Cerpen - Perjalanan yang Menjadi Puisi
Tanggal 29 Agustus 1995, Jakarta belum sepenuhnya terjaga. Jalan-jalan dipenuhi wajah-wajah letih, klakson saling bersahutan tanpa irama, dan asap knalpot menggantung rendah, seperti pikiran yang enggan menjadi jernih. Aku berdiri di terminal Blok M dengan ransel lusuh di punggung, sisa debu perjalanan dari Tangerang masih melekat di sepatu—dan di ingatan.
Libur kuliah telah selesai. Semester enam menungguku dengan tumpukan diktat, praktikum, dan kegelisahan yang tak pernah tertulis di KRS. Aku kembali ke Depok bukan hanya membawa buku-buku kuliah, tetapi juga sesuatu yang tak pernah berani kusebutkan pada siapa pun: perasaan yang terlalu dewasa untuk disebut cinta, tapi terlalu dalam untuk disebut sayang seorang kakak.
Metro Mini 75 jurusan Pasar Minggu datang dengan bunyi mesin yang terbatuk-batuk. Aku naik, duduk di bangku dekat jendela. Angin panas menyapu wajah ketika pintu ditutup paksa oleh kernet yang berteriak lebih keras dari klakson. Jakarta bergerak pelan, seperti orang tua yang dipaksa berlari.
Di situlah, entah kenapa, wajahnya datang tanpa diundang.
Dia.
Gadis kelas dua SMK di Tegal.
Yang selama beberapa tahun terakhir kupanggil adik, dan yang di hadapannya aku belajar menipu diri sendiri.
Hubungan kami sederhana di permukaan. Kakak-adik. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang melanggar. Aku mengajarinya mengerjakan tugas sekolah, menasihatinya seperti kakak yang sok bijak, menahan diri dari tatapan terlalu lama. Tapi perasaan tidak pernah patuh pada struktur sosial. Ia tumbuh diam-diam, mengakar di tempat yang tak pernah kuminta.
Metro mini berjalan tersendat. Setiap lampu merah memberi waktu lebih panjang bagi pikiranku untuk berkhianat. Aku mengingat caranya tertawa—tertahan, seperti takut berisik. Mengingat rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai, seolah hidupnya harus selalu tampak baik-baik saja. Dan aku, kakak yang seharusnya melindungi, justru menyimpan cinta yang belum punya tempat.
Aku marah.
Bukan padanya.
Pada diriku sendiri.
Di situlah kata dendam pertama kali muncul di kepalaku. Bukan dendam yang ingin melukai, tapi dendam yang aneh: dendam kepada keadaan, kepada waktu, kepada garis yang membuatku harus berdiri satu langkah di belakang perasaanku sendiri.
Kata-kata mulai berdesakan. Aku tidak menulisnya. Aku merangkainya dalam kepala, seperti orang gila yang takut kehilangan suaranya sendiri.
Kepadamu…
Bus berbelok tajam. Seorang ibu hampir jatuh. Aku berpegangan, tapi pikiranku tetap melayang.
Lumat, lumat semua yang kuhempaskan…
Apa yang kuhancurkan? Harapan? Keberanian? Atau egoku sendiri yang tak tahu diri?
Pasar Minggu menyambut dengan riuh. Aku turun, berganti kendaraan. Miniarta ke Depok menunggu dengan wajah yang sama lelahnya. Aku duduk kembali, kali ini lebih ke dalam, seperti orang yang ingin bersembunyi dari dirinya sendiri.
Puisi itu belum selesai. Tapi perasaan sudah terlanjur penuh.
Miniarta melaju lebih cepat. Jalanan agak lengang. Angin sore menyelinap dari jendela terbuka, membawa bau tanah, keringat, dan sesuatu yang samar—barangkali aroma masa muda yang tak sempat dipeluk.
Dendam…!!!!
Dendamku telah sampai ujung rambut…
Aku tersenyum pahit. Betapa berlebihan kata itu, pikirku. Tapi justru di situlah kejujurannya. Perasaan yang tak boleh ada memang selalu terasa ekstrem.
Aku ingin membahagiakannya.
Itu satu-satunya niat yang jujur.
Namun untuk membahagiakan, aku harus menghilang dari kemungkinan menjadi kekasih. Aku harus tetap menjadi kakak. Dan bagi hati yang mencinta, itu adalah bentuk dendam paling sunyi.
Aku ingin menjadi awan dalam kaca beningmu
Dan salju dalam bola matamu
Aku membayangkan diriku hadir tanpa terlihat. Ada, tapi tak mengganggu. Menjaga tanpa memiliki. Cinta yang memilih menguap agar orang yang dicintai tetap hangat.
Depok semakin dekat. Terminal, stasiun, jalan kecil menuju kos yang sudah kuhafal di luar kepala. Puisi itu seperti menemukan jalannya sendiri.
Sehingga tak kulihat lagi keangkuhanmu
Mimpiku menganggunkanmu
Tapi dendamku hanya satu
Apa dendam itu?
Dua tangan ini meraih fatamorgana
… Batu dalam lereng hatimu
Aku sadar: mencintainya adalah mengejar sesuatu yang belum boleh kugenggam. Fatamorgana yang indah tapi belum bisa dimiliki.
Aku turun. Jalan kaki ke kos dengan langkah lambat. Senja mengendap di sela pohon. Sampai di kamar sempit itu, aku duduk, mengambil kertas, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku membiarkan kata-kata turun dari kepala ke tangan.
Sampai air matamu terbendung nafsu
Sepanjang Bahagia
Aku berhenti. Menarik napas. Menuliskan tanggal dan perjalanan seolah itu meterai kejujuran:
Perjalanan Blok M–Depok, 29 Agustus 1995
Kertas itu tergeletak lama di meja. Aku tahu, puisi itu tidak akan pernah kuberikan padanya. Ia bukan surat. Ia adalah makam kecil bagi perasaan yang harus kukubur dulu agar aku tetap pantas dipanggil kakak.
Malam datang pelan. Kukusan kembali sunyi. Dan aku, di kamar kos sempit itu, belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah:
bahwa mencintai kadang bukan soal memiliki,
melainkan tentang berani menahan diri—
demi kebahagiaan orang yang kita cintai.
TAMAT
Depok, 24 Januari 2026
