Cerpen - Sumpah Sunyi Prawan Sunti
Prolog – Janji dalam Sunyi
Desember di desa kami selalu punya cara sendiri untuk menua. Bukan dengan keriput, tapi dengan kabut yang menggantung di pucuk-pucuk pohon turi, dan aroma tanah basah yang basah—bau rindu. Pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, aku berdiri di beranda rumah, memandangi gerbang kayu yang mulai lapuk. Di sana, di antara celah-celah paku yang berkarat, terlukis bayangan masa lalu yang tak pernah pergi.
Aku adalah seorang perempuan yang lahir dan tumbuh di kampung ini, di mana waktu seolah bergerak lebih lambat, dihitung bukan dengan jam, melainkan dengan siklus panen dan suara azan dari surau. Tahun 80-an adalah masanya. Masa di mana janji masih terasa lebih suci dari sumpah yang diucapkan di depan penghulu, dan cinta adalah bisikan yang disematkan di antara kelopak bunga kenanga.
Orang-orang di sini selalu mengatakan, "Hormatilah orang tua," dan "Ikutilah takdirmu." Tapi, saat itu, di dalam hati seorang gadis remaja, ada satu janji yang kubuat sendiri. Sebuah janji yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun—bahkan pada ibuku yang selalu mengusap rambutku dengan lembut. Janji untuk tidak pernah mengkhianati cinta pertamaku.
Aku menoleh ke ladang jagung di seberang jalan, tempat di mana dulu sepasang burung ketilang sering hinggap. Mereka selalu berdua, tak pernah sendiri. Mereka seperti sepasang kekasih yang tak punya kata "pisah" dalam kamus hidup mereka. Aku ingat, setiap kali aku melihat mereka, jantungku berdebar. Aku ingin cintaku seperti mereka. Abadi, sederhana, dan utuh.
Janji itu adalah sebuah sumpah yang kubuat dalam keheningan, tanpa saksi selain angin yang berbisik dan mentari yang terbit malu-malu. Aku berjanji, di hadapan diriku sendiri, bahwa tubuh ini, hati ini, akan tetap suci dan setia pada satu nama. Nama yang saat itu hanya bisa kusebut dalam doa.
Hari ini, bertahun-tahun kemudian, aku masih di sini. Masih di beranda yang sama. Kabut masih turun, tapi rindu itu, kini bukan lagi bau tanah basah. Ia sudah menjadi bagian dari diriku, seperti akar dari pohon beringin yang tumbuh tak terpisahkan. Janji itu, janji suci yang kubuat di masa remaja, telah menjadi pilar yang menopang hidupku, bahkan ketika semua orang sudah menganggapnya usang.
Masa Sekolah – Benih Cinta Tumbuh
Ia muncul di duniaku tanpa kembang api, tanpa denting lonceng. Ia hanya datang bersama debu jalanan yang mengepul di belakang gerobak sapi bapaknya. Namanya Narjo, anak laki-laki dengan kulit cokelat terbakar matahari dan mata yang selalu menyunggingkan senyum, bahkan saat ia kelelahan membantu bapaknya memikul karung-karung beras. Kami bertemu di bangku kelas tiga, saat aku masih suka mengikat rambut dengan pita merah jambu dan ia sudah bisa membedakan jenis-jenis tanah hanya dari baunya.
Persahabatan kami dimulai dengan hal-hal kecil. Ia mengajariku membuat perahu dari pelepah pisang yang bisa mengarungi parit. Kami sering pulang sekolah bersama, bukan karena janjian, tapi karena jalan kami searah—melewati pematang sawah yang selalu basah oleh embun pagi dan kering oleh terik siang.
Di sana, di antara petak-petak padi yang bergelombang seperti samudra hijau, kami menemukan dunia kami sendiri. Sesekali kami berhenti untuk menatap burung ketilang yang selalu datang berpasangan. Mereka hinggap di ranting-ranting kering, bersiul-siul, seolah sedang bercerita tentang rahasia-rahasia langit. Narjo pernah berkata, "Mereka itu setia, ya? Ke mana-mana selalu berdua." Kalimatnya sederhana, tapi entah mengapa, saat itu rasanya ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku. Getaran yang bukan karena takut, melainkan seperti bisikan dari masa depan.
Cinta kami tidak pernah diucapkan. Ia tumbuh di bawah terik matahari, di sela-sela obrolan tentang PR matematika dan impian-impian konyol. Cinta itu adalah senyumnya yang terlukis saat ia menemukan belalang sembah, atau tatapan matanya saat ia menungguku di gerbang sekolah, membiarkan gerobak bapaknya mendahului. Itu adalah cinta yang masih polos, sehalus embun pagi yang menempel di daun-daun singkong.
Kami tidak pernah berpegangan tangan, tidak pernah saling mengatakan "aku sayang kamu." Yang ada hanyalah sebuah pemahaman diam-diam. Sebuah kesadaran bahwa dunia ini terasa lebih lengkap saat kami berjalan berdua, melewati pematang sawah yang sama, memandangi sepasang burung ketilang yang sama. Cinta itu seperti benih yang ditanam di tanah subur, menunggu waktu untuk mekar, meski kami belum tahu badai macam apa yang akan datang menerpa.
Restu yang Terhalang
Musim panen telah tiba. Aroma padi yang baru dipotong menyebar di udara, tapi kebahagiaan yang seharusnya datang bersamanya tidak pernah sampai di rumahku. Ketidaknyamanan itu bermula saat Ibu mendapati aku dan Narjo pulang berdua, berpisah di ujung jalan setapak, dengan senyum yang terlalu lama membekas di wajahku. Ibu tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya yang biasanya hangat kini terasa dingin, seperti air dari sumur di pagi hari.
Bapa bicara padaku malamnya. Bukan dengan amarah, tapi dengan nada yang penuh kekecewaan, seolah aku telah merusak selembar kain yang sangat berharga. "Anak kita harus menikah dengan orang yang sepadan" katanya, matanya menatap jauh ke luar jendela, ke arah rumah Narjo yang hanya diterangi lampu minyak. "Calon menantu Bapa harus anak orang berada, yang punya tanah luas, yang bisa membawa martabat keluarga kita lebih tinggi."
Kata-kata itu bagai bilah pisau yang tajam, membelah impian yang selama ini kubangun diam-diam. Narjo adalah anak buruh. Bapaknya tak punya apa-apa selain tenaganya dan keringatnya. Aku tahu, di mata orang tuaku, itu adalah kelemahan, sebuah aib yang bisa menjatuhkan harga diri keluarga.
Aku berada di persimpangan yang begitu curam. Di satu sisi, ada Narjo, cinta yang tumbuh dari kesederhanaan, dari senyum dan kesetiaan sepasang burung ketilang. Di sisi lain, ada restu keluarga, sebuah kewajiban yang telah ditanamkan sejak aku masih kecil. Rasa sayangku pada Narjo begitu kuat, tapi rasa hormat dan takutku pada orang tua juga sama besarnya.
Setiap malam aku terjaga, mendengarkan desah angin yang menyusup di antara celah-celah dinding bambu. Aku bertanya-tanya, apakah cinta sejati memang harus menyerah pada status sosial? Apakah hati dan janji yang telah terucap dalam sunyi, tak lebih berharga dari segenggam uang dan sebidang tanah? Dilema ini menggerogoti jiwaku, membuatku merasa seperti boneka kayu yang ditarik-tarik benangnya dari dua arah yang berlawanan.
Tekad dan Sumpah Suci
Di bawah rembulan yang memudar, di belakang sumur tua yang dingin, aku duduk sendiri. Malam itu, hatiku terasa seperti lumbung kosong setelah musim panen—hampa dan sunyi. Kata-kata Bapa terus berputar di kepalaku, seperti gasing yang tak henti-henti berputar. Aku tahu, restu mereka adalah kunci kebahagiaan, tapi haruskah aku mengorbankan hatiku demi kunci itu? Haruskah aku menyerahkan Narjo, satu-satunya orang yang membuatku merasa utuh?
Air mataku jatuh, satu per satu, membasahi tanah kering di depanku. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata tekad. Di tengah kebimbangan itu, sebuah gagasan lahir. Jika mereka tidak bisa merestui cintaku, maka aku akan menjadi saksi dari kesetiaanku sendiri. Jika mereka menganggap Narjo tidak "sepadan," maka aku akan membuktikan bahwa cinta kami lebih berharga dari harta dan martabat yang mereka idamkan.
Aku mengucap janji, bukan dengan kata-kata yang diucapkan lantang, tapi dengan bisikan yang terdengar jelas di dalam jiwa. Aku bersumpah tidak akan pernah mengkhianati Narjo. Aku bersumpah tidak akan pernah menikah dengan laki-laki lain. Aku bersumpah untuk menjaga diriku—menjaga kehormatan dan kesucianku—sebagai bukti nyata bahwa janji itu bukan hanya omong kosong. Sumpah suci itu adalah jembatanku, satu-satunya cara bagiku untuk tetap terhubung dengan Narjo, meski raga kami terpisah.
Sumpah itu adalah sebuah pemberontakan. Bukan pemberontakan yang meledak-ledak, melainkan pemberontakan yang sunyi, yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku memilih untuk menjaga diri, untuk tetap "prawan sunti," bukan karena takdir, melainkan karena pilihan. Sebuah pilihan yang kugantungkan pada benang harapan, benang yang kusut dan tipis, tapi satu-satunya yang kumiliki.
Pertentangan dan Pengorbanan
Janji yang kubuat dalam sunyi, tak lama kemudian diuji oleh riuh rendah dunia. Orang tuaku, merasa khawatir dengan kesunyian dan penolakanku pada setiap laki-laki yang datang, mulai mengambil langkah. Mereka menjodohkanku dengan seorang pemuda dari desa tetangga, anak kepala desa yang kabarnya baru saja pulang dari kota. Ia bukan laki-laki yang jahat, ia sopan dan berwibawa, tapi hatiku tak pernah bergetar saat namanya disebut.
Setiap kali ia datang bertamu, aku akan menyajikan teh dan duduk diam, menunduk, seperti patung yang tak punya suara. Aku menolak dengan halus, tapi penolakanku selalu dianggap sebagai sifat malu-malu seorang gadis desa. Bapa dan Ibu tak paham. Mereka menganggapku bodoh karena menolak "kesempatan emas" ini. Tekanan sosial semakin terasa. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, "Anak Pak Warso kok tak kunjung menikah?" dan "Apa dia pilih-pilih?" Aku menanggung semua itu dalam diam, dengan tekad yang semakin mengeras. Sumpahku adalah perisaiku.
Suatu sore, di bawah langit yang mulai jingga, Narjo datang menemuiku. Ia tak lagi anak laki-laki yang polos. Matanya terlihat lelah, tapi ada tekad yang menyala di sana. Ia bilang, ia sudah mendengar desas-desus. Ia sadar, kehadirannya hanya akan menjadi batu sandungan bagiku.
"Aku akan pergi," katanya, suaranya pelan dan penuh getar. "Merantau ke kota. Mencari martabat yang lebih baik."
Aku menatapnya, air mataku menumpuk di pelupuk mata. "Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk dirimu," jawabnya, matanya menatap mataku lekat-lekat. "Aku tak bisa membiarkanmu menanggung beban ini sendirian. Aku harus membuktikan pada Bapamu, bahwa aku sepadan. Bahwa cinta kita pantas diperjuangkan."
Pengorbanannya sungguh menyakitkan. Ia memilih pergi, bukan karena menyerah, melainkan karena cinta. Ia pergi untuk menjadi orang yang lebih baik, untuk kembali dan menuntut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Kepergiannya adalah sebuah luka, tapi juga sebuah harapan. Ia pergi, dan aku tetap tinggal, setia pada sumpahku, menunggu, entah sampai kapan.
Kenangan yang Tak Padam
Waktu berjalan, tidak seperti air yang mengalir, tapi seperti angin yang berbisik, perlahan mengikis semua hal kecuali kenangan. Setelah kepergian Narjo, hidupku kembali ke dalam ritme yang lambat dan sunyi. Aku tidak lagi sering tertawa. Senyumku terasa lebih berat. Setiap pagi, saat aku melewati pematang sawah untuk pergi ke pasar, kakiku terasa lebih lambat. Bukan karena lelah, tapi karena setiap jengkal jalan itu menyimpan jejak Narjo.
Aku melihat sepasang burung ketilang. Mereka masih di sana, berpasangan, bersiul riang di ranting yang sama. Mereka tidak tahu bahwa dua jiwa yang dulu memandangi mereka kini terpisah oleh jarak. Di mataku, mereka bukan lagi sekadar burung. Mereka adalah simbol. Pengingat bahwa cinta suci itu ada, bahwa janji yang kami buat di dalam hati itu nyata.
Setiap malam, sebelum tidur, aku akan memandang rembulan yang sama dengan yang kupandangi saat mengucap sumpah suci. Aku membayangkan Narjo juga sedang memandangi rembulan yang sama di kota yang jauh. Aku tidak tahu di mana ia sekarang, atau bagaimana keadaannya. Hanya ada keyakinan yang menguat: bahwa ia baik-baik saja dan sedang berjuang.
Orang tuaku tidak lagi menjodohkanku. Mungkin mereka lelah, atau mungkin mereka akhirnya mengerti. Aku tak peduli. Yang terpenting, sumpahku masih utuh. Keperawananku bukan lagi sekadar status fisik, melainkan sebuah manifestasi dari janji yang kugenggam erat. Aku hidup dalam kesunyian, tidak dalam kesedihan, melainkan dalam penantian yang penuh martabat.
Kenangan adalah teman terbaikku. Ia datang di saat-saat sepi, membawa kembali tawa dan senyum Narjo. Ia mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. Bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang juga menua bersamaku, setia pada janji yang sama.
Epilog – Abadi dalam Janji
Entah Narjo kembali atau tidak, itu sudah bukan lagi pertanyaan yang penting. Jarak dan waktu telah memudar, digantikan oleh pemahaman yang lebih dalam. Aku tidak tahu apakah ia sudah menikah, memiliki anak, atau masih merantau di kota yang tak pernah kulihat. Kabar tentangnya tak pernah sampai. Aku tak lagi mencarinya, dan ia tak pernah mengabariku. Kami hanya terhubung oleh sebuah janji, benang tak kasat mata yang menjahit dua jiwa yang terpisah.
Aku kini menua, dengan rambut yang mulai memutih dan kerutan yang mulai tampak di sudut mata. Aku masih tinggal di rumah yang sama. Burung ketilang itu, yang kini mungkin adalah anak-cucu dari burung yang kulihat dulu, masih datang berpasangan setiap sore. Mereka masih menjadi pengingat yang setia.
Orang-orang di desa tak pernah tahu. Mereka melihatku sebagai perempuan yang memilih hidup sendiri, seorang "perawan sunti" yang aneh. Mereka tidak tahu bahwa kehidupanku tidak pernah sepi. Jiwaku penuh, digenangi oleh kenangan, oleh cinta, dan oleh sebuah janji yang tak pernah luntur.
Cinta sejati, kini aku mengerti, bukanlah tentang memiliki, bukan tentang tubuh yang bersatu. Ia adalah tentang jiwa yang saling menjaga, tentang janji yang dipegang teguh, bahkan ketika dunia memaksa kita untuk melepaskannya. Cinta adalah sebuah sumpah yang abadi, sebuah keabadian yang terukir di dalam hati, terlepas dari takdir apa pun yang menanti.
Hidupku adalah bukti. Bukti bahwa kesetiaan adalah pilihan, bukan kewajiban. Dan bahwa janji yang terucap di dalam sunyi, jauh lebih suci daripada sumpah yang diucapkan di hadapan banyak saksi
Tamat
Depok, 22 November 2025
