Cerpen Psikologis - Ketika Kebohongan Menjadi Keyakinan
Namaku Jefri.
Dan sejak awal, aku tahu apa yang sedang kubangun bukan amanah—melainkan mesin kepercayaan.
Aku tidak pernah tertarik pada syariah sebagai prinsip. Aku tertarik pada daya jualnya. Kata itu lembut, menenangkan, dan membuat orang menurunkan tingkat kewaspadaan. Di negeri yang penuh luka ekonomi, orang ingin percaya bahwa uang bisa tumbuh tanpa beban dosa. Aku hanya menyediakan mimbar.
Nama Dana Amanah Nusantara bukan pilihan moral. Itu strategi.
Aku tahu betul siapa targetku: para pensiunan tua yang tak sepenuhnya mengerti laporan keuangan, para perantau yang menggenggam mimpi masa depan, orang-orang yang ingin hijrah finansial.
Mereka butuh harapan yang terdengar halal.
Sejak hari pertama, aku sudah menghitung risiko. Proyek riil tak pernah cukup untuk menopang arus dana. Maka kami menggunakan data borrower yang ada—nyata, legal—lalu menciptakan proyek-proyek baru di atas kertas. Fiktif, tapi terlihat hidup. Foto bisa dicari. Deskripsi bisa ditulis. Angka bisa disesuaikan.
Aku tidak menyebutnya penipuan.
Aku menyebutnya rekayasa realitas.
Website dan aplikasi kami dipenuhi informasi yang sengaja dipilih. Bukan yang benar—melainkan yang meyakinkan. Orang tidak membaca detail, apalagi mengecek kebenarannya. Mereka membaca janji. Dan aku sangat pandai menjanjikan sesuatu tanpa pernah mengikat diri untuk menepatinya.
Untuk memancing kepercayaan publik, kami memakai lender dari dalam. Orang-orangku sendiri. Dana mereka berputar cepat, seolah untung. Grafik naik. Testimoni muncul. Yang di luar melihat, lalu masuk. Efek domino selalu bekerja lebih baik daripada iklan.
Aku menikmati proses itu.
Melihat angka naik seperti melihat bukti bahwa manusia mudah diarahkan.
Uang yang masuk tidak pernah benar-benar berputar di dalam sistem. Kami mengalirkannya ke rekening lain—legal secara administratif, kosong secara moral. Dari sana, uang bergerak ke perusahaan terafiliasi. Sebagian untuk menutup lubang lama. Sebagian lagi untuk kebutuhan yang tak pernah kucatat sebagai laporan.
Dana baru membayar yang lama.
Yang lama menjadi umpan bagi yang baru.
Skema itu rapuh, tapi indah. Selama kepercayaan hidup, semuanya terlihat berjalan.
Aku tahu suatu hari akan runtuh. Tapi aku juga tahu: sebelum runtuh, aku akan berdiri di puncaknya.
Aku sering menerima pesan. Keluhan. Cerita.
Tentang seorang pemuda desa yang kehilangan tabungan nikahnya.
Tentang seorang ibu yang menjual emas.
Tentang seorang lelaki sakit yang tak bisa menarik dananya untuk berobat.
Aku membaca semua itu dengan tenang. Tidak karena aku kejam—melainkan karena aku sudah memisahkan perasaan dari keputusan. Dalam pikiranku, mereka bukan individu. Mereka adalah angka. Dan angka tidak boleh diberi wajah jika ingin sistem bertahan.
Kalau satu kutolong, yang lain akan datang.
Kalau satu kuberi jalan keluar, yang lain akan menuntut.
Aku tidak membangun lembaga ini untuk menolong. Aku membangunnya untuk menguasai arus.
Ketika regulator mulai bertanya, aku tidak panik. Aku sudah menyiapkan laporan. Tidak benar, tidak sepenuhnya salah. Cukup kabur untuk dibantah, cukup rapi untuk ditandatangani.
Aku tampil di depan kamera, berbicara tentang kelesuhan ekonomi yang menjadi sebab, tentang kesabaran, tentang keprihatinan, tentang ujian, tentang proses. Aku tahu kata-kata religius selalu bekerja paling baik saat orang sedang putus asa.
Di balik layar, aku menunda. Mengulur. Mengalihkan. Karena waktu adalah sekutu terbesar buat orang yang berbohong dengan sistematis.
Aku tahu namaku akan jatuh. Semua bangunan seperti ini akhirnya jatuh. Tapi aku juga tahu satu hal yang tak banyak orang sadari:
yang runtuh bukan hanya lembaga,
melainkan kepercayaan orang pada kata syariah dan amanah
Dan itu kerugian yang jauh lebih besar daripada uang.
Apakah aku peduli?
Tidak.
Apakah aku menyesal?
Iya, tetapi bukan seperti yang mereka bayangkan.
Aku menyesal karena keserakahanku belum seluruhnya terpenuhi, selalu ingin satu putaran lagi. Satu dana lagi. Satu kebohongan lagi.
Jika kisah ini ditulis orang lain, aku akan digambarkan sebagai monster penghisap darah bahkan Dajjal. Biarlah. Monster tidak pernah lahir dari kegelapan—mereka lahir dari sistem yang memberi ruang bagi orang sepertiku untuk tumbuh tanpa ditanya niatnya.
Dan jika kau bertanya, apakah aku tahu sejak awal bahwa orang-orang yang menitipkan uangnya padaku akan hancur?
Ya.
Aku tahu.
Dan aku tetap melangkah.
Karena sejak awal, ini bukan soal amanah—
ini soal berapa lama kebohongan bisa disulap menjadi keyakinan sebelum semuanya runtuh.
Dan aku memilih bermain di sana.
****
Hari ini berbagai surat kabar baik cetak maupun elektronik menuliskan namaku tanpa izin.
Hitam, tebal, rapi.
Seolah-olah hidupku selama bertahun-tahun bisa diringkas dalam satu kolom:
Jefri dan dua rekannya ditetapkan sebagai tersangka…
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, bukan untuk memahami, melainkan untuk memastikan bahwa dunia akhirnya memanggilku dengan sebutan yang tepat.
Tersangka.
Tersangka terdengar final. Seperti pintu yang ditutup tanpa bunyi.
Di layar ponsel, wajahku terpampang dalam foto lama—jas gelap, senyum tipis, mata yang kala itu masih percaya bahwa sistem bisa dibelokkan tanpa pernah berbalik menyerang pembuatnya.
Lucu. Aku tampak seperti orang yang masih yakin bisa mengendalikan segalanya.
Padahal sejak tadi malam, aku bahkan tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.
Aku membayangkan, nanti di ruang tahanan, tidak ada grafik.
Tidak ada dashboard.
Tidak ada laporan keuangan yang bisa dimanipulasi.
Hanya dinding pucat dan bau keringat orang-orang yang kehilangan arah.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memegang kendali atas waktu. Jam berjalan tanpa bisa kuulur. Pagi datang tanpa bisa kutunda. Dan malam turun tanpa bisa kusembunyikan di balik rapat daring atau siaran klarifikasi.
Aku mulai mendengar suara-suara yang dulu selalu kupadamkan.
Tangisan.
Bukan tangisan fisik—melainkan gema cerita yang dulu hanya kubaca sekilas sebelum menggeser layar. Kini mereka hadir tanpa perlu diundang.
Seorang anak demam, terbaring di rumah kontrakan.
Seorang ayah yang menjual sepeda motornya demi biaya berobat, lalu kehilangan tabungan terakhirnya.
Seorang ibu yang menyebut namaku dalam doa—bukan untuk keselamatan, melainkan sebagai pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
Aku dulu mengira empati adalah kelemahan.
Kini aku sadar: empati adalah hutang yang selalu jatuh tempo, cepat atau lambat.
Dan saat ini, seluruhnya ditagih sekaligus.
Pengacaraku berbicara tentang pasal-pasal.
Tentang pembelaan.
Tentang celah hukum.
Aku mendengarnya seperti orang mendengar radio rusak—suara ada, makna menguap.
Karena yang tidak bisa dibela adalah satu hal:
aku tahu.
Aku tahu proyek itu fiktif.
Aku tahu laporan itu direkayasa.
Aku tahu uang itu aku alirkan ke perusahaan afiliasiku.
Dan aku tahu, setiap kali aku memilih menunda pencairan dana, ada seseorang di luar sana yang menunda hidupnya.
Itu bukan kesalahan sistem semata.
Itu keputusan.
Keputusanku.
Aku membayangkan malam-malam panjang di penjara.
Dan anehnya, justru di dalam penjara, aku akhirnya merasakan sesuatu yang dulu selalu kuabaikan: keheningan yang jujur.
Tidak ada investor.
Tidak ada korban yang bisa kuhipnotis dengan jargon.
Tidak ada mimbar.
Hanya aku dan diriku sendiri—tanpa topeng.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini adalah harga dari keberanian. Bahwa setiap pionir pasti disalahpahami. Bahwa aku hanya korban kegagalan manajemen.
Tapi pikiran itu cepat runtuh.
Karena jika aku benar-benar percaya pada apa yang kubangun, aku tidak akan menciptakan laporan palsu.
Jika aku benar-benar yakin pada amanah, aku tidak akan memindahkan dana diam-diam.
Jika aku benar-benar syariah, aku tidak akan memanfaatkan keimanan orang lain sebagai tameng.
Aku tidak gagal.
Tapi terbongkar.
Dan ada perbedaan besar di sana.
Jika aku boleh jujur—dan kini, kejujuran adalah satu-satunya kemewahan yang tersisa—
aku tidak takut dipenjara.
Takut adalah kata yang terlalu sederhana untuk menjelaskan apa yang kurasakan.
Yang menggangguku bukan borgol, bukan jeruji, bukan vonis yang akan dibacakan dengan suara datar.
Yang menggangguku adalah satu pertanyaan yang terus berputar, lebih menyiksa daripada rasa bersalah mana pun:
mengapa semua ini runtuh terlalu cepat?
Aku membangun sistem itu dengan perhitungan.
Dengan lapisan.
Dengan jeda.
Dengan buffer kepercayaan yang seharusnya bisa bertahan lebih lama.
Aku sudah melihat contoh-contoh sebelumnya—skema yang hidup belasan tahun sebelum roboh. Aku belajar dari kesalahan mereka. Aku memperhalus narasi. Aku memperbaiki alur dana. Aku menyamarkan kebohongan agar tampak seperti kelalaian administratif.
Seharusnya aku punya waktu.
Satu tahun lagi, mungkin dua.
Satu putaran dana lagi.
Satu fase normalisasi krisis agar publik terbiasa dengan keterlambatan.
Tapi semuanya pecah terlalu dini.
Bukan karena aku ceroboh—setidaknya begitu aku ingin percaya.
Melainkan karena ada terlalu banyak mata yang kini belajar curiga. Terlalu banyak orang yang tidak lagi puas dengan janji. Terlalu banyak korban yang, entah bagaimana, mulai saling berbicara.
Kepercayaan yang dulu bergerak searah, kini saling menguji.
Dan di situlah aku sadar:
bukan kebohonganku yang lemah,
melainkan dunia yang mulai kebal.
Aku tidak menyesal karena telah berbohong.
Aku menyesal karena tidak sempat menyempurnakannya.
Aku menyesal karena sistem ini—yang menurutku sudah matang—ternyata masih meninggalkan celah.
Bukan celah moral.
Melainkan celah teknis. Celah waktu. Celah manusia.
Aku tidak runtuh karena dosa yang memang sudah melekat padaku.
Aku runtuh karena momentum.
Dan itu jauh lebih menyakitkan.
Jika kelak orang-orang menuliskan kisah ini sebagai peringatan, aku tahu posisiku akan sederhana: penjahat, penipu, pengkhianat.
Padahal yang lebih jujur adalah ini:
aku hanyalah produk dari dunia yang terlalu lama memuja hasil dan melupakan proses. Dunia yang memberi panggung pada mereka yang paling meyakinkan, bukan yang paling benar.
Aku bukan anomali.
Aku eksperimen yang gagal terlalu cepat.
Dan kini, saat namaku tercetak hitam di atas kertas yang tak bisa kuubah, satu-satunya hal yang benar-benar kupikirkan bukanlah penyesalan—
melainkan kalkulasi terakhir:
jika aku diberi satu kesempatan lagi,
aku tahu persis
bagian mana dari kebohongan ini
yang seharusnya tidak kubiarkan terbuka.
Dan mungkin, di situlah aku akhirnya kalah.
Depok, 5 dan 6 Februari 2026
