Memoar - Perjalanan Karya dan Cinta Batin
1. Awal Sebuah Nama yang Tak Bernama (1993)
Aku mulai menulis bukan karena ingin menjadi sastrawan, tetapi karena ada sesuatu yang tidak bisa kutahan di dada. Tahun 1993, ketika aku masih sangat muda, kata-kata datang seperti banjir—deras, kadang tak sempat kupahami arah dan maknanya. Di tahun itulah sosok yang kelak sering hadir dalam karya-karyaku pertama kali menyentuh kesadaranku. Nama sebenarnya bukan Hapsari. Nama itu kelak lahir sebagai simbol, sebagai tempat bernaung bagi satu wajah, satu jiwa, satu rasa yang tak pernah benar-benar pergi.
Hubunganku dengannya bermula dari sebuah sapaan yang tidak sempat kujawab. Banjir mengalir, membawa suara, membawa jarak, dan membawa kemungkinan yang belum bernama. Dari peristiwa sederhana itu, hubungan kami menemukan bentuk yang aman dan dapat diterima: kakak dan adik. Namun sejak awal aku tahu, di balik sebutan itu, ada getaran lain—lebih halus, lebih dalam, dan lebih berbahaya bila dibiarkan tanpa kendali.
Puisi pertamaku yang memanggil sosok itu lahir di awal 1993, berjudul Kepethuk. Dalam puisi itu aku menyapanya dengan sebutan Nona. Sebutan yang sopan, berjarak, namun sarat rasa. Ia belum bernama Hapsari saat itu, tetapi benihnya sudah tertanam. Sejak puisi itu, banyak sajakku yang, sadar atau tidak, selalu kembali kepadanya. Ia menjadi poros diam dari kata-kataku.
2. Mahasiswa, Surat, dan Cerita yang Dikirim ke Desa (1995–1996)
Maret 1995, ketika aku masih menjadi mahasiswa Fisika di Universitas Indonesia, Depok, aku menulis cerpen pertamaku: Awam Hitam Pun Berlalu. Dalam cerita itu, aku menempatkan diriku sebagai tokoh utama sekaligus sudut pandang, dan sosok Hapsari hadir sebagai adik kandung. Cerita itu bukan sekadar fiksi; ia adalah cara aman bagiku untuk menyusun perasaan, menyamarkannya dalam narasi keluarga dan tanggung jawab.
Cerpen itu tidak hanya kutulis—aku kirimkan kepadanya di desa melalui surat. Kami saling berkirim surat, dan setiap amplop yang sampai terasa seperti jembatan antara dua dunia: dunia kota dengan rumus-rumus fisika, dan dunia desa dengan kesederhanaan serta penantian.
Tak lama kemudian, aku menulis cerita bersambung Masih Ada Harapan yang Tersisa, selesai April 1995. Lagi-lagi, aku sebagai sudut pandang, Hapsari sebagai adik kandung. Cerita ini kukirimkan bertahap lewat surat, seperti memberi potongan-potongan hatiku sedikit demi sedikit. Cerita itu begitu penting bagiku hingga kutulis ulang menjadi sebuah novel tangan sepanjang 93 halaman di buku tulis—sebuah kesetiaan sunyi pada kisah yang belum boleh selesai.
Juni 1996, dalam cerpen Kado Ulang Tahun, Hapsari kembali hadir sebagai adik kandung. Pola ini berulang, bukan karena miskin imajinasi, tetapi karena aku sedang menjaga batas. Kata adik menjadi pagar moral, sekaligus penjara batin.
3. Hapsari yang Terus Menjelma (2023–2025)
Waktu berlalu. Aku tumbuh, begitu pula dia. Kesadaran yang dulu kupendam, baru ia rasakan di tahun 2000-an. Namun karya-karyaku tidak berhenti. Tahun 2023, aku menulis cerpen Keindahan Cinta Hapsi. Di sini, sosok itu tampil dengan nama Hapsari secara terang. Kisah Kisdanu dan Hapsari kuceritakan dari sudut pandang narator, dengan panggilan sayang De Hapsi dan Mas Kais. Ini bukan lagi sekadar pengalihan; ini adalah pengakuan yang sudah lebih berani.
Tahun 2025 menjadi tahun reflektif. Dalam Sapaan yang Hanyut Terbawa Banjir, aku kembali ke titik awal: sapaan pertama yang tak terjawab, banjir, dan lahirnya hubungan kakak–adik. Lalu Jejak Non yang Mulai Dewasa menampilkan Hapsari yang bersyukur diterima di SMK Negeri, bertanya-tanya tentang lelaki misterius yang selalu memberinya puisi—tanpa tahu bahwa ia adalah pusat dari semua itu.
Dalam Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika, aku kembali menjadi tokoh utama, Hapsari sebagai adik kandung. Namun di sinilah konflik batin memuncak, ketika hadir sosok Ira, membentuk segitiga emosi: Aku–Hapsari–Ira. Segitiga ini bukan sekadar cinta, melainkan perjalanan spiritual.
Hapsari mengajarkan kesetiaan dan amanah. Ira mengajarkan ketulusan melepaskan. Aku berada di tengah, mengajarkan—atau belajar—tentang pengorbanan.
4. Nama Lain, Negeri Lain, dan Surat-Surat Batin
Dalam cerpen Benteng Osaka, Ombak Kobe, Hapsari hadir sebagai Sari—kekasih di tanah air, jangkar moral bagi seorang trainee di Jepang. Di negeri asing, aku diuji oleh empati pada Haruka, bayangan luka yang ditinggalkan Tio. Sari, meski jauh, menjadi rumah yang menjaga batas.
Dalam novel romansa epistolari Kasih Dalam Sebutan Adik, Hapsari menjelma sebagai Ati, dan aku sebagai Azis. Surat-surat mereka adalah medan pertempuran batin antara sebutan adik dan keinginan menjadi kekasih. Demikian pula dalam cerpen Cinta yang Terpenjara Kata Adik, ia hadir sebagai Rani, sementara aku menjadi Hanif. Lagi-lagi, kata adik menjadi simbol cinta yang ditahan demi martabat dan kesucian.
Penutup: Hapsari sebagai Takdir Kata
Kini aku tahu, Hapsari bukan sekadar tokoh. Ia adalah benang merah seluruh karya-karyaku sejak 1993. Ia hadir dengan banyak nama—Nona, Hapsari, Sari, Ati, Rani—namun jiwanya satu. Ia adalah inspirasi, cermin batin, dan jalan pulang. Pada akhirnya, kami disatukan dalam pernikahan, setelah perjalanan panjang yang lebih dulu ditulis oleh kata-kata.
Memoar ini bukan tentang romantika semata, melainkan tentang bagaimana sastra menjadi ruang aman bagi cinta yang harus menunggu, menahan diri, dan bertumbuh dalam kesadaran. Kata-kata telah lebih dulu menikahkan kami, jauh sebelum akad diucapkan.
Depok, 12 Februari 2026
