Cerpen (Lanjutan) - Kabut di Kota Tanpa Peta
Malam tadi adalah tanggal 5 Februari 2026.
Aku terbangun karena suara pelan—gesekan kaki dengan lantai semen kontrakan kami. Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Junaidi bangun dari kasurnya tanpa menyalakan lampu, seperti takut mengganggu kesunyian yang sedang ia pinjam. Ia mengambil air wudhu dengan gerakan lambat, nyaris seperti orang sakit yang menahan nyeri.
Aku pura-pura tetap tidur.
Dari celah mata, aku melihat punggungnya menghadap kiblat. Ia shalat tahajud dengan tubuh yang tampak lebih kurus dari bulan-bulan sebelumnya. Setiap rukuknya lama. Setiap sujudnya seolah menahan beban yang terlalu berat untuk ditopang manusia biasa.
Selesai salat, ia tidak langsung kembali ke kasur. Ia duduk, mengambil selembar kertas bekas—bagian belakangnya masih dipenuhi coretan hitung-hitungan—lalu mulai menulis dengan penerangan lampu ponselnya. Tangannya gemetar. Sesekali ia berhenti, menghapus, mencoret, lalu menulis kembali.
Malam itu aku tidak tahu apa yang ia tulis. Aku hanya tahu, malam itu Junaidi sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih besar dari kami berdua.
Paginya, Junaidi berangkat lebih dulu.
“Ada proyek baru,” katanya singkat, sambil mengenakan jaket yang sudah mulai pudar warnanya. Sebelum menutup pintu, ia menyelipkan selembar kertas ke tanganku.
“Tolong… dibaca saja. Kalau bisa, dirapikan dikit. Aku tahu kamu suka nulis.”
Aku mengangguk, meski hatiku sudah tidak enak sejak melihat matanya. Mata orang yang tidak tidur, tapi juga tidak benar-benar bangun.
Setelah ia pergi, aku duduk di tepi kasur. Kertas itu kusentuh dengan hati-hati, seolah isinya rapuh. Tulisan tangan Junaidi berantakan, penuh coretan dan kata yang diulang-ulang. Bukan karena ia tak pandai menulis—melainkan karena pikirannya sedang kacau.
Aku sadar aku bukan editor. Aku juga bukan orang pintar. Tapi aku membaca.
Dan saat aku menyadari bahwa itu adalah surat terbuka untuk para petinggi Dana Amanah Nusantara, air mataku jatuh lebih dulu sebelum aku selesai di paragraf pertama.
Ini isi surat itu.
SURAT TERBUKA
UNTUK PARA PETINGGI DANA AMANAH NUSANTARA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya menulis surat ini bukan sebagai orang besar, bukan pula sebagai orang yang paham hukum atau keuangan. Saya hanyalah seorang pekerja kecil—salah satu dari ribuan orang yang mempercayakan hasil jerih payahnya kepada Dana Amanah Nusantara.
Uang yang saya titipkan bukan uang berlebih. Di dalamnya ada keringat, ada malam-malam tanpa tidur, ada harapan untuk menikah, ada amanah dari ibu dan saudara yang percaya pada saya. Uang itu bukan angka di sistem. Ia adalah hidup kami.
Sejak dana itu tak bisa ditarik, hidup saya runtuh pelan-pelan. Saya kehilangan pekerjaan. Saya kehilangan keberanian untuk pulang kampung. Saya kehilangan hak untuk bicara mantap kepada gadis yang saya cintai. Setiap hari saya menanggung rasa bersalah—bukan karena berbuat jahat, tapi karena terlalu percaya.
Saya tidak menulis untuk memaki. Saya menulis karena sudah kehabisan cara lain untuk didengar.
Sebagai tersangka, Anda akan diperiksa oleh polisi. Saya memohon—dengan sangat—agar Anda jujur. Katakan dengan sebenar-benarnya ke mana dana kami dialirkan. Siapa saja yang terlibat. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena setiap kebohongan baru hanya akan memperpanjang penderitaan kami, para lender kecil yang tak punya kuasa apa-apa selain berharap.
Kejujuran Anda hari ini adalah satu-satunya jalan agar dana itu bisa dikumpulkan kembali dan kerugian kami diganti semaksimal mungkin. Tidak sempurna pun tak apa. Asal ada itikad. Asal ada tanggung jawab.
Saya juga ingin mengingatkan—sebagai sesama manusia yang beragama—bahwa hukum dunia sudah di depan mata. Tidak lama lagi. Dan ia nyata.
Namun hukum akhirat jauh lebih nyata, jauh lebih lama, dan tak bisa dinegosiasikan. Jika hak-hak kami tidak ditunaikan, jika amanah ini tidak dikembalikan, maka tuntutan kami tidak berhenti di pengadilan dunia. Ia akan kami bawa sebagai doa dan tuntutan di hadapan Allah kelak.
Saya tidak ingin menjadi orang yang menuntut. Tapi saya juga tidak ingin menjadi orang yang dizalimi dan diam.
Meski begitu, saya masih berdoa. Semoga Allah membukakan hati Anda. Semoga masih ada rasa takut kepada-Nya yang tersisa. Semoga Anda sadar bahwa mengembalikan hak orang lain adalah jalan keselamatan, bukan kehancuran.
Terakhir, surat ini juga saya tujukan kepada semua pihak—pengawas dari otoritas keuangan, para ulama, dan siapa pun yang memiliki kewenangan. Tolong jangan biarkan kejadian seperti ini terulang. Jangan biarkan kata “amanah” dipakai sebagai topeng untuk merampas masa depan orang-orang kecil.
Kami tidak butuh janji indah. Kami hanya butuh kejujuran dan keadilan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Seorang lender kecil
yang sedang berjuang bertahan hidup
Aku berhenti membaca.
Tangisku pecah. Bukan tangis keras—melainkan tangis orang dewasa yang tahu bahwa dunia tidak selalu adil, tapi tetap berharap pada keajaiban kecil.
Di surat itu tidak ada makian. Tidak ada ancaman. Yang ada hanya luka yang disampaikan dengan adab. Dan itu justru yang paling menyakitkan.
Aku melipat kembali kertas itu, lalu menengadah.
Ya Allah, kembalikanlah uang Junaidi.
Kembalikanlah harapannya.
Lapangkan jalannya agar ia bisa menepati janji pada Sekar.
Dan jika dunia ini terlalu kejam hari ini,
jangan Kau biarkan imannya ikut runtuh bersamanya.
Depok, 7 Februari 2026
