Cerpen Psikologis - Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan



Namaku Jefri.

Dan sejak awal, aku tahu apa yang sedang kubangun bukan amanah—melainkan mesin kepercayaan.

Aku tidak pernah tertarik pada syariah sebagai prinsip. Aku tertarik pada daya jualnya. Kata itu lembut, menenangkan, dan membuat orang menurunkan tingkat kewaspadaan. Di negeri yang penuh luka ekonomi, orang ingin percaya bahwa uang bisa tumbuh tanpa beban dosa. Aku hanya menyediakan mimbar.

Nama Dana Amanah Nusantara bukan pilihan moral. Itu strategi.

Aku tahu betul siapa targetku: para pensiunan tua yang tak sepenuhnya mengerti laporan keuangan, para perantau yang menggenggam mimpi masa depan, orang-orang yang ingin hijrah finansial.

Mereka butuh harapan yang terdengar halal.

Sejak hari pertama, aku sudah menghitung risiko. Proyek riil tak pernah cukup untuk menopang arus dana. Maka kami menggunakan data borrower yang ada—nyata, legal—lalu menciptakan proyek-proyek baru di atas kertas. Fiktif, tapi terlihat hidup. Foto bisa dicari. Deskripsi bisa ditulis. Angka bisa disesuaikan.

Aku tidak menyebutnya penipuan.
Aku menyebutnya rekayasa realitas.

Website dan aplikasi kami dipenuhi informasi yang sengaja dipilih. Bukan yang benar—melainkan yang meyakinkan. Orang tidak membaca detail, apalagi mengecek kebenarannya. Mereka membaca janji. Dan aku sangat pandai menjanjikan sesuatu tanpa pernah mengikat diri untuk menepatinya.

Untuk memancing kepercayaan publik, kami memakai lender dari dalam. Orang-orangku sendiri. Dana mereka berputar cepat, seolah untung. Grafik naik. Testimoni muncul. Yang di luar melihat, lalu masuk. Efek domino selalu bekerja lebih baik daripada iklan.

Aku menikmati proses itu.
Melihat angka naik seperti melihat bukti bahwa manusia mudah diarahkan.

Uang yang masuk tidak pernah benar-benar berputar di dalam sistem. Kami mengalirkannya ke rekening lain—legal secara administratif, kosong secara moral. Dari sana, uang bergerak ke perusahaan terafiliasi. Sebagian untuk menutup lubang lama. Sebagian lagi untuk kebutuhan yang tak pernah kucatat sebagai laporan.

Dana baru membayar yang lama.
Yang lama menjadi umpan bagi yang baru.

Skema itu rapuh, tapi indah. Selama kepercayaan hidup, semuanya terlihat berjalan.

Aku tahu suatu hari akan runtuh. Tapi aku juga tahu: sebelum runtuh, aku akan berdiri di puncaknya.

Aku sering menerima pesan. Keluhan. Cerita.

Tentang seorang pemuda desa yang kehilangan tabungan nikahnya.
Tentang seorang ibu yang menjual emas.
Tentang seorang lelaki sakit yang tak bisa menarik dananya untuk berobat.

Aku membaca semua itu dengan tenang. Tidak karena aku kejam—melainkan karena aku sudah memisahkan perasaan dari keputusan. Dalam pikiranku, mereka bukan individu. Mereka adalah angka. Dan angka tidak boleh diberi wajah jika ingin sistem bertahan.

Kalau satu kutolong, yang lain akan datang.
Kalau satu kuberi jalan keluar, yang lain akan menuntut.

Aku tidak membangun lembaga ini untuk menolong. Aku membangunnya untuk menguasai arus.

Ketika regulator mulai bertanya, aku tidak panik. Aku sudah menyiapkan laporan. Tidak benar, tidak sepenuhnya salah. Cukup kabur untuk dibantah, cukup rapi untuk ditandatangani.

Aku tampil di depan kamera, berbicara tentang kelesuhan ekonomi yang menjadi sebab, tentang kesabaran, tentang keprihatinan, tentang ujian, tentang proses. Aku tahu kata-kata religius selalu bekerja paling baik saat orang sedang putus asa.

Di balik layar, aku menunda. Mengulur. Mengalihkan. Karena waktu adalah sekutu terbesar buat orang yang berbohong dengan sistematis.

Aku tahu namaku akan jatuh. Semua bangunan seperti ini akhirnya jatuh. Tapi aku juga tahu satu hal yang tak banyak orang sadari:

yang runtuh bukan hanya lembaga,
melainkan kepercayaan orang pada kata syariah dan amanah

Dan itu kerugian yang jauh lebih besar daripada uang.

Apakah aku peduli?

Tidak.

Apakah aku menyesal?

Iya, tetapi bukan seperti yang mereka bayangkan.

Aku menyesal karena keserakahanku belum seluruhnya terpenuhi, selalu ingin satu putaran lagi. Satu dana lagi. Satu kebohongan lagi.

Jika kisah ini ditulis orang lain, aku akan digambarkan sebagai monster penghisap darah bahkan Dajjal. Biarlah. Monster tidak pernah lahir dari kegelapan—mereka lahir dari sistem yang memberi ruang bagi orang sepertiku untuk tumbuh tanpa ditanya niatnya.

Dan jika kau bertanya, apakah aku tahu sejak awal bahwa orang-orang yang menitipkan uangnya padaku  akan hancur?

Ya.

Aku tahu.

Dan aku tetap melangkah.

Karena sejak awal, ini bukan soal amanah—
ini soal berapa lama kebohongan bisa disulap menjadi keyakinan sebelum semuanya runtuh.

Dan aku memilih bermain di sana.

****

Hari ini berbagai surat kabar baik cetak maupun elektronik menuliskan namaku tanpa izin.

Hitam, tebal, rapi.
Seolah-olah hidupku selama bertahun-tahun bisa diringkas dalam satu kolom:
Jefri dan dua rekannya ditetapkan sebagai tersangka…

Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, bukan untuk memahami, melainkan untuk memastikan bahwa dunia akhirnya memanggilku dengan sebutan yang tepat.
Tersangka.

Tersangka terdengar final. Seperti pintu yang ditutup tanpa bunyi.

Di layar ponsel, wajahku terpampang dalam foto lama—jas gelap, senyum tipis, mata yang kala itu masih percaya bahwa sistem bisa dibelokkan tanpa pernah berbalik menyerang pembuatnya.
Lucu. Aku tampak seperti orang yang masih yakin bisa mengendalikan segalanya.

Padahal sejak tadi malam, aku bahkan tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.

Aku membayangkan, nanti di ruang tahanan, tidak ada grafik.
Tidak ada dashboard.
Tidak ada laporan keuangan yang bisa dimanipulasi.

Hanya dinding pucat dan bau keringat orang-orang yang kehilangan arah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memegang kendali atas waktu. Jam berjalan tanpa bisa kuulur. Pagi datang tanpa bisa kutunda. Dan malam turun tanpa bisa kusembunyikan di balik rapat daring atau siaran klarifikasi.

Aku mulai mendengar suara-suara yang dulu selalu kupadamkan.

Tangisan.

Bukan tangisan fisik—melainkan gema cerita yang dulu hanya kubaca sekilas sebelum menggeser layar. Kini mereka hadir tanpa perlu diundang.

Seorang anak demam, terbaring di rumah kontrakan.
Seorang ayah yang menjual sepeda motornya demi biaya berobat, lalu kehilangan tabungan terakhirnya.
Seorang ibu yang menyebut namaku dalam doa—bukan untuk keselamatan, melainkan sebagai pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.

Aku dulu mengira empati adalah kelemahan.
Kini aku sadar: empati adalah hutang yang selalu jatuh tempo, cepat atau lambat.

Dan saat ini, seluruhnya ditagih sekaligus.

Pengacaraku berbicara tentang pasal-pasal.
Tentang pembelaan.
Tentang celah hukum.

Aku mendengarnya seperti orang mendengar radio rusak—suara ada, makna menguap.

Karena yang tidak bisa dibela adalah satu hal:
aku tahu.

Aku tahu proyek itu fiktif.
Aku tahu laporan itu direkayasa.
Aku tahu uang itu aku alirkan ke perusahaan afiliasiku.

Dan aku tahu, setiap kali aku memilih menunda pencairan dana, ada seseorang di luar sana yang menunda hidupnya.

Itu bukan kesalahan sistem semata.
Itu keputusan.

Keputusanku.

Aku membayangkan malam-malam panjang di penjara.
Dan anehnya, justru di dalam penjara, aku akhirnya merasakan sesuatu yang dulu selalu kuabaikan: keheningan yang jujur.

Tidak ada investor.
Tidak ada korban yang bisa kuhipnotis dengan jargon.
Tidak ada mimbar.

Hanya aku dan diriku sendiri—tanpa topeng.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini adalah harga dari keberanian. Bahwa setiap pionir pasti disalahpahami. Bahwa aku hanya korban kegagalan manajemen.

Tapi pikiran itu cepat runtuh.

Karena jika aku benar-benar percaya pada apa yang kubangun, aku tidak akan menciptakan laporan palsu.
Jika aku benar-benar yakin pada amanah, aku tidak akan memindahkan dana diam-diam.
Jika aku benar-benar syariah, aku tidak akan memanfaatkan keimanan orang lain sebagai tameng.

Aku tidak gagal.
Tapi terbongkar.

Dan ada perbedaan besar di sana.

Jika aku boleh jujur—dan kini, kejujuran adalah satu-satunya kemewahan yang tersisa—
aku tidak takut dipenjara.

Takut adalah kata yang terlalu sederhana untuk menjelaskan apa yang kurasakan.

Yang menggangguku bukan borgol, bukan jeruji, bukan vonis yang akan dibacakan dengan suara datar.
Yang menggangguku adalah satu pertanyaan yang terus berputar, lebih menyiksa daripada rasa bersalah mana pun:

mengapa semua ini runtuh terlalu cepat?

Aku membangun sistem itu dengan perhitungan.
Dengan lapisan.
Dengan jeda.
Dengan buffer kepercayaan yang seharusnya bisa bertahan lebih lama.

Aku sudah melihat contoh-contoh sebelumnya—skema yang hidup belasan tahun sebelum roboh. Aku belajar dari kesalahan mereka. Aku memperhalus narasi. Aku memperbaiki alur dana. Aku menyamarkan kebohongan agar tampak seperti kelalaian administratif.

Seharusnya aku punya waktu.

Satu tahun lagi, mungkin dua.
Satu putaran dana lagi.
Satu fase normalisasi krisis agar publik terbiasa dengan keterlambatan.

Tapi semuanya pecah terlalu dini.

Bukan karena aku ceroboh—setidaknya begitu aku ingin percaya.
Melainkan karena ada terlalu banyak mata yang kini belajar curiga. Terlalu banyak orang yang tidak lagi puas dengan janji. Terlalu banyak korban yang, entah bagaimana, mulai saling berbicara.

Kepercayaan yang dulu bergerak searah, kini saling menguji.

Dan di situlah aku sadar:
bukan kebohonganku yang lemah,
melainkan dunia yang mulai kebal.

Aku tidak menyesal karena telah berbohong.
Aku menyesal karena tidak sempat menyempurnakannya.

Aku menyesal karena sistem ini—yang menurutku sudah matang—ternyata masih meninggalkan celah.
Bukan celah moral.
Melainkan celah teknis. Celah waktu. Celah manusia.

Aku tidak runtuh karena dosa yang memang sudah melekat padaku.
Aku runtuh karena momentum.

Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Jika kelak orang-orang menuliskan kisah ini sebagai peringatan, aku tahu posisiku akan sederhana: penjahat, penipu, pengkhianat.

Padahal yang lebih jujur adalah ini:
aku hanyalah produk dari dunia yang terlalu lama memuja hasil dan melupakan proses. Dunia yang memberi panggung pada mereka yang paling meyakinkan, bukan yang paling benar.

Aku bukan anomali.
Aku eksperimen yang gagal terlalu cepat.

Dan kini, saat namaku tercetak hitam di atas kertas yang tak bisa kuubah, satu-satunya hal yang benar-benar kupikirkan bukanlah penyesalan—

melainkan kalkulasi terakhir:

jika aku diberi satu kesempatan lagi,
aku tahu persis
bagian mana dari kebohongan ini
yang seharusnya tidak kubiarkan terbuka.

Dan mungkin, di situlah aku akhirnya kalah.

Depok, 5 dan 6 Februari 2026

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Cerpen Lanjutan - Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang perantau pulang kampung dengan hati remuk dan kepala panas setelah pacarnya justru dilamar—dan dinikahi—oleh pamannya sendiri yang kaya raya tapi miskin akal sehat.

Cerpen psikologis “Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan” merupakan pengakuan dingin seorang pria bernama Jefri, pendiri lembaga investasi P2P lending Dana Amanah Nusantara. Dengan kesadaran penuh, ia mengubah harapan dan kepercayaan orang-orang yang menitipkan amanah kepadanya menjadi mesin kebohongan yang terus ia pelihara—hingga akhirnya, seluruh bangunan keyakinan itu runtuh bersama dirinya..

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Sebuah pengakuan batin tentang satu cerpen yang lahir paling dekat dengan hidup sang penulis—menjadi poros jujur dari seluruh kisah lain yang, meski berwujud fiksi, sesungguhnya adalah bayangan-bayangan dari pengalaman, luka, dan emosi yang benar-benar pernah ia jalani.

Esai ini merangkum perjalanan batin seorang pembelajar fisika yang memaknai cinta dengan kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati yang sama seperti ia membaca hukum alam, lalu menjadikannya sastra sebagai catatan observasi terdalam tentang diri dan kehidupan.

Cerpen Akuarium di Ruang Tamu mengisahkan seekor ikan hias yang menjadi saksi bisu kemewahan, keserakahan, dan kejatuhan sebuah keluarga pejabat, hingga menyadari ironi kehidupan manusia yang rumit dan penuh tipu daya dibanding dunia ikan yang sederhana dan jujur.

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)