Prolog Ada cinta yang tidak diciptakan untuk dimiliki, melainkan untuk dihayati — dalam diam, dalam doa, dalam napas. Cinta seperti itu tidak berakhir di pelukan, melainkan di ruang sunyi tempat dua jiwa saling berbisik tanpa suara. Puisi ini lahir dari ruang itu — dari hati yang pernah bersatu, kemudian terpisah, namun tetap bernafas dalam nama yang sama. Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu Bisikkan namaku dalam doamu, Agar rinduku menemukan arah, Sebutlah cintaku di antara sepi, Agar jiwaku tak lagi resah. Tatap mataku dalam keheningan, Di sana ada dunia yang hanya kita tahu, Tak perlu kata, tak perlu janji, Cukup diam — dan cinta pun tumbuh baru. Jika esok waktu memisahkan tubuh, Biarkan hatiku tetap tinggal di nadimu, Sebab cinta yang benar tak berjarak, Ia bernafas di dalam dirimu. Biarlah waktu berjalan perlahan, Kita tak perlu mengejar abadi, Sebab setiap detik bersamamu, Sudah menjelma kekekalan sejati. Dan bila suatu hari suaramu pudar, Biarkan lagu itu tinggal...