Novel - Kenangan ‘93: Jejak Cahaya Jelita


PROLOG – LENSA RANGGA

Jakarta, sore yang membias di kaca gedung tinggi. Langit menggantung warna jingga pudar, seperti kenangan yang menolak padam. Di ruang galeri yang beraroma kopi dan cat akrilik, langkah-langkah pengunjung terdengar ringan, berbaur dengan desis pendingin udara dan bisik kagum para tamu.

Di tengah dinding yang penuh foto-foto, berdirilah Rangga. Usianya 37 tahun, tubuh tegap namun tatapannya lelah — lelah dengan cara orang yang terlalu sering menatap hidup lewat bingkai kaca. Ia mengenakan kemeja linen abu-abu, kamera DSLR dengan lensa panjang tergantung di lehernya, bukan sebagai alat kerja malam itu, melainkan bagian dari dirinya sendiri.

“Rangga Pradipta, fotografer yang karyanya disebut-sebut menangkap jiwa manusia,” ucap seorang kurator muda dalam sambutannya. “Ia memotret bukan sekadar wajah, tapi waktu yang melekat pada wajah itu.”

Tepuk tangan menggema, tapi Rangga hanya menunduk. Bibirnya tersenyum, matanya tidak. Ia selalu tahu bagaimana menghadapi tepuk tangan — tapi tidak tahu bagaimana menghadapi sunyi setelahnya.

Seorang jurnalis mendekat, menodongkan mikrofon kecil.
“Apa rahasia di balik foto-foto Anda yang begitu emosional, Mas Rangga?”

Rangga menatap kamera yang diarahkan padanya. “Mungkin karena saya terlalu sering kehilangan sesuatu,” jawabnya pelan. “Dan saya belajar memotret sebelum semuanya benar-benar hilang.”

Sang jurnalis terdiam, lalu tersenyum kaku, tidak mengerti sepenuhnya.
Rangga tahu — memang tak semua kehilangan bisa dijelaskan, apalagi lewat kata-kata.


Setelah acara berakhir, galeri mulai lengang. Hanya lampu sorot yang masih menyinari dinding, menyisakan bayangan yang bergerak pelan di lantai. Rangga berjalan ke sudut ruangan, membuka koper kecil berisi album-album lama — bukan bagian dari pameran, melainkan milik pribadinya.

Ia membuka satu per satu. Foto anak kecil berlari di tengah hujan, wajah ibu tua menatap laut, tangan seorang ayah menggenggam jemari anaknya. Semua gambar itu terasa hidup, tapi baginya — semuanya diam. Ada sesuatu yang tidak pernah ia potret: dirinya sendiri.

Tangannya berhenti di sebuah foto berukuran 3R berbingkai kayu. Foto lama yang warnanya sudah mulai pudar. Seorang gadis remaja sedang menyanyi di atas panggung sekolah, matanya menatap cahaya, seolah menatap masa depan. Di sudut bawah ada tanda kecil tulisan tangannya sendiri: Bhakti Negara, 1993.

Ia menatap lama, nyaris tanpa berkedip. Dunia sekitarnya lenyap — hanya gambar itu yang tersisa. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara keluar.

“Jelita…” bisiknya.

Dan seketika, suara lampu galeri yang berdengung pelan berubah menjadi derit kipas tua di ruang kelas. Aroma kopi berubah menjadi bau kapur tulis dan seragam putih abu-abu.
Suara musik lembut berganti menjadi sorak-sorai remaja SMA.

Cahaya di matanya memudar, lalu menyala lagi — bukan di galerinya, tapi di sebuah aula sekolah dua puluh tahun silam.

Dari balik lensanya yang berdebu, waktu mulai memutar kembali.

 

BAB 1 – JEJAK SEKOLAH ‘93

Suara lonceng sekolah berdentang, menggema di antara pohon flamboyan yang tengah berbunga merah. Udara pagi itu masih lembap, dan matahari baru saja naik di atas atap gedung SMA Bhakti Negara di Jakarta Selatan. Dari kejauhan terdengar teriakan petugas piket yang terburu-buru menutup gerbang, disusul gerutuan beberapa siswa yang nyaris terlambat.

Rangga berdiri di halaman, memeluk tas kain lusuh yang di dalamnya tersimpan kamera analog kesayangannya — Canon AE-1, warisan dari pamannya yang dulu bekerja sebagai juru foto keliling. Ia menatap kehidupan sekolah yang riuh di sekitarnya seperti seseorang yang berdiri di balik jendela dunia: melihat jelas, tapi tak ikut di dalamnya.

Teman-temannya bercanda, berebut makanan di kantin, atau menendang bola di lapangan. Rangga memilih duduk di bawah pohon, memotret bayangan daun yang menimpa tanah basah. Ia senang dengan hal-hal kecil yang luput dari pandangan orang lain — embun di ujung daun, senyum sekilas penjaga sekolah, atau selembar kertas yang terbang tertiup angin.

“Rangga! Foto-foto mulu, ya. Ntar masuk koran sekolah tuh,” teriak Bima, sahabatnya yang berkulit sawo matang dan selalu ceria.

Rangga tersenyum samar, menurunkan kameranya. “Aku cuma mau latihan. Cahaya pagi bagus banget.”

“Cahaya, cahaya…” Bima terkekeh. “Kau ini kayak penyair yang salah jurusan.”

Mereka berjalan menuju aula, tempat pentas seni sekolah akan digelar. Ruangan itu luas, berlantai marmer mengilap, dengan panggung kecil di ujungnya. Siswa-siswi sudah duduk berbaris rapi, sementara panitia tampak sibuk menyiapkan pengeras suara dan pencahayaan.

Ketika lampu sorot menyala, suasana perlahan sunyi. Pembawa acara naik ke panggung membuka acara dan memperkenalkan penampil pertama — seorang siswi yang akan menyanyikan sebuah lagu diiringi grup band sekolah.

Nama itu bergema lembut dari pengeras suara, seolah menembus keramaian dan langsung menuju dada Rangga: “Jelita Saraswati.”

Rangga menoleh tanpa tahu apa yang mendorongnya. Pandangannya tertumbuk pada seorang siswi sekelas—gadis yang baru beberapa bulan ini bersamanya di kelas satu—sedang berjalan menuju panggung dengan langkah pelan namun mantap.

Rambut hitamnya terurai sebahu; matanya bening—bukan tajam, tetapi jernih seperti permukaan danau saat pagi hari. Ia membawa mikrofon, lalu berhenti tepat di tengah lingkar cahaya, seolah seluruh ruang tengah menunggu ia mulai bernapas.

Lalu, suara itu keluar.
Lembut. Jujur. Mengalun seperti hujan pertama di musim kemarau.

Semua siswa yang tadi gaduh tiba-tiba hening. Bahkan Bima pun kehilangan komentar konyolnya. Namun hanya Rangga yang merasa dadanya bergetar.

Ia mengangkat kamera tanpa sadar. Melalui lensa itu, Jelita tidak lagi tampak sekadar gadis yang sedang menyanyi, melainkan seseorang yang seolah berbicara langsung kepada jiwanya. Gadis yang selama beberapa bulan ini nyaris selalu ia abaikan, kini perlahan mencuri seluruh perhatiannya.

Cahaya panggung jatuh tepat di wajah Jelita—membentuk siluet lembut yang terasa seperti jembatan halus antara masa kini dan masa depan.

Klik.

Suara rana terdengar pelan, tapi cukup bagi Rangga untuk tahu: ia baru saja menangkap sesuatu yang tak akan bisa ia ulangi. Bukan sekadar foto, tapi perasaan.


Setelah acara selesai, siswa-siswi keluar dari aula dengan riuh. Rangga masih berdiri di tempatnya, menatap panggung yang kini kosong. Hanya tinggal jejak langkah, kabel berserakan, dan selembar tisu yang mungkin milik Jelita. Ia memungutnya tanpa tahu kenapa, lalu menyimpannya di saku.

“Coy, kau kenapa bengong?” tanya Bima sambil menepuk pundaknya.

“Enggak,” jawab Rangga pelan. “Cuma... tadi Jelita nyanyi bagus banget.”

“Apa yang bagus? Suaranya, atau orangnya?” goda Bima.

Rangga menunduk, menahan senyum. “Entahlah.”

Bima tertawa keras. “Ah, kau jatuh cinta, Ga! Pertama kali nih!”

Rangga tidak menjawab. Ia hanya menatap kamera di tangannya — filmnya masih di dalam, belum dicuci, tapi entah mengapa ia yakin sesuatu yang berharga sudah terekam di sana.
Bukan sekadar bayangan seorang gadis yang bernyanyi di atas panggung, melainkan sesuatu yang akan menetap di dalam dirinya untuk waktu yang sangat lama.

Di luar aula, angin berhembus membawa aroma bunga flamboyan.
Sementara di dalam dadanya, sesuatu yang belum pernah ada — mulai tumbuh diam-diam, setenang cahaya yang kelak akan muncul dari lembar film itu.

 

BAB 2 – TUGAS BERSAMA

Beberapa minggu setelah acara pentas seni itu, kehidupan sekolah kembali bergulir seperti biasa. Namun bagi Rangga, pagi-pagi di Bhakti Negara tidak pernah lagi terasa sama.

Di kelas, diam-diam ia menunggu Jelita—yang duduk di barisan depan—menoleh meski hanya sekilas, sekadar memberi alasan baginya untuk melihat senyum gadis itu. Setiap kali bel berbunyi, pikirannya bergerak lebih cepat daripada langkahnya, tanpa sadar mencari-cari sosok Jelita: di koridor yang riuh, di lapangan yang tersapu cahaya matahari, atau di perpustakaan yang sunyi dan berbau kertas tua.

Ada sesuatu yang berubah, meski ia belum mau mengakuinya: dunia yang sama kini tampak berbeda hanya karena satu nama yang mulai mengisi ruang dalam benaknya—Jelita.

Sampai suatu hari, guru kesenian mengumumkan tugas besar: dokumentasi kegiatan sekolah menjelang peringatan hari Pahlawan 10 November. Tugas itu harus dikerjakan berkelompok — setiap kelompok terdiri dari dua orang, dan hasilnya akan dipajang di mading sekolah.

“Rangga Pradipta… kamu dengan… Jelita Saraswati,” ucap Bu Ratna sembari memeriksa daftar.

Waktu seakan berhenti sesaat.
Rangga mendongak dari meja, menatap ke depan kelas. Jelita yang duduk di barisan depan menoleh, bibirnya melengkung menjadi senyum tipis. Rangga cepat-cepat menunduk, pura-pura menulis sesuatu di buku catatan. 
Pipinya panas.


Sore itu, mereka mulai mengerjakan tugas di taman belakang sekolah. Rangga membawa kamera dan beberapa rol film, sementara Jelita mencatat ide-ide di kertas bergaris. Angin sore berembus, meniup helaian rambutnya, dan Rangga harus menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

“Jadi, kita harus buat foto-foto yang menggambarkan semangat mengisi hasil perjuangan, para pahlawan ya?” tanya Jelita sambil menulis.

Rangga mengangguk. “Iya. Tapi jangan terlalu formal. Aku mau ambil yang alami — anak-anak latihan drumband, atau siswa yang mengibarkan bendera.”

“Hmm, bagus juga,” katanya, lalu menatap Rangga. “Kau suka banget sama foto, ya?”

Rangga tersenyum kecil. “Aku nggak tahu kenapa. Rasanya… lewat lensa, aku bisa berhenti di waktu yang aku mau.”

“Berhenti di waktu?” Jelita mengulang, penasaran.

“Ya,” Rangga menghela napas pelan. “Kalau dunia ini jalan terus, foto bisa bikin satu detik jadi abadi.”

Jelita terdiam sesaat, menatapnya — tatapan yang bukan lagi sekadar ingin tahu, melainkan seolah mengerti sesuatu yang tak terucap. “Kau orang yang aneh, tapi menarik,” katanya akhirnya, tertawa ringan.

Rangga hanya nyengir malu. “Sering dibilang begitu.”

Mereka berjalan keliling halaman, mengambil beberapa gambar. Jelita membantu mengatur posisi bendera dan siswa yang sedang berlatih, kadang ikut tertawa karena Rangga terlalu serius mengatur sudut pandang.

Ketika sore mulai memudar, Jelita duduk di bawah pohon mangga dekat pagar sekolah. Cahaya keemasan jatuh di wajahnya, menembus celah dedaunan. Ia menatap jauh ke arah langit, dengan ekspresi damai dan sendu di saat bersamaan.

Tanpa berpikir panjang, Rangga mengangkat kamera.
Klik.
Satu jepretan yang sempurna.

“Eh, kau motret aku, ya?” seru Jelita sambil tertawa kecil.

“Enggak… cuma nyoba cahaya,” elaknya cepat.

“Tapi aku lihat kok.” Jelita tersenyum menggoda. “Nanti kasih lihat hasilnya, ya. Aku penasaran.”

Rangga hanya mengangguk. Tapi dalam hatinya, ia tahu foto itu berbeda. Bukan sekadar bagian dari tugas sekolah, tapi momen di mana dunia terasa berhenti — seperti yang selalu ia cari.


Matahari tenggelam perlahan. Mereka membereskan alat, dan suasana mendadak sunyi. Dari kejauhan, terdengar suara azan Magrib menggema. Jelita menatap Rangga sambil memeluk bukunya.

“Terima kasih ya, sudah mau kerja sama sama aku. Ternyata kamu nggak seseram yang dikira orang,” katanya sambil tersenyum lembut.

Rangga mengerjap, tidak mengerti. “Seram?”

“Iya. Katanya kamu pendiam, suka menyendiri. Tapi ternyata… kamu cuma terlalu banyak berpikir, ya?”

Rangga tertawa kecil. “Mungkin.”

“Aku senang bisa satu kelompok sama kamu.”
Ucapan itu sederhana, tapi bagi Rangga, rasanya seperti lagu yang tak ingin selesai.

Ketika Jelita beranjak pergi, Rangga berdiri terpaku. Ia menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh di jalan setapak, disinari cahaya jingga sore.
Ia tak tahu bagaimana caranya mengucapkan apa yang bergemuruh di dadanya.
Maka, seperti biasa — ia memilih diam.
Dan diam itulah yang kelak menjadi bahasa cintanya yang paling setia.

 

BAB 3 – CINTA TAK TERUCAP

Hujan baru saja reda. Udara sore masih lembap dan wangi tanah basah memenuhi udara di sekitar studio foto kecil milik paman Rangga. Di pojok ruangan, lampu kuning temaram menyala, memantulkan cahaya lembut di permukaan baki berisi cairan pencuci film. Di sanalah Rangga duduk, menggantung lembar-lembar foto hasil cetak sore itu.

Salah satunya adalah wajah Jelita — tertangkap dalam senyum yang tidak ditujukan kepada siapa pun, namun terasa seolah hanya untuknya. Ia menatap foto itu lama, matanya tak berkedip. Di balik kaca foto yang masih basah, seakan ia melihat dirinya sendiri yang tak pernah berani bicara.

Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak.
“Masuk,” katanya gugup.

Pintu berderit terbuka, dan suara lembut yang ia kenal baik menyelinap masuk.
“Kau di sini rupanya. Aku sudah cari dari tadi.”

Rangga berdiri terburu-buru. “Jelita?”
Gadis itu tersenyum sambil menutup pintu di belakangnya. 
“Bima bilang kau sering ke sini. Aku penasaran pengin lihat studio fotomu.”

Rangga mengangguk kikuk. “Ya… tempatnya kecil, cuma bantu-bantu paman.”
Jelita menelusuri ruangan dengan mata berbinar. “Tapi hangat. Aku suka bau kimia di sini, kayak... bau kenangan.”

Rangga tertawa pelan. “Bau kenangan? Baru kali ini aku dengar.”

Jelita menatap lembaran foto yang tergantung di tali jemuran kecil. “Itu... foto teman-teman latihan drumband, ya?”
Rangga mengangguk cepat. “Iya. Aku lagi seleksi hasil yang mau dicetak untuk tugas.”

“Dan yang ini?” Jelita menunjuk satu foto yang belum kering — potret dirinya sendiri di bawah pohon mangga, dengan cahaya senja di wajahnya.
Rangga menelan ludah. “Itu... cuma percobaan cahaya.”

“Percobaan cahaya, hmm?” Jelita tersenyum, menatapnya dalam. “Aku rasa bukan cuma cahaya yang kau tangkap, Ga.”

Rangga terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Suara detak jam dinding terasa lebih nyaring dari biasanya. Hujan kembali menetes di luar, seperti mengisi jeda di antara dua hati yang belum tahu arah.

Mereka duduk di kursi kayu yang menempel ke dinding. Jelita memainkan pita rambutnya, sementara Rangga berpura-pura sibuk membersihkan lensa. Dalam diam, mereka mendengar suara hujan, napas, dan detak jantung masing-masing — semua berbicara dalam bahasa yang tak mereka pahami.

“Aku suka tempat ini,” kata Jelita tiba-tiba. “Tenang. Nggak ribut kayak sekolah.”

Rangga tersenyum tipis. “Mungkin karena di sini waktu berjalan pelan.”

“Pelan?”
“Iya. Kadang aku berharap waktu bisa berhenti, terutama di momen tertentu.”

Jelita menatapnya, lama. “Kalau kau bisa menghentikan waktu sekarang, apa yang akan kau lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Rangga kehilangan kata. Ia ingin menjawab: Aku akan menatapmu sampai dunia berhenti berputar. Tapi yang keluar hanya gumaman lirih, “Aku nggak tahu.”

Jelita mengangguk pelan, lalu berdiri. “Kau selalu aneh, tapi aku nyaman.”
Ia berjalan mendekati pintu, namun sebelum keluar, ia menoleh. “Rangga... jangan terlalu banyak diam. Kadang dunia butuh tahu apa yang kau rasakan.”

Rangga mengangguk, tapi bibirnya tetap tak bergerak.
Setelah pintu tertutup, ia duduk kembali. Di depan matanya, foto-foto Jelita tergantung diam — dan di antara mereka, ada sesuatu yang menggantung pula di udara: perasaan yang tumbuh, tapi belum sempat berwujud kata.


Beberapa hari kemudian, mereka kembali bekerja bersama di teras rumah Jelita, menyeleksi hasil foto untuk laporan. Sore itu hangat, matahari miring di ujung atap. Ibu Jelita menghidangkan teh melati, meninggalkan mereka berdua di bawah gemerisik angin.

“Foto ini bagus banget,” kata Jelita sambil memegang satu lembar. “Kau tahu, orang yang difoto bisa merasakan kapan fotografernya tulus.”

Rangga menatapnya, pelan. “Kau percaya begitu?”

“Percaya,” jawab Jelita mantap. “Dan aku bisa lihat ketulusan itu di sini.”
Ia mengangkat foto potret dirinya sendiri.

Rangga tertawa kecil, gugup. “Ah, itu cuma—”

“Cuma cahaya?” sela Jelita sambil tersenyum nakal.

Rangga ikut tersenyum, tapi di balik senyum itu ada debar yang sulit disembunyikan. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu — betapa setiap kali menatap wajah Jelita, dunia seolah tenang. Tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan, mengeras di dada.

Hanya kamera di pangkuannya yang berbicara. Ia mengangkatnya, mengarahkan pada Jelita yang tengah tertawa kecil, rambutnya tertiup angin.

Klik.
Satu jepretan lagi.
Satu keheningan lagi yang terabadikan.

Dan sore itu, dalam cahaya yang memudar, Rangga akhirnya menyadari:
cinta tidak selalu datang dengan suara. Kadang ia datang dalam diam — dan bertahan di sana, seperti gambar yang tak pernah dicetak, tapi terus hidup di dalam hati.

 

BAB 4 – PERPISAHAN MENDADAK

Udara sore itu terasa aneh bagi Rangga — seperti ada yang berubah tapi belum bisa dijelaskan. Bel sekolah baru saja berbunyi, menandai akhir jam pelajaran terakhir menjelang masa libur. Suasana kelas ramai, semua murid bicara soal rencana mereka setelah pembagian rapor hasil Tes Sumatif Semester Gasal. Namun, di antara riuh suara itu, Rangga menangkap bisikan samar dari teman-teman perempuan Jelita.

“Katanya Jelita mau pindah kota, ya?”
“Serius? Kok mendadak begitu?”

Kalimat itu membuat jantung Rangga berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke arah bangku Jelita, tapi sudah kosong. Hanya tersisa selembar kertas coretan lirik lagu di meja — tulisan tangannya yang khas. Tanpa menunggu, Rangga berlari keluar kelas, menuruni tangga menuju ruang musik.

Di ruang musik, Jelita sedang merapikan beberapa alat musik. Wajahnya tenang, tapi mata itu menyimpan kelelahan yang dalam. Rangga berdiri di ambang pintu, terdiam cukup lama sebelum akhirnya berani bersuara.
“Jelita... apa benar kamu mau pindah?”

Gadis itu berhenti menata alat, menatap Rangga pelan. “Iya, Rangga. Papa dipindahtugaskan ke Bandung. Kami berangkat dua hari lagi.”

“Dua hari?” Rangga menelan ludah, seperti tak percaya. “Kenapa nggak bilang dari dulu?”

Jelita tersenyum tipis. “Baru dikabarin pagi ini. Aku juga belum sempat bilang siapa-siapa. Semuanya terasa terlalu cepat.”

Rangga terdiam. Matanya mencari sesuatu untuk dipegang — dinding, meja, apa saja — seolah kabar itu membuat dunia sedikit goyah di sekelilingnya. “Jadi... kita nggak akan—”

“Masih bisa,” potong Jelita lembut. “Aku berangkat dari Stasiun Gambir, lusa pagi. Datanglah. Aku ingin berpamitan dengan benar.”
Tatapannya lembut, tapi penuh harap. “Aku ingin lihat kamu terakhir kali, Rangga.”

Kata-kata itu seperti cahaya sekaligus beban. Rangga ingin menjawab “ya,” tapi suaranya tertahan. Ia takut. Takut pertemuan itu akan memaksanya mengucap sesuatu yang selama ini ia simpan — sesuatu yang bisa membuat segalanya berubah.

Mereka berjalan keluar ruang musik bersama. Di halaman sekolah, angin sore berembus, membawa bau tanah dan debu lapangan.
Jelita berhenti di tangga, menatap langit senja yang berwarna jingga. “Kau tahu, Rangga... aku suka sekali warna ini. Hangat tapi menyedihkan. Seperti perpisahan.”

Rangga menunduk, menahan perasaan yang berdesakan di dadanya.
“Kalau aku datang ke Gambir...” suaranya nyaris berbisik, “kau janji nggak akan lupa padaku?”

Jelita tersenyum. “Lupa itu cuma untuk yang tidak meninggalkan jejak.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma melati samar yang tertinggal di udara.

Rangga berdiri lama di sana, menatap punggung Jelita yang semakin jauh.
Dalam kepalanya, hanya ada satu kalimat berulang: dua hari lagi... dua hari lagi sebelum semuanya berubah.

Dan di dalam hati kecilnya, ia tahu — waktu dua hari mungkin terlalu singkat untuk mengucap cinta, tapi cukup lama untuk menyesal seumur hidup.

 

BAB 5 – JANJI YANG PATAH

Pagi itu, langit Jakarta diselimuti mendung kelabu. Udara terasa berat, seperti ikut menahan sesuatu yang belum selesai. Rangga bangun lebih awal dari biasanya, hatinya berdebar tak karuan. Di atas meja, sebuah foto kecil Jelita ia letakkan dalam saku jaket — teman diam yang akan menemaninya ke Stasiun Gambir.

Ia mengeluarkan motor tuanya dari garasi. Udara pagi masih dingin, jalanan belum ramai. Dalam kepalanya, hanya ada satu tujuan: menepati janji.

Namun, di pertigaan Pasar Baru, takdir menaruh jebakan kecil. Seekor anjing menyeberang tiba-tiba, membuat Rangga kehilangan keseimbangan. Motor oleng, ia jatuh terguling ke pinggir jalan. Rasa perih merambat di lutut dan sikunya, tapi lebih dari itu, yang ia rasakan adalah panik — waktu terus berjalan.

Ia bangkit dengan susah payah, mengecek jam tangannya. Pukul setengah tujuh. Kereta Jelita berangkat pukul delapan.
Masih ada waktu — pikirnya. Masih bisa.

Motor sudah tak bisa dipakai. Ban depan bengkok. Ia menatap jalan basah itu dengan napas tersengal, lalu mulai berlari ke arah terminal, berharap ada ojek yang bisa mengantarnya. Tapi hujan tiba-tiba turun deras, seolah langit ikut menguji ketulusan hatinya.

Di sebuah warung telepon umum, ia berhenti. Kemejanya basah kuyup, napasnya berat. Ia memasukkan koin, mencoba mengingat nomor rumah Jelita, berharap Jelita dan keluarganya belum berangkat ke stasiun. Nada sambung, tetapi tidak ada jawaban.

"Jelita... tunggu aku..." bisiknya, meski tak ada yang mendengar. Hujan di luar menenggelamkan segalanya — termasuk suaranya sendiri.


Di Stasiun Gambir, suasana ramai oleh orang-orang yang hendak bepergian. Jelita duduk di bangku tunggu dengan koper kecil di sisi kaki. Matanya terus menatap pintu masuk, mencari satu wajah di antara kerumunan.
Waktu terus berjalan. Setiap detik yang lewat terasa seperti menambah berat di dadanya.

“Bu, masih lama keretanya?” tanya adiknya, yang duduk di samping.
“Sebentar lagi,” jawab ibunya dari belakang, sambil memegang tiket.

Jelita tersenyum samar, tapi senyum itu goyah. Ia menatap jam dinding besar di atas peron — pukul setengah delapan. Ia berdiri, menatap arah kedatangan penumpang, matanya basah tapi tetap menunggu.

Kereta datang dengan suara logam berderit. Penumpang mulai naik satu per satu. Jelita masih berdiri di sana walaupun orangtuanya memintanya untuk segera naik. Ia menatap sekitar, berharap... hanya untuk menemukan ketiadaan.

Jam delapan kurang lima menit petugas meniup peluit tanda keberangkatan.
Ia melangkah masuk dengan langkah berat. Matanya mencari-cari sampai ke menit terakhir, hingga akhirnya, ketika kereta mulai bergerak, air matanya tak lagi bisa ditahan.

Dari jendela, ia melihat trotoar basah dan jalanan yang mulai sepi. 

Dan di kejauhan, sesosok pemuda berlari — tubuhnya basah kuyup, jaketnya kotor lumpur, napasnya tersengal, tangan kanannya menggenggam sesuatu. Dialah Rangga.

Tapi kereta sudah mulai meninggalkan peron.
Rangga berlari di sisi rel, berusaha mengejar yang tak mungkin.
“Jelita!” teriaknya. Tapi suaranya tenggelam oleh deru mesin dan peluit panjang yang memecah pagi.

Dari balik kaca jendela, Jelita menatap ke arah suara itu, tapi yang ia lihat hanya bayangan kabur di tengah hujan. Satu tetes air mata jatuh di punggung tangannya, bercampur dengan embun di kaca.

Dan seperti itu, mereka terpisah — oleh jarak, oleh waktu, dan oleh kesalahan yang tidak pernah disengaja.


Cahaya putih memenuhi layar imajiner. Suara kereta memudar perlahan, berganti dengan bunyi klik kamera. Rangga, kini 37 tahun, duduk di depan layar komputer di studionya. Di tangannya, foto lama itu masih ada — foto Jelita di bawah pohon mangga. Warnanya mulai pudar, tapi cahaya di dalamnya tetap sama.

Ia menatap foto itu lama, napasnya berat.
“Hanya sepersekian detik...” gumamnya. “Seandainya aku datang lebih cepat...”

Namun waktu tak pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki momen yang terlewat.
Hanya foto yang tersisa — dan kenangan yang terus hidup, dalam diam.

 

BAB 6 – PERSIAPAN REUNI

Malam di Jakarta sunyi. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang samar. Di ruang kerjanya yang penuh bingkai foto,  Rangga duduk menatap layar komputer yang menyala redup. Di sana, sebuah foto lama sedang terbuka — potret Jelita di bawah pohon mangga, yang sudah tak lagi sempurna warnanya.

Tiba-tiba layar ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

Bima:
Bro, reuni SMA Bhakti Negara angkatan ’93 jadi bulan depan! Nggak kerasa ya—sudah 20 tahun kita masuk, atau 17 tahun sejak kelulusan. Kau wajib datang!
Aku sudah konfirmasi banyak teman… termasuk dia.

Rangga terpaku membaca kata terakhir itu. Dia.
Nama yang tak perlu disebut, tapi sudah cukup untuk membuat dadanya sesak. Ia menatap layar lama, kemudian menutup ponsel dengan tangan gemetar.

Ia berdiri pelan, berjalan ke arah cermin besar di sudut studio.
Bayangan dirinya menatap balik: rambutnya mulai beruban di pelipis, garis-garis halus di sekitar mata. Tapi di balik kelelahan dan waktu yang menggerogoti, masih tersisa tatapan yang sama — tatapan bocah 16 tahun yang dulu jatuh cinta pada seorang gadis bernama Jelita.

“Dua puluh tahun...” gumamnya, hampir tak terdengar. “Apakah semua ini masih berarti?”

Rangga menatap meja kerjanya yang dipenuhi kamera digital dan lensa-lensa modern. Dalam pekerjaannya sekarang, semuanya serba cepat, tajam, dan efisien. Ia sudah lama meninggalkan era film analog — baginya, kamera DSLR adalah perpanjangan dari mata yang tak boleh kehilangan momen.

Namun malam itu, entah mengapa, hatinya mengajak kembali ke masa lalu.
Ia menarik napas panjang, lalu membuka lemari tua di sudut studio. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah tas kulit berdebu. Di dalamnya, tersimpan kamera analog tua yang sudah lama tak disentuh — Canon AE-1, warisan pamannya. Kamera itulah yang dulu menemaninya memotret masa sekolah, termasuk saat ia pertama kali mengabadikan sosok Jelita di atas panggung aula.

Tangannya bergetar ringan ketika membuka penutup lensa. Ia menatap kaca reflektor yang mulai buram, lalu mengelapnya perlahan dengan kain lembut. Saat cahaya lampu studio memantul di permukaannya, seolah waktu berhenti sesaat — antara masa lalu dan masa kini, antara penyesalan dan keberanian.

Rangga tersenyum kecil, getir tapi tulus.
“Jadi kau masih ingin kupakai lagi, ya?” bisiknya pelan, seolah berbicara pada sesuatu yang lebih dari sekadar mesin.

Ia menyiapkan kamera itu di atas meja, membuka penutup bawahnya, lalu dengan hati-hati memasukkan rol film yang masih tersisa di laci. Setelah memastikan gulungannya terpasang sempurna, ia mengganti tali leher yang telah rapuh dengan yang baru. Setiap gerakannya terasa seperti upacara kecil — tenang, penuh makna. Bukan sekadar menyiapkan alat untuk memotret, melainkan menyiapkan hati untuk membuka kembali kenangan yang selama ini ia kunci rapat di balik waktu.

Di luar jendela, langit mulai terang. Hujan benar-benar berhenti.
Rangga menatap keluar, lalu kembali pada kameranya. Ia menekan tombol rana — klik. Suara kecil itu menggema di ruang senyap.

Satu jepretan tanpa objek. Hanya udara kosong di depannya.
Namun di dalam hati, Rangga tahu: malam itu, ia baru saja memotret sesuatu yang tak kasatmata — keberaniannya sendiri.

 

BAB 7 – REUNI ANGKATAN

Lampu-lampu ballroom hotel di Jakarta berpendar hangat malam itu. Balon-balon bertuliskan Reuni Bhakti Negara ‘93 menggantung di langit-langit, sementara musik dari era 90-an mengalun pelan di latar. Tawa, pelukan, dan suara riuh memecah udara — seolah waktu benar-benar berputar kembali ke masa muda.

Rangga berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan kemeja putih sederhana dan jaket abu-abu. Di tangannya tergantung kamera lamanya, seperti kebiasaan lama yang tak ingin ia lepaskan. Bima datang dengan langkah cepat dan senyum lebar.
“Ga! Akhirnya datang juga, bro!”
Ia memeluk Rangga dengan tawa keras. “Kupikir kau bakal kabur seperti biasa.”

Rangga tersenyum kecil. “Aku hampir saja kabur.”
“Tapi kan nggak jadi,” jawab Bima sambil menepuk bahunya. “Hebat! Nih, banyak yang nyariin kau. Lihat, si Yanti, si Rio, bahkan si Risa juga datang. Gila ya, semua udah berubah.”

Rangga mengangguk, matanya menyapu seluruh ruangan.
Wajah-wajah yang dulu begitu muda kini dihiasi garis waktu — beberapa sudah sedikit beruban, sebagian datang bersama pasangan. Namun tawa mereka tetap sama seperti dahulu: riuh, hangat, dan tulus, seolah masa remaja itu belum benar-benar berakhir.

Ia berjalan pelan di antara meja-meja, sesekali menyalami teman lama yang mengenalinya dari majalah fotografi atau berita pameran.
“Eh, ini Rangga fotografer itu, ya?”
“Masih jomblo juga, Ga?”
“Wih, kameranya masih analog!”

Rangga hanya tertawa sopan. Namun di balik senyum itu, ada rasa asing yang sulit dijelaskan. Dunia di sekelilingnya terasa penuh warna, tapi hatinya tetap kelabu — seperti foto lama yang sudah mulai pudar.

Bima naik ke atas panggung kecil, memegang mikrofon.
“Oke teman-teman, sebelum kita lanjut acara karaoke dan nostalgia, aku mau kasih kabar istimewa! Ada satu tamu yang baru konfirmasi datang. Dulu sih dia primadona sekolah kita...”

Suara riuh mulai terdengar, beberapa teman menebak-nebak.
“Jangan bilang si Jelita?”
“Yang dulu suka nyanyi di acara sekolah itu?”
“Hah, Jelita datang?”

Rangga yang sedang duduk di pojok berhenti menyesap minumannya. Namanya disebut — Jelita.
Seketika jantungnya berdegup lebih keras dari musik yang mengalun. Ia menatap panggung, tapi wajahnya menegang. Seolah udara di ruangan itu mendadak mengental.

Bima melanjutkan, dengan nada bercanda, “Nah, tebakannya benar! Jelita dalam perjalanan dari luar Jawa. Katanya pesawatnya agak delay, tapi dia akan langsung ke sini malam ini!”

Sorak dan tepuk tangan menggema di ruangan.
“Wah, akhirnya ketemu lagi!”
“Masih cantik nggak, ya?”
“Pasti awet muda, namanya aja Jelita!”

Rangga tersenyum tipis, mencoba ikut tertawa bersama yang lain. Tapi di dalam dirinya, sesuatu bergetar — antara rindu yang lama disimpan dan ketakutan yang belum tuntas.
Tangannya secara refleks menggenggam kamera di pangkuannya, jari-jarinya menyentuh tombol rana seperti mencari pegangan.

Ia menatap refleksi wajahnya di gelas.
Dua puluh tahun berlalu, tapi hanya satu nama yang masih bisa membuat dunia di sekitarnya terasa bergetar. Jelita.

Dan malam itu, di tengah tawa dan nostalgia yang riuh, Rangga menyadari — ia tak sedang datang ke reuni, tapi ke pertemuan dengan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

 

BAB 8 – JELITA DATANG

Pintu ballroom terbuka perlahan. Udara malam yang lembab menyusup masuk, membawa aroma hujan dan wangi bunga yang samar. Semua mata serempak beralih ke arah pintu, dan seketika suasana yang riuh berubah menjadi hening sesaat — seperti orkestra yang berhenti di tengah nada.

Jelita melangkah masuk.

Gaun biru lembutnya jatuh anggun di tubuhnya, sederhana tapi memancarkan keanggunan yang tak bisa disembunyikan. Rambutnya kini lebih panjang, digelung separuh, dan mata itu — mata yang dulu membuat Rangga kehilangan arah di masa SMA — masih memancarkan cahaya yang sama, hanya kini lebih tenang, lebih matang.

Bima berseru riang, “Nah, ini dia tamu kehormatan kita!”
Suara tawa dan tepuk tangan kembali pecah, menyambut Jelita yang menunduk sopan dan tersenyum hangat. Ia berjalan perlahan melewati kerumunan yang membentuk jalan kecil baginya, sementara lampu gantung di atas memantulkan kilau di matanya.

Rangga tak bergerak.
Hanya dadanya yang terasa bergetar, dan dunia seolah berhenti berputar. Di tengah ratusan wajah, hanya satu wajah itu yang terlihat hidup — Jelita.

Ketika pandangan mereka akhirnya bertemu, waktu seakan menahan napasnya.
Dua puluh tahun seolah lenyap begitu saja, menyisakan dua remaja di aula sekolah dulu, berdiri kikuk dengan jarak yang sama, tatapan yang sama — hanya tanpa keberanian yang dulu hilang.

Jelita tersenyum kecil.
“Rangga?”
Suara itu lembut, tapi cukup untuk mengguncang seluruh isi dadanya.
Rangga menelan ludah, mencoba menjawab, “Iya... Jelita.”
Suaranya terdengar serak, nyaris tak percaya.

Mereka berjabat tangan — singkat, sopan, tapi hangat. Di balik kulit yang bersentuhan sebentar itu, tersimpan percakapan yang tak pernah terucap: kerinduan, penyesalan, dan waktu yang tak pernah memberi kesempatan kedua.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jelita.
“Masih... seperti dulu,” jawab Rangga, setengah tersenyum. “Masih memotret.”
Jelita tertawa kecil. “Kau masih jujur seperti dulu, ya.”

Bima memanggil mereka untuk berfoto bersama.
Rangga mengangkat kameranya, tapi tangannya bergetar sedikit. Ia ingin mengabadikan momen itu, tapi juga takut — karena tahu, foto itu akan menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar gambar: kenangan yang kembali hidup.

Setelah sesi foto, mereka duduk di meja yang sama. Percakapan mereka tetap sopan — tentang karier, keluarga, perjalanan hidup. Tapi di balik setiap senyum, ada jarak emosional yang terasa begitu dalam.
Mata mereka kadang saling menatap lebih lama dari seharusnya, seolah ingin mengulang masa lalu yang tak selesai.

Dan di sela musik yang mengalun lembut, Jelita menatap Rangga dan berbisik pelan,
“Waktu memang membawa kita jauh, ya, Rangga. Tapi rasanya... malam ini, semuanya pulang.”

Rangga menatapnya lama, bibirnya bergerak nyaris tanpa suara,
“Ya... pulang. Tapi mungkin hanya untuk sebentar.”

Dan di antara denting gelas dan tawa yang kembali riuh, dua jiwa itu duduk diam — membawa dua dunia yang pernah bersentuhan, lalu terpisah, kini kembali bersinggungan di persimpangan waktu.

 

BAB 9 – WAKTU BERDUA

Suasana reuni semakin larut. Musik berganti menjadi lembut, lampu-lampu diredupkan, dan sebagian tamu mulai beranjak dari meja ke meja, bernostalgia sambil tertawa kecil. Bima, dengan senyum penuh siasat, menepuk bahu Rangga.
“Aku keluar sebentar, bro. Kau temani Jelita dulu, ya.”
Sebelum Rangga sempat menjawab, Bima sudah menghilang bersama yang lain — meninggalkan dua sosok yang duduk berhadapan dalam ruang yang mendadak terasa terlalu sunyi.

Rangga mencoba memecah keheningan.
“Masih suka nyanyi?” tanyanya sambil tersenyum ragu.
Jelita menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Sudah lama tidak. Hidup tidak memberi banyak ruang untuk bernyanyi, ternyata.”
Nada suaranya ringan, tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan: lelah, dan mungkin juga kehilangan.

Mereka berbincang pelan. Tentang pekerjaan — Rangga dengan pameran fotonya yang tak selalu laku, Jelita dengan pekerjaannya sebagai konsultan pendidikan. Tentang anak-anak yang dia ajar, tentang perjalanan ke luar negeri.

Lalu, seperti tanpa sadar, pembicaraan mulai menapaki masa lalu.
“Masih ingat, waktu lomba mural di sekolah dulu? Kau yang paling sibuk ngatur warna,” kata Jelita sambil tersenyum.
“Dan kau yang bikin semuanya tampak hidup,” jawab Rangga pelan. “Aku cuma mencampur cat.”

Mereka tertawa kecil. Namun di antara tawa itu, ada jeda yang panjang.
Rangga memandang meja, sementara Jelita menatap gelasnya. Keheningan turun perlahan — bukan canggung, tapi penuh sesuatu yang tak terucap.

Hingga Jelita akhirnya mengangkat tangannya.
Cincin emas putih berkilau di jari manisnya.
“Sudah tiga belas tahun,” katanya lirih. “Suamiku orang yang sangat baik, penyayang dan perhatian, tidak pernah marah.”

Rangga terdiam lama. Matanya menatap cincin itu, bukan dengan iri, tapi dengan sejenis duka yang halus — duka karena menyadari bahwa cinta kadang memang harus berjalan di waktu yang salah.
“Dia beruntung,” ucap Rangga akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan. “Karena kau masih Jelita yang sama — hanya lebih kuat.”

Jelita tersenyum samar, tapi matanya basah. “Kau masih tahu cara berkata seperti itu, ya.”
“Entah kenapa, hanya kalau bicara denganmu,” jawab Rangga pelan.

Mereka berdua terdiam lagi.
Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan, seperti mengiringi pertemuan dua jiwa yang terlalu lama tersesat. Dalam diam itu, banyak yang ingin dikatakan — tentang kerinduan, tentang kehilangan, tentang semua “andai” yang tak sempat terwujud.
Namun waktu hanya memberi ruang bagi tatapan, bukan pengakuan.

Musik berganti menjadi lagu lama, suara seruling dan piano yang lembut.
Jelita menatap Rangga, matanya berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
“Kadang, Rangga,” ujarnya perlahan, “kita tidak benar-benar lupa. Kita hanya belajar hidup dengan yang tak sempat terjadi.”

Rangga mengangguk pelan.
“Dan mungkin, malam ini... kita sedang belajar itu sekali lagi.”

Di antara denting hujan dan cahaya lembut lampu, mereka duduk berdua — tanpa rencana, tanpa masa depan, tapi dengan keheningan yang akhirnya mampu berbicara mewakili segalanya.

 

BAB 10 – MENGULANG JEJAK

Hujan telah reda, menyisakan udara malam yang lembap dan dingin. Selepas acara reuni yang usai terlalu cepat, Rangga dan Jelita keluar dari hotel tanpa banyak bicara. Langkah mereka menyusuri trotoar yang basah, ditemani aroma tanah dan suara kendaraan malam yang jauh di kejauhan.

“Masih ingat jalan ini?” tanya Rangga sambil menatap lampu jalan yang redup.
Jelita mengangguk. “Tentu. Dulu kita lewat sini waktu pulang dari lomba 17-an. Kau membawa kamera di dada, seolah itu perisai dari semua rasa gugupmu.”
Rangga tertawa kecil. “Kamera selalu jadi alasan untuk tidak bicara terlalu banyak.”
“Dan aku dulu berpikir, kau diam karena sombong,” jawab Jelita sambil tersenyum samar.

Langkah mereka terus membawa pada kenangan lama — menuju taman kecil di ujung jalan, tempat dulu mereka sering duduk di bangku semen, berbagi es krim murahan, dan berbicara tentang mimpi yang kini terasa jauh.

Bangku itu masih ada, meski catnya terkelupas. Di sebelahnya, pohon flamboyan sudah jauh lebih besar, menaungi ruang kenangan mereka dengan bayangan gelap yang lembut.

Jelita duduk perlahan. “Lucu ya, tempat ini seperti menunggu kita kembali.”
Rangga menatap sekeliling, lalu duduk di sebelahnya. “Mungkin memang begitu. Beberapa tempat tak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu orang yang dulu membuatnya berarti.”

Keheningan turun, tapi kali ini terasa hangat. Dari kejauhan terdengar anak-anak tertawa, mungkin pulang dari warung atau bermain di gang. Waktu seolah berhenti — hanya mereka berdua, dan gema masa lalu yang lembut.

Lalu Jelita berkata pelan, tanpa menatap Rangga, “Dulu… setelah aku pindah, aku sempat menulis surat untukmu.”
Rangga menoleh, sedikit terkejut.
“Tapi tidak pernah kukirim,” lanjutnya. “Aku terlalu marah waktu itu. Aku pikir, kau sengaja tak datang. Aku ingin menulis sesuatu yang bisa membuatku lega, tapi setiap kali selesai menulis, aku menangis. Jadi surat itu kusobek.”

Rangga hanya terdiam. Di wajahnya, antara rasa bersalah dan sayang bercampur menjadi satu.
“Aku selalu berharap bisa menjelaskan,” ujarnya pelan. “Tapi waktu sudah menutup semua pintunya.”
Jelita tersenyum tipis. “Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa, Rangga. Aku juga tak lagi menunggu alasan. Aku hanya ingin tahu bahwa dulu, perasaan itu nyata — bukan hanya milikku.”

Rangga menatapnya dalam, lalu mengangguk. “Nyata, Jelita. Mungkin itu satu-satunya hal yang paling nyata dalam hidupku waktu itu.”

Udara malam seolah menebal.
Jelita menarik napas panjang, menatap langit yang masih berawan. “Aneh, ya? Kita bisa tertawa seperti dulu, seolah waktu tidak pernah memisahkan kita.”
“Karena sebagian dari kita masih tertinggal di tahun itu,” jawab Rangga lembut.

Mereka kembali berjalan perlahan menuju halte lama di depan sekolah. Dindingnya kini penuh coretan, tapi papan nama “SMA Bhakti Negara” masih terpampang jelas. Di balik pagar, gedung sekolah tampak sunyi, hanya diterangi lampu keamanan.

Rangga mengangkat kameranya — kamera lama yang tadi pagi ia keluarkan dari lemari. Ia menatap melalui viewfinder, memotret bayangan Jelita yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan, wajahnya setengah tersenyum, seperti kenangan yang hidup kembali.

“Masih suka memotret diam-diam, ya?” tanya Jelita, separuh menggoda.
“Beberapa hal memang lebih indah jika tidak tahu bahwa sedang diabadikan,” jawab Rangga.

Jelita tertawa kecil. “Seperti perasaan yang tak pernah dikatakan, ya?”
Rangga tersenyum getir. “Mungkin.”

Malam semakin larut. Tapi di antara langkah-langkah kecil itu, mereka tahu — mereka sedang menapak jejak yang dulu tak sempat diselesaikan.
Dan di setiap bayangan lampu yang jatuh di trotoar, waktu seolah berbisik: beberapa kenangan tidak perlu disembuhkan, cukup diingat dengan tenang.

 

BAB 11 – MALAM PENGAKUAN

Kafe itu hampir sepi. Hanya tersisa denting sendok di cangkir, musik jazz pelan yang mengalun dari sudut ruangan, dan cahaya hangat dari lampu gantung yang menimpa meja kecil tempat mereka duduk.
Jelita menatap keluar jendela — ke arah taman kota yang temaram, di mana daun-daun bergerak malas diterpa angin malam.

Rangga menggenggam cangkir kopinya yang sudah dingin. Ada sesuatu yang menggumpal di dadanya, yang selama dua puluh tahun disimpan, kini tak bisa lagi ditahan.

“Jelita…” suaranya serak. “Boleh aku ceritakan sesuatu?”
Jelita menoleh perlahan. “Tentu, Rangga. Aku mendengarkan.”

Rangga menarik napas panjang.
“Waktu itu... pagi saat kau berangkat,” ujarnya pelan, “aku benar-benar ingin datang. Aku sudah siap, bahkan sempat menulis sepucuk surat untukmu. Tapi di sebuah tikungan, motor yang kupakai tergelincir karena jalan basah. Tidak parah, tapi cukup untuk membuatku jatuh dan kehilangan waktu.”

Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri.
“Aku berlari ke pangkalan ojek, berharap ada yang mau mengantar. Tapi hujan turun terlalu deras. Lalu aku mencoba ke warung telepon umum, ingin menelepon rumahmu. Nada sambung terdengar... tapi yang menjawab hanya suara mesin.”

Rangga terdiam sejenak, seolah masih bisa mendengar dengung hujan di telinganya.
“Aku tak bisa menyampaikan apa pun. Sebisaku aku terus menuju terminal bus, berharap masih sempat. Tapi saat bus tiba di stasiun, aku hanya mendengar suara peluit tanda keberangkatan. Aku berlari tetapi hanya mendapati ujung belakang keretamu.”

Jelita mendengarkan dalam diam. Tangannya menggenggam gelas teh hangat, tapi uapnya sudah tak ada.

Suara Rangga bergetar. “Selama bertahun-tahun, aku ingin menjelaskan. Tapi waktu terus berjalan, dan aku takut — takut kalau semuanya sudah terlambat.”

Hening panjang.
Jelita menatapnya lama, dalam, seolah mencari sesuatu di balik mata itu — sesuatu yang dulu ia tinggalkan di peron stasiun dua puluh tahun lalu.
“Kau tahu,” katanya akhirnya, lirih, “aku pernah berpikir kau sengaja tak datang. Tapi malam ini, aku baru tahu kebenarannya.”

Jelita menarik napas pelan. “Surat itu… masih ada, Rangga?”

Rangga mengangguk. Perlahan ia merogoh saku dalam tasnya — sebuah amplop tipis berwarna coklat. Dari dalamnya ia mengeluarkan satu lembar kertas yang sudah menguning di tepinya, terlipat rapi namun tampak pernah basah. Ia meletakkannya di meja, mendorongnya ke arah Jelita.

“Aku menyimpannya,” ujar Rangga, suaranya hampir tak terdengar. “Dua puluh tahun aku membawa kertas itu, di mana pun aku tinggal. Kalau malam-malam aku rindu, aku membacanya… bukan karena berharap kau akan kembali. Tapi karena itu satu-satunya bukti bahwa aku pernah jujur.”

Jelita menatap kertas itu. Jemarinya sedikit bergetar saat membuka lipatan pertama. Bau kertas tua bercampur sisa tinta memenuhi udara.

Ia mulai membaca.

Jelita…

Pagi ini, ketika kau akan berangkat ke Bandung, aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku ingin melihatmu sekali lagi sebelum kereta itu membawamu pergi. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini hanya berputar di kepalaku, yang selalu kutahan karena aku pengecut… dan mungkin juga karena aku takut kehilanganmu lebih cepat.

Jelita, aku menyukaimu.
Tidak—sebenarnya aku mencintaimu. Sudah sejak lama. Sejak pertama kali melihatmu menyanyi di pentas seni, diam-diam aku selalu memperhatikanmu. Diam-diam pula aku berharap bisa lebih sering berada di dekatmu.

Dan ternyata, tugas bersama dokumentasi… mungkin itulah jalannya.

Aku menulis surat ini karena aku takut. Takut kalau aku datang terlambat. Takut kalau aku hanya akan menjadi nama yang perlahan kau lupakan. Aku tidak ingin menjadi kenangan samar di sudut hidupmu, Jelita. Aku ingin menjadi seseorang yang kau ingat bukan karena masa sekolah, tapi karena… aku pernah mencintaimu setulus itu.

Jika kau membaca ini setelah keretamu berangkat, aku hanya punya satu permintaan:
Jangan membenci aku karena tak berani berkata langsung.

Dan jika perasaanmu berbeda… tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu kebenarannya. Itu saja. Cukup itu.

Selamat jalan, Jelita.
Semoga semua yang kau cari, semuanya yang kau impikan… menemuimu di sana.

— Rangga


Tangan Jelita menurun perlahan ketika selesai membaca, lembar surat itu tergeletak di pangkuannya. Untuk beberapa detik ia hanya memandangi huruf-huruf yang mulai kabur oleh matanya sendiri. Bibirnya terbuka, tapi tak satu kata pun berhasil keluar.

Kemudian bahunya mulai bergetar.

Air mata pertama jatuh, menyusul yang lain, deras, tak tertahan seperti hujan di luar jendela. Jelita menutup mulutnya dengan sebelah tangan, seolah mencoba meredam sesuatu yang pecah dari dalam dadanya.

“Ya Tuhan…” bisiknya patah, hampir tak terdengar.

Rangga membeku di hadapannya. Ia tak berani menyentuh, tak berani menenangkan. Ia hanya menunggu — seperti seseorang yang tahu dirinya adalah alasan seseorang lain menangis, tapi tak punya hak untuk menghentikan air mata itu.

Jelita menggenggam surat itu erat-erat, meremasnya di dada, seolah ingin menarik masuk seluruh kenangan dua puluh tahun ke dalam tubuhnya.

“Kenapa… kenapa baru sekarang aku tahu…” suaranya terputus-putus, nyaris tercekik oleh isak.

Ia tertunduk, kedua tangannya menutupi wajah. Tangisnya pecah — bukan hanya sedih, tetapi penyesalan yang menusuk, menyesal atas sesuatu yang tak bisa dikembalikan.

Rangga menatap meja, rahangnya mengeras menahan luka yang kembali terbuka.

“Maafkan aku…” ucapnya lirih. “Aku… aku terlambat.”

Jelita menoleh — kali ini bukan hanya mata yang basah, tapi mata yang retak.
“Tidak. Bukan cuma terlambat…”
Ia mengusap pipinya, tapi air mata terus turun.
“Kita kehilangan hidup kita karena satu pagi. Karena satu hujan. Karena kita sama-sama takut.”

Ia menutup mata, menarik napas dalam. Surat di tangannya basah oleh air mata. Ia menatapnya, lalu menatap Rangga seperti melihat dua puluh tahun yang hilang berdiri di hadapannya.

“Kenapa harus begini…” ia berbisik, tersengal.
“Kenapa kita baru bertemu setelah semua terlambat…”

Rangga akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Jelita yang rapuh tetapi begitu jujur untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
“Karena mungkin… hanya malam seperti ini yang sanggup menampung kebenaran kita.”

Jelita menutup wajahnya sekali lagi, namun kali ini ia membiarkan dirinya tenggelam dalam tangis — tangis yang menandai bahwa dua puluh tahun bukan waktu yang cukup untuk memadamkan sesuatu yang pernah begitu murni.

Dan Rangga, dengan mata yang ikut berkaca, hanya berkata pelan:

“Aku di sini sekarang, Jelita… meski tidak untuk memiliki… tapi untuk meminta maaf.”

Jelita mengangguk lirih tanpa melihatnya, air matanya tak kunjung berhenti.

Lalu, setelah Jelita dapat menenangkan diri, ia bertanya pelan, “Kau belum menikah, Rangga?”
Rangga menatapnya — mata yang dulu selalu menghindar kini justru jujur.
Ia menggeleng pelan. “Belum.”

Jelita memiringkan kepala, suaranya bergetar lembut. “Kenapa? Dengan wajahmu, dengan hidupmu… pasti banyak yang datang.”
Rangga tersenyum tipis. “Ada. Pernah. Bahkan keluarga sudah bicara. Tapi… aku menolak.”
“Kenapa?” suara Jelita nyaris berbisik.

Rangga menatapnya lama — begitu lama hingga waktu terasa berhenti.
“Karena hatiku tak pernah berpindah,” jawabnya pelan, jujur, nyaris seperti doa yang terlambat.

“Rangga… kau bodoh,” katanya lirih.
“Mungkin. Tapi itu satu-satunya kebodohan yang membuatku merasa hidup.”

Hujan di luar semakin deras. Lampu-lampu jalan tampak buram di balik kaca jendela.
Mereka duduk berdua dalam diam yang nyaris sakral — dua jiwa yang akhirnya saling menemukan, bukan untuk memiliki, tapi untuk mengucapkan kebenaran yang selama ini bersembunyi di balik bayangan kenangan.

 

BAB 12 – KEBENARAN JELITA

Hujan mereda. Aroma tanah basah menembus kaca jendela. Dua cangkir di meja telah kosong, tapi mereka masih duduk di sana—dua hati yang baru saja membuka luka paling lama disimpan.

Setelah lama diam, Jelita menarik napas dalam. “Rangga,” katanya pelan, “boleh aku yang bicara sekarang?”

Rangga hanya mengangguk.

“Waktu itu di stasiun... aku menunggumu dari jam tujuh sampai hampir jam delapan. Setiap kali ada langkah mendekat, aku berharap itu kau. Tapi yang datang hanya hujan.”
Ia menelan ludah, suaranya bergetar. “Sampai petugas memintaku naik ke kereta. Saat roda mulai bergerak, aku masih menatap ke pintu masuk, berharap... tapi kau tak datang.”

Air mata menitik. “Dan sejak itu, aku berhenti menunggu.”

Rangga menggenggam tangannya di atas meja.
“Maafkan aku, Jelita.”

Jelita menggeleng, tersenyum kecil. “Dulu aku marah. Tapi kemudian aku paham—hidup memang tak selalu memberi penjelasan di waktu yang kita mau.”

Ia menunduk, suaranya melemah.
“Tujuh tahun setelah pindah, aku bertemu Dharma. Aku pikir... inilah caraku melupakanmu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Rangga dalam-dalam.
“Tapi aku salah. Aku menikah bukan karena cinta, tapi karena ingin berhenti menunggu seseorang yang tak datang.”

Rangga menahan napas.
“Dan sekarang?” tanyanya pelan.

“Sekarang aku tahu,” jawab Jelita, dengan suara lembut namun pasti, “bahwa beberapa cinta tidak perlu dimiliki untuk tetap nyata. Aku mencintaimu, Rangga. Dulu, sekarang, dan mungkin... selamanya. Tapi cinta itu kini milik waktu, bukan milik kita.”

Air matanya mengalir lagi, kali ini bukan karena luka, tapi karena penerimaan.
Rangga meremas jemarinya pelan.
“Kalau waktu bisa diulang...” ucapnya lirih.

Jelita menggeleng, tersenyum di antara air mata. “Tidak perlu diulang. Cukup diingat. Karena kalau diulang, mungkin kita takkan jadi orang yang mampu memahami cinta seperti sekarang.”

Mereka saling menatap. Hening, tapi hangat.
Cahaya lampu jalan menembus jendela, membingkai wajah mereka seperti foto lama yang akhirnya dicetak setelah puluhan tahun tersimpan dalam film.

Malam itu, mereka berdua menangis—bukan karena kehilangan, tapi karena akhirnya mengerti: cinta yang tidak dimiliki pun bisa memberi kedamaian.

 

BAB 13 – API YANG PADAM

Langit sudah benar-benar gelap ketika mereka keluar dari kafe. Jalanan basah memantulkan lampu kota, menciptakan bayangan berkelip yang menari di aspal.
Rangga dan Jelita berjalan perlahan, menyusuri trotoar tanpa arah pasti — hanya ditemani langkah yang enggan berhenti.

Tak ada lagi banyak kata di antara mereka. Hanya diam yang lembut, diam yang sudah tak perlu diterjemahkan.
Kadang, di tengah sunyi, Rangga mencuri pandang ke arah Jelita, melihat bagaimana wajah itu masih sama — tenang, hangat, tapi kini penuh kedewasaan yang tak dimiliki dua puluh tahun lalu.

Mereka berhenti di taman kecil yang diterangi lampu jalan kekuningan. Angin malam meniup rambut Jelita, membuatnya tampak seperti potret hidup dari masa yang hilang.

Rangga membuka tas kecil di bahunya.
“Aku ingin memberimu sesuatu,” katanya pelan.
Jelita menatap heran. “Untuk apa?”

Rangga menarik selembar foto lama — sudah mulai menguning di tepinya, tapi masih jelas: Jelita muda, berdiri di panggung aula sekolah, memegang mikrofon, mata tertutup setengah, seolah tenggelam dalam lagu yang keluar dari hatinya.
“Aku memotret ini diam-diam waktu kau pertama kali bernyanyi di SMA,” ucap Rangga. “Foto ini... awal dari segalanya. Dari rasa yang tak pernah sempat kuucap.”

Jelita menatap foto itu lama, sangat lama. Jemarinya bergetar ketika menyentuhnya.
“Ini… foto pertama yang kau ambil untukku?”
Rangga mengangguk.
“Dan mungkin foto paling jujur yang pernah kuambil,” tambahnya dengan suara nyaris bergetar.

Air mata Jelita menetes pelan di atas kertas foto itu, membentuk noda kecil di sudut gambar.
Ia menatap Rangga dengan senyum getir. “Kau tahu, Rangga… seandainya aku menerima foto ini dua puluh tahun lalu, mungkin ceritanya akan berbeda.”

Rangga menatap matanya — mata yang dulu ia sembunyikan dari lensa, kini begitu dekat, begitu nyata.
“Mungkin,” jawabnya lirih. “Tapi mungkin juga tidak. Karena yang membuat foto ini indah adalah jarak di antara kita.”

Hening panjang turun.
Jelita melangkah setengah mendekat, dan Rangga spontan menahan napas. Jarak mereka hanya beberapa jengkal.
Ada sesuatu yang ingin pecah di udara — sesuatu yang bergetar antara rindu dan larangan.

Jelita menatapnya dengan mata basah.
“Rangga… apa kau pernah membayangkan, kalau semua ini terjadi lebih awal?”
Rangga tersenyum pelan, pahit namun tulus. “Pernah. Tapi aku juga tahu, kalau cinta itu datang terlalu cepat, mungkin kita takkan cukup dewasa untuk menjaganya.”

Mereka saling berpandangan lama, begitu lama hingga waktu terasa diam.
Dan di antara tatapan itu, mereka tahu — cinta itu masih ada. Masih hidup. Tapi kini sudah berubah bentuk: bukan lagi api yang membakar, melainkan cahaya kecil yang hangat namun tak menyala.

Rangga melangkah setengah mundur, menatap Jelita yang masih memegang foto itu.
“Simpanlah,” katanya lembut. “Sebagai pengingat bahwa dulu, ada seseorang yang melihatmu lebih dari sekadar sorotan panggung.”

Jelita menunduk, menahan air mata yang kembali ingin jatuh. “Dan aku akan menyimpannya, Rangga. Tapi bukan sebagai kenangan yang menyakitkan — melainkan doa yang sudah tenang.”

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma basah dan dedaunan.
Rangga menatap langit, lalu Jelita, lalu langit lagi.
“Lucu, ya?” katanya akhirnya. “Dulu aku takut kehilanganmu. Sekarang aku justru bersyukur pernah memilikimu, meski hanya sebentar.”

Jelita tersenyum, wajahnya diterangi lampu taman yang lembut.
“Cinta kita tak pernah mati, Rangga,” ujarnya pelan. “Hanya berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi — dan mungkin, lebih abadi.”

Malam itu, mereka berdua berdiri dalam jarak yang tak lagi bisa dijembatani.
Tak ada pelukan, tak ada janji baru. Hanya dua hati yang akhirnya mengerti:
bahwa beberapa api memang tak perlu menyala selamanya — cukup memberi hangat sekali, untuk dikenang seumur hidup.

 

BAB 14 – BATASAN DHARMA

Suara dering telepon memecah senyap malam.
Jelita, yang masih berdiri di tepi taman bersama Rangga, tersentak pelan. Ia melihat layar ponsel — nama Dharma terpampang jelas, disertai foto suaminya yang sedang tersenyum di tepi pantai.
Senyum yang tenang, yang dulu membuatnya merasa aman… tapi kini terasa seperti dinding yang memisahkan dua dunia.

Ia menatap Rangga sejenak, lalu menunduk, menekan tombol hijau.
“Halo, Mas…” suaranya lembut tapi bergetar halus.
Dari seberang, terdengar suara pria dewasa — hangat, perhatian, menanyakan kabar, dan menutupnya dengan kalimat sederhana:
“Jaga diri, ya, Sayang. Aku tunggu di rumah.”

Jelita menjawab pelan, “Iya, Mas…besok aku terbang.”
Kemudian ia menutup telepon, menatap layar yang kembali gelap.

Keheningan menyusul.
Rangga masih berdiri di tempat yang sama, pandangannya tak menuduh, tak menuntut. Hanya ada ketenangan yang penuh pengertian.

“Dharma?” tanyanya akhirnya.
Jelita mengangguk. “Iya. Dia… selalu begitu. Lembut. Tak pernah marah.”
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu seperti kaca tipis yang menyembunyikan luka di baliknya.
“Dia orang baik, Rangga. Aku… beruntung, sebenarnya.”

Rangga menarik napas panjang. “Dan aku bahagia mendengarnya,” ujarnya pelan.
Ia menatap Jelita, mata itu kini tak lagi memohon atau mencari. Hanya menerima.
“Mungkin memang begitu cara semesta menjaga kita. Memberi cinta, tapi juga batas.”

Jelita menatapnya dalam-dalam, lalu berkata dengan suara yang nyaris berbisik,
“Kau tahu… aku berterima kasih. Untuk malam ini. Untuk kejujuranmu. Untuk kenangan yang kau jaga begitu lama.”
Ia menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. “Tapi aku harus kembali.”

Rangga tersenyum lembut — senyum seorang lelaki yang sudah selesai dengan perangnya sendiri.
“Aku tahu,” katanya. “Dan aku tak ingin mengubah apa pun. Karena mungkin… cinta sejati justru ada di sini — saat kita tahu batasnya, tapi tetap saling mendoakan.”

Jelita menatapnya lama, lalu melangkah pergi.
Di bawah cahaya lampu jalan, bayangannya memanjang di aspal — samar, bergetar, lalu menghilang di tikungan.

Rangga berdiri diam, menatap punggung itu sampai lenyap.
Hatinya berat, tapi anehnya, tak lagi sesak. Ada semacam kedamaian baru yang menggantikan getir.

Ia menatap langit malam yang luas, lalu berbisik lirih,
“Terima kasih, Tuhan… telah memberiku kesempatan untuk mencintainya dengan cara yang benar.”

Di kejauhan, lampu mobil melintas.
Hidup terus berjalan — seperti air yang tak bisa menolak arusnya sendiri.
Dan Rangga tahu: malam itu bukan akhir, melainkan titik di mana cinta belajar menjadi doa.

 

BAB 15 – MENUJU BANDARA

Subuh menetes perlahan di langit Jakarta. Embun di kaca mobil menciptakan pola kabur, seolah alam pun enggan melepaskan malam.
Rangga menyalakan mesin mobilnya, menunggu di depan hotel tempat Jelita menginap.

Ketika pintu terbuka, Jelita muncul dengan coat cokelat muda, rambut tergerai sederhana, wajah tanpa rias berlebih. Waktu seakan mundur — mengembalikan bayangan gadis berseragam putih abu yang dulu ia kenal, tapi kini ada ketenangan yang berbeda: bukan lagi kecantikan remaja, melainkan keanggunan yang matang oleh waktu.

“Pagi,” sapanya lembut.
“Pagi,” jawab Rangga, tersenyum kecil. 
“Sudah siap?”
“Sudah. Tapi... aku selalu merasa waktu berjalan terlalu cepat saat bersamamu,” katanya sambil menatap jendela.

Mobil melaju perlahan menuju bandara. Tidak ada musik, hanya suara roda melintasi jalan basah dan desau angin dari ventilasi. Sesekali mereka berbicara — tentang pekerjaan, anak-anak, hobi, bahkan tentang kota yang berubah terlalu cepat.

Tidak ada lagi kata kita.
Yang ada hanya dua manusia yang pernah saling mengisi, kini belajar menerima garis hidup masing-masing.

Ketika mobil berhenti di area drop-off, Rangga turun lebih dulu, membantunya menurunkan koper. Mata mereka bertemu — tak ada air mata, hanya senyum yang menenangkan, seperti dua jiwa yang telah berdamai dengan waktu.

“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Jelita.
Rangga mengangguk. “Terima kasih sudah datang... dan memberi makna pada kenangan yang lama.”

Beberapa detik hening.
Lalu Jelita berkata pelan, “Kau tahu, Rangga... aku pikir cinta itu seperti foto.”
Rangga menatapnya, menunggu lanjutan kalimat itu.
“Tak harus hidup,” katanya dengan senyum lembut, “tapi tetap ada. Terbingkai di dalam hati, tak berubah oleh waktu.”

Rangga menatapnya lama, lalu menjawab lirih, “Dan mungkin... beberapa foto memang tak perlu dicetak, cukup disimpan di sini.” Ia menepuk dadanya pelan.

Jelita tertawa kecil — tawa yang menenangkan, namun menyimpan luka manis di ujungnya.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk terminal. Di sana, langkah mereka melambat, seolah waktu sengaja menahan napas.


 

BAB 16 – PERPISAHAN DAMAI

Langit pagi di bandara perlahan berubah dari kelabu menjadi keemasan. Suara pengumuman keberangkatan bergema di antara langkah-langkah tergesa. Di depan pintu keberangkatan, waktu seakan berhenti — hanya ada Rangga dan Jelita yang berdiri berhadapan, terbungkus udara yang sunyi.

“Sudah waktunya,” kata Jelita, menatap papan jadwal yang mulai berkedip.
Rangga mengangguk, tak sanggup menjawab.

Beberapa detik mereka terdiam. Tak ada janji baru, tak ada rencana untuk bertemu lagi. Hanya dua hati yang telah selesai menafsirkan takdirnya.

Jelita mengulurkan tangannya perlahan. Rangga menyambut — genggaman singkat, tapi hangat.
Di dalam genggaman itu, tersimpan semua hal yang dulu tak sempat diucapkan: maaf, cinta, penyesalan, dan akhirnya... keikhlasan.

Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada duka. Tidak ada rasa kehilangan yang menggerogoti.
Yang ada hanyalah penerimaan — bahwa cinta mereka telah menua bersama waktu, tapi tidak mati.

Jelita tersenyum. “Kau akhirnya tersenyum juga,” katanya lembut.
Rangga menghela napas, bibirnya melengkung kecil. “Aku baru tahu... ternyata melepaskan juga bisa seindah ini.”

Hening sejenak.
Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk bandara, Jelita berkata pelan,
“Rangga... janjilah satu hal padaku.”
Rangga menatapnya. “Apa itu?”
“Tolong... menikahlah,” ucapnya lirih. “Jangan terus hidup di masa lalu. Kau pantas bahagia — seperti aku yang akhirnya belajar berdamai dengan hidupku.”

Rangga terdiam. Ada getar halus di matanya, seolah kalimat itu menyentuh bagian terdalam dari dirinya. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Jelita lagi.
Ia tidak menjawab dengan kata, hanya memberi anggukan kecil dan senyum samar — senyum yang lebih bermakna dari janji apa pun.

Jelita membalas dengan tatapan lega. “Begitu lebih baik,” katanya lembut. “Maka kenangan kita akan tetap indah — karena tidak dipaksa hidup di waktu yang salah.”

Mereka saling diam lagi, kali ini dalam ketenangan yang damai.
Saat pengumuman terakhir terdengar, Jelita menatapnya sekali lagi sebelum melangkah menuju gerbang.
Ketika ia menoleh dan melambaikan tangan, Rangga membalasnya — dengan senyum yang benar-benar tulus, senyum yang dua puluh tahun lalu tak sempat ia berikan.

Pesawat yang membawa Jelita akhirnya tinggal titik di langit.
Rangga berdiri lama, menatap kosong ke arah itu, lalu mengangkat kameranya. Ia sempat ingin memotret langit — tapi menurunkan kembali kameranya.

Kali ini, ia tidak memotret apa pun.
Sebab untuk pertama kalinya, ia tak lagi perlu membingkai kenangan.
Ia telah membiarkannya hidup — di dalam dirinya sendiri.

 

EPILOG – LENSA MASA DEPAN

Kabut tipis turun di kaki gunung Dieng. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun kentang, sementara matahari pagi menyalakan lembayung pertama di ufuk timur. Rangga berdiri di tengah hamparan ladang hijau, kamera tergantung di lehernya.

Ia menatap pemandangan itu lama, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. Tak ada keramaian kota, tak ada sorot lampu galeri — hanya desau angin dan langkahnya sendiri.

Di depan genangan air jernih, ia berhenti. Permukaan air memantulkan wajahnya: sedikit uban di pelipis, mata yang mulai berkerut, tapi juga senyum yang tak lagi getir. Untuk pertama kalinya, ia mengangkat kamera dan menekan tombol shutter — bukan untuk menangkap orang lain, bukan untuk mengabadikan masa lalu, tapi untuk memotret dirinya sendiri.

Klik.
Satu foto, satu momen.
Refleksi seorang pria yang akhirnya berdamai dengan bayangannya.

Suara batin itu muncul pelan, menyatu dengan desir angin di antara pegunungan:

“Dulu aku hanya memotret kenangan.
Kini, aku belajar hidup di dalamnya.”

Rangga menurunkan kameranya, menatap langit yang semakin terang.
Di matanya, tak ada lagi kehilangan — hanya rasa syukur yang tenang.
Ia tersenyum, lalu melangkah ke arah cahaya pagi, meninggalkan bayangan masa lalunya di belakang, tapi membawanya sebagai bagian dari dirinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Rangga tidak hanya mengambil gambar —
ia menjadi bagian dari keindahan yang ia potret.

 

TAMAT

Depok, 3 Januari 2026

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)