Cerpen - Dua Pusara Satu Cinta

 



Prolog

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan aliran sungai tenang, hidup sepasang anak muda yang sejak kecil tumbuh bersama, belajar mengaji di surau yang sama, dan menyimpan cinta yang murni di hati mereka. Namanya Dirman dan Surti.

Kisah mereka seharusnya berakhir indah, dengan ikatan pernikahan yang direstui keluarga. Namun takdir berkata lain. Bukan karena mereka bersalah, bukan pula karena cinta mereka ternoda. Hanya karena satu hal: sebuah kepercayaan lama yang begitu menakutkan, sehingga orang tua mereka rela mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya.

Orang-orang desa percaya, bila seorang lelaki dan perempuan menikah sementara orang tua mereka lahir di hari yang sama, maka salah satu orang tua akan segera dipanggil ajal. Tak seorang pun berani melawan keyakinan itu. Maka cinta Dirman dan Surti pun terhenti, direnggut oleh rasa takut pada ramalan yang tak pernah terbukti.

Inilah kisah tentang cinta yang kalah oleh tradisi, tentang air mata yang jatuh karena manusia sendiri yang menakut-nakuti sesamanya. Kisah Dirman dan Surti menjadi penanda luka, agar kita belajar: hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan di tangan ramalan.

 

Masa Kecil 

Di sebuah desa kecil di Tegal, kehidupan berputar sederhana di antara hamparan sawah yang hijau dan suara ayam jantan yang setiap pagi membangunkan penghuni rumah-rumah bambu. Saat senja tiba, anak-anak desa berduyun-duyun menuju surau kecil di tepi jalan tanah. Surau itu berdinding papan, beratap genting tua, namun selalu ramai selepas azan maghrib. Dari situlah suara anak-anak melantunkan huruf demi huruf Al-Qur’an, bertalu-talu di bawah bimbingan ustaz dan ustazah yang sabar.

Sistem ngajinya sederhana: mula-mula mereka bersama-sama menghafal surat-surat pendek, kadang diselingi doa-doa harian. Setelah itu, satu per satu anak menghadap guru—laki-laki ke ustaz, perempuan ke ustazah—untuk membaca beberapa ayat atau menyetorkan hafalan. Yang sudah selesai, langsung mendapat tugas: mengisi kolam wudhu dengan pompa dragon, masing-masing dua puluh kali ayunan.

Di antara anak-anak itu, ada dua yang hampir tak pernah terpisahkan: Dirman dan Surti. Sejak kecil mereka duduk bersisian di tikar pandan, saling mengingatkan bila ada ayat yang salah terbaca.

Surti, dengan wajah teduh dan mata bening, cepat sekali menghafal ayat-ayat suci. Suaranya merdu, jernih, dan menyentuh hati. Tak heran setiap ada acara besar—maulid Nabi, khataman Qur’an, atau hajatan desa—namanya selalu disebut. “Biar Surti saja yang jadi qori,” begitu kata orang-orang, bangga mendengar lantunannya.

Dirman, meski suaranya tak semerdu Surti, selalu kagum mendengarnya. Kadang, tanpa sadar ia terdiam terlalu lama saat Surti membaca dengan penuh penghayatan, seolah ayat-ayat itu jatuh bukan dari bibir seorang anak kecil, melainkan dari langit.

Ada satu kebiasaan kecil yang makin mengikat kebersamaan mereka: saat giliran Dirman memompa air, Surti berdiri di sampingnya sambil menghitung dengan riang.

“Siji… loro… telu… papat…”

Setiap kali Dirman mulai kelelahan, Surti pura-pura mempercepat hitungan agar cepat selesai. Mereka tertawa bersama, suara mereka bercampur dengan derit pompa dragon yang berat. Begitu giliran Surti, Dirman gantian menghitung, tapi dengan sengaja ia melambatkan tempo. Surti protes sambil manyun, lalu mengeplak pelan tangannya, membuat keduanya kembali tertawa lepas.

Namun semua itu masih polos. Persahabatan mereka tak lebih dari tawa anak-anak yang berlari di pematang sawah, atau bermain petak umpet di halaman surau selepas mengaji. Dirman hanya tahu satu hal: ia senang berada di dekat Surti—meski saat itu ia belum mengerti, apa nama rasa itu.

Dan tanpa mereka sadari, persahabatan polos masa kecil itu perlahan berubah wujud, menyimpan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bergetar setiap kali mereka saling bertatapan.

 

Cinta Bersemi

Hari-hari terus berjalan, tahun demi tahun berganti. Surau kecil tetap berdiri di tepi jalan tanah, meski gentingnya makin tua dan papan dindingnya mulai lapuk dimakan waktu. Anak-anak yang dulu riuh setiap sore, satu per satu tumbuh menjadi remaja. Termasuk Dirman dan Surti. Mereka tak lagi duduk di tikar pandan dengan kaki telanjang, melainkan mulai belajar menjaga sikap, meski kebersamaan masih sering terjadi.

Surti tumbuh menjadi gadis desa yang ayu. Rambut hitamnya yang panjang ditutupi kerudung sederhana, wajahnya semakin teduh dengan senyum yang jarang lekang dari bibir. Suara merdunya tetap menjadi kebanggaan desa. Setiap kali ada pengajian besar, orang-orang sudah tahu siapa yang akan membacakan ayat-ayat suci: Surti. Suaranya selalu membuat jamaah terdiam, hanyut dalam lantunan kalam Ilahi.

Sementara itu, Dirman beranjak menjadi pemuda yang rajin. Ia membantu ayahnya di sawah, memikul cangkul, menuntun kerbau, atau membawa hasil panen ke pasar. Meski tubuhnya mulai kekar karena kerja keras, tatapan matanya tetap teduh setiap kali melihat Surti.

Persahabatan lama mereka perlahan berubah warna. Dirman mulai sering mencari alasan untuk bisa dekat. Jika Surti hendak pergi mengaji di desa sebelah, Dirman dengan ringan menawarkan, “Biar aku yang mengantar.” Saat malam semakin larut setelah pengajian, ia selalu memastikan Surti pulang dengan aman, menuntun langkah di jalan tanah yang gelap hanya diterangi lampu sentir dan cahaya bintang.

Hati mereka makin erat, meski tak ada satu kata pun yang terucap. Tidak ada janji, tidak ada pengakuan—hanya tatapan yang lebih lama dari biasanya, senyum yang ditahan lebih dalam, dan getaran halus yang tak pernah mereka ceritakan pada siapa pun.

Di pematang sawah, kadang mereka duduk berdua setelah selesai membantu panen. Surti mengelap keringat dengan ujung kerudungnya, sementara Dirman pura-pura menatap langit, padahal hatinya sibuk merasakan debar yang tak pernah ia alami sebelumnya. Surti pun demikian, diam-diam menanti sesuatu yang tak berani ia ungkapkan.

Mereka tahu, ada yang berubah. Persahabatan yang dulu sederhana kini diam-diam telah tumbuh menjadi cinta pertama—cinta yang suci, tulus, namun masih terbungkus malu-malu.

Pada suatu sore menjelang senja, matahari condong ke barat, sinarnya keemasan menyapu hamparan sawah. Genangan air di petak-petak sawah memantulkan warna langit, sementara aroma jerami basah dan tanah lembap berpadu. Suara kodok sawah mulai terdengar, kunang-kunang berpendar di sela batang padi, seolah menjadi lentera mungil yang ikut menyaksikan kebersamaan mereka.

Dirman dan Surti duduk berdua di pematang sawah, hanya berjarak sejengkal. Angin sore membelai rambut Surti yang sebagian terurai dari kerudungnya. Sesekali Surti merapikannya, membuat Dirman makin salah tingkah. Hatinya berdebar, namun ia memberanikan diri membuka percakapan dengan parikan.

 

Dirman:
“Ana bluluk cilik tiba mung gari siji,
dijukut nggo digawe panggalan.
kelingan cilik bareng mangkat ngaji,
kowen ngaji, nggawe nyong klangenan.”

(Ada kelapa muda kecil jatuh, tersisa satu,
diambil untuk dibuat gangsing.
Teringat masa kecil, berangkat mengaji bersama,
bacaan ngajimu, membuatku terpesona.)

 

Surti tertawa kecil, tangannya menutup mulut menahan malu. Tawa itu lirih, tapi bagi Dirman terasa lebih indah dari kicau burung. Surti pun membalas, suaranya lembut namun jelas, seperti alunan tembang salawat lirih di malam mauludan.

Surti:
“Ana sauto ning pasar senggol,
tambahe kupat glabed nggo batir.
Nyong ya kelingen kowen nongol,
ngenteni ning lawang umah pinggir.”

(Ada soto tauco di pasar senggol,
tambahannya kupat glabed buat pendamping.
Aku juga teringat kamu datang,
menungguku di pintu samping rumah.)

 

Angin bertiup makin pelan, membawa aroma wangi padi yang hampir menguning. Dirman menunduk sebentar, lalu kembali menatap Surti dengan sorot mata yang berani.

Dirman:
“Ana pari ning Dukuhturi wis mateng,
diderep wong nganti karo damene.
Nyong kowen wis suwé padha bareng,
apa kiye sing diarani padha senenge.”

(Ada padi di Dukuhturi sudah matang,
orang menuainya sampai batangnya.
Aku dan kamu sudah lama bersama,
apakah ini yang disebut saling mencintai.)

 

Surti menghela napas, wajahnya memerah diterpa senja. Ia menunduk, ujung jariknya diremas-remas oleh jemarinya, lalu dengan lirih ia menjawab:

Surti:
“Ana alas jati ning dalan Margasari,
digawe lawang nggo panggonan.
Nyong ya krasa kaya kuwe ning ati,
Gusti nyawijini enyong kowen loroan”

(Ada hutan jati di jalan Margasari,
kayu jatinya dipakai untuk pintu rumah.
Aku juga merasakan yang sama di hati,
Allah telah mempersatukan kita berdua.)

 

Kunang-kunang semakin banyak, seakan menari di antara bulir padi. Suasana magis itu membuat Dirman semakin larut dalam perasaan.

Dirman:
“Ana manuk mabur ning pai,
menclok nggoné wit widara tuwa.
langka liya wadon kejaba kowen siji,
seneng kiye murni ora nggawe kuciwa.”

(Ada burung terbang ke PAI,
hinggap di pohon bidara yang tua.
Tak ada perempuan lain selain kamu,
cinta ini tulus, tak akan membuat kecewa.)

 

Surti menatap bintang pertama yang muncul di langit biru tua, lalu dengan suara yang sedikit bergetar ia membalas:

Surti:
“Ana lintang sida katon wayah sore,
padhangé mbatiri wong sing ngileng.
Angger kowen temenan seneng nyonge,
nyong gelem karo kowen urip bareng.”

(Ada bintang mulai tampak di waktu sore,
cahayanya menuntun orang yang melihat.
Kalau benar kamu sungguh mencintaiku,
aku rela hidup bersama denganmu.)

 

Dirman terdiam, dadanya sesak oleh bahagia. Ia menahan senyum, lalu melanjutkan dengan lirih, seolah kata-katanya hanya untuk Surti seorang:

Dirman:
“Ana tahu plethok ning Pagerbarang,
wernané kuning putih langka abang.
Senenge kowen kaya wulan padhang,
Angger kowen langka, atiku dadi mriyang.”

(Ada tahu plethok di Pagerbarang,
rupanya kuning-putih, tak ada yang merah.
Cintamu bagaikan bulan terang,
jika kamu tiada, hatiku jadi sakit sekali.)

 

Air mata Surti hampir jatuh, namun ia menahan, lalu menjawab dengan suara yang penuh perasaan:

Surti:
“Ana rujak teplak dibrengkos, keri,
pedhese nggawe mriyang dadi mari.
senenge kowen nggawe tentreme ati,
Nyong kelingan kowen awan bengi.”

(Ada rujak teplak dibungkus, ketinggalan,
pedasnya bisa menyembuhkan demam.
Cintamu membuat hatiku tenteram,
Aku teringat kamu siang dan malam.)

 

Dirman menunduk, lalu menatap Surti lagi. Suaranya kali ini bergetar, namun penuh tekad:

Dirman:
“Ana gendhul didokon ning pawon,
pawon nggo nggodhok wedange.
Senengku kiye ora mung kaya andon,
Nanging kanggo kowen selawase.”

(Ada botol diletakkan di dapur,
dapur untuk memasak air minumnya.
Cintaku ini bukan sekadar singgah sebentar,
tapi untukmu  selamanya.)

 

Surti menutup matanya sebentar, menahan haru, lalu dengan lirih menutup rangkaian parikan itu:

Surti:
“Ana banyu ning tempolong susu,
tempolong kosong ora nana rega.
Atiku wis nyawiji karo atimu,
moga Gusti ngijabahi nganti swarga.”

(Ada air tertampung di kaleng susu,
kaleng kosong, tak lagi berharga.
Hatiku sudah menyatu dengan hatimu,
semoga Allah merestui sampai ke surga.)

 

Senja itu, di pematang sawah sederhana, cinta mereka menemukan bahasanya sendiri. Tak ada cincin, tak ada janji tertulis, hanya parikan yang lahir dari hati, seolah doa yang dikirimkan ke langit.

Malam perlahan turun. Langit berangsur gelap, satu per satu bintang mulai terlihat. Tepat ketika Surti menutup rangkaian parikan dengan lirih, suara bedug tanda masuk waktu maghrib  terdengar dari surau desa, menggema hingga ke sawah.

Keduanya saling pandang sejenak—mata Surti masih basah, mata Dirman berbinar-binar. Hati mereka hangat, meski kata-kata belum bisa menjawab segala rasa.

Dirman menghela napas dalam-dalam, lalu berdiri sambil berkata pelan, “Ayo, Surti, sudah maghrib... kita  pulang dan berangkat bareng ke surau.”

Surti mengangguk, bangkit sambil merapikan jariknya. Mereka berjalan berdampingan menyusuri pematang, menuju jalan desa. Di belakang mereka, sawah yang gelap perlahan diselimuti malam, namun hati keduanya terang benderang oleh rasa cinta yang baru saja menemukan bahasanya

 

Lamaran Gagal

Hari-hari berlalu. Kedekatan mereka semakin jelas terlihat, dan akhirnya Dirman memberanikan diri bicara kepada orang tuanya.

Suatu malam, seusai makan, Dirman berkata dengan suara bergetar:

Dirman:
“Pak, Bu… saya ingin melamar Surti. Saya sudah mantap. Mohon restu Bapak dan  Ibu.”

Ayahnya meletakkan sendok, menatap anak sulungnya lama sekali. Ibunya tersenyum tipis.

Ibu Dirman:
“Kalau itu sudah niatmu, kami tidak keberatan, Man. Surti anak baik, pandai mengaji, semua orang di desa senang padanya.”

Wajah Dirman langsung berseri. Ia merasa mimpinya akan segera menjadi nyata. Namun, sebelum lamaran dilaksanakan, keluarga Surti mengusulkan untuk melakukan perhitungan weton.

Awalnya Dirman hanya menganggap itu formalitas. Tapi ketika tetua desa selesai menghitung, suasana mendadak berubah. Suaranya terdengar berat saat berkata:

Tetua desa:
“Ada masalah besar. Ibu Dirman dan ibu Surti lahir pada hari yang sama. Menurut kepercayaan, jika mereka menikah, salah satu ibu mereka akan segera meninggal.”

Ucapan itu membuat ruangan hening. Kedua keluarga saling berpandangan, wajah mereka pucat diliputi rasa takut.

Ayah Surti:
“Kalau begini… sebaiknya jangan diteruskan. Kami tidak sanggup kehilangan salah satu ibu kalian.”

Ayah Dirman:
“Saya juga takut, Man. Bukan kami tak merestui, tapi bagaimana kalau benar terjadi?”

Harapan yang semula membumbung tinggi seketika runtuh. Dirman hanya bisa menunduk, rahangnya mengeras menahan perih. Surti di kamarnya menangis, memeluk mushaf  yang biasa ia bawa sejak kecil.

Cinta yang begitu murni, kini terhalang oleh kepercayaan yang tak berani mereka lawan.

Hari-hari setelah itu terasa berat. Dirman dan Surti berjalan di desa dengan kepala tertunduk. Senyum mereka yang dulu selalu hadir kini menghilang. Orang-orang berbisik, sebagian merasa iba, sebagian lagi menganggap ini memang sudah “takdir” yang dihitung lewat weton.

Dirman merasa dadanya sesak setiap kali mengingat kata-kata tetua desa. Baginya, cinta yang tumbuh sejak kecil, yang dirawat dengan doa dan kasih sayang, tak seharusnya kandas hanya karena ramalan manusia. Surti pun sama, setiap malam ia menangis di balik pintu kamarnya, memohon petunjuk dalam sujud panjangnya.

Suatu malam dengan diterangi cahaya dari lampu petromaks, setelah pengajian anak-anak di surau selesai, ustaz yang dulu membimbing mereka sejak kecil memanggil Dirman dan Surti. Wajah ustaz itu teduh, suaranya lembut.

Ustaz:
“Anak-anakku, aku tahu apa yang kalian alami. Ingatlah… jodoh, hidup, dan mati itu hanya di tangan Allah. Tidak ada manusia yang bisa menentukan selain Dia.”

Surti menunduk, air matanya menetes membasahi mushaf  di pangkuannya. Dirman mengepalkan tangan, hatinya ingin sekali menguat.

Dirman:
“Tapi, Ustaz… keluarga kami takut. Mereka bilang, kalau kami menikah, salah satu ibu kami akan meninggal. Mereka tidak berani melawan keyakinan itu.”

Ustaz menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Dirman dengan penuh kasih.

Ustaz:
“Itu hanyalah keyakinan turun-temurun. Sayangnya, ketakutan manusia sering lebih besar daripada keyakinan pada Allah. Kalian tidak salah mencintai. Tapi kalian juga anak, dan orang tua merasa sedang menjaga kalian dengan caranya sendiri.”

Ucapan itu bagai pedang bermata dua. Menenangkan, tapi juga menusuk hati. Dirman dan Surti sadar, meski ustaz membenarkan bahwa ramalan itu tidak mutlak, mereka tetap terikat pada restu orang tua.

Malam itu, di rumah masing-masing, keduanya kembali berhadapan dengan keluarga.

  • Ayah Surti berkata dengan tegas, “Nak, bukan kami tidak menyayangimu. Tapi bagaimana jika ramalan itu benar? Kami tidak sanggup kehilangan ibumu.”
  • Ibu Dirman menangis sambil memeluk anaknya, “Man, tolong jangan paksa kami. Kami takut dikatakan durhaka pada leluhur.”

Dirman hanya terdiam, merasa tubuhnya semakin berat menanggung beban. Surti di kamarnya berdoa, berharap Allah memberi jalan.

Namun semakin hari, mereka sadar, keluarga tidak akan pernah memberi restu. Cinta mereka kini seperti burung yang sayapnya dipotong: ingin terbang tinggi, tapi selalu jatuh kembali.

Suatu Malam,  Surti duduk sendirian di halaman rumahnya. Ia sedang membuka mushafnya dan mengaji lirih. Bulan purnama menggantung pucat di langit, angin malam mengibaskan ujung kerudungnya. Ia menggenggam mushafnya erat-erat, namun ayat-ayat yang biasanya menenangkan hati kini justru membuat dadanya semakin sesak.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah jalan. Dirman datang dengan wajah letih, matanya memerah seolah baru saja menahan tangis. Ia berdiri di depan pagar bambu, ragu-ragu untuk masuk.

Dirman:
“Surti…”

Suara itu lirih, nyaris pecah. Surti menoleh, dan air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Ia bangkit, melangkah mendekat.

Surti:
“Kenapa harus begini, Dirman? Kita sudah tumbuh bersama… kita saling menjaga… lalu sekarang semua berakhir hanya karena hitungan hari lahir?”

Dirman menunduk, mengepalkan tangannya.
“Kalau saja aku bisa melawan… kalau saja aku bisa meyakinkan orang tua… tapi mereka terlalu takut. Mereka percaya salah satu dari ibu kita akan meninggal kalau kita menikah. Surti, apa kau percaya itu?”

Surti menggeleng, air matanya jatuh semakin deras.
“Aku tidak tahu, Man. Yang aku tahu, hidup dan mati itu urusan Allah. Bukan hitungan manusia. Tapi bagaimana kita bisa melawan restu orang tua?”

Sejenak mereka terdiam. Hanya suara jangkrik menemani kesedihan yang menggantung di antara mereka.

Dirman:
“Surti… meskipun dunia menolak kita, hatiku tidak pernah akan berubah. Aku hanya ingin kau tahu itu.”

Surti menggigit bibirnya, lalu berbisik dengan suara bergetar:
“Aku pun begitu, Man. Sampai kapan pun, aku tidak bisa mengganti hatiku untuk orang lain.”

Dirman ingin meraih tangan Surti, tapi ia menahan diri. Ia hanya menatap lama wajah gadis itu, berusaha mengukir setiap detailnya di dalam ingatan.

Dirman:
“Kalau memang ini takdir kita, biarlah aku simpan cinta ini sampai akhir hidupku.

Malam semakin larut, angin makin dingin. Dirman menatap langit, lalu menunduk dalam, seakan mencari kata-kata yang tak pernah cukup untuk menampung luka di dadanya. Dengan suara parau, ia melantunkan parikan:

Dirman:
“Ana kembang turi digawe kuluban,
Wit randu jejer ning Randusari.
Senenge wong loro ketemu alangan,
Ora klakon merga adat sing nglarani.”

(ada bunga turi dibuat sayur kuluban,
pohon randu tumbuh berjajar di Randusari.
Cinta kita berdua bertemu halangan
tak bisa terlaksana karena adat yang menyakiti.)

 

Kata-kata itu seperti angin malam yang menusuk dada. Surti menunduk, air matanya jatuh membasahi mushaf di pangkuannya. Ia pun menjawab lirih, dengan parikan yang lahir dari luka hatinya:

Surti:
“Ana martabak ning Lebaksiu wetan,
Dituku wong liwat pan maring Guci.
Wis tak tampa nasib takdiré badan,
Senajan ati perih awan bengi.”

(ada martabak di Lebaksiu timur,
dibeli orang yang lewat hendak menuju Guci.
Telah kuterima nasib takdir pada badan ini,
meski hati perih terluka siang dan malam.)

 

Sejenak, keheningan kembali merayap. Mereka berdua hanya saling menatap, seakan ingin menyimpan wajah masing-masing dalam ingatan untuk terakhir kalinya. Tak ada lagi kata yang bisa mengubah keadaan—hanya parikan yang meninggalkan jejak pilu di udara, seakan semesta ikut meratap bersama mereka.

Dengan suara bergetar, Dirman kembali bersuara, menahan sesak di dadanya:

Dirman:
“Ana dagangan kupat Bongkok liwat,
Krupuke ketemu duduh dadi bubur.
Seneng kiye ora pernah pragat,
Tak gawa mati sampai ning kubur.”

(ada penjual ketupat Bongkok lewat,
kerupuknya bertemu kuah jadi bubur.
Cinta ini tidak akan pernah tamat,
akan kubawa sampai ke liang kubur.)

 

Air mata Surti semakin deras. Ia merasakan seluruh harapannya runtuh, tapi cinta di dadanya justru semakin menguat. Dengan suara yang hampir hilang, ia pun membalas:

Surti:
“Ana dlanggung wetan pereke kali,
Nggo liwat sing pan padha ngaji.
Senajan wong loro ora bisa nyawiji,
senenge kowen tak simpen nganti mati.”

(ada jalan di timur dekat tepian kali,
tempat lewat orang yang hendak mengaji.
Meski kita berdua tak bisa menyatu sejati,
Cintamu akan kusimpan sampai mati.)

 

Malam itu pun menjadi saksi bisu—dua hati yang saling mencintai, namun tak mampu bersatu karena ketakutan tradisi.

Malam itu, setelah parikan terakhir terucap, keheningan kembali merayap di antara mereka. Angin malam berhembus pelan, membawa suara dedaunan bambu yang berderak seakan ikut meratapi nasib dua anak manusia.

Dirman menatap Surti lama sekali. Mata itu, bening dan penuh air mata, seakan hendak ia ukir di dalam dadanya. Ia tahu, pertemuan ini harus berakhir.

Dirman (lirih):
“Surti… mungkin malam ini terakhir kali aku bisa menatapmu sedekat ini. Besok atau lusa, mungkin dunia sudah memisahkan kita. Tapi aku bersumpah, hatiku tidak akan berubah sampai mati.”

Surti terisak. Ia menggigit bibirnya, lalu menjawab dengan suara bergetar:

Surti:
“Man… jangan bicara begitu. Kata-katamu semakin membuatku takut. Tapi aku tahu… aku pun sama. Tak akan ada yang bisa menggantikanmu di hatiku, meski dunia memaksaku menikah dengan orang lain.”

Dirman menghela napas panjang. Ia melangkah mundur perlahan, seolah setiap tapak adalah belati yang menusuk dadanya sendiri.

Surti berusaha menahan, suaranya pecah di antara tangis:
“Dirman… jangan pergi dulu…!”

Dirman berhenti sejenak, menatap langit yang dihiasi bulan pucat. Lalu ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Kalau aku tidak pergi sekarang, Surti… aku tidak akan pernah sanggup meninggalkanmu.”

Akhirnya, dengan langkah berat, Dirman berbalik meninggalkan halaman rumah itu. Surti berdiri mematung di belakang pagar bambu, tubuhnya bergetar oleh tangis.

Surti terisak dalam sunyi, dadanya terasa sesak menahan kehilangan. Punggung Dirman makin jauh ditelan gelap malam, sementara bulan pucat bergelayut di atas langit, seolah ikut menanggung pilu. Dalam kesepian itu, suara hatinya berubah menjadi kidung lirih—parikan yang mengalir bersama air matanya:

Tangannya meremas pagar bambu, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, cinta ini tak akan pernah mendapat restu. Tapi hatinya tetap setia, meski harus menanggung luka. Maka keluarlah suara lirih itu:


Kembang melati mekar wangi,
Takdir Gusti ora bisa dilawan.
Senengku, tak simpen ning ati,
nganti anjog ambegan pungkasan.

(Bunga melati mekar dan harum,
takdir Tuhan tak mungkin dilawan.
Cintaku padamu kusimpan di hati,
hingga sampai pada napas terakhir.)


Bulan menggantung di atas langit desa, sinarnya jatuh ke aliran kali yang tenang. Surti menatapnya sambil berbisik, seakan rindu yang terhimpit di dadanya mencari jalan keluar lewat cahaya malam:


Wulan mlaku ndhuwur kali,
lintang sing dadi saksi suci.
Angger ora bisa klakon saiki,
moga ning akhirat bisa dadi siji.

(Bulan berjalan di atas sungai,
bintang yang menjadi saksi suci.
Jika sekarang tidak bisa tercapai,
semoga di akhirat bisa bersatu.)


Ketika ia teringat suara adzan di suraunya menggema, Surti menundukkan wajahnya. Air matanya jatuh ke tanah, bercampur dengan doa yang ia titipkan pada langit:


Swara adzan nyusup ning bengi,
atiku luluh ning pangapura Gusti.
Senengku karo Dirman tetep suci,
Tak pasrahaken mung maring Gusti.

(Suara adzan meresap di malam hari,
hatiku luluh dalam ampunan Allah.
Cintaku pada Dirman tetaplah suci,
kuserahkan  hanya pada Allah.)


Malam itu seakan menelan suara tangis Surti bersama desir angin dan cahaya bulan pucat. Ia berdiri lama di balik pagar bambu, tubuhnya gemetar, bibirnya masih basah oleh doa yang tak sempat terucap lantang. Sejak saat itu, hidupnya bagai dihantui dua hal yang saling bertentangan: luka karena kehilangan, dan kekuatan karena kesetiaan.

Cintanya pada Dirman tak lagi sekadar milik dunia—ia menjelma menjadi doa yang terus ia titipkan kepada Allah, menjadi cahaya kecil yang menuntun langkahnya dalam kesunyian. Malam itu bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang, di mana Surti harus belajar mencintai dalam diam, menyimpan rindu dalam doa, dan menyerahkan seluruh hatinya pada takdir yang tak bisa ia lawan.

 

Tragedi Dimulai

Waktu terus berjalan tanpa peduli luka yang menganga. Kabar yang selama ini hanya berupa bisikan akhirnya menjadi kenyataan: Surti dijodohkan dengan seorang pemuda pilihan keluarga. Pemuda itu baik, lulusan pesantren, dan dianggap mampu menjaga nama baik keluarga. Tetapi bagi Surti, semua kebaikan itu tak mampu menghapus wajah Dirman dari hatinya.

Malam-malamnya dilalui dalam tangis panjang. Ia menatap langit, memohon pertolongan, berharap ada keajaiban. Namun di rumah Dirman, suasana jauh lebih kelam.

Dirman, yang selalu gagah bekerja di sawah dan ceria saat bersama Surti, kini terbaring lemah. Ia menolak makan, hanya meneguk sedikit air putih bila dipaksa. Tubuhnya kian kurus, wajahnya pucat. Setiap kali keluarganya membujuk, jawabnya hanya lirih:

Dirman:
“Aku tidak sakit di badan, Bu… yang sakit di sini.” (ia menepuk dadanya pelan).

Hari-hari itu, Dirman lebih banyak berzikir. Bibirnya kering, tetapi selalu menyebut nama Allah, seakan hanya dengan itu ia bisa menenangkan luka yang tak tertolong lagi oleh dunia. Kadang, ia masih menyebut nama Surti dalam doanya—bukan meminta memilikinya, melainkan agar Surti diberi kebahagiaan, meski bukan bersama dirinya.

Kabar tentang sakitnya Dirman sampai juga ke telinga Surti. Hatinya remuk. Ia ingin menjenguk, tapi keluarga melarang keras. Mereka takut itu akan memicu gosip, apalagi hari pernikahannya sudah dekat. Surti hanya bisa menangis di balik dinding kamarnya, sambil meremas kerudungnya hingga basah oleh air mata.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan Surti, kondisi Dirman semakin memburuk. Nafasnya pendek, tubuhnya seolah kehilangan tenaga untuk sekadar bergerak. Malam itu, di antara zikir yang terputus-putus, ia berbisik:

Dirman:
“Ya Allah… jika memang cinta ini bukan untuk dunia… izinkan aku tetap mencintainya di akhirat-Mu.”

Dan menjelang fajar, diiringi tangisan keluarganya, Dirman menghembuskan napas terakhirnya. Wajahnya tenang, seakan tidur panjang setelah melewati perjalanan batin yang berat.

Kabar kematian itu menyebar cepat ke seluruh desa. Bagi banyak orang, ini dianggap “bukti” bahwa ramalan weton tidak bisa dilawan. Tetapi bagi Surti, itu adalah hantaman yang paling memilukan dalam hidupnya.

 

Tragedi Ganda

Kabar kematian Dirman datang seperti petir menyambar dada Surti. Tubuhnya seketika lemas, bibirnya bergetar, dan yang keluar hanyalah tangis panjang yang tak terbendung.

Malam itu ia jatuh sakit. Demam tinggi membakar tubuhnya, matanya sembab, dan setiap kali ibunya mencoba menghibur, Surti hanya menggeleng pelan. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar, namun kata-kata itu menjelma menjadi tembang ratapan—parikan yang mengalir dari luka hatinya:


Kembang kantil gugur sak wiji,
melati layu ning pinggir dalan.
Dirman lunga maring alam abadi,
atiku esih kelangan kelingan.

(Bunga kantil gugur sehelai,
melati layu di tepi jalan.
Dirman telah pergi ke alam abadi,
hatiku masih kehilangan dan teringat.)


Surti menutupi wajah dengan kerudung, tubuhnya bergetar hebat. Setiap kata seperti duri yang menusuk dadanya. Dunia baginya runtuh bersama kepergian Dirman.


Wulan suminar nanging peteng ati,
lintang padhang ora nyawiji.
Nyawa nyong kaya wis pecah dadi,
merga separo wis lunga maring Gusti.

(Bulan bersinar namun hatiku gelap,
bintang terang tapi tak menyatu.
Jiwaku seakan sudah pecah,
karena separuhnya telah pergi pada Allah.)


Sejak itu tatapannya kosong, seolah menembus langit-langit kamar, berharap arwah Dirman datang sekadar menemaninya. Nafsu makan hilang, tubuhnya kian lemah. Ia masih bernapas, tapi jiwanya seakan sudah separuh mati.


Swara angin ngliwati kuburan,
godhong garing gemulung sepi.
Dirman wis balik maring Pangeran,
Gusti, mbeina ampun karo dame abadi.

(Suara angin melewati makam,
daun kering bergulung dalam sunyi.
Dirman telah kembali kepada Allah,
Ya Allah, berilah ampunan dan kedamaian abadi.)


Air matanya jatuh, kali ini bukan sekadar tangis kehilangan, melainkan doa yang pasrah. Cinta yang dulu membara kini berubah menjadi keheningan dalam. Ia tahu, Dirman telah kembali kepada Tuhannya. Sejak malam itu, Surti hanya bisa mencintai lewat doa, menyerahkan seluruh rindunya kepada langit.

“Untuk apa aku hidup… kalau separuh jiwaku sudah pergi lebih dulu?” bisiknya dengan suara rapuh.

Rencana pernikahan yang telah disusun keluarga pun ditunda tanpa kepastian. Namun sakit Surti bukan sekadar sakit raga—jiwanya terbelenggu luka yang tak kunjung terobati. Hari-hari berikutnya ia semakin lemah: wajahnya pucat, tubuhnya ringkih, dan ia lebih banyak terbaring menatap kosong.

Yang sesekali terdengar dari bibirnya hanyalah doa. Doa sederhana, namun penuh kerinduan:

“Ya Allah… jika Engkau sudah mengambil Dirman, jangan biarkan aku terlalu lama tertinggal. Bila menurut-Mu ini yang terbaik, izinkan aku menyusulnya…”

Dan doa itu seakan terkabul. Belum genap empat puluh hari setelah kepergian Dirman, Surti menyusulnya. Ia menghembuskan napas terakhir di pangkuan ibunya, dengan wajah teduh seolah tidur, tanpa rasa sakit lagi.

Tangis keluarga pecah, menyatu dengan isak seluruh desa. Orang-orang merasa kehilangan, tetapi lebih dari itu, mereka diliputi keheningan penuh tanda tanya: apakah ini takdir yang sudah digariskan, ataukah buah pahit dari keyakinan tradisi yang mengekang?

Surti dimakamkan di samping pusara Dirman. Dua gundukan tanah itu berdampingan, seolah Allah tetap mempertemukan mereka, meski dunia sempat memisahkan.

Sejak hari itu, kisah cinta Dirman dan Surti menjadi legenda. Sebuah cerita tentang cinta yang bertahan melampaui hidup, sekaligus luka yang tak pernah benar-benar sirna dari ingatan orang-orang desa.

 

Penyesalan

Hari itu, dua keluarga duduk berhadapan di beranda rumah kayu, dengan wajah tertunduk dan mata sembab. Tak ada lagi kebanggaan, tak ada lagi gengsi—yang tersisa hanyalah sesal yang menyesakkan dada.

Mereka sadar, anak-anak mereka bukan meninggal karena takdir weton, melainkan karena mereka sendiri yang terlalu takut pada ramalan. Cinta yang semestinya suci terenggut oleh keyakinan yang mereka junjung tanpa pernah mempertanyakannya.

Atas desakan masyarakat desa—yang ikut terhenyak dan merasa berhutang pada kisah ini—kedua keluarga sepakat menguburkan Surti di samping pusara Dirman. Maka berdirilah dua gundukan tanah di bawah pohon kamboja, berdampingan, seolah menyatakan bahwa cinta tak bisa diusir oleh ketakutan.

Saat pemakaman selesai, Ustaz desa, guru ngaji yang dulu membimbing mereka sejak kecil, berdiri dengan tongkat kayu di tangan. Suaranya lirih tapi tegas, menembus keheningan:

Ustaz:
“Hidup dan mati hanyalah di tangan Allah. Tidak ada ramalan yang berhak menentukan ajal manusia. Tradisi yang menakut-nakuti kita hingga merenggut kebahagiaan, hanya meninggalkan duka. Biarlah kisah Dirman dan Surti ini menjadi pelajaran bagi kita semua: jangan biarkan keyakinan yang salah mengorbankan cinta dan kehidupan.”

Orang-orang terdiam, menunduk dalam-dalam. Angin sore berhembus melewati dedaunan, seakan turut menyampaikan duka.


Suket garing ning pinggir kuburan,
sumelang nyawiji dadi sepi.
Seneng suci wis kadhung dadi korban,
merga ramalan sing ora mesthi.

(Rumput kering di tepi pemakaman,
kesedihan menyatu dengan sepi.
Cinta suci terlanjur jadi korban,
karena ramalan yang tak pasti.


Srengenge mingslep ning langit abang,
swara manuk balik nyusul bengi.
Dirman karo Surti wis padha tenang,
ning pangkuan  welas asih Gusti.

(Matahari tenggelam di langit merah,
suara burung pulang menyusul malam.
Dirman dan Surti kini sudah tenang,
dalam pangkuan sayang dan kasih Allah.)


Ati wong desa kudu eling sekabeyan
aja nganti kepikat bayange ramalan.
Urip mati mung titah Pangeran,
kudu ditampa kanthi iman karo kerelaan.

(Hati semua orang desa harus mengingat,
jangan lagi terjerat bayangan ramalan.
Hidup dan mati hanyalah ketentuan Allah
mesti diterima dengan iman dan kerelaan.)


Sejak hari itu, kisah Dirman dan Surti hidup sebagai penanda—bahwa cinta mereka memang tak berakhir di pelaminan, tapi bersemayam abadi di hati orang-orang desa, menjadi cermin pahit dari keyakinan yang harus ditinjau ulang.

 

Epilog

Malam turun perlahan di desa kecil itu. Di bawah cahaya bulan yang redup, dua pusara berdampingan tampak tenang, ditaburi bunga kamboja yang gugur sendiri. Orang-orang desa yang melintas sering berhenti sejenak, menunduk, dan berdoa lirih.

Kisah Dirman dan Surti pun tak pernah hilang. Ia diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bukan sekadar kisah cinta yang kandas, melainkan pelajaran bahwa ketakutan pada ramalan bisa lebih mematikan daripada takdir itu sendiri.

Di hati orang-orang desa, Dirman dan Surti bukan hanya sepasang anak muda yang gagal bersatu. Mereka adalah pengingat abadi—bahwa cinta sejati mestinya bernaung di bawah ridha Allah, bukan digilas oleh keyakinan yang menyesatkan.

Dan di bawah langit malam yang penuh bintang, seolah semesta ikut mengamini doa:
semoga jiwa Dirman dan Surti beristirahat damai, bersama cinta yang akhirnya menemukan keabadiannya.

TAMAT

Depok, 20 September 2025

 

Cerpen ini menjadi bagian dari buku Kumpulan Cerpen Anafis '93, delapan kisah yang berpadu dalam satu napas: kisah, waktu, dan keheningan.


✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)