Memoar Spiritual - Sapaan yang Menjadi Ziarah
Bagian I — Sapaan
Pagi itu, awal tahun 1993, hujan turun tanpa bertanya. Ia mengguyur desa sejak malam, membuat tanah menghitam, parit-parit meluap, dan jalanan berubah menjadi alur air yang mengalir pelan namun pasti. Embun masih menggantung di ujung daun ketika aku mengayuh sepeda tuaku, menembus udara dingin yang menyisakan bau tanah basah. Langit pucat, seperti wajah seseorang yang belum sepenuhnya terjaga dari mimpi.
Jarak ke sekolah di kota tidak pernah terasa ringan. Dua belas kilometer adalah ukuran yang cukup untuk membuat tubuh lelah, tetapi tidak pernah cukup untuk menghentikanku. Ada sesuatu dalam gerak mengayuh itu—ritme berulang yang membuat pikiranku melayang. Tentang masa depan yang samar, tentang hidup yang terasa harus segera dijalani meski belum sepenuhnya dipahami.
Air menggenang di beberapa bagian jalan. Aku mengurangi kecepatan, menahan keseimbangan agar tidak tergelincir. Di antara deret rumah sederhana yang berdiri rapat di pinggir jalan, pandanganku tertumbuk pada satu teras. Dari sana, seorang gadis berdiri. Tubuhnya kecil, rambutnya terikat rapi, dan wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kanak-kanak yang belum sepenuhnya dilepas.
“Hai, berangkat, Kak?”
Suaranya ringan, jernih, seperti sesuatu yang jatuh tepat di permukaan air yang tenang. Sapaan itu sederhana—tidak mengandung maksud apa-apa, tidak pula meminta balasan. Ia hanya sebuah tanda keberadaan.
Aku menoleh sekilas. Dalam sepersekian detik, wajah itu terekam di kepalaku, lalu menghilang lagi bersama gerak sepedaku yang terus melaju. Aku tidak menjawab. Bukan karena aku sengaja bersikap dingin, melainkan karena aku belum terbiasa disapa oleh seseorang yang belum kukenal sebagai bagian dari hariku.
Aku mengayuh terus, meninggalkan teras itu, meninggalkan suara itu. Dan aku tidak tahu, bahwa dalam diamku, ada perasaan kecil yang tersentuh—seperti benih yang jatuh ke tanah basah tanpa disadari.
Beberapa hari kemudian, sapaan itu kembali hadir dalam bentuk lain. Kakaknya menyampaikan dengan nada setengah menggoda, setengah menegur, bahwa adiknya kesal karena aku tidak menjawab salam. Mendengar itu, dadaku menghangat oleh rasa yang aneh: bersalah, tetapi juga terkejut bahwa sapaan sekecil itu ternyata disimpan.
Aku mencari waktu untuk datang kembali. Bukan untuk menjelaskan panjang lebar, hanya untuk meminta maaf. Ketika aku akhirnya berdiri di hadapannya, kata-kata itu keluar pelan, nyaris ragu. Ia mendengarkan, lalu tersenyum. Senyum yang sederhana, tanpa sisa kesal, seolah tak pernah ada jarak yang perlu dipulihkan.
Sejak hari itu, aku mulai mengenalnya. Perlahan. Dengan cara-cara kecil yang hampir tak pantas disebut usaha. Meminta tolong hal-hal sepele. Menunggu kesempatan untuk berbincang sebentar. Mendengar tawanya yang ringan, melihat caranya menunduk ketika malu.
Kami tidak menyebut apa pun. Tidak ada cinta, tidak ada janji. Yang ada hanyalah kehadiran. Aku datang sebagai kakak, dan ia menerima sebagai adik. Sebutan itu terasa cukup, bahkan terasa benar. Ia memberi ruang bagiku untuk menjaga tanpa menuntut, dan aku memberi ruang baginya untuk tumbuh tanpa merasa diikat.
Aku belum tahu ke mana semua ini akan berjalan. Aku bahkan belum berani bertanya pada diriku sendiri apa arti rasa hangat yang mulai tinggal diam-diam di dada. Yang kutahu hanya satu: sejak sapaan di pagi banjir itu, langkah hidupku pelan-pelan berubah arah.
Dan sering kali, cinta memang tidak datang sebagai sesuatu yang besar. Ia datang sebagai sapaan kecil— yang baru bertahun-tahun kemudian kita sadari telah membuka jalan panjang yang tak pernah benar-benar pergi.
Bagian II — Menjaga
Tahun-tahun setelah sapaan itu berjalan pelan, seperti langkah orang yang sengaja tidak ingin tiba terlalu cepat. Aku mulai memahami bahwa kehadiranku dalam hidup Hapsari bukan untuk menang atasnya, melainkan untuk menjaganya.
Ia tumbuh, setahun demi setahun, dengan caranya sendiri. Seragamnya berganti, rambutnya semakin panjang, suaranya tak lagi kanak-kanak. Dan bersamaan dengan itu, aku belajar satu hal yang paling sulit bagi lelaki muda: menahan diri.
Saat itu aku tidak pernah berkata bahwa aku mencintainya. Bahkan kepada diriku sendiri, kata itu jarang kuucapkan. Yang ada hanyalah kewaspadaan—agar perhatianku tidak berubah menjadi tuntutan baginya, agar kasih sayangku tidak menjelma menjadi beban.
Aku hadir ketika ia kesulitan pelajaran. Aku menulis puisi kecil saat ia bersedih, bukan untuk membuatnya jatuh hati, melainkan agar ia tahu bahwa kesedihannya sah. Bahwa jatuh bangun dengan pelajaran sekolah bukanlah kelemahan. Bahwa ada orang dewasa yang melihatnya sebagai manusia utuh—bukan sekadar anak kecil yang dituntut selalu kuat.
Di masa itu, aku sering merasa bersalah tanpa sebab. Bersalah karena terlalu peduli. Bersalah karena terlalu paham perubahan raut wajahnya. Bersalah karena dunia belum siap memahami bentuk hubungan seperti ini—dan mungkin aku pun belum.
Aku memilih menjaga jarak yang sehat. Tidak setiap hari bertanya. Tidak selalu muncul. Aku ingin ia belajar berjalan tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.
Ketika ia diterima di sekolah kejuruan negeri, aku bangga—namun tidak berdiri di barisan terdepan. Aku hanya menyiapkan sebuah puisi, lalu memberikannya tanpa dibacakan. Aku ingin ia membaca sendiri jawabanku atas pertanyaan yang sering ia ulangi: siapa aku baginya.
Jawabannya tidak kutulis sebagai klaim, melainkan sebagai doa.
Aku tidak tahu ke mana waktu akan membawa kami. Yang kutahu hanya satu: jika aku benar mencintainya, maka tugas utamaku bukan memiliki, melainkan memastikan ia sampai pada kedewasaannya dengan selamat.
Dan dalam menjaga itulah, tanpa kusadari, aku sendiri sedang ditempa—belajar menjadi lelaki yang kelak pantas berjalan di sampingnya, bukan di depannya, bukan pula di belakangnya.
Menjaga ternyata bukan soal bertahan, tapi tentang tahu kapan harus diam, kapan harus menjauh, dan kapan cukup mendoakan dari jauh.
Bagian III — Menunggu
Menunggu adalah pelajaran yang tidak pernah diajarkan secara resmi, tetapi harus dijalani dengan seluruh tubuh dan jiwa.
Tahun 1999, hidup mulai menjauhkan kami secara fisik. Aku berangkat ke Jepang sebagai trainee. Hapsari tinggal, menata hari-harinya sendiri, menyelesaikan tugas studinya sendiri, dan belajar menjadi perempuan dewasa tanpa sandaran yang kasatmata. Jarak bukan hanya bentangan geografis, tetapi juga ujian batin: apakah rasa ini akan menguap, atau justru mengendap menjadi iman.
Di Osaka, hidupku berjalan dengan ritme yang keras dan disiplin. Pabrik, asrama, jadwal, dan bahasa asing membuat hari-hari terasa mekanis. Namun setiap kali sore turun dan aku berdiri di stasiun—Tennoji, atau stasiun-stasiun kecil yang tak pernah ia kenal—aku selalu merasa sedang mengulang adegan lama: menunggu seseorang yang tidak akan turun dari kereta itu.
Aku menulis. Puisi. Surat. Kadang catatan kecil yang tak selalu kukirim. Bukan karena ragu, melainkan karena aku ingin kata-kata itu matang terlebih dahulu. Aku tak ingin membebani Hapsari dengan harapan yang belum tentu bisa ia penuhi. Maka menunggu bagiku adalah menata diri: menyelesaikan diriku sendiri sebelum meminta ia menungguku.
Sementara itu, di tanah air, Hapsari belajar berdiri dengan kakinya sendiri. Ia tidak hidup dalam bayanganku. Ia tumbuh. Ia ditempa oleh dunia nyata, oleh keputusan-keputusan kecil yang membentuk keberanian. Dan justru di sanalah aku merasa tenang: bahwa ia tidak menungguku dengan pasrah, melainkan berjalan sejajar dalam garis waktu yang berbeda.
Kami jarang membicarakan masa depan secara gamblang. Tidak ada janji berlebihan. Yang ada hanyalah kesetiaan sunyi: doa yang saling berpapasan tanpa saling memaksa. Aku belajar bahwa cinta dewasa tidak selalu hadir sebagai percakapan panjang, tetapi sebagai keyakinan diam yang tidak tergoyahkan oleh jarak.
Tahun-tahun itu mengajarkanku satu hal penting: menunggu bukanlah kekosongan, melainkan proses pemurnian. Rasa yang tak diuji jarak mudah menjadi nafsu. Tetapi rasa yang sanggup bertahan dalam sepi akan berubah menjadi niat.
Ketika masa trainee hampir usai, aku pulang dengan tubuh yang lebih letih, tetapi jiwa yang lebih tertata. Aku tidak membawa keberhasilan besar, tidak pula janji manis. Yang kubawa hanyalah satu keyakinan sederhana: jika cinta ini memang ditakdirkan, ia akan menemukan jalannya sendiri—tanpa harus dikejar, tanpa perlu dipaksa.
Dan Hapsari masih di sana.
Bukan sebagai gadis yang menunggu, melainkan sebagai perempuan yang telah siap berjalan bersama.
Di titik itulah aku sadar: masa menunggu telah selesai. Bukan karena jarak menghilang, tetapi karena kami berdua telah sampai pada kesiapan yang sama
Bagian IV — Menyatu
Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang ia hanya berarti kembali menjadi diri sendiri. Tahun-tahun awal dua ribuan adalah tahun ketika jarak mulai memendek, bukan hanya secara geografis, tetapi juga batin. Setelah masa menunggu yang panjang, hubungan itu tak lagi disusun dari rindu dan doa semata, melainkan dari keberanian mengambil keputusan.
Pertemuan kami kembali tidak dirayakan dengan gegap gempita. Tidak ada pelukan, tidak ada janji yang diucapkan tergesa. Yang ada hanyalah kesadaran sunyi: bahwa waktu telah mengajari kami siapa diri masing-masing, dan apa yang pantas dipertahankan. Hapsari bukan lagi gadis kecil yang perlu perlindungan, dan aku bukan lagi lelaki yang sekadar menjaga dari jauh. Kami telah bertumbuh—sendiri-sendiri—dan kini berdiri sejajar.
Percakapan demi percakapan berlangsung sederhana. Tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang rencana hidup yang tidak lagi mengawang. Dalam kesederhanaan itu, cinta menemukan bentuknya yang baru: tidak lagi meminta bukti, tidak lagi menuntut pengakuan, melainkan hadir sebagai kesediaan untuk berjalan bersama, dengan sadar dan utuh.
Keputusan untuk menikah lahir tanpa dramatika. Ia hadir seperti fajar—pelan, pasti. Ada restu orang tua, ada doa yang dipanjatkan diam-diam, ada kegugupan yang manusiawi. Tetapi yang paling kuat adalah keyakinan: bahwa cinta yang telah ditempa oleh jarak, waktu, dan kesabaran, tidak mudah goyah oleh kenyataan hidup.
Tahun-tahun setelah pernikahan bukan tanpa tantangan. Hidup menghadirkan tanggung jawab baru, lelah yang berbeda, dan kompromi yang tak selalu mudah. Namun justru di sanalah makna menyatu diuji. Bukan tentang selalu sejalan, melainkan tentang memilih kembali satu sama lain, setiap hari.
Hapsari menjadi rumah—bukan tempat berlindung dari dunia, tetapi ruang untuk kembali setelah menghadapi kerasnya kehidupan. Dan aku belajar bahwa mencintai adalah kerja panjang: merawat, mendengar, dan menundukkan ego. Dalam kesatuan itu, tidak ada yang kehilangan diri; yang ada justru dua insan yang saling menguatkan iman dan tujuan.
Menjelang akhir dekade itu, aku menyadari sesuatu yang sederhana namun mendalam: bahwa perjalanan cinta kami tidak pernah berakhir hanya pada kepemilikan, melainkan pada pengabdian. Menyatu bukan berarti melebur hingga hilang, tetapi bertaut tanpa saling meniadakan.
Dan di sanalah kami berdiri—bukan sebagai kisah yang sempurna, tetapi sebagai dua manusia yang memilih untuk tetap bersama, dengan segala kekurangan, menuju waktu yang terus berjalan.
Bagian V — Ziarah
Waktu tidak lagi berjalan sebagai hitungan tahun, melainkan sebagai amanah yang harus ditunaikan. Setelah menyatu, hidup kami tidak selalu ringan, namun selalu nyata. Kami belajar bahwa cinta bukan lagi tentang saling menunggu, melainkan tentang saling menguatkan saat masing-masing diuji oleh arah hidupnya sendiri.
Tahun-tahun berlalu diisi dengan kerja, pengabdian, dan kesunyian kecil yang sering luput dicatat. Ada pagi-pagi yang dimulai dengan lelah, ada malam-malam yang ditutup dengan doa pendek karena tubuh terlalu letih untuk berbicara panjang. Dalam rutinitas itulah cinta kami berdiam—tidak menggelegar, tapi bertahan.
Kami belajar menjadi orang tua bagi anak kami, belajar menahan ego, belajar mengalah tanpa merasa kalah. Hapsari tidak lagi hanya gadis yang menyapaku di pagi banjir; ia adalah rumah tempat aku kembali, tempat aku belajar rendah hati. Dan aku tidak lagi hanya kakak yang menjaga; aku adalah imam yang harus terlebih dahulu belajar tunduk.
Di sela-sela hidup yang padat, ada satu doa yang tak pernah benar-benar pergi: berangkat ziarah bersama. Bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan pulang. Kami menyebutnya pelan-pelan, nyaris seperti rahasia yang hanya boleh diucapkan dalam sujud.
Hingga akhirnya, Allah mengizinkan.
Tahun 2024 di musim haji, kami berdiri di Tanah Suci. Tidak muda lagi, tidak pula polos seperti dulu. Kami datang membawa luka-luka kecil yang telah sembuh, dan luka-luka besar yang telah kami terima sebagai bagian dari diri. Di Makkah, kami kembali menjadi dua insan yang berjalan berdampingan—seperti dulu, namun dengan makna yang jauh lebih dalam.
Di antara thawaf dan sa’i, aku merasakan kembali getaran yang pernah ada di stasiun, di peron, di jalan banjir: rasa ingin menjaga. Namun kini, menjaga bukan lagi dari jauh, melainkan dalam satu langkah.
Saat aku memotong helai rambut Hapsari setelah ibadahnya selesai, aku tahu: cinta kami telah menempuh satu lingkaran penuh. Dari sapaan sederhana, penjagaan yang diam, penantian yang panjang, penyatuan yang dewasa, hingga akhirnya berangkat bersama memenuhi panggilan Allah SWT.
Tidak ada janji baru yang kami ucapkan malam itu. Sebab semua janji telah diuji oleh waktu. Yang tersisa hanyalah syukur.
Dan dalam sunyi Tanah Haram, aku mengerti satu hal: cinta yang benar tidak berhenti pada memiliki, tetapi pada mengantarkan—hingga sejauh yang Allah izinkan.
Epilog — Setelah Waktu
Setelah semua tahun itu lewat, aku baru mengerti: waktu bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan sahabat yang pelan-pelan mengajari kami cara mencintai dengan benar.
Aku sering kembali mengingat pagi banjir itu—sapaan yang tak kujawab, langkah sepeda yang tergesa, dan satu suara kecil yang hampir hanyut tanpa makna. Andai waktu bisa diulang, mungkin aku akan berhenti lebih lama. Tapi mungkin justru karena aku tak berhenti, kisah ini menemukan jalannya sendiri.
Hapsari bukan lagi gadis kecil yang menunggu di teras rumah. Ia adalah perempuan yang berjalan di sampingku, membawa separuh doaku dan separuh lelahku. Dan aku bukan lagi kakak yang menjaga dari jauh; aku adalah manusia yang terus belajar layak untuk dipercaya.
Kami telah melewati banyak stasiun. Sebagian kami tinggalkan tanpa menoleh, sebagian lain kami kenang dengan senyum yang diam. Tidak semua perjalanan perlu diceritakan, karena ada cinta yang justru tumbuh paling jujur dalam sunyi.
Jika ada yang bertanya apa arti kisah ini, aku tidak akan menyebutnya tentang kebetulan. Aku akan menyebutnya tentang kesetiaan kecil yang terus dipilih—setiap hari, dalam bentuk yang paling sederhana.
Dan jika suatu saat kisah ini dibaca oleh siapa pun yang sedang menunggu, menjaga, atau ragu melangkah, biarlah ia menjadi saksi: bahwa cinta yang sabar tidak pernah benar-benar tertinggal oleh waktu.
Ia hanya berjalan lebih pelan.
TAMAT
Depok, 20 Januari 2026
