sebuah kotak bedak dan kaca kecil—terhempas dan retak ketika jatuh.

Suara kecil kaca pecah membuat semua orang menoleh.

Dan pemiliknya adalah Sari.

Wajahnya merah padam, campuran antara kaget, kesal, dan malu dilihat banyak orang.

“Masya Allah… kaca kesayanganku…” gerutunya lirih namun jelas. “Kamu sih… seenaknya nyeruduk!”

Aku kaget bukan main.
“Maaf—maaf banget, aku gak sengaja. Tadi ranselku—”

“Udah! Ngomong aja gampang. Bedakku jadi berantakan…malu aku”

Aku ingin membantu memunguti pecahan itu, tapi ia sempat menepis tanganku.

“Aku bisa sendiri!”

Sejak itu, setiap aku menatapnya, Sari akan memalingkan wajah. Dan entah kenapa kejadian itu rasanya mengawali segala hal buruk di hari keberangkatan itu.

Kuperhatikan ketika ia naik kendaraan yang akan membawanya ke bumi perkemahan, ia langsung memalingkan wajah dariku. Bahkan sebelumnya ketika panitia membagi kelompok kerja, setiap kami bertemu ia selalu memasang muka tidak bersahabat.

Entahlah, mungkin memang kesan pertama itu penting. Dan kesanku di matanya sudah benar-benar buruk.

 

Bumi Perkemahan di Lereng Gunung Slamet

Setibanya di lokasi, hawa dingin langsung menusuk. Di sisi kiri, hamparan kebun teh bergradasi hijau tua. Di sisi kanan, hutan pinus berdiri rapat, seperti pagar raksasa yang menyimpan banyak misteri. Lapangan besar di tepinya menjadi lokasi peletakan tenda setiap regu.

Setiap regu sudah mendapatkan satu kavling berukuran kira-kira lima kali lima meter persegi—sebidang tanah yang nantinya menjadi “rumah kecil” kami selama lima hari empat malam ke depan. Begitu pembina memberi aba-aba, seluruh regu langsung bergerak lincah. Suara bilah-bilah bambu saling beradu, suara tenda digelar, tiang dipukul dengan palu kayu, dan teriakan kecil saling memberi instruksi bercampur menjadi satu irama khas perkemahan.

Reguku mulai dengan mendirikan tenda berbahan kain tebal warna putih kusam. Dua orang memegang tiang utama, sementara yang lain menarik tali pancang, mengikatnya dengan pasak dan menancapkannya ke tanah yang agak lembap. Angin gunung membuat proses itu sedikit sulit—tenda beberapa kali menggembung, hampir terangkat sebelum sempat dikaitkan dengan benar.

Setelah tenda berdiri kokoh, kami beralih mengurus area sekitar. Beberapa teman mulai meraut bambu untuk membuat pagar sederhana sebagai batas kavling, satu per satu bilah ditancapkan membentuk barisan rapi. Pada bagian depan kami membuat gapura kecil dari dua batang bambu yang diikat simpul palang—tidak terlalu megah, tapi cukup membuat regu kami terlihat kompak.

Regu-regu lain tak kalah sibuk. Ada yang membuat rak piring dari bambu yang disusun bersilang, gunanya menaruh peralatan masak, panci, wajan kecil, serta bahan makanan seperti beras, lauk kering, sayuran mentah, dan tentu saja mie instan yang menjadi penyelamat di saat-saat genting. Rak itu ditutup dengan daun pisang agar barang-barang di atasnya tidak langsung terkena embun malam.

Di pojok kavling, kami membuat jemuran pakaian dari dua tiang bambu. Meski belum ada yang basah, pembina berpesan agar semua regu menyiapkannya sejak awal—“lebih baik berjaga-jaga,” katanya. Tak jauh dari situ, kompor minyak tanah didirikan di atas bebatuan datar. Bau minyak yang khas langsung menyeruak ketika kami mencoba menyalakan lampu minyak sebagai penerangan untuk malam nanti.

Dalam satu jam, kavling kami akhirnya tampak seperti sebuah kamp kecil yang tertata. Meski sederhana, suasananya memberi rasa nyaman tersendiri—seperti punya wilayah sendiri di tengah dinginnya lereng Gunung Slamet.

Malam pertama setelah sore tadi dilaksanakan upacara pembukaan kemah berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Api unggun kecil menyala di beberapa titik, lampu minyak bergoyang karena angin, dan suara jangkrik dari arah hutan pinus menjadi musik latar yang tak putus-putus. Namun setiap kali aku tak sengaja berpapasan dengan Sari—entah ketika aku mengambil air, menuju dapur umum, atau sekadar lewat di depan tendanya—ia tetap memasang wajah kesal. Seolah kejadian pagi itu adalah dosa besar yang tak bisa ditebus oleh apa pun.

Aku ingin meminta maaf sekali lagi, tapi ia selalu menghindar. Dan jarak yang tercipta itu terasa makin panjang dari menit ke menit, seakan tenda kami berdiri di dua dunia yang berbeda.


Jejak Petualang

Pagi hari kedua, kegiatan mencari jejak dimulai. Satu regu berisi sepuluh orang harus menyusuri rute panjang yang melewati sungai, hamparan kebun teh, bukit-bukit landai, hingga akhirnya masuk ke kawasan hutan pinus. Setiap regu telah dibekali perlengkapan lengkap—baik peralatan pribadi maupun perlengkapan bersama seperti kotak P3K. Rute telah dipasangi tanda-tanda penunjuk arah, memastikan setiap peserta bisa mengikuti jalur dengan aman.

Aku menjadi ketua Regu Rajawali 1-3.
Salah satu regu putri dari kelas 1-7 dinamai Regu Anyelir 1-7. Waktu berangkat, aku hanya tahu Sari berada di regu itu. Dan aku tidak berharap bertemu dengannya, sejujur-jujurnya.

Langit cerah. Embun masih menggantung di pucuk rumput. Namun sekitar satu jam sejak kami masuk ke hutan pinus, awan gelap bergulung-gulung seperti ditarik ke tengah udara.

“Eh… kok mendungnya cepet banget?” ujar Wahyu, salah satu anggota reguku.

Angin mulai berputar. Daun-daun pinus berdesir keras. Beberapa tanda panah dari kayu mulai jatuh. Belum sempat kami memutuskan untuk kembali, badai datang.

Bukan hujan biasa.
Ini hujan deras plus angin kencang yang membuat kami mustahil melihat apa pun selain batang pinus gelap dan tanah basah.

“Tanda arahnya hilang semua!” teriak Randi.

Kami mencoba mencari arah, tapi di dalam hutan pinus hujan seperti tirai yang menutup pandangan. Semua tampak sama.

Aku mengambil keputusan, “Cari tempat teduh dulu! Jangan pisah!”

Namun saat kami merunduk di balik pohon besar, kami mendengar suara teriakan dari jauh.

“Tolooong…!”

Suara itu lirih, tertelan badai, tapi jelas suara regu putri.

Kami berlari mengikuti sumber suara. Di balik kumpulan pinus yang tampak mirip satu sama lain, kami menemukan mereka—Regu Anyelir 1-7—berkumpul sambil mengelilingi seseorang.

Dan seseorang itu adalah Sari.

Wajahnya pucat. Kakinya dibalut seadanya menggunakan hasduk. Nafasnya tampak menahan sakit.

Ketua regu putri berkata panik,
“Sari terkilir waktu terpeleset!”

Sari mendongak sebentar, dan aku bisa melihat ia terkejut melihatku. Tapi ia tidak bicara apa pun—mungkin karena kesakitan.

Situasi genting itu membuat ego dan rasa kesal menjadi tidak penting.

“Kita harus bikin tandu. Wahyu, Rudi, tongkat dan tali kalian bawa ke sini?” ujarku.

Wahyu dan Rudi segera menyerahkan tongkat serta tali pramuka mereka—perlengkapan khas pramuka penggalang yang selalu dibawa ke mana-mana. Dalam kondisi darurat seperti itu, latihan tali temali saat SMP yang dulu terasa membosankan tiba-tiba menjadi sangat berarti, seakan berubah menjadi penyelamat. Kami menyusun dua tongkat panjang sebagai rangka, mengikatnya silang di beberapa titik hingga terbentuklah sebuah tandu sederhana. Pekerjaan itu hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit, namun terasa jauh lebih lama karena kami melakukannya sambil menahan dingin yang menusuk hingga tulang.

“Bisa naik pelan-pelan?” tanyaku pada Sari

Sari mengangguk lemah.

Saat teman-teman regunya membantu mengangkatnya ke tandu, ia sempat bergumam, “Maaf… nyusahin…”

Aku menggeleng. “Gak apa-apa, Sari.”

Untuk pertama kalinya sejak kejadian kaca itu pecah, ia tidak menatapku dengan marah. Tatapannya kini bersahabat.

 

Tersesat di Hutan Pinus

Setelah hujan benar-benar mereda, hutan masih basah, licin, dan terasa asing. Setiap langkah memercikkan air dari tanah yang becek. Ketika kami mencoba mengikuti arah yang kami kira benar, semuanya tampak serupa: deretan batang pinus yang lurus, ilalang yang menutup jalan, embun yang jatuh dari dahan tinggi.
Tidak ada lagi tanda panah.
Tidak terdengar suara regu lain.
Tidak ada panitia. Hanya napas kami sendiri yang terdengar berat.

Dua regu berjalan memanjang, mengikuti perkiraan arah pulang. Bersama tiga anggota regu putra, aku memegang salah satu ujung tandu yang membawa Sari, berusaha menjaga keseimbangannya di medan yang menanjak dan licin.

“Kita bener-bener tersesat…” bisik Wahyu, suaranya hampir hilang tertelan gemerisik hutan.

Aku menoleh ke barisan belakang. Wajah-wajah anggota regu putri mulai pucat—antara panik, lelah, dan ketakutan. Sari yang terbaring di tandu juga tampak gelisah, matanya sesekali terbuka, menatap kami dengan kecemasan yang sama.

Aku mengatur nafas, mencoba tetap tenang. “Yang penting jangan panik.”

Dingin mulai menusuk ke tulang.  Kami berhenti di tanah yang agak datar.

Aku berusaha berpikir cepat.
“Korek api di kotak P3K—cepat, bawa ke sini!”

Herman, yang sejak awal bertugas membawa kotak P3K, segera berlutut dan membuka box plastik itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia mengaduk isinya beberapa detik sebelum menghela napas lega.
“Alhamdulillah… masih kering.”

"Cari ranting yang agak kering, di bawah akar pinus biasanya ada.”

Anggota regu putra menyebar, mengumpulkan ranting-ranting kecil. Dengan sedikit kesulitan, akhirnya kami berhasil menyalakan api kecil. Asap naik ke udara, tipis di awal, lalu semakin tebal ketika ranting agak basah ikut terbakar.

“Kita buat kode Morse,” kataku. “Tutup-buka asap pakai hasduk, buat kode S-O-S, pendek tiga kali, panjang tiga kali dan pendek lagi tiga kali”

Beberapa anak melepas hasduk mereka untuk menutup dan membuka jalur asap dengan irama pendek-panjang.

Aku berdoa dalam hati semoga tim panitia melihatnya.

Sari terbaring di tandu, menggigil.

“Sari… kedinginan ya?” tanyaku.

Ia menatapku singkat sebelum berkata, “Maaf ya… aku dulu marah… gara-gara kaca itu…”

Aku sadar dia berbicara sambil menahan rasa sakit.
“Sudah… tidak apa-apa, Sari. Yang penting kamu baik-baik saja sekarang.”

Ia menunduk, seperti merasa bersalah.

 

Penantian yang Menegangkan

Hutan pinus setelah badai memiliki suara-suara misterius. Tetesan air dari dahan tinggi terdengar seperti langkah-langkah kecil. Angin yang masih tersisa membuat dedaunan bergetar, menciptakan bunyi gemerisik yang membuatku semakin waspada.

Aku dan Sari saling pandang—kami dua regu putra dan putri sama-sama tegang, mencoba menenangkan diri tetapi justru semakin sadar bahwa kami tersesat. Nafasku mulai tidak beraturan; setiap tarikan terasa pendek, seperti paru-paruku menolak bekerja dengan tenang. Sari memeluk lengannya sendiri, menggigil bukan hanya karena udara dingin setelah hujan, tetapi karena kecemasan yang makin menekan.
“Kalau malam datang sebelum kita ditemukan…?” gumamnya lirih.

Aku menelan ludah. Bayangan gelap yang merayap di sela-sela batang pinus membuat pikiranku berputar—tentang jarum jam yang terus bergerak, tentang suara aneh yang mungkin hanya hembusan angin, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang mengikuti.
Setiap suara ranting patah seakan jadi ancaman baru. Setiap detik tanpa kepastian membuat dadaku semakin sesak.

Kami sudah mencoba berkali-kali membuat tanda asap, tapi menunggu pertolongan terasa seperti menunggu keajaiban. Waktu seakan melar, dan keheningan yang hanya diisi gemerisik dedaunan membuatku hampir panik sepenuhnya.

Namun akhirnya—setelah sekitar satu setengah jam—kami mendengar suara sayup-sayup. Seperti dari megaphone.

“Halo…! Ada yang membuat tanda asap?!”

Ketegangan kami mencair, kali ini oleh harapan yang hampir tidak berani kami percayai.

Aku membalas dengan peluit, meniup kode morse, S-O-S. Nafasku gemetar saat meniupnya, seakan seluruh kecemasan selama satu jam lebih tumpah melalui suara peluit itu.

Beberapa menit kemudian, suara-suara itu terdengar makin dekat—langkah terburu-buru yang meretakkan ranting, disusul teriakan samar memanggil sesuatu. Aku kembali meniup peluit S-O-S, lebih keras dan lebih teratur, berharap gema bunyinya menembus rapatnya pepohonan dan mengarahkan mereka tepat kepada kami.

Tidak lama kemudian, dari balik deretan batang pinus yang basah, muncullah tim penolong dengan wajah tegang namun lega.

“Ah, kalian di sini rupanya!” seru salah satu dari mereka. “Untung kode asap kalian terlihat dari bukit!”

Begitu mendengar itu, aku merasa lega luar biasa.

Sari sempat memejamkan mata, seperti bersyukur.

Kami dibawa kembali ke tenda. Regu putri langsung menyerahkan Sari ke tim kesehatan panitia. Dan setelah itu, semuanya kembali tenang.

Tapi dalam diriku ada sesuatu yang tidak sama lagi.

Entah kenapa, aku tidak bisa mengabaikan tatapan Sari saat teman-teman regunya mengangkatnya ke tandu. Tatapan yang retak tapi hangat. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah ia berikan padaku.

 

Malam Api Unggun

Udara malam terasa jauh lebih dingin. Api unggun menyala besar di tengah lapangan yang dikelilingi puluhan tenda, memantulkan cahaya jingga ke wajah-wajah kami. Nyala apinya menari, seakan menjadi pusat semesta kecil malam itu. Setiap regu bersiap menampilkan pentas seni, menunggu giliran dengan degup jantung yang berpacu bersama suara kayu-kayu terbakar.

Regu kami tampil lebih awal. Dengan peralatan dapur yang kami bawa—panci, tutup panci, sendok besar, ember dan gelas aluminium—kami menciptakan irama sederhana untuk mengiringi lagu Tegal "Man Droup Tukang Becak".  Anak-anak tertawa, bersorak, bahkan guru pembina ikut bertepuk tangan.

Lalu tiba giliran Regu Anyelir 1-7.
Mereka maju membawa sebuah lilin kecil, dan seorang siswi berdiri di depan. Aku terkejut ketika melihat siapa pembaca puisinya.

Sari.

Ia berjalan pelan—kakinya sudah diperban.
Saat berdiri dekat api unggun, angin malam membuat seragam pramukanya sedikit berkibar. Wajahnya terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya—lebih tenang, lebih lembut.

Pembina berkata, “Silakan, Sari.”

Ia menatap sekeliling, lalu menunduk sebentar. Ketika menatap ke arahku, aku merasakan sesuatu yang aneh merayap di dada. Ia membuka kertas kecil di tangannya, lalu mulai membaca.


“UNTUK SEBUAH JEJAK”

Di hutan pinus, badai menepis suara,
Langkah kami hilang, arah pun sirna.
Di tengah dingin yang menusuk sampai dada,
Ada tangan yang terulur tanpa diminta.

Seseorang yang pernah kubenci,
karena kesalahpahaman sepele di pagi hari
Hari itu ia menolongku dari luka kaki,
seperti mengangkat bebanku yang diam-diam kubawa sendiri.

Maka malam ini, lewat api yang menyala tinggi,
aku ucapkan terima kasih dengan hati yang jujur sekali.
Maafkan aku…
dan bila kau sudi—jadilah sahabatku mulai saat ini.

 

Begitu bait terakhir selesai, suasana hening beberapa detik. Api unggun berapi merah, seakan menghangatkan setiap kata yang baru saja meluncur dari bibirnya.

Lalu tepuk tangan bergemuruh.

Aku merasa wajahku panas—bukan karena api, tapi karena sesuatu yang lain.

Ketika acara selesai dan semua regu kembali ke tenda, Sari sempat menghampiriku. Ia berdiri dan berjalan dengan sedikit pincang, ditemani teman se-regunya.

“Kudin…” panggilnya pelan.

Aku menoleh. “Iya?”

Ia tersenyum—senyum pertamanya kepadaku sejak hari keberangkatan. “Terima kasih… buat semuanya.”

Aku mengangguk. “Sama-sama. Semoga cepat sembuh ya kakinya.”

Ia menunduk sebentar, lalu berkata lirih,
“Mulai saat ini… aku beneran mau jadi teman baikmu.”

Dan malam itu, di bawah cahaya api unggun yang mulai mengecil, aku merasakan sesuatu bergeser di dalam diriku. Sesuatu yang hangat, lembut, dan asing.

Mungkin pertemanan.
Mungkin ketertarikan.
Atau mungkin… awal dari sesuatu yang belum bisa kutebak namanya.

Yang jelas, Agustus 1990 di Bumi Perkemahan Martoloyo Suniarsih itu meninggalkan jejak yang tak pernah hilang—jejak yang bermula dari sedikit kaca pecah, badai di hutan pinus, sebuah tandu sederhana, dan tiga bait puisi yang membuat malam itu tak pernah kulupakan.

TAMAT

Depok, 6 Desember 2025

 







✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)