Cerpen - Melepasmu Dua Kali
Hidup di Depok, keseharianku tak jauh dari meja kerja kayu yang setia menopang laptop, tumpukan kertas, dan secangkir kopi hitam yang nyaris selalu dingin sebelum tandas. Sebagai penulis, waktuku sering larut di balik layar, berkelana di dunia kata-kata yang sebagian besar hanya ada dalam imajinasiku. Jarang sekali ada yang mampu menyeretku kembali pada kenyataan—apalagi kenyataan masa lalu.
Sore itu, di antara deretan SMS masuk berisi notifikasi pekerjaan dan promosi operator, sebuah pesan baru muncul di ponselku yang sederhana. Grup SMS alumni SMA yang biasanya sepi tiba-tiba kembali hidup. Ada undangan reuni.
“Reuni Akbar 10 Tahun Alumni SMA Negeri 1 Tegal
Tanggal: Minggu, 14 September 2003
Tempat: Aula SMA Negeri 1 Tegal”
Aku menatap layar kecil itu cukup lama. Tegal. Nama itu seperti pintu tua yang berderit, membuka aroma kenangan yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Aku jarang pulang sejak lulus. Kesibukan kuliah, pekerjaan, dan entah alasan apa lagi membuat jarak terasa semakin tebal.
Di balik balasan singkat yang kutulis di SMS, hatiku diam-diam bergetar. Ada satu nama yang langsung melintas di kepalaku. Nama yang bahkan sepuluh tahun pun tak mampu menghapusnya: Shinta.
Dulu kami dekat—begitu dekat. Tapi kedekatan itu tak pernah berubah menjadi pernyataan. Tidak pernah menjadi janji. Hanya berakhir begitu saja saat kelulusan memisahkan kami.
Kini, undangan itu seakan bukan sekadar ajakan bertemu teman lama. Ia terasa seperti panggilan takdir.
Pertanyaannya, apa aku siap membuka kembali lembar yang sudah lama kututup?
Perjalanan menuju Tegal terasa seperti perjalanan menuju masa lalu. Dari stasiun Kota aku menumpang kereta Tegal Arum, menatap rel yang berlari di bawah cahaya matahari sore. Setiap stasiun yang kulewati seperti halaman-halaman lama yang dibuka kembali—beberapa penuh warna, beberapa pudar.
Kota Tegal menyambutku dengan udara panas yang khas, aroma tahu aci yang samar-samar terbawa angin. Sudah sepuluh tahun aku tak menjejakkan kaki di sini. Banyak yang berubah—ruko-ruko baru, jalan yang lebih ramai, bahkan halte tua dekat sekolah sudah diganti bangunan beton. Tapi beberapa sudut masih tetap sama: lapangan alun-alun, bioskop Dewi, Masjid Agung, warung sauto di pasar senggol, pedagang nasi lengko di tepi jalan, dan papan nama sekolahku yang berdiri dengan warna cat yang sudah sedikit memudar.
Aula SMA Negeri 1 Tegal tampak meriah. Spanduk besar bertuliskan Reuni Akbar 10 Tahun Alumni tergantung di atas pintu. Suara musik, tawa, dan obrolan riuh menyambutku begitu kaki menapaki halaman.
Di dalam aula, kursi-kursi disusun melingkar. Di sudut ruangan ada meja makanan kecil, sementara panggung sederhana dihias dengan foto-foto kenangan masa SMA. Aroma parfum bercampur bau cat tembok lama membawa rasa asing sekaligus akrab.
Aku menyapa beberapa teman lama. Beberapa sudah berkeluarga, bercerita tentang anak-anak mereka. Ada yang sukses dengan usaha, ada pula yang tetap sederhana seperti dulu. Semua wajah terasa akrab sekaligus berbeda.
Dan di tengah keramaian itu… mataku menangkap sosok yang tak asing.
Shinta.
Dia berdiri tidak jauh dari meja registrasi, mengenakan gamis sederhana berwarna coklat tua dan jilbab coklat muda yang menutup rapi rambutnya. Senyumnya masih sama, lembut seperti dulu—senyum yang pernah membuatku terdiam. Tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Entah itu kedewasaan, atau mungkin bayangan kehidupan yang telah ia jalani.
Dadaku berdegup. Sepuluh tahun berlalu, tetapi rasanya waktu berhenti di detik itu.
Keramaian reuni terasa riuh, namun suara di dalam kepalaku seperti teredam ketika langkahku semakin mendekat ke arah Shinta. Dia sedang berbincang dengan dua teman perempuan lain, sesekali tertawa, lalu membetulkan jilbabnya dengan gerakan sederhana yang entah mengapa tampak begitu anggun.
Aku berdiri sebentar, menunggu jeda yang tepat. Lalu, dengan senyum yang mencoba tenang, aku memanggilnya.
“Shinta?”
Dia menoleh. Butuh sepersekian detik baginya untuk mengenali wajahku. Lalu senyum itu mengembang, senyum yang dulu pernah membuat hari-hariku terasa lengkap.
“Astaga… Amin?” suaranya terdengar sedikit tak percaya, “Kamu… ya ampun… lama sekali kita nggak ketemu!”
Aku ikut tersenyum, berusaha menyembunyikan gugup yang menyelinap. “Iya, sepuluh tahun… ternyata waktu cepat sekali, ya.”
Kami saling menjabat tangan sekadarnya. Ada jeda aneh di antara kami, seperti dua orang yang ingin bicara banyak, tapi terhenti oleh rasa kikuk yang terlalu tebal.
Obrolan pun berlanjut dengan basa-basi: pekerjaan, tempat tinggal, kabar keluarga. Shinta bercerita ia tinggal di Semarang bersama suaminya, belum dikaruniai anak. Nada suaranya ringan, tapi matanya sesekali memandang jauh, seperti ada sesuatu yang tak diucapkan.
“Dan kamu?” tanyanya, memiringkan kepala.
“Aku… masih di Depok. Menulis,” jawabku sambil tertawa kecil, “Menulis macam-macam… buku, artikel, kadang cerita-cerita yang nggak ada yang baca.”
Shinta ikut tertawa. “Dari dulu memang beda, ya. Yang lain sibuk kerja kantoran, kamu sibuk di dunia kata-kata. Keren sih…”
Sebelum percakapan bisa berlanjut lebih dalam, panitia memanggil semua peserta untuk foto bersama. Kami saling menatap sejenak—ada rasa enggan untuk mengakhiri obrolan itu.
“Kita ngobrol lagi nanti?” ucap Shinta sambil tersenyum singkat.
Aku mengangguk. “Ya. Nanti…”
Saat berfoto bersama, kami berdiri agak berjauhan. Tapi entah bagaimana, aku bisa merasakan kehadirannya di antara kerumunan. Dan di dalam hati, ada sesuatu yang mulai terusik—sesuatu yang selama ini kupikir sudah mati.
Acara reuni berakhir menjelang malam. Aula perlahan lengang, tawa dan musik berganti menjadi suara kursi yang disusun kembali. Sebagian teman sudah pamit lebih dulu, membawa pulang kenangan singkat dari pertemuan sepuluh tahun sekali.
Shinta menghampiriku saat aku berdiri di dekat pintu keluar. Jilbabnya sedikit longgar di bagian depan, mungkin karena seharian beraktivitas. Senyumnya terasa lebih tenang sekarang.
“Amin… kayaknya tadi kita belum banyak ngobrol,” ucapnya, suaranya agak pelan.
Aku mengangguk. “Iya, tadi semua keburu rame. Banyak yang pengen cerita sekaligus.”
Dia diam sebentar, lalu berkata, “Kalau kamu belum buru-buru balik… kita bisa lanjut ngobrol di luar. Ada kafe nggak jauh dari sini. Tempatnya enak kok, agak sepi.”
Aku menatapnya, ragu sejenak. Tapi entah karena apa, aku merasa tak sanggup melewatkan kesempatan ini. “Boleh. Aku ikut.”
Kafe itu hanya berjarak beberapa menit dari sekolah. Bangunannya kecil, pencahayaannya temaram, dengan aroma kopi yang langsung menyambut ketika kami masuk. Malam itu tak banyak pengunjung, hanya beberapa pasangan muda di sudut lain.
Kami memilih meja di pojok, cukup jauh dari orang lain. Shinta memesan teh hangat, aku memesan kopi hitam. Untuk beberapa menit pertama, hanya ada keheningan di antara kami. Seolah masing-masing mencari cara memulai percakapan yang sudah tertahan sepuluh tahun lamanya.
“Aku… nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi,” Shinta akhirnya membuka suara. Matanya menatap ke cangkir, bukan ke arahku. “Dulu… aku kira semua yang kita lalui bakal hilang ditelan waktu.”
Aku tersenyum tipis. “Beberapa hal memang hilang… tapi ada juga yang membekas. Kayak… percakapan ini.”
Dia tertawa kecil. “Kamu masih inget, ya… dulu kita sering kabur ke Bioskop Dewi?”
Aku ikut tertawa. “Iya… nonton film yang bahkan kita nggak peduli apa judulnya. Bukan filmnya yang penting, tapi temannya. Setelah itu, kita makan sauto di pasar senggol—dan yang paling aku suka, diam-diam kau sering melirikku setiap kali aku menyuap. Lalu, saat tatapan kita bertemu, wajahmu memerah, dan kau tersipu malu seolah rahasiamu terbongkar.”
"Malu ah..." Shinta tersenyum, matanya berbinar. “Dan kalau bosan, kita kabur lagi ke Pantai Alam Indah. Duduk di tepi pantai sambil bermain seperti anak-anak. Kau sibuk membangun menara pasir yang menjulang, lalu ombak datang menggulungnya. Kita saling berpandangan dan tertawa bersama. Ingat nggak, waktu sandalmu terbawa ombak karena air tiba-tiba pasang?”
Aku tertawa mengingatnya. “Iya… dan kita bahkan nggak bawa baju ganti. Pulangnya kita berjalan menuju parkiran motor sambil basah kuyup. Untungnya kita masih punya jaket yang tersimpan di motor—dan lebih untung lagi, kita nggak sampai masuk angin.”
Kafe itu terasa hangat di tengah udara malam yang dingin. Lampu temaram memantulkan cahaya lembut di wajah Shinta. Ia menatapku sambil tersenyum, lalu membuka suara lagi.
“Dan Guci… kita naik motor jauh-jauh cuma buat nemenin kamu berendam sebentar di air panas.”
Aku ikut tersenyum, mengingatnya. “Iya, terus kita duduk di tepi kolam sambil minum teh poci sama makan tempe mendoan.”
Shinta tertawa kecil. “Di tepi kolam itu kita main jungkitan. Aku tahu pandanganmu sering ke arahku.”
Aku menggaruk kepala, pura-pura tak malu. “Kamu sadar, ya?”
“Pura-puranya nggak sadar aja,” jawab Shinta sambil mengaduk minumannya. Ia tertawa pelan, lalu menatapku sebentar. “Perjalanan pulang malam itu dinginnya gila-gilaan. Tapi entah kenapa, rasanya semua itu berharga banget.”
Aku ikut tertawa, menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. “Iya… dinginnya bukan main. Tapi di jalan kita malah ngobrol terus.”
Shinta menatap ke luar jendela, seakan bayangan jalan berliku dari Guci kembali hadir di matanya. “Kamu inget nggak, aku sempat merapatin jaket karena kedinginan?”
Aku tersenyum lebar. “Iya. Terus aku nawarin jaketku, tapi kamu nolak.”
“Ya iyalah, nanti kamu kedinginan,” katanya sambil tersenyum.
“Lha, kedinginan bareng kan nggak apa-apa,” jawabku sambil tertawa kecil.
Shinta ikut tertawa, matanya berbinar. Sejenak, kafe itu hening, hanya suara musik pelan yang mengiringi. Tapi di antara kami, suasana itu dipenuhi hangatnya kenangan lama.
Ia memainkan sendok kecil di gelasnya, lalu tertawa kecil—tapi tawanya terdengar mengandung sesuatu, entah getir, entah rindu.
“Kamu masih inget ya, dulu kita sering ngobrol di taman sekolah. Tentang apa aja. Kadang nggak penting.”
Aku mengangguk. “Iya… dan kadang aku pengen bilang sesuatu yang lebih penting. Tapi… waktu itu aku nggak cukup berani.”
Shinta mengangkat wajahnya, menatapku. Di matanya ada kilatan yang sulit kutafsirkan—campuran terkejut, haru, dan sedikit luka lama yang terkuak.
“Amin…” suaranya melembut, “Kenapa nggak kamu bilang waktu itu?”
Aku terdiam. Ada ratusan jawaban di kepalaku, tapi semuanya terasa terlambat.
Suasana tiba-tiba hening kembali. Aroma teh hangat dan kopi dingin hanya jadi latar. Di dalam hatiku, kenangan-kenangan itu kembali hidup—menyala lebih terang dari cahaya lampu kafe malam itu.
Shinta menatapku, tatapannya tak bergeser sedikit pun. Rasanya seperti sepuluh tahun tak pernah lewat; hanya kami berdua yang terjebak di jeda waktu yang lama sekali tertahan.
Aku menarik napas pelan.
“Waktu itu… aku hampir bilang,” ucapku lirih. “Malam perpisahan sekolah, di Gedung Wanita, tepat di samping gedung. Kamu sempat bercerita mungkin akan kuliah di Semarang, mungkin juga pindah ikut keluargamu. Aku ingin mengatakannya… tapi tiba-tiba teman-teman datang. Semuanya buyar.”
Shinta terdiam. Jari-jarinya meremas cangkir teh yang sudah mulai mendingin. Bibirnya sedikit bergetar. “Aku ingat malam itu…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Dan aku juga ingat… aku pulang dengan perasaan aneh. Waktu itu aku nunggu… nunggu kamu bilang sesuatu. Tapi kamu nggak pernah bilang.”
Dadaku seperti diremas. “Aku takut, Shin. Takut kalau itu cuma perasaanku sendiri. Takut kalau aku bakal merusak semuanya. Jadi aku memilih diam. Dan ternyata… diam itu sama saja melepasmu pergi.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Amin… kamu nggak tahu, ya… kalau waktu itu aku juga berharap. Sepuluh tahun ini aku kadang mikir, kalau saja waktu itu kamu ngomong, mungkin semuanya beda.”
Hening sejenak. Suara sendok dari meja lain terdengar begitu jauh.
Shinta menarik napas panjang. “Pernikahanku… baik-baik saja. Tapi… nggak hangat. Kami belum punya anak. Kadang aku merasa… entah kenapa, ada yang hilang. Dan malam ini… rasanya aku nemuin lagi bagian yang hilang itu.”
Aku tertegun. “Shin…”
Dia menatapku penuh keraguan, tapi juga keberanian. “Kalau kamu mau… aku rela mulai dari awal. Bahkan kalau itu berarti aku harus berpisah.” Suaranya bergetar, tapi matanya lurus menatapku. “Mumpung belum ada anak, semuanya masih mungkin.”
Hatiku berguncang. Ada rasa yang selama ini kupendam, ingin sekali menjawab ya. Tapi di balik itu, ada tembok yang tak bisa kutembus: suara hati yang bertanya apakah kebahagiaan kami pantas dibayar dengan hancurnya rumah tangga orang lain.
Aku memalingkan wajah sebentar, menatap jendela kafe. Hujan rintik mulai turun di luar sana.
“Shinta… aku…” suaraku serak, “Aku masih sayang. Tapi bukan begini caranya. Aku nggak mau jadi alasan rumah tanggamu runtuh. Aku nggak mau jadi orang yang menukar cinta dengan luka orang lain.”
Air mata jatuh di pipinya. Dia menunduk, lalu tersenyum samar yang dipenuhi kesedihan. “Kamu selalu begini, ya… terlalu baik sampai nyakitin dirimu sendiri.”
Aku hanya bisa diam. Di meja itu, di antara sisa teh dan kopi yang mulai dingin, kami sama-sama tahu: cinta ini nyata, tapi tak bisa dilanjutkan.
Hujan di luar semakin deras. Kafe yang tadinya temaram kini dipenuhi suara rintik yang menghantam kaca. Aku dan Shinta masih duduk di meja pojok.
Shinta menatapku lama. Matanya merah, tapi senyum tipisnya mencoba bertahan. “Jadi… ini memang nggak bisa, ya?”
Aku menarik napas panjang. “Shin… bukan nggak mau. Tapi kita nggak bisa. Ada hal-hal yang nggak bisa kita renggut hanya untuk memenuhi rasa ini.”
Air mata kembali jatuh di pipinya. Dia cepat-cepat menyekanya dengan ujung jilbab, seolah tak ingin orang lain melihat. “Sepuluh tahun lalu kita berpisah tanpa kata. Sekarang… kita berpisah dengan terlalu banyak kata.”
Dia terdiam sebentar. Lalu, seperti menahan sesuatu yang lama sekali terpendam, Shinta menunduk. Suaranya bergetar ketika akhirnya ia melanjutkan.
“Amin, aku kecewa padamu. Bukan karena kau tidak mencintaiku—aku tahu kau mencintaiku, bahkan sebelum kau mengakuinya. Aku kecewa karena kau enggak pernah berani mengatakannya, ketika dunia kita masih sederhana, ketika semua masih mungkin.
Malam perpisahan sekolah, di samping gedung… aku menunggu. Aku berharap kau bicara. Tapi kau hanya diam. Dan diam itu membuatku pulang dengan hati yang enggak pernah benar-benar utuh. Bertahun-tahun aku belajar mengabaikan rasa itu, belajar menjalani hidupku tanpa menoleh ke belakang.
Tapi malam ini, di kafe ini, semua kenangan kembali menghantam. Rasanya jauh lebih perih dari yang pernah kubayangkan. Aku ingin bersamamu, ingin melangkah ke arahmu. Tapi kita lagi-lagi berdiri di persimpangan yang sama seperti sepuluh tahun lalu—kau di satu sisi, aku di sisi lain. Dan kali ini, kau pun memilih melepaskanku.
Melepaskan burung jinak yang bertengger di punggung telapak tanganmu.
Amin… aku ingin marah. Aku ingin membencimu karena dua kali kau membuatku pergi dengan perasaan yang tak utuh. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membencimu.
Yang tersisa hanya kecewa, dan cinta yang entah bagaimana masih ada di sini.
Mungkin kita memang ditakdirkan hanya untuk saling melepas. Tapi tahukah kau? Melepas seseorang yang kau cintai dua kali, rasanya jauh lebih berat dari yang kubayangkan.”
Aku tersenyum getir. “Mungkin begini caranya semesta ngajarin kita. Bahwa ada cinta yang harus dilepaskan… supaya tidak melukai siapa pun.”
Dia terdiam. Lalu perlahan berdiri, mengambil tasnya. Aku ikut berdiri. Kami berdua melangkah ke depan pintu kafe, menatap hujan yang masih mengguyur jalan.
“Aku pulang besok pagi ke Semarang,” ucapnya pelan. “Mungkin kita nggak akan ketemu lagi. Tapi… terima kasih, Amin. Buat semua kenangan.”
Aku mengangguk. “Hati-hati di jalan, Shin. Semoga kamu bahagia… di mana pun, dengan siapa pun.”
Dia menatapku satu kali lagi, lama, seolah ingin menghafal setiap detail wajahku. Air matanya jatuh lagi. “Selamat tinggal, Amin.”
Aku menahan napas saat dia melangkah ke mobilnya. Lampu belakang mobilnya perlahan menjauh di tengah hujan, menyisakan aroma kopi dan perasaan hampa yang menyesak.
Di bawah gerimis malam itu, aku tahu… ini adalah selamat tinggal yang sesungguhnya.
Suara batinku, di ujung malam itu, terdengar seperti bisikan yang tak pernah ingin kudengar, tapi juga tak bisa kutolak:
Aku menatap hujan, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah keputusan yang benar. Tapi entah kenapa, dada ini terasa lebih berat daripada sepuluh tahun lalu. Saat itu aku melepasnya karena takut. Sekarang aku melepasnya karena sadar. Bedanya, dulu aku masih bisa berharap waktu mengubah segalanya. Malam ini, aku tahu waktu hanya akan menjauhkan kami. Dan aku harus berdamai dengan itu.
Shin, andai kau tahu… di balik penolakanku malam ini, ada seribu langkah yang ingin berlari ke arahmu. Tapi langkah itu kutahan, karena aku tak ingin kau menoleh ke belakang dengan penyesalan. Mungkin kau akan kecewa padaku, mungkin kau akan membenciku sebentar. Tak apa. Biarlah aku yang menanggung sesaknya.
Aku sadar, tak semua cinta diciptakan untuk bersama. Beberapa hanya diciptakan untuk menjadi pelita—menyinari jalan meski tak pernah sampai di tujuan. Dan cinta kita, Shin… adalah pelita itu. Aku akan terus membawanya, diam-diam, sampai langkahku sendiri terhenti.
Malam ini aku pulang sendiri. Tapi entah bagaimana, rasanya aku pulang membawa sebagian dari dirimu yang tak akan pernah kembali.
Epilog
Hidup kembali berjalan seperti biasa setelah malam itu. Depok menyambutku dengan meja kerja kayu yang sama, laptop yang sama, dan secangkir kopi hitam yang kembali dingin sebelum tandas. Tapi ada sesuatu yang berbeda—seolah semua rutinitas ini kini menyimpan gema samar dari percakapan di kafe kecil itu.
Setiap mengetik kata, ada jeda di sela-sela huruf. Setiap jeda itu, wajah Shinta melintas. Senyumnya, tawanya, matanya yang kadang berbinar kadang meredup. Semua hadir seperti bayangan yang tak kuundang, tapi juga tak kuusir.
Aku tahu, pertemuan itu tak akan terulang. Shinta akan kembali ke Semarang, pada kehidupannya yang sudah dipilihnya sejak lama. Dan aku akan tetap di sini, di Depok, dengan pilihan yang kubuat malam itu.
Kadang aku bertanya-tanya—apakah keputusan benar selalu terasa sepi? Apakah melepas demi kebaikan selalu meninggalkan ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun?
Tapi di balik semua pertanyaan itu, aku sadar: ada rasa yang tak lagi menuntut. Cinta itu masih ada, tapi tak lagi memaksa untuk bersama. Ia hanya tinggal, seperti sisa cahaya matahari senja yang perlahan memudar—indah, tapi tahu diri.
Aku pernah melepasnya karena takut. Sepuluh tahun kemudian, aku melepasnya karena sadar. Dan keduanya sama-sama menyakitkan. Tapi kali ini, aku belajar bahwa tak semua kehilangan adalah akhir; beberapa kehilangan justru adalah cara paling tulus untuk mencintai.
Malam terakhir di Tegal, aku berjalan melewati depan sekolah kami. Papan namanya masih berdiri, meski catnya makin pudar. Lapangan yang dulu jadi saksi tawaku dan Shinta kini sunyi. Hanya angin malam yang berhembus, membawa aroma samar tahu aci dari kejauhan.
Aku berhenti sebentar, menatap gerbang itu. Dalam hati, aku berbisik—bukan salam perpisahan, tapi doa.
Semoga kau bahagia, Shin. Di dunia yang berbeda, di hidup yang berbeda. Dan semoga, di ujung yang entah di mana, kita bisa saling tersenyum tanpa beban.
Kemudian aku melangkah pergi.
Di langkah itu, aku sadar: beberapa cinta memang tak pernah berakhir. Ia hanya berubah bentuk—dari genggaman menjadi doa, dari rindu menjadi kenangan. Dan Shinta, bagaimanapun juga, akan selalu menjadi bagian dari diriku yang tak akan pernah hilang.
Tamat
Sinopsis
Sepuluh tahun setelah kelulusan SMAN 1, Amin kembali ke Tegal untuk menghadiri reuni. Di antara wajah-wajah lama, ia bertemu kembali dengan Shinta—sahabat dekat yang dulu tak pernah ia nyatakan perasaannya. Waktu dan jarak telah memisahkan mereka, Shinta kini tinggal di Semarang bersama suaminya, sementara Amin menetap di Depok sebagai penulis.
Pertemuan di reuni berlanjut ke sebuah kafe kecil, tempat mereka membuka lembar kenangan yang pernah terlipat rapi: menonton di Bioskop Dewi, bermain pasir di Pantai Alam Indah, hingga berendam di Guci. Bersama kenangan itu, rasa lama yang tak pernah mati kembali muncul—tapi kini dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih rumit.
Shinta mengaku masih menyimpan rasa, bahkan siap memulai dari awal. Namun Amin, meski hatinya sama bergetarnya, memilih melepas demi menjaga rumah tangga Shinta dan menghindari luka yang lebih besar.
Dalam hujan malam itu, mereka berpisah untuk kedua kalinya—kali ini dengan terlalu banyak kata. Keduanya sadar, tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersama. Beberapa cinta hanya diciptakan untuk tinggal dalam doa dan kenangan.
Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang keberanian untuk mencintai tanpa memiliki, dan keikhlasan untuk melepas demi kebaikan.
Cerpen ini menjadi bagian dari buku Kumpulan Cerpen Anafis '93, delapan kisah yang berpadu dalam satu napas: kisah, waktu, dan keheningan.
dapatkan bukunya di Tokopedia
