Cerpen Humor - Cinta Pada Kasri Kembang Desa Dukuhturi
Di desa Dukuhturi, ada seorang pemuda bernama Sarwono, seorang pengangguran 'berprestasi' yang kerjanya tiap hari cuma dua: nganggur karo ngimpi dadi wong sugih (Menganggur dan bermimpi jadi orang kaya). Tapi walaupun begitu, Sarwono punya satu kelebihan: tekad baja dan cinta sekeras tempe mendoan yang digoreng kering.
Cinta itu ditujukan kepada seorang gadis manis bernama Kasri, kembang desa Dukuhturi. Parasnya ayu, rambutnya hitam kelam, jalan saja seperti melayang. Pokoknya kalau Kasri lewat, para perjaka desa sampai lupa cara bernapas. Bahkan Pak RT pernah hampir tersedak rokok gara-gara kaget lihat Kasri lewat sambil senyum.
Dan Sarwono—dengan segala kenekatannya—menganggap dirinya adalah orang yang paling pantas untuk mendampingi Kasri.
Masalahnya cuma satu: Kasri tidak pernah menanggapi.
Suatu hari, Sarwono duduk di warung rujak teplak Bi Siti. Wajahnya kusut seperti jemuran kehujanan.
“Kowen ning apa, Won? Daning raine kaya wajan geseng?” tanya Bi Siti.
(Kamu kenapa Won, kok mukamu kaya penggorengan gosong?)
Sarwono menghela napas panjang. “Bi… nyong wis puasa Senen-Kemis, tapine Kasri tetep bae ora ngladheni. Padhahal awake nyong wis gering kaya biting.”
(Bi aku sudah puasa senin-kamis, tetapi Kasri tetap saja tidak mau menanggapi. Padahal badanku sudah kurus kaya lidi)
Bi Siti cuma nyengir. “Puasa Senen-Kemis kuwe ibadah, Won. Dudu Nggo ngarep perhatiane Kasri.”
(Puasa Senin-Kamis itu ibadah Won. Bukan untuk mengharap perhatian Kasri)
“Tapi nyong niate endhah awak mambu wangi, Bi… soale jare wong, puasa kuwe nggawe aura cerah,” jawab Sarwono polos.
(Tapi niatku agar badanku bau wangi Bi...Soalnya kata orang puasa itu membuat aura menjadi cerah)
Bi Siti geleng-geleng. “Aura cerah apane… wong raine kowen malah pucet.”
(Aura cerah apanya sedangkan wajahmu malah pucat)
*****
Walaupun Kasri tidak menanggapi, Sarwono tidak menyerah. Setiap malam Minggu ia tetap mencoba apel. Ia naik motor bebek tua milik kakaknya yang setiap dipanasin suaranya mirip kambing mau melahirkan.
Meskipun begitu, Sarwono percaya diri, sebab ia punya trik khusus: pakai minyak wangi super murah yang baunya menusuk sampai radius satu kecamatan.
“Endhah Kasri ngerti angger nyong niate serius,” begitu selalu katanya.
(Agar Kasri mengerti bahwa niatku serius)
Sayangnya, meski sudah wangi menusuk, Kasri tidak juga keluar rumah.
Kadang malah Bapaknya Kasri yang muncul sambil membawa sapu lidi.
“Woooo Sarwono! Kowen ora ngerti waktu? Kasri ora ana! Balik manah, balik!”
(Woooo Sarwono! Kamu tidak tahu waktu ya? Kasri tidak ada! pulang sana, pulang!)
Kalau sudah begitu, Sarwono akan pulang sambil ngedumel sendiri.
“Kasri, Kasri… wong nyong cinta niba tangi, kowen ka ora ngladheni. Kowen dhonge nggolet sing kaya apa sih ndeles?”
(Kasri, Kasri… sedangkan aku cinta jatuh bangun, tapi kamu tidak menanggapi. Kamu sebenarnya mencari cowok yang kaya apa sih?)
*****
Cintanya tidak surut. Suatu siang, Sarwono pergi ke Slawi membeli es krim untuk Kasri. Ia pikir mungkin Kasri akan luluh kalau diberi es krim.
Dan Sarwono pun beli es krim sambil bergumam mantap.
“Tak we'a Kasri, mesti dibales.”
(Aku kirim whatsapp Kasri, pasti dibalas)
Sesampainya di desa, Sarwono langsung mengirim pesan whatsapp pada Kasri.
“Kasri, kiye ana es nggo kowen. Nyong nang ngarep umah.”
(Kasri ini ada es buat kamu. Aku di depan rumah)
Lima menit… tak dibalas.
Sepuluh menit… tak dibalas.
Satu jam… tetap tak dibalas.
Sarwono mulai panik. “Apa kuotane entek?”
(Apa kuotanya habis?)
Setelah dicek ternyata memang benar masih logo jam alias kuota datanya habis.
Besoknya, Sarwono coba taktik baru. Ia beli dodol Slawi, makanan kesukaan Kasri.
“Tak ndhein dodol, mesti atine leleh,” pikirnya.
(Aku beri dodol, pasti hatinya luluh)
Setelah beli, ia coba miskol Kasri.
Tapi lagi-lagi masalah muncul.
Hapenya mati.
“Lah kok hapene mati pas tak miskol?” rutuk Sarwono.
(Loh kok hapenya mati ketika aku hubungi?)
Dia mulai curiga. Mungkin bukan hapenya yang mati… tapi hapenya sengaja dimatikan khusus saat melihat nama Sarwono muncul.
*****
Suatu sore, Sarwono memutuskan untuk ngapel tapi lewat jalan memutar yang sangat jauh hingga puluhan kilometer menjelajah Alas Jati Margasari—tempat yang bagi warga desa dianggap angker. Banyak cerita soal suara aneh, bayangan meloncat di pohon, dan kuntilanak yang suka numpang naik motor orang. Kali aja dengan cara itu Kasri luluh.
“Dhemi Kasri langka sing tak wedeni. Kuntilanak bae tak bonceng, sing penting Kasri gelem ngladheni.”
(Demi Kasri tidak ada yang aku takuti. Kuntilanak saja aku bonceng, yang penting Kasri mau menanggapi.)
Ia pun berangkat.
Motor tua itu menderu pelan, lampunya redup seperti lampu senter kehabisan baterai. Sepanjang jalan ia berkeringat dingin, tapi tetap maju.
Sampai depan rumah Kasri… seperti biasa, Kasri tidak muncul.
Yang muncul malah Bapaknya Kasri, kali ini sambil membawa sapu ijuk.
“Sarwono! Kowen ora kapok-kapok ya?! Ari terus-terusan ngapel nang kene, tak sabet temenan gyeh!”
(Sarwono! Kamu tidak kapok-kapok ya?! kalau terus-terusan ngapel di sini, aku pukul beneran nihh!)
Sarwono hanya bisa kabur sambil ngedumel.
“Ya Allah… wong nyong pan dolan tok. Cintane nyong tulus ka diwales sapu ijuk.”
(Ya Allah… aku hanya mau main. Cintaku tulus kenapa dibalas sapu ijuk.)
*****
Suatu malam, Sarwono duduk di gardu pos ronda. Ia sedang melamun sambil memandangi cicak di langit-langit.
“Ning apa ya Kasri ora gelem? Nyong pancen durung kerja… esih nganggur. Tapi bapane nyong kan sugih! Dunyane mambrah-mambrah. Duite sehaha haha... Warisane akeeeeh nemen…”
(Kenapa ya Kasri tidak mau? Aku memang belum kerja… masih pengangguran. Tapi bapakku kan kaya! hartanya melimpah ruah. Uangnya sangat banyak tak terhitung. Warisannya banyaaaak banget…)
Ia bicara sendiri sampai kawan-kawannya datang.
“Won, kowen ngomong karo cecek?” tanya Paijo.
(Won, kamu bicara sama cicak?)
Sarwono kaget. “Lah, kowen Jo? Apa kowen krungu kabeh?”
(Loh, kamu Jo? Apa kamu mendengar semua?)
“Krungu Won. Kowen bar ngaku ari andhelanmu mung warisan.” Paijo tertawa.
(Aku dengar Won. Kamu habis mengakui kalau andalanmu hanya warisan.)
Sarwono ngusap dada. “Lah, wong bener ka!!. Ari warisane nyong cair, Kasri pan tak jak tuku gelang, kalung rante, angkot, ruko, nganti umah prumnas! anggepe nyong guyonan apa?”
(Loh, memang benar kok!!. kalau nanti warisanku sudah cair, Kasri akan aku ajak beli gelang, kalung rante, angkot, ruko, sampai rumah Perumnas! kamu anggap aku hanya bercanda ya?)
Paijo cuma geleng-geleng. “Toli warisane kapan caire?”
(Lalu warisanmu kapan cairnya?)
Sarwono terdiam. “Ya… mengko lah… angger Bapane nyong gim”
(Ya...nantilah....kalau Bapakku sudah meninggal)
Paijo dan kawan-kawan tertawa sampai miring-miring.
*****
Kegagalan demi kegagalan tidak membuat Sarwono menyerah. Ia mencoba rute baru walaupun jauhnya tidak ketulungan untuk mengapel Kasri: lewat Guci berendam dulu di pancuran 13 yang airnya panas dan banyak khasiatnya, lewat Yomani, walaupun sebenarnya rumah Kasri hanya berjarak beberapa gang.
Tapi tetap saja.
Kadang Bapaknya Kasri mengusir.
Kadang Kasri pura-pura tidak ada di rumah.
Kadang angsa tetangga mengejar.
*****
Suatu sore, ketika Sarwono sedang membenahi motornya, Kasri tiba-tiba lewat depan rumahnya.
Sarwono langsung bangun, menepuk-nepuk baju agar tampak rapi.
“Kasri! Kasri! Kowen nggolet sing kaya apa dhonge?”
(Kasri! Kasri! Kamu sebenarnya mencari cowok yang kaya apa sih?)
Kasri berhenti. Untuk pertama kali ia menatap Sarwono lama.
“Won… kowen kuwe apik. Tapi kowen medeni.”
(Won...Kamu itu cakep. Tapi kamu menakutkan)
“Medeni? Lah kowen ngomong apa sih?” tanya Sarwono bingung.
(Menakutkan? Loh kamu bicara apa sih?)
Kasri mendesah. “Saben minggu kowen ngapel, saben dina kowen we'a, telepon, miskol. Nyong dadi wedi, Won. Nyong ngrasa kaya diudag-udag Dheb kolektor.”
(Tiap minggu kamu apel, tiap hari kamu kirim whatsapp, telepon, miskol. Aku jadi takut, Won. Aku merasa seperti dikejar-kejar debt collector.)
Sarwono terdiam, tersinggung sedikit. “Lah… wong nyong cinta niba tangi ka. Apa salah?”
(Loh… Aku kan memang cinta jatuh bangun. Apa salah?)
“Salahe… kowen terlalu maksa. Nganti bapane nyong jengkel. Nganti tangga melu resah.”
(Salahnya… kamu terlalu memaksa. Sampai bapakku jengkel. Sampai tetangga ikut resah.)
Sarwono memandang tanah. Untuk pertama kali ia merasa dirinya mungkin memang berlebihan.
Kasri melunak. “Won… Nyong durung kepikiran pacaran. Nyong pan pokus ngrewangi mane nggawe jajan pesenan karo sing didol ning pasar.”
(Won… aku belum terpikir untuk pacaran. aku akan fokus membantu ibu membuat kue pesanan dan yang dijual di pasar.)
Sarwono mengangguk pelan. “Lah terus kowen pan ndhein nyong kesempatan apa ora?”
(Loh terus kamu akan memberiku kesempatan apa tidak?)
Kasri tersenyum tipis.
“Angger kowen bisa kerja… duwe tujuan urip… ora mung ngandhalna warisan… ndhean tah nyong bisa mandheng kowen nganggo cara liyane.”
(Kalau kamu bisa bekerja… punya tujuan hidup… tidak hanya mengandalkan warisan… mungkin aku bisa melihatmu dengan cara lain)
Sarwono terpaku. Kata-kata itu seperti petir menyambar, tapi sambaran yang baik.
*****
Sejak hari itu, Sarwono berubah.
Ia berhenti mengapel tiap minggu. Ia berhenti membanjiri Whatsapp Kasri. Ia berhenti lewat Guci, Yomani, dan Alas Jati hanya untuk melihat pagar rumah Kasri.
Ia mulai bekerja di bengkel kecil milik pamannya. Awalnya cuma disuruh nyapu dan mencuci motor, tapi lama-lama ia belajar memperbaiki mesin.
Bahkan ia mulai jarang pakai parfum yang aromanya menusuk hingga satu kecamatan.
Beberapa bulan kemudian, Sarwono jadi seperti pemuda baru. Kulitnya tak sepucat dulu, badannya tak seloyo dulu, dan dompetnya—meski belum tebal—sudah tidak kosong. Hidupnya penuh semangat menyongsong masa depan.
Suatu pagi sebelum berangkat ke bengkel, ia bertemu Kasri di pasar Cilunglung.
Kasri tersenyum. “Sarwono… kowen wis berubah ya?”
(Sarwono… kamu sudah berubah ya?)
Sarwono juga tersenyum. “Ya… soale nyong saiki ngerti. Cinta kuwe ora cukup nganggo puasa Senen-Kemis karo janji-janji warisan.”
(Ya… soalnya aku sekarang mengerti. Cinta itu tidak hanya cukup dengan puasa Senin-Kamis dan janji-janji warisan.)
Kasri tertawa kecil. “Pinter saiki.”
(Cerdas Sekarang)
Sarwono menarik napas panjang. “Kasri… kowen gelem ora… kenalan ulang karo nyong?”
(Kasri… kamu mau tidak… kenalan ulang dengan aku ?)
Kasri mengangguk perlahan tersipu malu. “Olih....”
(Boleh....)
Sarwono tersenyum lebar. Tapi dalam hati ia berjanji:
“Saiki nyong mereki Kasri karo umpul-umpul, dudu karo angan-angan warisan.”
(Sekarang aku mendekati Kasri sambil menabung, bukan dengan berkhayal dapat warisan.)
Dan sejak itu, desa Dukuhturi mengenang perubahan Sarwono sebagai salah satu kisah paling lucu sekaligus mengharukan: seorang pemuda yang dulu mengandalkan warisan belum cair, kini mengandalkan kerja keras dan wangi parfum manusiawi.
TAMAT
Depok, 13 Desember 2025
