Cerpen - Kisah yang Tertinggal di Bangku Bajaj
Bagian 1 – Tamparan di Depan Gang
Umurku baru dua puluh tiga tahun. Sekolahku pas-pasan, hanya berbekal ijazah SMA yang tak terlalu istimewa. Nasib membawaku ke jalanan Jakarta sebagai sopir bajaj.
Meski pendidikanku biasa-biasa saja, kata orang-orang wajahku cukup ganteng. Bukan ganteng ala model iklan, tapi cukup untuk sering membuat orang menatap dua kali. Entah itu keuntungan atau justru masalah, aku sendiri belum pernah memikirkannya terlalu jauh.
Hari itu aku mangkal di depan sebuah kafe kecil di kawasan Tebet. Dari balik kemudi, aku mengamati orang-orang keluar masuk, sambil berharap ada penumpang yang mau naik.
Seorang gadis muncul dari pintu kafe. Usianya mungkin awal dua puluhan. Rambutnya panjang tergerai, kaos putih sederhana dipadukan dengan jeans biru yang pas di tubuhnya. Ada kesan tergesa di langkahnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka pintu bajajku dan duduk di bangku belakang.
"Ke arah Cawang," ucapnya singkat.
Mesin bajaj meraung pelan. Sambil melaju di jalanan sore yang mulai padat, aku sempat melirik dari kaca spion. Gadis itu diam, matanya menerawang jauh. Ada bayangan sedih di wajahnya. Entah habis bertengkar dengan pacarnya atau ada masalah lain, aku tak berani menebak lebih.
Tak lama, kami sampai di depan sebuah gang kecil. Gadis itu menyerahkan ongkos tanpa banyak kata, lalu berjalan cepat masuk gang. Aku hendak berbalik arah ketika mataku menangkap sesuatu di kursi belakang—sebuah ponsel tergeletak.
Spontan aku turun, mengambil ponsel itu, lalu berlari menyusulnya. Dari kejauhan, aku melihat ia justru mempercepat langkah.
"Mbak! Mbak!" panggilku.
Ia berhenti mendadak, berbalik, dan sebelum sempat aku bicara—plak! Tamparan mendarat di pipiku. Panas dan perih. Aku terkejut, tapi tetap berkata, "Mbak... ini HP-nya ketinggalan."
Tatapan marah di matanya sontak berubah jadi kaget. Bibirnya terbuka, seolah ingin minta maaf, tapi aku tak menunggu. Aku hanya menyerahkan ponselnya, lalu kembali ke bajaj yang tadi kutinggal di pinggir jalan.
Aku berjalan pergi, meninggalkan rasa panas di pipi yang entah kenapa, lama-lama berubah jadi rasa aneh di dada.
Bagian 2 – Pertengkaran di Kursi Belakang
Sebulan berlalu sejak kejadian tamparan di depan gang itu. Aku sudah lupa-lupa ingat wajah gadis tersebut, meski sesekali bayangannya muncul saat aku melintas di sekitar kafe tempat kami pertama kali bertemu.
Sore itu, aku kembali mangkal di tempat biasa. Jalanan agak padat, udara dipenuhi suara klakson dan dengung knalpot. Dari kejauhan, sosok yang familiar muncul. Rambut panjangnya, langkah cepatnya—ya, dia. Gadis yang pernah menamparku.
Namun kali ini ia tidak sendirian. Seorang laki-laki berjalan di sampingnya, tampak tak sabar. Keduanya masuk ke dalam bajajku. Ia duduk di sebelah pacarnya, tapi dari kaca spion, aku bisa melihat ketegangan yang jelas. Mereka tak banyak bicara, hanya sesekali terdengar nada suara yang meninggi.
Di sepanjang perjalanan, ketegangan makin terasa. Pacarnya tampak kesal, sementara gadis itu menatap keluar jendela, berusaha menahan emosi. Bajaj melaju melewati tikungan terakhir, lalu berhenti di depan gang yang sama seperti dulu.
Begitu mereka turun, suara pertengkaran langsung pecah. Kata-kata saling tuding terdengar, lalu tiba-tiba tangan si laki-laki terangkat, hendak menampar wajah gadis itu.
Refleks, aku melangkah cepat, menahan tangannya di udara. "Jangan di sini, Bang. Jangan main tangan," kataku tegas.
Si laki-laki terdiam, menatapku tajam, tapi tak berkata apa-apa. Gadis itu hanya menunduk, menggenggam erat tasnya. Aku tak ikut campur lebih jauh. Hanya memastikan mereka berdua menjauh dari bajajku sebelum aku kembali ke kemudi.
Saat menarik tuas gas, aku sempat melirik kaca spion. Gadis itu berdiri mematung di depan gang, sementara pacarnya sudah berjalan lebih dulu. Ada rasa aneh yang kembali menyelinap di dadaku, sama seperti waktu dulu—campuran penasaran dan iba yang tak bisa kujelaskan.
Bagian 3 – Tas Kertas di Kursi Belakang
Sebulan lagi berlalu. Hidupku kembali ke ritme yang sama: menarik bajaj dari pagi hingga malam, kadang mengitari Tebet, kadang tersesat jauh sampai daerah yang tak kukenal. Hari-hari berjalan seperti arus lalu lintas—ramai, bising, tapi terasa kosong.
Sore itu, saat matahari condong ke barat, aku kembali melihat sosok yang rasanya sudah menjadi bagian dari cerita tak tertulis dalam hidupku. Gadis itu. Kali ini ia berjalan sendirian, membawa sebuah tas kertas berwarna cokelat di tangan kanannya. Langkahnya terlihat tenang, tapi dari raut wajahnya, ada lelah yang tak bisa disembunyikan.
Tanpa banyak bicara, ia masuk ke bajajku. Tak ada senyum, tak ada sapaan, hanya anggukan singkat. Perjalanan terasa sunyi. Suara deru mesin dan hiruk-pikuk jalanan menjadi satu-satunya latar.
Sesampainya di depan gang rumahnya, ia turun dengan langkah tergesa, seperti biasanya. Aku melihat punggungnya menjauh, masuk ke gang tanpa menoleh ke belakang.
Aku hendak memutar kemudi ketika mataku menangkap sesuatu di bangku penumpang. Tas kertas itu.
Awalnya kupikir hanya belanjaan biasa. Aku sempat memanggilnya, “Mbak! Mbak!” tapi ia tidak menoleh. Ragu-ragu, aku mengambil tas itu. Ringan sekali. Rasa penasaran membuatku mengintip isinya.
Hanya ada selembar kertas kecil di dalamnya. Nomor telepon, tertulis rapi dengan huruf yang jelas sengaja ditujukan untuk seseorang.
Aku terdiam lama. Rasanya aku mengerti maksudnya. Nomor itu bukan sekadar deretan angka. Rasanya seperti sebuah undangan diam-diam—pintu kecil menuju percakapan yang selama ini tak pernah sempat dimulai.
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri menelepon nomor itu. Jantungku berdetak tak beraturan saat sambungan tersambung.
“Hallo…” suaranya lirih, ragu-ragu.
Aku memperkenalkan diri singkat. Di seberang sana, ia terdiam sejenak, lalu terdengar tarikan napas panjang.
“Mas… aku minta maaf banget… soal waktu itu di depan gang,” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku bener-bener nggak tahu… Mas cuma mau balikin HP, tapi aku malah—” suaranya tercekat, “—malah nampar Mas. Aku malu sekali…”
Aku terdiam, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Lalu ia melanjutkan, “Dan… terima kasih. Waktu itu… Mas nolong aku di depan gang. Kalau bukan karena Mas, mungkin aku udah kena tampar pacar aku.” Suaranya bergetar, entah karena gugup atau ada rasa lain yang ia tahan.
Aku hanya menjawab singkat, “Nggak usah dipikirin, Mbak. Saya nggak masalah.”
Hening sesaat, tapi hening yang terasa hangat. Percakapan pertama itu tidak panjang, tapi cukup untuk membuatku mengerti: pertemuan kami memang belum selesai.
Hari-hari berikutnya, telepon-telepon lain menyusul. Obrolan ringan, cerita singkat, kabar sederhana. Entah bagaimana, aku mulai merasakan bahwa semua pertemuan kami tidak lagi sekadar kebetulan.
Bagian 4 – Luka di Balik Kain
Sejak panggilan telepon pertama itu, kami jadi lebih sering berbicara. Obrolan kami sederhana—tentang macetnya jalanan, tentang hujan yang tiba-tiba datang, atau tentang sepotong roti yang ia beli di kafe langganannya. Tapi di balik percakapan ringan itu, aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam.
Kadang aku bisa mendengar lelah yang tak pernah ia ucapkan. Kadang ada jeda panjang di antara kalimatnya, seperti ia sedang menimbang kata-kata. Dan setiap kali ia menutup telepon dengan suara pelan, aku selalu merasakan ada jarak yang ia coba pertahankan.
Sampai suatu sore, di tengah perjalanan, aku mendengar suaranya memanggil dari trotoar. Aku melambatkan bajaj, dan ia naik seperti biasa. Tapi kali ini ada yang berbeda. Wajahnya sebagian tertutup scarf tipis.
Awalnya kupikir hanya untuk melindungi diri dari debu jalanan. Tapi dari kaca spion, aku menangkap guratan kemerahan samar di pipinya, seperti bekas sesuatu yang coba ia sembunyikan.
Aku memberanikan diri bertanya pelan, “Mbak… itu kenapa?”
Ia terdiam cukup lama. Jalanan di depan terasa lebih sunyi daripada biasanya. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, “Nggak apa-apa… cuma… ya, pacar saya.”
Kata-kata itu membuat dadaku sesak. Aku ingin bicara lebih jauh, tapi kata-kata terasa kaku di tenggorokan. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya sopir bajaj yang kebetulan ia temui di beberapa persimpangan hidupnya.
Kami tidak bicara lagi sepanjang perjalanan. Bajaj terus melaju sampai berhenti di depan gang rumahnya. Ia turun dengan langkah pelan, lalu sempat menoleh ke arahku. Pandangannya singkat—ada terima kasih, lelah, dan entah apa lagi yang tak sempat ia ucapkan.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu kembali menarik bajajku, menyisakan pertanyaan yang tak mau hilang dari kepala: sampai kapan ia harus bertahan dalam hubungan yang membuatnya terluka?
Bagian 5 – Akhir Sebuah Pertemuan
Sejak sore itu, pikiranku tak pernah benar-benar tenang. Setiap kali menarik bajaj, aku selalu teringat wajahnya di balik scarf, dan suara lirihnya di telepon yang berulang kali bilang tidak apa-apa—padahal jelas ada sesuatu.
Aku bukan orang yang pandai mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan hati. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda. Ada dorongan yang tak bisa kutahan untuk memastikan ia baik-baik saja.
Sampai suatu sore, dari potongan-potongan cerita yang ia ucapkan di telepon, aku akhirnya bisa menebak di mana pacarnya biasa nongkrong. Dorongan itu berubah jadi langkah yang tak bisa kuurungkan.
Ketika bertemu dengannya, aku tidak banyak bicara. Amarah dan rasa kesal membuat tanganku langsung menarik kerah bajunya. “Kau pikir memukul perempuan itu hebat?!” suaraku meninggi, sementara ia mencoba melawan. Tapi aku sudah menyeretnya menuju rumah gadis itu.
Di depan rumahnya, ia terkejut melihat kami. Wajahnya pucat, matanya melebar. Si laki-laki itu, dengan wajah tertunduk, meminta maaf berulang kali—entah karena terpaksa, entah karena sadar.
Aku bisa melihat kebingungan di mata gadis itu. Antara sakit hati, rasa lega, dan iba yang berdesakan jadi satu. Lalu perlahan, ia berkata pelan, “Aku memaafkan.”
Hatiku terasa lega sekaligus hampa. Aku merasa tugasku selesai. Aku pun berpamitan, melangkah pergi meninggalkan mereka.
Baru beberapa langkah aku berjalan, terdengar suaranya memanggil dari belakang. “Mas!”
Aku berhenti dan menoleh. Ia berdiri di depan rumahnya, memegang ujung scarf yang kini ia lepas, wajahnya setengah tersenyum.
“Aku sudah memaafkannya,” katanya pelan, “tapi bukan untuk melanjutkan hubungan. Aku ingin putus. Dan… kalau Mas mau… mungkin… aku ingin jadi gadis Mas.”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Angin sore berembus pelan, mengaduk perasaan yang campur aduk.
Aku hanya tersenyum samar, menunduk sebentar, lalu kembali melangkah ke bajajku.
Sore itu, mesin bajaj meraung pelan, tapi di dadaku justru ada riuh yang tak bisa kudiamkan. Ucapannya tadi—tentang memutuskan hubungan, tentang ingin jadi gadisku—menggema terus di telinga, seolah tak mau pergi.
Aku tahu, ini bukan sekadar tentang pertemuan sopir bajaj dan penumpang. Ini tentang luka yang pelan-pelan mencari tempat aman untuk sembuh. Tentang tatapan yang, entah sejak kapan, selalu kucari di kaca spion. Tentang rasa aneh yang lahir dari tamparan di depan gang, dan kini tumbuh menjadi sesuatu yang lebih sulit kujelaskan.
Tapi aku juga sadar, jalan hidup kami berbeda. Aku bukan pahlawan, bukan penyelamat. Aku hanya orang yang kebetulan hadir di saat ia butuh seseorang untuk mengerti.
Gang itu perlahan menjauh di belakang. Namun di hati, ia seperti tetap berdiri di sana—membawa tas kertas, membawa luka yang pelan-pelan ia lepas, dan membawa janji samar yang mungkin suatu hari akan kutepati.
Entah ia akan menjadi milikku atau hanya menjadi kenangan, aku tidak tahu. Yang kutahu, sejak hari itu, setiap kali aku melintas di depan gang itu, aku akan selalu melambat. Karena di sanalah hatiku pernah singgah… dan mungkin belum pernah benar-benar pergi.
Epilog – Gang yang Menyimpan Nama
Waktu berjalan, musim berganti. Jalanan Tebet tetap ramai, deru mesin bajaj masih menjadi musik sehari-hari. Tapi di antara rute yang kulalui, ada satu gang yang tak pernah terasa sama.
Setiap kali bajajku melintas di depannya, refleks kakiku mengurangi gas. Entah ia masih tinggal di sana atau tidak, aku tidak tahu. Mungkin ia sudah memulai hidup baru, di tempat yang jauh dari suara knalpot dan debu jalanan.
Tapi bagiku, gang itu tetap menyimpan sesuatu—bukan sekadar kenangan tentang tamparan di sore hari, bukan sekadar nomor telepon di dalam tas kertas, tapi juga suara lirih di telepon yang memohon maaf, dan kalimat yang pernah membuat dadaku bergetar: “Kalau Mas mau… mungkin… aku ingin jadi gadis Mas.”
Kini, aku tidak lagi mencari bayangannya di kaca spion. Tapi entah kenapa, setiap kali angin sore menyentuh wajahku, aku merasa seperti mendengar suaranya lagi.
Mungkin perasaan ini tak pernah benar-benar pergi. Mungkin ia hanya berdiam di gang itu—gang kecil yang setiap kali kulewati, membuatku merasa bahwa hatiku pernah singgah… dan diam-diam, belum pernah pulang.
TAMAT
Depok, 20 Desember 2025
