Cerpen Sains - Dalam Batas Ketidakpastian
Depok, 1995. Suara mesin Bus Kuning yang menderu dan bau khas kursi vinil menjadi rutinitas harianku sebagai mahasiswa tahun ketiga Fisika Universitas Indonesia. Kosanku di Kukusan, tepat di belakang kampus, adalah markas kecil di mana buku-buku teks tebal karya Halliday-Resnick berserakan dengan catatan rumus yang belum tuntas.
Untuk menambah uang saku, aku menjadi guru les privat di sebuah lembaga bimbingan belajar ternama. Muridku tersebar dari Kembangan hingga Depok, namun rute favoritku adalah daerah Pondok Labu dan Lebak Bulus. Di sanalah aku bertemu Ariani—atau yang akrab kupanggil Ani.
Ani adalah siswi kelas 3 SMA yang sedang berjuang menghadapi hantu bernama EBTANAS dan UMPTN. Rumahnya berada di sebuah perumahan asri di Lebak Bulus, tak jauh dari lokasi syuting Si Doel Anak Sekolahan. Setiap kali aku melewatinya dengan angkot, aku sering membayangkan betapa sederhananya masalah hidup Si Doel dibandingkan kerumitan mekanika kuantum yang sedang kupelajari.
Analogi di Atas Meja Belajar
Memasuki bulan kedua, sesi belajar kami berubah. Jika sebelumnya hanya ada deretan rumus gerak lurus atau hukum Newton, kini ada jeda di akhir sesi untuk bertukar cerita. Sore itu, udara Lebak Bulus terasa hangat. Ani meletakkan pulpennya, menatap buku catatannya dengan pandangan kosong.
"Kak," panggilnya tiba-tiba. "Aku mau tanya, tapi bukan soal ujian."
Ani mulai bercerita tentang dua orang teman sekolahnya, Irfan dan Arman. Irfan adalah sosok yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan, namun bagi Ani, Irfan adalah sebuah misteri yang tak terbaca sifatnya. Di sisi lain ada Arman, teman dekat yang sangat ia kenali karakternya, namun Ani tak pernah bisa memastikan di mana posisi hati Arman terhadap dirinya.
"Aku tahu banget Arman itu orangnya gimana, Kak. Sifat-sifatnya... tapi aku nggak tahu apa hatinya dekat denganku. Sedangkan Irfan, aku tahu hatinya buat aku, tapi aku sama sekali nggak tahu sifat aslinya," curhatnya bimbang.
Aku terdiam sejenak. Pikiranku langsung melompat ke materi kuliah tentang Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.
"Ani," kataku sambil mengambil selembar kertas kosong. "Dalam fisika kuantum, ada seorang ilmuwan bernama Werner Heisenberg. Dia bilang, kita tidak bisa mengetahui dua hal secara pasti sekaligus. Jika kita bicara tentang partikel, itu adalah Posisi dan Momentum."
Aku menuliskan persamaannya secara sederhana:
Δx . Δp ≥ h / 4π
"Artinya begini," lanjutku. "Semakin akurat kita tahu posisi (x) suatu partikel, kita akan semakin mendapat ketidakpastian tentang momentum atau sifat geraknya (p). Begitu juga sebaliknya. Mungkin perasaanmu itu seperti itu. Arman adalah 'Momentum'—kamu tahu persis sifatnya, tapi kamu kehilangan kepastian 'Posisi' hatinya. Sementara Irfan adalah 'Posisi'—kamu tahu hatinya ada di mana, tapi kamu tidak tahu 'Momentum' atau sifat aslinya."
Ani terpaku, lalu tersenyum lebar. "Ah, bisa saja Kakak ini! Fisika koq dibawa ke mana-mana"
Pesan Terakhir dalam Tas
Hari itu adalah sesi les terakhir kami. Sore itu, saat aku berpamitan, Ani memasukkan sesuatu ke dalam tasku tanpa sepengetahuanku. Beberapa hari kemudian, di kamar kosku di Kukusan, aku menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Ani:
"Kak, terima kasih untuk semua pelajarannya. Aku sudah tahu banyak tentang sifat-sifat Kakak selama kita belajar bersama. Tapi sepertinya teori Heisenberg itu benar... karena sampai hari ini, aku tetap tidak tahu seberapa dekat posisi hati Kakak yang sebenarnya terhadapku."
Tanggapanku dalam Hati
Aku menatap kertas itu cukup lama. Ada rasa hangat sekaligus sesak yang menjalar. Dalam hatiku, aku menjawab:
"Ani... kamu benar. Ternyata aku terlalu fokus menjadi pengamat yang menjaga jarak dan batas agar sistemmu tidak terganggu, sampai aku lupa bahwa dalam dunia kuantum, pengamatan itu sendiri adalah sebuah interaksi. Aku senang kamu sudah tahu banyak tentang sifatku, tapi maafkan aku yang terlalu penakut untuk menunjukkan seberapa dekat sebenarnya hatiku padamu. Mungkin, biarlah ketidakpastian ini menjadi jawaban yang paling indah di antara kita."
TAMAT
Depok, 24 Januari 2026
