Cerpen Humor - Pacarku Direbut Paman
Nama pamanku Warso. Di kampung, orang-orang memanggilnya Man Warso, singkatan dari “Paman Warso” sekaligus julukan tak resmi yang nadanya selalu naik satu oktaf kalau disebut sambil emosi.
Man Warso bukan orang sembarangan. Sawahnya luas, uangnya banyak, dan kumisnya tebal seperti pagar bambu baru dipasang. Umurnya sudah tak muda—kalau kalender jujur, ia seharusnya lebih akrab dengan cucu daripada dengan cinta. Tapi hidup kadang memang hobi bercanda, dan Man Warso adalah punchline-nya.
Masalah bermula ketika aku merantau ke Jakarta.
Aku pergi dengan niat mulia: mengumpulkan uang. Bulan depan aku berencana melamar pacarku, Ening. Gadis kampung dengan senyum sederhana dan suara lembut yang bisa bikin orang lupa cicilan. Sebelum berangkat, aku titip pesan pada semua orang sekampung—termasuk Man Warso.
“Man, titip Ening ya,” kataku waktu itu, sambil tertawa.
Man Warso juga tertawa.
Sawah Luas, Akal Tipis
Jakarta panas. Bukan cuma cuaca, tapi juga dompet. Aku kerja serabutan, lembur sampai mata seperti kerupuk kena angin. Setiap malam aku menelpon Ening.
“Mas, jangan lama-lama di Jakarta ya,” katanya.
“Iya, Ning. Sebentar lagi. Tinggal nambah biaya lamaran.”
Aku tenang. Terlalu tenang.
Karena aku lupa satu hal:
Man Warso tinggal di kampung.
Suatu sore, aku dapat kabar dari tetangga.
“Ening saiki sering bareng Man Warso.”
Aku tertawa.
“Ah, paling urusan sawah.”
Besoknya kabar lain datang.
“Man Warso ngater Ening pakai mobil baru.”
Aku mulai berkeringat.
“Ah, paling numpang.”
Sampai akhirnya pesan terakhir datang, singkat, padat, mematikan:
“Ening wis dilamar Man Warso.”
Aku menjatuhkan ponsel.
Dan berseru ke langit-langit kos:
“MAN WARSO… KAMU ITU KACAU!”
Keponakan Ditipu Paman Sendiri
Aku pulang kampung dengan kepala panas. Setibanya di rumah, aku melihat pemandangan yang membuat darahku mendidih: Man Warso duduk santai di teras, menyeruput kopi, sambil tersenyum seperti baru menang undian pupuk subsidi.
“Man Warso!” teriakku.
Ia menoleh pelan.
“Oh, kamu pulang, Le?”
“Kamu ngapain sama Ening?!”
Man Warso menghela napas panjang.
“Namanya juga jodoh, Le.”
Aku hampir tersedak udara.
“Jodoh dari mana?! Itu pacar aku! Bulan depan mau aku lamar!”
Man Warso mengangguk bijak, seperti kiai habis ceramah.
“Rezeki siapa yang tahu?”
Aku menepuk dada.
“Ini bukan rezeki, Man. Ini nyolong pacar!”
Otak di Dengkul
Yang bikin aku tambah emosi, Man Warso ini sudah punya cucu dua puluh satu. Umurnya juga sudah hampir “dipanggil waktu”. Tapi kelakuannya seperti remaja baru kenal sinyal.
“Man,” kataku dengan nada bergetar,
“Kalau mau nikah lagi, banyak pilihan. Yang gemuk, yang kurus, yang janda kaya, yang janda muda. Kenapa harus Ening?”
Man Warso tersenyum bangga.
“Karena Ening pinter masak.”
Aku menepuk jidat.
“Man, otakmu itu di dengkul!”
Ia tertawa kecil.
“Yang penting hati.”
Aku hampir pingsan.
Ditinggal Sebentar, Langsung Diembat
Yang paling menyakitkan bukan soal cinta, tapi kepercayaan. Aku cuma pergi sebentar. Kerja banting tulang. Mengumpulkan uang. Bukan kabur dari tanggung jawab.
Dan Man Warso?
Begitu aku pergi, langsung menyambar.
Seperti tuyul.
Tanpa izin.
Tanpa malu.
Aku menatapnya lekat-lekat.
“Man Warso… Man Warso… kamu ini keterlaluan.”
Ia mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Padahal kamu tahu Ening pacarku.”
Ia mengangguk pelan.
“Iya.”
“Terus?”
Ia tersenyum.
“Ya sudah.”
Aku menepuk jidat lagi.
“AMPUN!!! AMPUN!!!”
Warso Tidak Waras
Malam itu aku duduk sendirian di halaman rumah, memandangi sawah Man Warso yang luas dan hijau. Sawah itu saksi bisu bagaimana uang bisa menumpulkan akal sehat.
Aku bergumam sendiri.
“Kamu ini sebenarnya orang merek apa sih, Man Warso?”
Angin berembus pelan.
Entah dari mana suara tetangga menyahut:
“Namanya Warso, waras ora!”
Aku tertawa pahit.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar:
Kadang yang paling menyakitkan dalam hidup bukan kehilangan pacar,
tapi kehilangan rasa hormat pada paman sendiri.
Epilog: Sawah Tetap Sawah
Beberapa bulan kemudian, Man Warso benar-benar menikahi Ening. Pesta besar. Tenda panjang. Dangdut sampai subuh.
Aku tidak datang.
Bukan karena dendam.
Tapi karena aku belajar satu hal penting:
Kalau sawah terlalu luas, jangan sampai akal jadi sempit.
Dan sejak hari itu, setiap kali orang menyebut nama Man Warso di kampung, aku cuma tersenyum dan berkata pelan:
“Man Warso… kamu memang kacau.”
Depok, 7 Februari 2026
