Cerpen - Sumpah Sunyi Prawan Sunti




Prolog – Janji dalam Sunyi

Desember di desa kami selalu punya cara sendiri untuk menua. Bukan dengan keriput, tapi dengan kabut yang menggantung di pucuk-pucuk pohon turi, dan aroma tanah basah yang basah—bau rindu. Pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, aku berdiri di beranda rumah, memandangi gerbang kayu yang mulai lapuk. Di sana, di antara celah-celah paku yang berkarat, terlukis bayangan masa lalu yang tak pernah pergi.

Aku adalah seorang perempuan yang lahir dan tumbuh di kampung ini, di mana waktu seolah bergerak lebih lambat, dihitung bukan dengan jam, melainkan dengan siklus panen dan suara azan dari surau. Tahun 80-an adalah masanya. Masa di mana janji masih terasa lebih suci dari sumpah yang diucapkan di depan penghulu, dan cinta adalah bisikan yang disematkan di antara kelopak bunga kenanga.

Orang-orang di sini selalu mengatakan, "Hormatilah orang tua," dan "Ikutilah takdirmu." Tapi, saat itu, di dalam hati seorang gadis remaja, ada satu janji yang kubuat sendiri. Sebuah janji yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun—bahkan pada ibuku yang selalu mengusap rambutku dengan lembut. Janji untuk tidak pernah mengkhianati cinta pertamaku.

Aku menoleh ke ladang jagung di seberang jalan, tempat di mana dulu sepasang burung ketilang sering hinggap. Mereka selalu berdua, tak pernah sendiri. Mereka seperti sepasang kekasih yang tak punya kata "pisah" dalam kamus hidup mereka. Aku ingat, setiap kali aku melihat mereka, jantungku berdebar. Aku ingin cintaku seperti mereka. Abadi, sederhana, dan utuh.

Janji itu adalah sebuah sumpah yang kubuat dalam keheningan, tanpa saksi selain angin yang berbisik dan mentari yang terbit malu-malu. Aku berjanji, di hadapan diriku sendiri, bahwa tubuh ini, hati ini, akan tetap suci dan setia pada satu nama. Nama yang saat itu hanya bisa kusebut dalam doa.

Hari ini, bertahun-tahun kemudian, aku masih di sini. Masih di beranda yang sama. Kabut masih turun, tapi rindu itu, kini bukan lagi bau tanah basah. Ia sudah menjadi bagian dari diriku, seperti akar dari pohon beringin yang tumbuh tak terpisahkan. Janji itu, janji suci yang kubuat di masa remaja, telah menjadi pilar yang menopang hidupku, bahkan ketika semua orang sudah menganggapnya usang.

 

Masa Sekolah – Benih Cinta Tumbuh

Ia muncul di duniaku tanpa kembang api, tanpa denting lonceng. Ia hanya datang bersama debu jalanan yang mengepul di belakang gerobak sapi bapaknya. Namanya Narjo, anak laki-laki dengan kulit cokelat terbakar matahari dan mata yang selalu menyunggingkan senyum, bahkan saat ia kelelahan membantu bapaknya memikul karung-karung beras. Kami bertemu di bangku kelas tiga, saat aku masih suka mengikat rambut dengan pita merah jambu dan ia sudah bisa membedakan jenis-jenis tanah hanya dari baunya.

Persahabatan kami dimulai dengan hal-hal kecil. Ia mengajariku membuat perahu dari pelepah pisang yang bisa mengarungi parit. Kami sering pulang sekolah bersama, bukan karena janjian, tapi karena jalan kami searah—melewati pematang sawah yang selalu basah oleh embun pagi dan kering oleh terik siang.

Di sana, di antara petak-petak padi yang bergelombang seperti samudra hijau, kami menemukan dunia kami sendiri. Sesekali kami berhenti untuk menatap burung ketilang yang selalu datang berpasangan. Mereka hinggap di ranting-ranting kering, bersiul-siul, seolah sedang bercerita tentang rahasia-rahasia langit. Narjo pernah berkata, "Mereka itu setia, ya? Ke mana-mana selalu berdua." Kalimatnya sederhana, tapi entah mengapa, saat itu rasanya ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku. Getaran yang bukan karena takut, melainkan seperti bisikan dari masa depan.

Cinta kami tidak pernah diucapkan. Ia tumbuh di bawah terik matahari, di sela-sela obrolan tentang PR matematika dan impian-impian konyol. Cinta itu adalah senyumnya yang terlukis saat ia menemukan belalang sembah, atau tatapan matanya saat ia menungguku di gerbang sekolah, membiarkan gerobak bapaknya mendahului. Itu adalah cinta yang masih polos, sehalus embun pagi yang menempel di daun-daun singkong.

Kami tidak pernah berpegangan tangan, tidak pernah saling mengatakan "aku sayang kamu." Yang ada hanyalah sebuah pemahaman diam-diam. Sebuah kesadaran bahwa dunia ini terasa lebih lengkap saat kami berjalan berdua, melewati pematang sawah yang sama, memandangi sepasang burung ketilang yang sama. Cinta itu seperti benih yang ditanam di tanah subur, menunggu waktu untuk mekar, meski kami belum tahu badai macam apa yang akan datang menerpa.

 

Restu yang Terhalang

Musim panen telah tiba. Aroma padi yang baru dipotong menyebar di udara, tapi kebahagiaan yang seharusnya datang bersamanya tidak pernah sampai di rumahku. Ketidaknyamanan itu bermula saat Ibu mendapati aku dan Narjo pulang berdua, berpisah di ujung jalan setapak, dengan senyum yang terlalu lama membekas di wajahku. Ibu tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya yang biasanya hangat kini terasa dingin, seperti air dari sumur di pagi hari.

Bapa bicara padaku malamnya. Bukan dengan amarah, tapi dengan nada yang penuh kekecewaan, seolah aku telah merusak selembar kain yang sangat berharga. "Anak kita harus menikah dengan orang yang sepadan" katanya, matanya menatap jauh ke luar jendela, ke arah rumah Narjo yang hanya diterangi lampu minyak. "Calon menantu Bapa harus anak orang berada, yang punya tanah luas, yang bisa membawa martabat keluarga kita lebih tinggi."

Kata-kata itu bagai bilah pisau yang tajam, membelah impian yang selama ini kubangun diam-diam. Narjo adalah anak buruh. Bapaknya tak punya apa-apa selain tenaganya dan keringatnya. Aku tahu, di mata orang tuaku, itu adalah kelemahan, sebuah aib yang bisa menjatuhkan harga diri keluarga.

Aku berada di persimpangan yang begitu curam. Di satu sisi, ada Narjo, cinta yang tumbuh dari kesederhanaan, dari senyum dan kesetiaan sepasang burung ketilang. Di sisi lain, ada restu keluarga, sebuah kewajiban yang telah ditanamkan sejak aku masih kecil. Rasa sayangku pada Narjo begitu kuat, tapi rasa hormat dan takutku pada orang tua juga sama besarnya.

Setiap malam aku terjaga, mendengarkan desah angin yang menyusup di antara celah-celah dinding bambu. Aku bertanya-tanya, apakah cinta sejati memang harus menyerah pada status sosial? Apakah hati dan janji yang telah terucap dalam sunyi, tak lebih berharga dari segenggam uang dan sebidang tanah? Dilema ini menggerogoti jiwaku, membuatku merasa seperti boneka kayu yang ditarik-tarik benangnya dari dua arah yang berlawanan.

 

Tekad dan Sumpah Suci

Di bawah rembulan yang memudar, di belakang sumur tua yang dingin, aku duduk sendiri. Malam itu, hatiku terasa seperti lumbung kosong setelah musim panen—hampa dan sunyi. Kata-kata Bapa terus berputar di kepalaku, seperti gasing yang tak henti-henti berputar. Aku tahu, restu mereka adalah kunci kebahagiaan, tapi haruskah aku mengorbankan hatiku demi kunci itu? Haruskah aku menyerahkan Narjo, satu-satunya orang yang membuatku merasa utuh?

Air mataku jatuh, satu per satu, membasahi tanah kering di depanku. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata tekad. Di tengah kebimbangan itu, sebuah gagasan lahir. Jika mereka tidak bisa merestui cintaku, maka aku akan menjadi saksi dari kesetiaanku sendiri. Jika mereka menganggap Narjo tidak "sepadan," maka aku akan membuktikan bahwa cinta kami lebih berharga dari harta dan martabat yang mereka idamkan.

Aku mengucap janji, bukan dengan kata-kata yang diucapkan lantang, tapi dengan bisikan yang terdengar jelas di dalam jiwa. Aku bersumpah tidak akan pernah mengkhianati Narjo. Aku bersumpah tidak akan pernah menikah dengan laki-laki lain. Aku bersumpah untuk menjaga diriku—menjaga kehormatan dan kesucianku—sebagai bukti nyata bahwa janji itu bukan hanya omong kosong. Sumpah suci itu adalah jembatanku, satu-satunya cara bagiku untuk tetap terhubung dengan Narjo, meski raga kami terpisah.

Sumpah itu adalah sebuah pemberontakan. Bukan pemberontakan yang meledak-ledak, melainkan pemberontakan yang sunyi, yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku memilih untuk menjaga diri, untuk tetap "prawan sunti," bukan karena takdir, melainkan karena pilihan. Sebuah pilihan yang kugantungkan pada benang harapan, benang yang kusut dan tipis, tapi satu-satunya yang kumiliki.

 

Pertentangan dan Pengorbanan

Janji yang kubuat dalam sunyi, tak lama kemudian diuji oleh riuh rendah dunia. Orang tuaku, merasa khawatir dengan kesunyian dan penolakanku pada setiap laki-laki yang datang, mulai mengambil langkah. Mereka menjodohkanku dengan seorang pemuda dari desa tetangga, anak kepala desa yang kabarnya baru saja pulang dari kota. Ia bukan laki-laki yang jahat, ia sopan dan berwibawa, tapi hatiku tak pernah bergetar saat namanya disebut.

Setiap kali ia datang bertamu, aku akan menyajikan teh dan duduk diam, menunduk, seperti patung yang tak punya suara. Aku menolak dengan halus, tapi penolakanku selalu dianggap sebagai sifat malu-malu seorang gadis desa. Bapa dan Ibu tak paham. Mereka menganggapku bodoh karena menolak "kesempatan emas" ini. Tekanan sosial semakin terasa. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, "Anak Pak Warso kok tak kunjung menikah?" dan "Apa dia pilih-pilih?" Aku menanggung semua itu dalam diam, dengan tekad yang semakin mengeras. Sumpahku adalah perisaiku.

Suatu sore, di bawah langit yang mulai jingga, Narjo datang menemuiku. Ia tak lagi anak laki-laki yang polos. Matanya terlihat lelah, tapi ada tekad yang menyala di sana. Ia bilang, ia sudah mendengar desas-desus. Ia sadar, kehadirannya hanya akan menjadi batu sandungan bagiku.

"Aku akan pergi," katanya, suaranya pelan dan penuh getar. "Merantau ke kota. Mencari martabat yang lebih baik."

Aku menatapnya, air mataku menumpuk di pelupuk mata. "Untuk apa?" tanyaku.

"Untuk dirimu," jawabnya, matanya menatap mataku lekat-lekat. "Aku tak bisa membiarkanmu menanggung beban ini sendirian. Aku harus membuktikan pada Bapamu, bahwa aku sepadan. Bahwa cinta kita pantas diperjuangkan."

Pengorbanannya sungguh menyakitkan. Ia memilih pergi, bukan karena menyerah, melainkan karena cinta. Ia pergi untuk menjadi orang yang lebih baik, untuk kembali dan menuntut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Kepergiannya adalah sebuah luka, tapi juga sebuah harapan. Ia pergi, dan aku tetap tinggal, setia pada sumpahku, menunggu, entah sampai kapan.

 

Kenangan yang Tak Padam

Waktu berjalan, tidak seperti air yang mengalir, tapi seperti angin yang berbisik, perlahan mengikis semua hal kecuali kenangan. Setelah kepergian Narjo, hidupku kembali ke dalam ritme yang lambat dan sunyi. Aku tidak lagi sering tertawa. Senyumku terasa lebih berat. Setiap pagi, saat aku melewati pematang sawah untuk pergi ke pasar, kakiku terasa lebih lambat. Bukan karena lelah, tapi karena setiap jengkal jalan itu menyimpan jejak Narjo.

Aku melihat sepasang burung ketilang. Mereka masih di sana, berpasangan, bersiul riang di ranting yang sama. Mereka tidak tahu bahwa dua jiwa yang dulu memandangi mereka kini terpisah oleh jarak. Di mataku, mereka bukan lagi sekadar burung. Mereka adalah simbol. Pengingat bahwa cinta suci itu ada, bahwa janji yang kami buat di dalam hati itu nyata.

Setiap malam, sebelum tidur, aku akan memandang rembulan yang sama dengan yang kupandangi saat mengucap sumpah suci. Aku membayangkan Narjo juga sedang memandangi rembulan yang sama di kota yang jauh. Aku tidak tahu di mana ia sekarang, atau bagaimana keadaannya. Hanya ada keyakinan yang menguat: bahwa ia baik-baik saja dan sedang berjuang.

Orang tuaku tidak lagi menjodohkanku. Mungkin mereka lelah, atau mungkin mereka akhirnya mengerti. Aku tak peduli. Yang terpenting, sumpahku masih utuh. Keperawananku bukan lagi sekadar status fisik, melainkan sebuah manifestasi dari janji yang kugenggam erat. Aku hidup dalam kesunyian, tidak dalam kesedihan, melainkan dalam penantian yang penuh martabat.

Kenangan adalah teman terbaikku. Ia datang di saat-saat sepi, membawa kembali tawa dan senyum Narjo. Ia mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. Bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang juga menua bersamaku, setia pada janji yang sama.

 

Epilog – Abadi dalam Janji

Entah Narjo kembali atau tidak, itu sudah bukan lagi pertanyaan yang penting. Jarak dan waktu telah memudar, digantikan oleh pemahaman yang lebih dalam. Aku tidak tahu apakah ia sudah menikah, memiliki anak, atau masih merantau di kota yang tak pernah kulihat. Kabar tentangnya tak pernah sampai. Aku tak lagi mencarinya, dan ia tak pernah mengabariku. Kami hanya terhubung oleh sebuah janji, benang tak kasat mata yang menjahit dua jiwa yang terpisah.

Aku kini menua, dengan rambut yang mulai memutih dan kerutan yang mulai tampak di sudut mata. Aku masih tinggal di rumah yang sama. Burung ketilang itu, yang kini mungkin adalah anak-cucu dari burung yang kulihat dulu, masih datang berpasangan setiap sore. Mereka masih menjadi pengingat yang setia.

Orang-orang di desa tak pernah tahu. Mereka melihatku sebagai perempuan yang memilih hidup sendiri, seorang "perawan sunti" yang aneh. Mereka tidak tahu bahwa kehidupanku tidak pernah sepi. Jiwaku penuh, digenangi oleh kenangan, oleh cinta, dan oleh sebuah janji yang tak pernah luntur.

Cinta sejati, kini aku mengerti, bukanlah tentang memiliki, bukan tentang tubuh yang bersatu. Ia adalah tentang jiwa yang saling menjaga, tentang janji yang dipegang teguh, bahkan ketika dunia memaksa kita untuk melepaskannya. Cinta adalah sebuah sumpah yang abadi, sebuah keabadian yang terukir di dalam hati, terlepas dari takdir apa pun yang menanti.

Hidupku adalah bukti. Bukti bahwa kesetiaan adalah pilihan, bukan kewajiban. Dan bahwa janji yang terucap di dalam sunyi, jauh lebih suci daripada sumpah yang diucapkan di hadapan banyak saksi

Tamat

Depok, 22 November 2025

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)