Memoar Spiritual - Sapaan yang Menjadi Ziarah

 


Bagian I — Sapaan

Pagi itu, awal tahun 1993, hujan turun tanpa bertanya. Ia mengguyur desa sejak malam, membuat tanah menghitam, parit-parit meluap, dan jalanan berubah menjadi alur air yang mengalir pelan namun pasti. Embun masih menggantung di ujung daun ketika aku mengayuh sepeda tuaku, menembus udara dingin yang menyisakan bau tanah basah. Langit pucat, seperti wajah seseorang yang belum sepenuhnya terjaga dari mimpi.

Jarak ke sekolah di kota tidak pernah terasa ringan. Dua belas kilometer adalah ukuran yang cukup untuk membuat tubuh lelah, tetapi tidak pernah cukup untuk menghentikanku. Ada sesuatu dalam gerak mengayuh itu—ritme berulang yang membuat pikiranku melayang. Tentang masa depan yang samar, tentang hidup yang terasa harus segera dijalani meski belum sepenuhnya dipahami.

Air menggenang di beberapa bagian jalan. Aku mengurangi kecepatan, menahan keseimbangan agar tidak tergelincir. Di antara deret rumah sederhana yang berdiri rapat di pinggir jalan, pandanganku tertumbuk pada satu teras. Dari sana, seorang gadis berdiri. Tubuhnya kecil, rambutnya terikat rapi, dan wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kanak-kanak yang belum sepenuhnya dilepas.

“Hai, berangkat, Kak?”

Suaranya ringan, jernih, seperti sesuatu yang jatuh tepat di permukaan air yang tenang. Sapaan itu sederhana—tidak mengandung maksud apa-apa, tidak pula meminta balasan. Ia hanya sebuah tanda keberadaan.

Aku menoleh sekilas. Dalam sepersekian detik, wajah itu terekam di kepalaku, lalu menghilang lagi bersama gerak sepedaku yang terus melaju. Aku tidak menjawab. Bukan karena aku sengaja bersikap dingin, melainkan karena aku belum terbiasa disapa oleh seseorang yang belum kukenal sebagai bagian dari hariku.

Aku mengayuh terus, meninggalkan teras itu, meninggalkan suara itu. Dan aku tidak tahu, bahwa dalam diamku, ada perasaan kecil yang tersentuh—seperti benih yang jatuh ke tanah basah tanpa disadari.

Beberapa hari kemudian, sapaan itu kembali hadir dalam bentuk lain. Kakaknya menyampaikan dengan nada setengah menggoda, setengah menegur, bahwa adiknya kesal karena aku tidak menjawab salam. Mendengar itu, dadaku menghangat oleh rasa yang aneh: bersalah, tetapi juga terkejut bahwa sapaan sekecil itu ternyata disimpan.

Aku mencari waktu untuk datang kembali. Bukan untuk menjelaskan panjang lebar, hanya untuk meminta maaf. Ketika aku akhirnya berdiri di hadapannya, kata-kata itu keluar pelan, nyaris ragu. Ia mendengarkan, lalu tersenyum. Senyum yang sederhana, tanpa sisa kesal, seolah tak pernah ada jarak yang perlu dipulihkan.

Sejak hari itu, aku mulai mengenalnya. Perlahan. Dengan cara-cara kecil yang hampir tak pantas disebut usaha. Meminta tolong hal-hal sepele. Menunggu kesempatan untuk berbincang sebentar. Mendengar tawanya yang ringan, melihat caranya menunduk ketika malu.

Kami tidak menyebut apa pun. Tidak ada cinta, tidak ada janji. Yang ada hanyalah kehadiran. Aku datang sebagai kakak, dan ia menerima sebagai adik. Sebutan itu terasa cukup, bahkan terasa benar. Ia memberi ruang bagiku untuk menjaga tanpa menuntut, dan aku memberi ruang baginya untuk tumbuh tanpa merasa diikat.

Aku belum tahu ke mana semua ini akan berjalan. Aku bahkan belum berani bertanya pada diriku sendiri apa arti rasa hangat yang mulai tinggal diam-diam di dada. Yang kutahu hanya satu: sejak sapaan di pagi banjir itu, langkah hidupku pelan-pelan berubah arah.

Dan sering kali, cinta memang tidak datang sebagai sesuatu yang besar. Ia datang sebagai sapaan kecil— yang baru bertahun-tahun kemudian kita sadari telah membuka jalan panjang yang tak pernah benar-benar pergi.

Bagian II — Menjaga 

Tahun-tahun setelah sapaan itu berjalan pelan, seperti langkah orang yang sengaja tidak ingin tiba terlalu cepat. Aku mulai memahami bahwa kehadiranku dalam hidup Hapsari bukan untuk menang atasnya, melainkan untuk menjaganya.

Ia tumbuh, setahun demi setahun, dengan caranya sendiri. Seragamnya berganti, rambutnya semakin panjang, suaranya tak lagi kanak-kanak. Dan bersamaan dengan itu, aku belajar satu hal yang paling sulit bagi lelaki muda: menahan diri.

Saat itu aku tidak pernah berkata bahwa aku mencintainya. Bahkan kepada diriku sendiri, kata itu jarang kuucapkan. Yang ada hanyalah kewaspadaan—agar perhatianku tidak berubah menjadi tuntutan baginya, agar kasih sayangku tidak menjelma menjadi beban.

Aku hadir ketika ia kesulitan pelajaran. Aku menulis puisi kecil saat ia bersedih, bukan untuk membuatnya jatuh hati, melainkan agar ia tahu bahwa kesedihannya sah. Bahwa jatuh bangun dengan pelajaran sekolah bukanlah kelemahan. Bahwa ada orang dewasa yang melihatnya sebagai manusia utuh—bukan sekadar anak kecil yang dituntut selalu kuat.

Di masa itu, aku sering merasa bersalah tanpa sebab. Bersalah karena terlalu peduli. Bersalah karena terlalu paham perubahan raut wajahnya. Bersalah karena dunia belum siap memahami bentuk hubungan seperti ini—dan mungkin aku pun belum.

Aku memilih menjaga jarak yang sehat. Tidak setiap hari bertanya. Tidak selalu muncul. Aku ingin ia belajar berjalan tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.

Ketika ia diterima di sekolah kejuruan negeri, aku bangga—namun tidak berdiri di barisan terdepan. Aku hanya menyiapkan sebuah puisi, lalu memberikannya tanpa dibacakan. Aku ingin ia membaca sendiri jawabanku atas pertanyaan yang sering ia ulangi: siapa aku baginya.

Jawabannya tidak kutulis sebagai klaim, melainkan sebagai doa.

Aku tidak tahu ke mana waktu akan membawa kami. Yang kutahu hanya satu: jika aku benar mencintainya, maka tugas utamaku bukan memiliki, melainkan memastikan ia sampai pada kedewasaannya dengan selamat.

Dan dalam menjaga itulah, tanpa kusadari, aku sendiri sedang ditempa—belajar menjadi lelaki yang kelak pantas berjalan di sampingnya, bukan di depannya, bukan pula di belakangnya.

Menjaga ternyata bukan soal bertahan, tapi tentang tahu kapan harus diam, kapan harus menjauh, dan kapan cukup mendoakan dari jauh.

Bagian III — Menunggu 

Menunggu adalah pelajaran yang tidak pernah diajarkan secara resmi, tetapi harus dijalani dengan seluruh tubuh dan jiwa.

Tahun 1999, hidup mulai menjauhkan kami secara fisik. Aku berangkat ke Jepang sebagai trainee. Hapsari tinggal, menata hari-harinya sendiri, menyelesaikan tugas studinya sendiri, dan belajar menjadi perempuan dewasa tanpa sandaran yang kasatmata. Jarak bukan hanya bentangan geografis, tetapi juga ujian batin: apakah rasa ini akan menguap, atau justru mengendap menjadi iman.

Di Osaka, hidupku berjalan dengan ritme yang keras dan disiplin. Pabrik, asrama, jadwal, dan bahasa asing membuat hari-hari terasa mekanis. Namun setiap kali sore turun dan aku berdiri di stasiun—Tennoji, atau stasiun-stasiun kecil yang tak pernah ia kenal—aku selalu merasa sedang mengulang adegan lama: menunggu seseorang yang tidak akan turun dari kereta itu.

Aku menulis. Puisi. Surat. Kadang catatan kecil yang tak selalu kukirim. Bukan karena ragu, melainkan karena aku ingin kata-kata itu matang terlebih dahulu. Aku tak ingin membebani Hapsari dengan harapan yang belum tentu bisa ia penuhi. Maka menunggu bagiku adalah menata diri: menyelesaikan diriku sendiri sebelum meminta ia menungguku.

Sementara itu, di tanah air, Hapsari belajar berdiri dengan kakinya sendiri. Ia tidak hidup dalam bayanganku. Ia tumbuh. Ia ditempa oleh dunia nyata, oleh keputusan-keputusan kecil yang membentuk keberanian. Dan justru di sanalah aku merasa tenang: bahwa ia tidak menungguku dengan pasrah, melainkan berjalan sejajar dalam garis waktu yang berbeda.

Kami jarang membicarakan masa depan secara gamblang. Tidak ada janji berlebihan. Yang ada hanyalah kesetiaan sunyi: doa yang saling berpapasan tanpa saling memaksa. Aku belajar bahwa cinta dewasa tidak selalu hadir sebagai percakapan panjang, tetapi sebagai keyakinan diam yang tidak tergoyahkan oleh jarak.

Tahun-tahun itu mengajarkanku satu hal penting: menunggu bukanlah kekosongan, melainkan proses pemurnian. Rasa yang tak diuji jarak mudah menjadi nafsu. Tetapi rasa yang sanggup bertahan dalam sepi akan berubah menjadi niat.

Ketika masa trainee hampir usai, aku pulang dengan tubuh yang lebih letih, tetapi jiwa yang lebih tertata. Aku tidak membawa keberhasilan besar, tidak pula janji manis. Yang kubawa hanyalah satu keyakinan sederhana: jika cinta ini memang ditakdirkan, ia akan menemukan jalannya sendiri—tanpa harus dikejar, tanpa perlu dipaksa.

Dan Hapsari masih di sana.

Bukan sebagai gadis yang menunggu, melainkan sebagai perempuan yang telah siap berjalan bersama.

Di titik itulah aku sadar: masa menunggu telah selesai. Bukan karena jarak menghilang, tetapi karena kami berdua telah sampai pada kesiapan yang sama


Bagian IV — Menyatu 

Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang ia hanya berarti kembali menjadi diri sendiri. Tahun-tahun awal dua ribuan adalah tahun ketika jarak mulai memendek, bukan hanya secara geografis, tetapi juga batin. Setelah masa menunggu yang panjang, hubungan itu tak lagi disusun dari rindu dan doa semata, melainkan dari keberanian mengambil keputusan.

Pertemuan kami kembali tidak dirayakan dengan gegap gempita. Tidak ada pelukan, tidak ada janji yang diucapkan tergesa. Yang ada hanyalah kesadaran sunyi: bahwa waktu telah mengajari kami siapa diri masing-masing, dan apa yang pantas dipertahankan. Hapsari bukan lagi gadis kecil yang perlu perlindungan, dan aku bukan lagi lelaki yang sekadar menjaga dari jauh. Kami telah bertumbuh—sendiri-sendiri—dan kini berdiri sejajar.

Percakapan demi percakapan berlangsung sederhana. Tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang rencana hidup yang tidak lagi mengawang. Dalam kesederhanaan itu, cinta menemukan bentuknya yang baru: tidak lagi meminta bukti, tidak lagi menuntut pengakuan, melainkan hadir sebagai kesediaan untuk berjalan bersama, dengan sadar dan utuh.

Keputusan untuk menikah lahir tanpa dramatika. Ia hadir seperti fajar—pelan, pasti. Ada restu orang tua, ada doa yang dipanjatkan diam-diam, ada kegugupan yang manusiawi. Tetapi yang paling kuat adalah keyakinan: bahwa cinta yang telah ditempa oleh jarak, waktu, dan kesabaran, tidak mudah goyah oleh kenyataan hidup.

Tahun-tahun setelah pernikahan bukan tanpa tantangan. Hidup menghadirkan tanggung jawab baru, lelah yang berbeda, dan kompromi yang tak selalu mudah. Namun justru di sanalah makna menyatu diuji. Bukan tentang selalu sejalan, melainkan tentang memilih kembali satu sama lain, setiap hari.

Hapsari menjadi rumah—bukan tempat berlindung dari dunia, tetapi ruang untuk kembali setelah menghadapi kerasnya kehidupan. Dan aku belajar bahwa mencintai adalah kerja panjang: merawat, mendengar, dan menundukkan ego. Dalam kesatuan itu, tidak ada yang kehilangan diri; yang ada justru dua insan yang saling menguatkan iman dan tujuan.

Menjelang akhir dekade itu, aku menyadari sesuatu yang sederhana namun mendalam: bahwa perjalanan cinta kami tidak pernah berakhir hanya pada kepemilikan, melainkan pada pengabdian. Menyatu bukan berarti melebur hingga hilang, tetapi bertaut tanpa saling meniadakan.

Dan di sanalah kami berdiri—bukan sebagai kisah yang sempurna, tetapi sebagai dua manusia yang memilih untuk tetap bersama, dengan segala kekurangan, menuju waktu yang terus berjalan.

Bagian V — Ziarah 

Waktu tidak lagi berjalan sebagai hitungan tahun, melainkan sebagai amanah yang harus ditunaikan. Setelah menyatu, hidup kami tidak selalu ringan, namun selalu nyata. Kami belajar bahwa cinta bukan lagi tentang saling menunggu, melainkan tentang saling menguatkan saat masing-masing diuji oleh arah hidupnya sendiri.

Tahun-tahun berlalu diisi dengan kerja, pengabdian, dan kesunyian kecil yang sering luput dicatat. Ada pagi-pagi yang dimulai dengan lelah, ada malam-malam yang ditutup dengan doa pendek karena tubuh terlalu letih untuk berbicara panjang. Dalam rutinitas itulah cinta kami berdiam—tidak menggelegar, tapi bertahan.

Kami belajar menjadi orang tua bagi anak kami, belajar menahan ego, belajar mengalah tanpa merasa kalah. Hapsari tidak lagi hanya gadis yang menyapaku di pagi banjir; ia adalah rumah tempat aku kembali, tempat aku belajar rendah hati. Dan aku tidak lagi hanya kakak yang menjaga; aku adalah imam yang harus terlebih dahulu belajar tunduk.

Di sela-sela hidup yang padat, ada satu doa yang tak pernah benar-benar pergi: berangkat ziarah bersama. Bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan pulang. Kami menyebutnya pelan-pelan, nyaris seperti rahasia yang hanya boleh diucapkan dalam sujud.

Hingga akhirnya, Allah mengizinkan.

Tahun 2024 di musim haji, kami berdiri di Tanah Suci. Tidak muda lagi, tidak pula polos seperti dulu. Kami datang membawa luka-luka kecil yang telah sembuh, dan luka-luka besar yang telah kami terima sebagai bagian dari diri. Di Makkah, kami kembali menjadi dua insan yang berjalan berdampingan—seperti dulu, namun dengan makna yang jauh lebih dalam.

Di antara thawaf dan sa’i, aku merasakan kembali getaran yang pernah ada di stasiun, di peron, di jalan banjir: rasa ingin menjaga. Namun kini, menjaga bukan lagi dari jauh, melainkan dalam satu langkah.

Saat aku memotong helai rambut Hapsari setelah ibadahnya selesai, aku tahu: cinta kami telah menempuh satu lingkaran penuh. Dari sapaan sederhana, penjagaan yang diam, penantian yang panjang, penyatuan yang dewasa, hingga akhirnya berangkat bersama memenuhi panggilan Allah SWT.

Tidak ada janji baru yang kami ucapkan malam itu. Sebab semua janji telah diuji oleh waktu. Yang tersisa hanyalah syukur.

Dan dalam sunyi Tanah Haram, aku mengerti satu hal: cinta yang benar tidak berhenti pada memiliki, tetapi pada mengantarkan—hingga sejauh yang Allah izinkan.

Epilog — Setelah Waktu

Setelah semua tahun itu lewat, aku baru mengerti: waktu bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan sahabat yang pelan-pelan mengajari kami cara mencintai dengan benar.

Aku sering kembali mengingat pagi banjir itu—sapaan yang tak kujawab, langkah sepeda yang tergesa, dan satu suara kecil yang hampir hanyut tanpa makna. Andai waktu bisa diulang, mungkin aku akan berhenti lebih lama. Tapi mungkin justru karena aku tak berhenti, kisah ini menemukan jalannya sendiri.

Hapsari bukan lagi gadis kecil yang menunggu di teras rumah. Ia adalah perempuan yang berjalan di sampingku, membawa separuh doaku dan separuh lelahku. Dan aku bukan lagi kakak yang menjaga dari jauh; aku adalah manusia yang terus belajar layak untuk dipercaya.

Kami telah melewati banyak stasiun. Sebagian kami tinggalkan tanpa menoleh, sebagian lain kami kenang dengan senyum yang diam. Tidak semua perjalanan perlu diceritakan, karena ada cinta yang justru tumbuh paling jujur dalam sunyi.

Jika ada yang bertanya apa arti kisah ini, aku tidak akan menyebutnya tentang kebetulan. Aku akan menyebutnya tentang kesetiaan kecil yang terus dipilih—setiap hari, dalam bentuk yang paling sederhana.

Dan jika suatu saat kisah ini dibaca oleh siapa pun yang sedang menunggu, menjaga, atau ragu melangkah, biarlah ia menjadi saksi: bahwa cinta yang sabar tidak pernah benar-benar tertinggal oleh waktu.

Ia hanya berjalan lebih pelan.

TAMAT

Depok, 20 Januari 2026

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)