Esai Reflektif - Antara Otobiografi dan Fiksi yang Lahir dari Pengalaman
Di antara puluhan cerpen yang kutulis, ada satu yang berdiri dengan cara berbeda. Ia tidak bersembunyi di balik metafora yang terlalu rapat, tidak meminjam terlalu banyak topeng tokoh, dan tidak terlalu jauh menyamarkan peristiwa. Cerpen itu hadir hampir sepenuhnya sebagai diriku sendiri.
Ia bukan sekadar kisah cinta. Ia adalah rekaman hidup yang paling dekat dengan kenyataan: relasi, luka, pengorbanan, dan pilihan-pilihan yang benar-benar kujalani. Jika pembaca ingin mengetahui siapa aku tanpa banyak kabut sastra, maka cerpen itulah pintu paling jujur. Di sana, aku tidak sedang berimajinasi; aku sedang mengingat.
Sementara cerpen-cerpen yang lain lahir dengan cara berbeda. Mereka bukan kebohongan, tetapi juga bukan pengakuan utuh. Di dalamnya sering hanya ada sepotong hidupku: satu emosi, satu peristiwa kecil, satu kegagalan, atau satu kerinduan. Potongan itu lalu tumbuh menjadi cerita lain—dipanjangkan, dibelokkan, diperhalus, atau bahkan dipatahkan—hingga ia menjelma sebagai fiksi. Namun fiksi itu tidak pernah kosong. Ia selalu berakar pada pengalaman.
Aku menulis dengan cara itu karena hidupku sendiri sering datang dalam bentuk fragmen. Tidak semua peristiwa bisa kuceritakan apa adanya. Ada yang terlalu rumit, terlalu sensitif, atau terlalu melibatkan orang lain. Maka fiksi menjadi jalan tengah: cukup jujur untuk diriku, cukup aman untuk dunia.
Dalam cerpen-cerpen fiksional itu, aku kerap membagi diriku menjadi banyak tokoh: lelaki yang menahan diri, kakak yang berkorban, pencari Tuhan yang goyah, atau pecinta yang memilih diam. Mereka tampak berbeda, tetapi sesungguhnya membawa sumber yang sama. Mereka adalah kemungkinan-kemungkinan diriku—apa yang pernah kulalui, atau apa yang nyaris kulakukan.
Jika cerpen yang paling dekat dengan hidup itu adalah wajah asliku, maka cerpen-cerpen lain adalah bayangannya. Kadang bayangan itu lebih gelap, kadang lebih indah, kadang lebih berani daripada diriku sendiri. Tetapi tanpa wajah itu, bayangan-bayangan tersebut tidak akan pernah ada.
Dengan cara inilah aku menulis dan hidup. Aku tidak memisahkan secara tegas antara fakta dan rekaan. Bagiku, yang lebih penting adalah kejujuran rasa. Selama emosi yang kutulis pernah benar-benar kurasakan, maka cerita itu—entah otobiografi atau fiksi—tetaplah bagian dari diriku.
Maka jika pembaca menemukan diriku tersebar di banyak cerita, itu memang disengaja. Aku tidak ingin dikenali lewat satu kisah saja. Aku adalah kumpulan pengalaman yang dipecah, disamarkan, lalu disusun ulang agar bisa ditanggung oleh kata-kata.
Dan di antara semua cerpen itu, ada satu yang akan selalu menjadi poros batinku: sebuah kisah yang tidak lahir dari kemungkinan, tetapi dari hidup yang sungguh pernah terjadi.
Depok, 1 Februari 2026
