Memoar - Tiga Hari yang Panjang
Sidakaton, 19 Agustus 1994
Aku membaca surat itu di beranda rumah, sore yang lambat, dengan angin desa membawa bau tanah basah dan sisa panas matahari. Kertasnya tipis, tulisannya berlarian—seperti Hapsi kalau sedang bicara, tidak pernah mau berhenti di satu kalimat.
“Langsung aza yah … Mas.”
Aku tersenyum kecil. Nada itu. Nada yang hanya ia pakai padaku. Seolah aku duduk tepat di depannya, bukan berjarak beberapa kilometer dari bumi perkemahan di pinggir waduk Cacaban.
Namaku ia tulis berkali-kali. Terlalu sering, mungkin. Tapi justru di situlah aku merasa dipanggil, ditarik keluar dari liburanku yang sepi. Seakan ia takut aku pergi terlalu jauh bila tidak diikat oleh namaku sendiri.
Ia meminta jaket.
Bukan sekadar jaket, ternyata. Ia ingin jaket yang kupakai sebagai mahasiswa. Jaket yang—menurutnya—jaket UI, meski sebenarnya jaket angkatan Fisika '93. Jaket yang berat, tebal, dan hangat. Jaket yang sering kupakai malam-malam di puncak mengikuti rihlah, atau saat angin turun dari Gunung Salak.
Aku membaca kalimat itu pelan:
“Bila Mas Kais jaketnya tidak bisa ditukar sama jaketnya Dek Hapsi maka Mas Kais tidak sayang sama adiknya sendiri.”
Aku terdiam.
Ada sesuatu yang bergerak di dadaku—bukan marah, bukan juga tersinggung. Lebih seperti tersenyum yang tertahan, dicampur rasa aneh yang sulit diberi nama. Ia berani sekali. Atau justru terlalu polos untuk tahu bahwa kalimat itu seperti pisau kecil yang menyentuh perasaan.
Aku tahu ia bercanda. Tapi aku juga tahu: candanya tidak kosong.
Ia kedinginan, katanya. Jaketnya tipis. Malam di kemah tentu berbeda dengan malam di rumah. Aku membayangkannya duduk di antara tenda-tenda, api unggun kecil, suara teman-temannya riuh, sementara ia mungkin memeluk lutut, menunggu malam cepat lewat.
Dan entah kenapa, bayangan itu membuatku ingin benar-benar ada di sana.
Ia menulis tentang kemungkinan aku tak datang, lalu menyebut nama lain sebagai jalan keluar. Aku menangkapnya sebagai solusi, tapi juga sebagai pesan terselubung: aku tetap ingin jaketmu, meski bukan lewat tanganmu.
Namun bagian yang paling membuatku terdiam adalah penutupnya:
“SELAMAT TINGGAL MAS SELAMA 3 HARI
Jangan Menangis ! GOOD BYE”
Aku tersenyum lagi, kali ini lebih lama. Tiga hari, dan ia menulisnya seolah perpisahan panjang. Seolah dunia kecilnya akan berhenti sebentar tanpa aku di sana.
Aku melipat surat itu perlahan.
Saat itu aku tidak berpikir tentang cinta. Tidak juga tentang batas. Yang kupikirkan hanya satu hal sederhana: adikku kedinginan dan memintaku datang.
Dan sebagai seorang kakak, aku tahu aku akan datang.
Aku tidak tahu—belum tahu—bahwa di balik permintaan jaket itu, ada sesuatu yang kelak akan tumbuh lebih besar dari hangatnya kain tebal. Sesuatu yang belum berani bernama, tapi sudah mulai mencari bentuk.
Sore itu, aku masuk ke kamar, meraih jaketku, lalu menahannya sejenak di tangan—seolah menyiapkan diri sebelum benar-benar mengantarkannya.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya, jaket itu terasa bukan sekadar milikku.
Depok, Saat ini
Aku menyimpan surat itu bersama puluhan surat kami yang lain, di dalam sebuah peti harta karun sederhana—hanya kotak plastik—di rumah yang kini kami tinggali bersama. Kertasnya masih sama, tulisannya masih berlari-lari seperti dulu. Namun kali ini aku membacanya dengan senyum yang berbeda: senyum seseorang yang akhirnya sampai di tujuan.
Bertahun-tahun lalu, aku membaca surat ini sebagai seorang kakak. Hari ini, aku membacanya sebagai suami.
Dan aku mengerti semuanya.
Ia tidak sedang meminta jaket. Ia sedang meminta agar aku datang sebagai diriku—lengkap dengan kehangatan, keberanian, dan kehadiran. Jaket itu hanyalah bahasa yang ia punya waktu itu. Bahasa seorang gadis yang belum boleh jujur pada dunia, tapi sudah jujur pada perasaannya sendiri.
Aku tersenyum saat membaca ancaman kecilnya:
“kalau tidak ditukar, berarti tidak sayang.”
Kini aku tahu, itu bukan tuntutan. Itu adalah keyakinan polos bahwa cinta selalu bisa dibuktikan dengan datang.
Ia menuliskan namaku berkali-kali, seolah takut aku menguap jika tidak dipanggil. Dan aku baru sadar: sejak awal, ia memanggilku bukan untuk tinggal di kemah itu, melainkan untuk tinggal di hidupnya.
Bagian penutupnya—tentang tiga hari perpisahan—kini terasa seperti latihan kecil yang berhasil kami lewati. Kami telah melalui perpisahan yang jauh lebih panjang, sunyi yang lebih dingin, dan rindu yang tidak lagi bisa dititipkan lewat jaket. Tapi kami tetap kembali.
Aku menutup surat itu dan menoleh ke arahnya. Dia mungkin sedang di dapur, atau di kamar, melakukan hal-hal sederhana yang kini menjadi rumah. Aku ingin memanggilnya “De Hapsi” lagi, seperti dulu, tapi dia menoleh dengan senyum seorang istri—dan aku tahu, semua nama akhirnya menyatu di satu panggilan yang utuh.
Jaket itu kini hanya cerita. Tapi kehangatan yang dia minta saat itu, tanpa disadari, telah menjadi hidup yang kami bangun bersama.
Jika dulu aku datang membawa jaket, hari ini aku tinggal membawa diriku—dan tidak pergi lagi.
Aku melipat surat itu dengan hati yang lapang.
Bukan untuk dikenang, melainkan untuk disyukuri.
Karena ternyata, cinta yang baik memang sering dimulai dengan cara yang sederhana:
seseorang kedinginan, dan seseorang lain memilih datang.
