Cerpen - Kisah yang Tertinggal di Bangku Bajaj


 
Bagian 1 – Tamparan di Depan Gang

Umurku baru dua puluh tiga tahun. Sekolahku pas-pasan, hanya berbekal ijazah SMA yang tak terlalu istimewa. Nasib membawaku ke jalanan Jakarta sebagai sopir bajaj.

Meski pendidikanku biasa-biasa saja, kata orang-orang wajahku cukup ganteng. Bukan ganteng ala model iklan, tapi cukup untuk sering membuat orang menatap dua kali. Entah itu keuntungan atau justru masalah, aku sendiri belum pernah memikirkannya terlalu jauh.

Hari itu aku mangkal di depan sebuah kafe kecil di kawasan Tebet. Dari balik kemudi, aku mengamati orang-orang keluar masuk, sambil berharap ada penumpang yang mau naik.

Seorang gadis muncul dari pintu kafe. Usianya mungkin awal dua puluhan. Rambutnya panjang tergerai, kaos putih sederhana dipadukan dengan jeans biru yang pas di tubuhnya. Ada kesan tergesa di langkahnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka pintu bajajku dan duduk di bangku belakang.

"Ke arah Cawang," ucapnya singkat.

Mesin bajaj meraung pelan. Sambil melaju di jalanan sore yang mulai padat, aku sempat melirik dari kaca spion. Gadis itu diam, matanya menerawang jauh. Ada bayangan sedih di wajahnya. Entah habis bertengkar dengan pacarnya atau ada masalah lain, aku tak berani menebak lebih.

Tak lama, kami sampai di depan sebuah gang kecil. Gadis itu menyerahkan ongkos tanpa banyak kata, lalu berjalan cepat masuk gang. Aku hendak berbalik arah ketika mataku menangkap sesuatu di kursi belakang—sebuah ponsel tergeletak.

Spontan aku turun, mengambil ponsel itu, lalu berlari menyusulnya. Dari kejauhan, aku melihat ia justru mempercepat langkah.

"Mbak! Mbak!" panggilku.

Ia berhenti mendadak, berbalik, dan sebelum sempat aku bicara—plak! Tamparan mendarat di pipiku. Panas dan perih. Aku terkejut, tapi tetap berkata, "Mbak... ini HP-nya ketinggalan."

Tatapan marah di matanya sontak berubah jadi kaget. Bibirnya terbuka, seolah ingin minta maaf, tapi aku tak menunggu. Aku hanya menyerahkan ponselnya, lalu kembali ke bajaj yang tadi kutinggal di pinggir jalan.

Aku berjalan pergi, meninggalkan rasa panas di pipi yang entah kenapa, lama-lama berubah jadi rasa aneh di dada.


Bagian 2 – Pertengkaran di Kursi Belakang

Sebulan berlalu sejak kejadian tamparan di depan gang itu. Aku sudah lupa-lupa ingat wajah gadis tersebut, meski sesekali bayangannya muncul saat aku melintas di sekitar kafe tempat kami pertama kali bertemu.

Sore itu, aku kembali mangkal di tempat biasa. Jalanan agak padat, udara dipenuhi suara klakson dan dengung knalpot. Dari kejauhan, sosok yang familiar muncul. Rambut panjangnya, langkah cepatnya—ya, dia. Gadis yang pernah menamparku.

Namun kali ini ia tidak sendirian. Seorang laki-laki berjalan di sampingnya, tampak tak sabar. Keduanya masuk ke dalam bajajku. Ia duduk di sebelah pacarnya, tapi dari kaca spion, aku bisa melihat ketegangan yang jelas. Mereka tak banyak bicara, hanya sesekali terdengar nada suara yang meninggi.

Di sepanjang perjalanan, ketegangan makin terasa. Pacarnya tampak kesal, sementara gadis itu menatap keluar jendela, berusaha menahan emosi. Bajaj melaju melewati tikungan terakhir, lalu berhenti di depan gang yang sama seperti dulu.

Begitu mereka turun, suara pertengkaran langsung pecah. Kata-kata saling tuding terdengar, lalu tiba-tiba tangan si laki-laki terangkat, hendak menampar wajah gadis itu.

Refleks, aku melangkah cepat, menahan tangannya di udara. "Jangan di sini, Bang. Jangan main tangan," kataku tegas.

Si laki-laki terdiam, menatapku tajam, tapi tak berkata apa-apa. Gadis itu hanya menunduk, menggenggam erat tasnya. Aku tak ikut campur lebih jauh. Hanya memastikan mereka berdua menjauh dari bajajku sebelum aku kembali ke kemudi.

Saat menarik tuas gas, aku sempat melirik kaca spion. Gadis itu berdiri mematung di depan gang, sementara pacarnya sudah berjalan lebih dulu. Ada rasa aneh yang kembali menyelinap di dadaku, sama seperti waktu dulu—campuran penasaran dan iba yang tak bisa kujelaskan.


Bagian 3 – Tas Kertas di Kursi Belakang

Sebulan lagi berlalu. Hidupku kembali ke ritme yang sama: menarik bajaj dari pagi hingga malam, kadang mengitari Tebet, kadang tersesat jauh sampai daerah yang tak kukenal. Hari-hari berjalan seperti arus lalu lintas—ramai, bising, tapi terasa kosong.

Sore itu, saat matahari condong ke barat, aku kembali melihat sosok yang rasanya sudah menjadi bagian dari cerita tak tertulis dalam hidupku. Gadis itu. Kali ini ia berjalan sendirian, membawa sebuah tas kertas berwarna cokelat di tangan kanannya. Langkahnya terlihat tenang, tapi dari raut wajahnya, ada lelah yang tak bisa disembunyikan.

Tanpa banyak bicara, ia masuk ke bajajku. Tak ada senyum, tak ada sapaan, hanya anggukan singkat. Perjalanan terasa sunyi. Suara deru mesin dan hiruk-pikuk jalanan menjadi satu-satunya latar.

Sesampainya di depan gang rumahnya, ia turun dengan langkah tergesa, seperti biasanya. Aku melihat punggungnya menjauh, masuk ke gang tanpa menoleh ke belakang.

Aku hendak memutar kemudi ketika mataku menangkap sesuatu di bangku penumpang. Tas kertas itu.

Awalnya kupikir hanya belanjaan biasa. Aku sempat memanggilnya, “Mbak! Mbak!” tapi ia tidak menoleh. Ragu-ragu, aku mengambil tas itu. Ringan sekali. Rasa penasaran membuatku mengintip isinya.

Hanya ada selembar kertas kecil di dalamnya. Nomor telepon, tertulis rapi dengan huruf yang jelas sengaja ditujukan untuk seseorang.

Aku terdiam lama. Rasanya aku mengerti maksudnya. Nomor itu bukan sekadar deretan angka. Rasanya seperti sebuah undangan diam-diam—pintu kecil menuju percakapan yang selama ini tak pernah sempat dimulai.

Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri menelepon nomor itu. Jantungku berdetak tak beraturan saat sambungan tersambung.

“Hallo…” suaranya lirih, ragu-ragu.

Aku memperkenalkan diri singkat. Di seberang sana, ia terdiam sejenak, lalu terdengar tarikan napas panjang.

“Mas… aku minta maaf banget… soal waktu itu di depan gang,” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku bener-bener nggak tahu… Mas cuma mau balikin HP, tapi aku malah—” suaranya tercekat, “—malah nampar Mas. Aku malu sekali…”

Aku terdiam, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Lalu ia melanjutkan, “Dan… terima kasih. Waktu itu… Mas nolong aku di depan gang. Kalau bukan karena Mas, mungkin aku udah kena tampar pacar aku.” Suaranya bergetar, entah karena gugup atau ada rasa lain yang ia tahan.

Aku hanya menjawab singkat, “Nggak usah dipikirin, Mbak. Saya nggak masalah.”

Hening sesaat, tapi hening yang terasa hangat. Percakapan pertama itu tidak panjang, tapi cukup untuk membuatku mengerti: pertemuan kami memang belum selesai.

Hari-hari berikutnya, telepon-telepon lain menyusul. Obrolan ringan, cerita singkat, kabar sederhana. Entah bagaimana, aku mulai merasakan bahwa semua pertemuan kami tidak lagi sekadar kebetulan.


Bagian 4 – Luka di Balik Kain

Sejak panggilan telepon pertama itu, kami jadi lebih sering berbicara. Obrolan kami sederhana—tentang macetnya jalanan, tentang hujan yang tiba-tiba datang, atau tentang sepotong roti yang ia beli di kafe langganannya. Tapi di balik percakapan ringan itu, aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam.

Kadang aku bisa mendengar lelah yang tak pernah ia ucapkan. Kadang ada jeda panjang di antara kalimatnya, seperti ia sedang menimbang kata-kata. Dan setiap kali ia menutup telepon dengan suara pelan, aku selalu merasakan ada jarak yang ia coba pertahankan.

Sampai suatu sore, di tengah perjalanan, aku mendengar suaranya memanggil dari trotoar. Aku melambatkan bajaj, dan ia naik seperti biasa. Tapi kali ini ada yang berbeda. Wajahnya sebagian tertutup scarf tipis.

Awalnya kupikir hanya untuk melindungi diri dari debu jalanan. Tapi dari kaca spion, aku menangkap guratan kemerahan samar di pipinya, seperti bekas sesuatu yang coba ia sembunyikan.

Aku memberanikan diri bertanya pelan, “Mbak… itu kenapa?”

Ia terdiam cukup lama. Jalanan di depan terasa lebih sunyi daripada biasanya. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, “Nggak apa-apa… cuma… ya, pacar saya.”

Kata-kata itu membuat dadaku sesak. Aku ingin bicara lebih jauh, tapi kata-kata terasa kaku di tenggorokan. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya sopir bajaj yang kebetulan ia temui di beberapa persimpangan hidupnya.

Kami tidak bicara lagi sepanjang perjalanan. Bajaj terus melaju sampai berhenti di depan gang rumahnya. Ia turun dengan langkah pelan, lalu sempat menoleh ke arahku. Pandangannya singkat—ada terima kasih, lelah, dan entah apa lagi yang tak sempat ia ucapkan.

Aku hanya mengangguk pelan, lalu kembali menarik bajajku, menyisakan pertanyaan yang tak mau hilang dari kepala: sampai kapan ia harus bertahan dalam hubungan yang membuatnya terluka?


Bagian 5 – Akhir Sebuah Pertemuan

Sejak sore itu, pikiranku tak pernah benar-benar tenang. Setiap kali menarik bajaj, aku selalu teringat wajahnya di balik scarf, dan suara lirihnya di telepon yang berulang kali bilang tidak apa-apa—padahal jelas ada sesuatu.

Aku bukan orang yang pandai mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan hati. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda. Ada dorongan yang tak bisa kutahan untuk memastikan ia baik-baik saja.

Sampai suatu sore, dari potongan-potongan cerita yang ia ucapkan di telepon, aku akhirnya bisa menebak di mana pacarnya biasa nongkrong. Dorongan itu berubah jadi langkah yang tak bisa kuurungkan.

Ketika bertemu dengannya, aku tidak banyak bicara. Amarah dan rasa kesal membuat tanganku langsung menarik kerah bajunya. “Kau pikir memukul perempuan itu hebat?!” suaraku meninggi, sementara ia mencoba melawan. Tapi aku sudah menyeretnya menuju rumah gadis itu.

Di depan rumahnya, ia terkejut melihat kami. Wajahnya pucat, matanya melebar. Si laki-laki itu, dengan wajah tertunduk, meminta maaf berulang kali—entah karena terpaksa, entah karena sadar.

Aku bisa melihat kebingungan di mata gadis itu. Antara sakit hati, rasa lega, dan iba yang berdesakan jadi satu. Lalu perlahan, ia berkata pelan, “Aku memaafkan.”

Hatiku terasa lega sekaligus hampa. Aku merasa tugasku selesai. Aku pun berpamitan, melangkah pergi meninggalkan mereka.

Baru beberapa langkah aku berjalan, terdengar suaranya memanggil dari belakang. “Mas!”

Aku berhenti dan menoleh. Ia berdiri di depan rumahnya, memegang ujung scarf yang kini ia lepas, wajahnya setengah tersenyum.

“Aku sudah memaafkannya,” katanya pelan, “tapi bukan untuk melanjutkan hubungan. Aku ingin putus. Dan… kalau Mas mau… mungkin… aku ingin jadi gadis Mas.”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Angin sore berembus pelan, mengaduk perasaan yang campur aduk.

Aku hanya tersenyum samar, menunduk sebentar, lalu kembali melangkah ke bajajku.

Sore itu, mesin bajaj meraung pelan, tapi di dadaku justru ada riuh yang tak bisa kudiamkan. Ucapannya tadi—tentang memutuskan hubungan, tentang ingin jadi gadisku—menggema terus di telinga, seolah tak mau pergi.

Aku tahu, ini bukan sekadar tentang pertemuan sopir bajaj dan penumpang. Ini tentang luka yang pelan-pelan mencari tempat aman untuk sembuh. Tentang tatapan yang, entah sejak kapan, selalu kucari di kaca spion. Tentang rasa aneh yang lahir dari tamparan di depan gang, dan kini tumbuh menjadi sesuatu yang lebih sulit kujelaskan.

Tapi aku juga sadar, jalan hidup kami berbeda. Aku bukan pahlawan, bukan penyelamat. Aku hanya orang yang kebetulan hadir di saat ia butuh seseorang untuk mengerti.

Gang itu perlahan menjauh di belakang. Namun di hati, ia seperti tetap berdiri di sana—membawa tas kertas, membawa luka yang pelan-pelan ia lepas, dan membawa janji samar yang mungkin suatu hari akan kutepati.

Entah ia akan menjadi milikku atau hanya menjadi kenangan, aku tidak tahu. Yang kutahu, sejak hari itu, setiap kali aku melintas di depan gang itu, aku akan selalu melambat. Karena di sanalah hatiku pernah singgah… dan mungkin belum pernah benar-benar pergi.


Epilog – Gang yang Menyimpan Nama

Waktu berjalan, musim berganti. Jalanan Tebet tetap ramai, deru mesin bajaj masih menjadi musik sehari-hari. Tapi di antara rute yang kulalui, ada satu gang yang tak pernah terasa sama.

Setiap kali bajajku melintas di depannya, refleks kakiku mengurangi gas. Entah ia masih tinggal di sana atau tidak, aku tidak tahu. Mungkin ia sudah memulai hidup baru, di tempat yang jauh dari suara knalpot dan debu jalanan.

Tapi bagiku, gang itu tetap menyimpan sesuatu—bukan sekadar kenangan tentang tamparan di sore hari, bukan sekadar nomor telepon di dalam tas kertas, tapi juga suara lirih di telepon yang memohon maaf, dan kalimat yang pernah membuat dadaku bergetar: “Kalau Mas mau… mungkin… aku ingin jadi gadis Mas.”

Kini, aku tidak lagi mencari bayangannya di kaca spion. Tapi entah kenapa, setiap kali angin sore menyentuh wajahku, aku merasa seperti mendengar suaranya lagi.

Mungkin perasaan ini tak pernah benar-benar pergi. Mungkin ia hanya berdiam di gang itu—gang kecil yang setiap kali kulewati, membuatku merasa bahwa hatiku pernah singgah… dan diam-diam, belum pernah pulang.

TAMAT

Depok, 20 Desember 2025

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)