Cerpen Humor - Cinta Pada Kasri Kembang Desa Dukuhturi

 



Di desa Dukuhturi, ada seorang pemuda bernama Sarwono, seorang pengangguran 'berprestasi' yang kerjanya tiap hari cuma dua: nganggur karo ngimpi dadi wong sugih (Menganggur dan bermimpi jadi orang kaya). Tapi walaupun begitu, Sarwono punya satu kelebihan: tekad baja dan cinta sekeras tempe mendoan yang digoreng kering.

Cinta itu ditujukan kepada seorang gadis manis bernama Kasri, kembang desa Dukuhturi. Parasnya ayu, rambutnya hitam kelam, jalan saja seperti melayang. Pokoknya kalau Kasri lewat, para perjaka desa sampai lupa cara bernapas. Bahkan Pak RT pernah hampir tersedak rokok gara-gara kaget lihat Kasri lewat sambil senyum.

Dan Sarwono—dengan segala kenekatannya—menganggap dirinya adalah orang yang paling pantas untuk mendampingi Kasri.

Masalahnya cuma satu: Kasri tidak pernah menanggapi.

Suatu hari, Sarwono duduk di warung rujak teplak Bi Siti. Wajahnya kusut seperti jemuran kehujanan.

“Kowen ning apa, Won? Daning raine kaya wajan geseng?” tanya Bi Siti.

(Kamu kenapa Won, kok mukamu kaya penggorengan gosong?)

Sarwono menghela napas panjang. “Bi… nyong wis puasa Senen-Kemis, tapine Kasri tetep bae ora ngladheni. Padhahal awake nyong wis gering kaya biting.”

(Bi aku sudah puasa senin-kamis, tetapi Kasri tetap saja tidak mau menanggapi. Padahal badanku sudah kurus kaya lidi)

Bi Siti cuma nyengir. “Puasa Senen-Kemis kuwe ibadah, Won. Dudu Nggo ngarep perhatiane Kasri.”

(Puasa Senin-Kamis itu ibadah Won. Bukan untuk mengharap perhatian Kasri)

“Tapi nyong niate endhah awak mambu wangi, Bi… soale jare wong, puasa kuwe nggawe aura cerah,” jawab Sarwono polos.

(Tapi niatku agar badanku bau wangi Bi...Soalnya kata orang puasa itu membuat aura menjadi cerah)

Bi Siti geleng-geleng. “Aura cerah apane… wong raine kowen malah pucet.”

(Aura cerah apanya sedangkan wajahmu malah pucat)

*****

Walaupun Kasri tidak menanggapi, Sarwono tidak menyerah. Setiap malam Minggu ia tetap mencoba apel. Ia naik motor bebek tua milik kakaknya yang setiap dipanasin suaranya mirip kambing mau melahirkan.

Meskipun begitu, Sarwono percaya diri, sebab ia punya trik khusus: pakai minyak wangi super murah yang baunya menusuk sampai radius satu kecamatan.

“Endhah Kasri ngerti angger nyong niate serius,” begitu selalu katanya.

(Agar Kasri mengerti bahwa niatku serius)

Sayangnya, meski sudah wangi menusuk, Kasri tidak juga keluar rumah.

Kadang malah Bapaknya Kasri yang muncul sambil membawa sapu lidi.

“Woooo Sarwono! Kowen ora ngerti waktu? Kasri ora ana! Balik manah, balik!”

(Woooo Sarwono! Kamu tidak tahu waktu ya? Kasri tidak ada! pulang sana, pulang!)

Kalau sudah begitu, Sarwono akan pulang sambil ngedumel sendiri.

“Kasri, Kasri… wong nyong cinta niba tangi, kowen ka ora ngladheni. Kowen dhonge nggolet sing kaya apa sih ndeles?”

(Kasri, Kasri… sedangkan aku cinta jatuh bangun, tapi kamu tidak menanggapi. Kamu sebenarnya mencari cowok yang kaya apa sih?)

*****

Cintanya tidak surut. Suatu siang, Sarwono pergi ke Slawi membeli es krim untuk Kasri. Ia pikir mungkin Kasri akan luluh kalau diberi es krim.

Dan Sarwono pun beli es krim sambil bergumam mantap.

“Tak we'a Kasri, mesti dibales.”

(Aku kirim whatsapp Kasri, pasti dibalas)

Sesampainya di desa, Sarwono langsung mengirim pesan whatsapp pada Kasri.

“Kasri, kiye ana es nggo kowen. Nyong nang ngarep umah.”

(Kasri ini ada es buat kamu. Aku di depan rumah)

Lima menit… tak dibalas.
Sepuluh menit… tak dibalas.
Satu jam… tetap tak dibalas.

Sarwono mulai panik. “Apa kuotane entek?”

(Apa kuotanya habis?)

Setelah dicek ternyata memang benar masih logo jam alias kuota datanya habis.

Besoknya, Sarwono coba taktik baru. Ia beli dodol Slawi, makanan kesukaan Kasri.

“Tak ndhein dodol, mesti atine leleh,” pikirnya.

(Aku beri dodol, pasti hatinya luluh)

Setelah beli, ia coba miskol Kasri.

Tapi lagi-lagi masalah muncul.

Hapenya mati.

“Lah kok hapene mati pas tak miskol?” rutuk Sarwono.

(Loh kok hapenya mati ketika aku hubungi?)

Dia mulai curiga. Mungkin bukan hapenya yang mati… tapi hapenya sengaja dimatikan khusus saat melihat nama Sarwono muncul.

*****

Suatu sore, Sarwono memutuskan untuk ngapel tapi lewat jalan memutar yang sangat jauh hingga puluhan kilometer menjelajah Alas Jati Margasari—tempat yang bagi warga desa dianggap angker. Banyak cerita soal suara aneh, bayangan meloncat di pohon, dan kuntilanak yang suka numpang naik motor orang.  Kali aja dengan cara itu Kasri luluh.

“Dhemi Kasri langka sing tak wedeni. Kuntilanak bae tak bonceng, sing penting Kasri gelem ngladheni.”

(Demi Kasri tidak ada yang aku takuti. Kuntilanak saja aku bonceng, yang penting Kasri mau menanggapi.)

Ia pun berangkat.

Motor tua itu menderu pelan, lampunya redup seperti lampu senter kehabisan baterai. Sepanjang jalan ia berkeringat dingin, tapi tetap maju.

Sampai depan rumah Kasri… seperti biasa, Kasri tidak muncul.

Yang muncul malah Bapaknya Kasri, kali ini sambil membawa sapu ijuk.

“Sarwono! Kowen ora kapok-kapok ya?! Ari terus-terusan ngapel nang kene, tak sabet temenan gyeh!”

(Sarwono! Kamu tidak kapok-kapok ya?! kalau terus-terusan ngapel di sini, aku pukul beneran nihh!)

Sarwono hanya bisa kabur sambil ngedumel.

“Ya Allah… wong nyong pan dolan tok. Cintane nyong tulus ka diwales sapu ijuk.”

(Ya Allah… aku hanya mau main. Cintaku tulus kenapa dibalas sapu ijuk.)

*****

Suatu malam, Sarwono duduk di gardu pos ronda. Ia sedang melamun sambil memandangi cicak di langit-langit.

“Ning apa ya Kasri ora gelem? Nyong pancen durung kerja… esih nganggur. Tapi bapane nyong kan sugih! Dunyane mambrah-mambrah. Duite sehaha haha... Warisane akeeeeh nemen…”

(Kenapa ya Kasri tidak mau? Aku memang belum kerja… masih pengangguran. Tapi bapakku kan kaya! hartanya melimpah ruah. Uangnya sangat banyak tak terhitung. Warisannya banyaaaak banget…)

Ia bicara sendiri sampai kawan-kawannya datang.

“Won, kowen ngomong karo cecek?” tanya Paijo.

(Won, kamu bicara sama cicak?)

Sarwono kaget. “Lah, kowen Jo? Apa kowen krungu kabeh?”

(Loh, kamu Jo? Apa kamu mendengar semua?)

“Krungu Won. Kowen bar ngaku ari andhelanmu mung warisan.” Paijo tertawa.

(Aku dengar Won. Kamu habis mengakui kalau andalanmu hanya warisan.)

Sarwono ngusap dada. “Lah, wong bener ka!!. Ari warisane nyong cair, Kasri pan tak jak  tuku gelang, kalung rante, angkot, ruko, nganti umah prumnas! anggepe nyong guyonan apa?”

(Loh, memang benar kok!!. kalau nanti warisanku sudah cair, Kasri akan aku ajak beli gelang, kalung rante, angkot, ruko, sampai rumah Perumnas! kamu anggap aku hanya bercanda ya?)

Paijo cuma geleng-geleng. “Toli warisane kapan caire?”

(Lalu warisanmu kapan cairnya?)

Sarwono terdiam. “Ya… mengko lah… angger Bapane nyong gim”

(Ya...nantilah....kalau Bapakku sudah meninggal)

Paijo dan kawan-kawan tertawa sampai miring-miring.

*****

Kegagalan demi kegagalan tidak membuat Sarwono menyerah. Ia mencoba rute baru walaupun jauhnya tidak ketulungan untuk mengapel Kasri: lewat Guci berendam dulu di pancuran 13 yang airnya panas dan banyak khasiatnya, lewat Yomani, walaupun sebenarnya rumah Kasri hanya berjarak beberapa gang.

Tapi tetap saja.

Kadang Bapaknya Kasri mengusir.
Kadang Kasri pura-pura tidak ada di rumah.
Kadang angsa tetangga mengejar.

*****

Suatu sore, ketika Sarwono sedang membenahi motornya, Kasri tiba-tiba lewat depan rumahnya.

Sarwono langsung bangun, menepuk-nepuk baju agar tampak rapi.

“Kasri! Kasri! Kowen nggolet sing kaya apa dhonge?”

(Kasri! Kasri! Kamu sebenarnya mencari cowok yang kaya apa sih?)

Kasri berhenti. Untuk pertama kali ia menatap Sarwono lama.

“Won… kowen kuwe apik. Tapi kowen medeni.”

(Won...Kamu itu cakep. Tapi kamu menakutkan)

“Medeni?  Lah kowen ngomong apa sih?” tanya Sarwono bingung.

(Menakutkan? Loh kamu bicara apa sih?)

Kasri mendesah. “Saben minggu kowen ngapel, saben dina kowen we'a, telepon, miskol. Nyong dadi wedi, Won. Nyong ngrasa kaya diudag-udag Dheb kolektor.”

(Tiap  minggu kamu apel, tiap hari kamu kirim whatsapp, telepon, miskol. Aku jadi takut, Won. Aku merasa seperti dikejar-kejar debt collector.)

Sarwono terdiam, tersinggung sedikit. “Lah… wong nyong cinta niba tangi ka. Apa salah?”

(Loh… Aku kan memang cinta jatuh bangun. Apa salah?)

“Salahe… kowen terlalu maksa. Nganti bapane nyong jengkel. Nganti tangga melu resah.”

(Salahnya… kamu terlalu memaksa. Sampai bapakku  jengkel. Sampai tetangga ikut resah.)

Sarwono memandang tanah. Untuk pertama kali ia merasa dirinya mungkin memang berlebihan.

Kasri melunak. “Won… Nyong durung kepikiran pacaran. Nyong pan pokus ngrewangi mane nggawe jajan pesenan karo sing didol ning pasar.”

 (Won… aku belum terpikir untuk pacaran. aku akan fokus membantu ibu membuat kue pesanan dan yang dijual di pasar.)

Sarwono mengangguk pelan. “Lah terus kowen pan ndhein nyong kesempatan apa ora?”

(Loh terus kamu akan memberiku kesempatan apa tidak?)

Kasri tersenyum tipis.

“Angger kowen bisa kerja… duwe tujuan urip… ora mung ngandhalna warisan… ndhean tah nyong bisa mandheng kowen nganggo cara liyane.”

(Kalau kamu bisa bekerja… punya tujuan hidup… tidak hanya mengandalkan warisan… mungkin aku bisa melihatmu dengan cara lain)

Sarwono terpaku. Kata-kata itu seperti petir menyambar, tapi sambaran yang baik.

*****

Sejak hari itu, Sarwono berubah.

Ia berhenti mengapel tiap minggu. Ia berhenti membanjiri Whatsapp Kasri. Ia berhenti lewat Guci, Yomani, dan Alas Jati hanya untuk melihat pagar rumah Kasri.

Ia mulai bekerja di bengkel kecil milik pamannya. Awalnya cuma disuruh nyapu dan mencuci motor, tapi lama-lama ia belajar memperbaiki mesin.

Bahkan ia mulai jarang pakai parfum yang aromanya menusuk hingga satu kecamatan.

Beberapa bulan kemudian, Sarwono jadi seperti pemuda baru. Kulitnya tak sepucat dulu, badannya tak seloyo dulu, dan dompetnya—meski belum tebal—sudah tidak kosong.  Hidupnya penuh semangat menyongsong masa depan.

Suatu pagi sebelum berangkat ke bengkel, ia bertemu Kasri di pasar Cilunglung.

Kasri tersenyum. “Sarwono… kowen wis berubah ya?”

(Sarwono… kamu sudah berubah ya?)

Sarwono juga tersenyum. “Ya… soale nyong saiki ngerti. Cinta kuwe ora cukup nganggo puasa Senen-Kemis karo janji-janji warisan.”

(Ya… soalnya aku sekarang mengerti. Cinta itu tidak hanya cukup dengan puasa Senin-Kamis dan janji-janji warisan.)

Kasri tertawa kecil. “Pinter saiki.”

(Cerdas Sekarang)

Sarwono menarik napas panjang. “Kasri… kowen gelem ora… kenalan ulang karo nyong?”

(Kasri… kamu mau tidak… kenalan ulang dengan aku ?)

Kasri mengangguk perlahan tersipu malu. “Olih....”

(Boleh....)

Sarwono tersenyum lebar. Tapi dalam hati ia berjanji:
“Saiki nyong mereki Kasri karo umpul-umpul, dudu karo angan-angan warisan.”

(Sekarang aku mendekati Kasri sambil menabung, bukan dengan berkhayal dapat warisan.)

Dan sejak itu, desa Dukuhturi mengenang perubahan Sarwono sebagai salah satu kisah paling lucu sekaligus mengharukan: seorang pemuda yang dulu mengandalkan warisan belum cair, kini mengandalkan kerja keras dan wangi parfum manusiawi.

TAMAT

Depok, 13 Desember 2025

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)