Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Kisah tentang sepotong perjalanan pramuka yang perlahan menjelma menjadi ziarah batin


Sabtu sore di bulan Februari tahun 1991, langit menggantungkan kelamnya di atas kota kami—sebuah kanopi muram seolah mengiringi langkah perjalanan kami dengan doa yang tak bersuara. Di halaman GOR Wisanggeni yang mulai teduh selepas Ashar, dua sangga dari SMA kami bersiap: sangga putra, tempat aku berdiri bersama sembilan jiwa sebaya yang seirama, dan sangga putri, yang tampak lebih rapi, lebih anggun—seperti bait doa yang dilantunkan diam-diam dari kitab Pramuka. Kami, dua sangga yang ditunjuk sebagai duta Ambalan sekolah, bergabung dengan puluhan sangga lain dari seantero SMA dan SMK kota, menyongsong petualangan dalam reli, semacam ziarah sunyi menyusuri rimba dan jalan tanah, dalam nama persaudaraan dan semangat jelajah.

Di tangan kami tergulung peta pita, bukan sekadar petunjuk arah, melainkan jantung dari perjalanan hari itu. Satu per satu sangga dari seluruh peserta dilepas, mulai dari sangga putri, lalu giliran kami ketika jam hampir menuju senja sempurna.

Langkah-langkah kami menyusuri tepian sungai Prepil yang teduh, seolah menyibak tirai sunyi dari sungai tua yang menyimpan gema masa silam - warisan sunyi dari sodetan sungai Gung pada zaman kolonial. Airnya mengalir dalam diam, dan di atasnya langit mulai membiru gelap. Di antara tawa, candaan, dan teriakan riang, kami menyusuri jalur licin, menembus rerumputan liar dan hutan bakau, sampai akhirnya kami menatap Pantai Alam Indah yang menyambut muara sungai dengan deburnya yang menggigil.

Langit membalas langkah kami dengan hujan. Deras. Hujan yang tidak datang sebagai gangguan, tetapi sebagai bagian dari ujian. Peta kami berubah jadi bubur kertas yang tak lagi terbaca. Tapi kami bukan pereli yang akan menyerah hanya karena arah hilang. Kami terus melangkah, basah kuyup, menyisir pantai, tempat pelabuhan menanti.

Gelap menebal, hujan belum juga habis, dan aroma ikan asin kering dari pemukiman nelayan menyambut langkah kami yang mulai berat. Jam delapan malam, kami tiba di musala kecil, tempat perhentian suci dari perjalanan yang mulai menggoda batas ketahanan.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Ia berdiri di antara barisan sangga putri sekolah kami, separuh wajahnya tersembunyi dalam remang cahaya lampu musala. Namun senyum yang ia layangkan—bersama senyum teman-temannya yang lain saat menyambut kedatangan kami—cukup untuk meredakan letih yang menggumpal di langkah kami. Seakan senyum itu, sesederhana dan setenang malam, menyisipkan secercah hangat di sela-sela dingin perjalanan.

Selepas melepas lelah dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa, kami sepakat melangkah bersama—sangga putra dan putri menyatu dalam irama langkah yang seragam, seakan menjadi detak satu tubuh besar bernama Ambalan. Jalanan kian lengang, malam pun semakin menebalkan sunyinya. Sungai Kemiri kami seberangi dalam diam yang khidmat, dan hamparan sawah berlumpur menjelma menjadi panggung kesetiakawanan—kebersamaan yang tulus, tanpa hitung-hitungan.

Tangan-tangan yang semula asing kini saling menggenggam, tak lagi membedakan siapa putra, siapa putri; hanya ada satu tekad yang menyatu dalam langkah kami—langkah yang terseok oleh lumpur sawah dan gelapnya malam.

"Satu sekolah, satu jiwa"—semboyan lama itu tiba-tiba hidup kembali. Bukan sekadar kata, melainkan nyala yang menyatu dalam dada, berbaur dengan napas dan gerak kami malam itu.

Dalam gulita yang hanya diterangi cahaya bintang yang malu-malu, langkah kami memasuki jalan tanah yang hanya menyisakan sedikit lumpur dari hujan yang telah reda. Saat itulah aku tersadar—tanpa rencana, tanpa isyarat, aku berjalan berdua dengannya. Entah bagaimana, semesta memisahkan kami beberapa langkah dari yang lain, menempatkan kami dalam lorong bisik yang hanya bisa diisi oleh dua suara: suaraku dan suaranya. Suara-suara lain—tawa dan candaan dari kejauhan—seolah hanya gema hampa. Tak berarti. Tak menembus ruang sunyi yang tengah kami jaga berdua.


Awalnya ringan. Obrolan tentang sekolah, makanan kesukaan, guru yang galak, dan mata pelajaran yang dibenci. Tapi seperti air yang mengikis tebing, perlahan kami mulai menggali isi masing-masing. Sifat, luka kecil masa lalu, harapan yang belum sempat dirapal, bahkan mimpi tentang masa depan.

Sebelumnya, aku tak tahu siapa namanya, bahkan wajahnya pun belum sempat menetap dalam ingatanku. Kami baru delapan bulan berada di SMA yang sama — itupun tidak sekelas. Namun malam itu—entah mengapa—aku merasa seolah telah mengenalnya jauh melampaui batas nama dan rupa; seakan jiwa kami pernah bersinggungan di masa silam namun tak tercatat.

Jam sebelas malam, kami tiba di garis akhir: kantor kecamatan di selatan kota. Kami, para putra, menginap di emperannya yang dingin. Sang putri, sebagian dijemput, sebagian menghilang ke dalam kelam malam yang tidak mau menjelaskan arah mereka.

***

Senin datang seperti pagi yang mencibir. Di koridor sekolah, tawa teman-teman menyambut gosip tentangku dan dia. Kami katanya telah 'jadian' di tengah sawah berlumpur. Aku tidak menanggapi. Tidak perlu menjelaskan. Tidak perlu membantah. Karena memang tidak ada yang perlu disangkal atau dibenarkan.

Kuakui, sejak malam itu—malam di tengah sawah yang sunyi dan berselimut lumpur—kami mulai saling mengenal dan menyapa. Sesekali berbincang ringan saat jam istirahat sekolah, dan beberapa kali pulang sekolah bersepeda beriringan. Tak pernah lebih dari itu. Tak ada janji, tak ada kata cinta. Hanya ada rasa—seperti lumpur malam itu: lengket, sukar dibersihkan, namun enggan untuk dilupakan.

Lalu, waktu berjalan dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh yang bersabar.

Suatu hari, saat pembagian rapor, kulihat dia sendiri di depan kelasnya, murung. Tatapannya mencari, gelisah. Orang tuanya tak bisa hadir. Aku hampiri, dan tawarkan bantuan. Kakak iparku, yang datang untukku, dengan senang hati membantunya juga.

Ramadan datang dengan suasana yang berbeda. Pesantren kilat digelar oleh Rohis. Aku ikut, tak berharap apapun. Tapi ternyata dia juga hadir. Aneh, selama tiga hari di pesantren kilat, kami tak pernah bertemu. Seolah semesta ingin kami menyendiri di lintasan iman masing-masing.

Beberapa hari setelahnya, dia mulai berhijab. Penampilannya berubah—sederhana, tapi terasa mendalam. 

Saat kami pulang sekolah bersepeda beriringan, aku bertanya pelan,
“Mengapa?”

Dia menjawab,
“Karena aku ingin menjadi lebih baik.”

Kalimat itu jatuh bagai gerimis di tengah musim kering—
tenang, tapi mengetuk hati.



Sejak hari itu, kami tak lagi saling bicara. Bahkan menatap pun hanya sepintas, seperti sekilas bayangan yang tak sengaja tertangkap mata. Namun godaan teman-teman belum juga reda. Dan aku tahu: ada sesuatu yang tak akan pernah mereka pahami.

Sesuatu yang tumbuh bukan karena janji, bukan karena status-'jadian', tapi karena malam hujan, lumpur sawah, dan sepotong percakapan di bawah langit Februari yang hanya kami berdua yang tahu.

Di antara lumpur sawah dan malam hujan di bulan Februari, aku menyimpan kenangan itu: bukan sebagai cinta yang ingin memiliki, tapi sebagai sajak sunyi yang hanya dibacakan pada diri sendiri.


Dua Puluh Empat Tahun Kemudian

Tahun itu, reuni perak almamater kami digelar di gedung serbaguna yang dulu pernah menjadi tempat Penataran P4 saat aku baru masuk SMA. Aku datang bersama istri dan anak laki-lakiku. Wajah-wajah lama bermunculan, sebagian masih kukenali, sebagian harus kucocokkan dulu dengan nama di name tag dan kenangan samar di masa remaja.


Senyum-senyum, pelukan, tepukan di pundak, dan kisah-kisah yang diceritakan ulang dengan bumbu nostalgia memenuhi udara pagi menjelang siang itu. Tapi ada satu yang tak tampak: dia.

Aku tahu dia tak hadir. Bahkan sejak undangan reuni mulai beredar di grup alumni, aku sudah mendengar bahwa kini ia tinggal jauh, di luar Jawa, bersama keluarganya. Teman-teman bilang, sesekali ia pulang, tapi selalu memilih diam, tak pernah muncul di pertemuan besar. Entah karena kesibukan, entah karena alasan lain yang hanya hatinya yang tahu.

Aku tidak mencarinya. Tidak juga menantikan sesuatu. Hanya sesekali menatap kursi kosong di sisi utara ruangan, seperti berharap satu bayangan lama bisa muncul sekejap—bukan untuk mengulang cerita, tapi untuk menutupnya dengan senyuman.

Namun justru pada saat itulah, ketika aku berdiri di dekat meja hidangan bersama istri dan anakku, seorang teman lama—Rina namanya, dulu sekelas dengan dia—datang dan tersenyum lebar.

"Eh, Mas... masih ingat nggak, dulu sempat heboh kamu dan si anu..." katanya, menyebut namanya dengan nada menggoda, sambil melirik ke arah istriku. Candaan khas reuni, mungkin.

Aku tersenyum. Istriku pun ikut tertawa ringan, tanpa rasa canggung.

“Ya, aku tahu kisah itu,” ujar istriku sambil menggandeng tanganku. “Dia pernah cerita padaku... tentang malam hujan, sawah, lumpur, dan percakapan sunyi itu. Katanya, itu bukan kisah cinta. Tapi lebih seperti... pelajaran jiwa.”

Rina terdiam sejenak, lalu tersenyum kembali. “Wah, kamu beruntung, Mbak. Dapat suami yang jujur dan puitis.”

Aku hanya tersenyum kecil, menatap istriku dan akhirnya kami  tertawa berdua.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.

Bahwa hidup, seperti perjalanan malam itu, bukan tentang siapa yang tetap berjalan di samping kita sepanjang jalan. Tapi tentang siapa yang kita pilih untuk berjalan bersama. Dan istriku—dialah orang yang kupilih, setelah aku selesai menziarahi masa laluku.

Langit siang itu terang, tak ada hujan. Tapi ada semacam kelegaan yang turun dari langit dalam bentuk lain: semacam kedamaian, karena masa lalu sudah diceritakan, dikenang, dan dibereskan. Tak ada yang perlu disembunyikan. Tak ada luka yang disimpan dalam diam.

Dan aku tahu, jika suatu hari aku kembali melewati pinggir sawah itu, atau musala kecil di dekat pantai, aku akan tersenyum. Bukan karena ingin kembali ke masa lalu, tapi karena aku pernah melewatinya dengan utuh.

Dan aku telah sampai.


Epilog

Waktu, seperti hujan di malam Februari itu, tak pernah bisa kita tahan atau arahkan. Ia datang dan berlalu dengan caranya sendiri, kadang deras, kadang gerimis, kadang hanya menyisakan jejak basah di hati. Tapi waktu juga memberi kita ruang—untuk tumbuh, untuk berubah, dan untuk memahami bahwa tak semua yang singgah harus tinggal, dan tak semua yang tinggal harus kita miliki.

Aku tak pernah tahu mengapa malam itu menjadi begitu penting, bahkan setelah dua puluh empat tahun berlalu. Tapi aku tahu, ia menyimpan sesuatu yang tak bisa dilupakan: sebuah momen ketika dua anak muda—yang belum mengerti tentang cinta, tapi sudah mengenal ketulusan—berbagi keheningan di bawah langit yang basah dan jalanan yang gelap. Di tengah lumpur dan dingin, kami tak mencari arah, tapi saling menemukan suara.

Kini, setelah usia menua dan kehidupan menuntunku pada peran-peran yang lebih dewasa—sebagai suami, sebagai ayah, sebagai lelaki yang tak lagi mencari jawaban, melainkan menjaga keutuhan—aku menyadari satu hal penting: kenangan itu tidak untuk dimiliki, tapi untuk dikenang, dan dihormati.

Dia, yang pernah hadir di malam perjalanan itu, mungkin tak lagi ingat perbincangan kami tentang guru galak atau mimpi masa depan. Tapi aku percaya, dalam dirinya pun tertinggal jejak kecil dari malam itu—entah berupa rasa hangat, entah berupa langkah sunyi yang sempat berjalan sejajar.

Dan hidup terus berjalan. Anakku tumbuh, istriku tetap menjadi rumah yang hangat, dan aku tak mencari “cinta pertama”. Karena cinta yang kupilih bukan yang paling dulu hadir, melainkan yang paling lama bertahan.

Malam itu di bawah langit Februari adalah pertemuan jiwa dan saling menziarahi batin—bukan untuk menyatu, tapi untuk saling mendoakan dari kejauhan. Sebab tidak semua pertemuan ditakdirkan menjadi kisah, dan tidak semua kenangan harus dilanjutkan. Ada yang cukup ditulis dalam hati, dengan tinta yang tak luntur oleh waktu.

Dan di sanalah kisah itu tetap hidup—dalam cerita yang telah selesai, yang ditulis dalam sajak sunyi yang tak pernah dibacakan di depan siapa-siapa, kecuali pada diri sendiri.

Aku telah berjalan cukup jauh dari malam itu. Kini aku berdiri di ujung cerita, bukan untuk kembali, tapi untuk mengucapkan terima kasih.

Karena dari hujan, lumpur, dan bisik malam, aku telah banyak mendapatkan pelajaran.

Depok, 19 Juli 2025


Sangga  : Satuan terkecil dalam organisasi Pramuka Penegak.  Atau kata lain dari regu.

Ambalan : Satuan organisasi yang menghimpun anggota Pramuka Penegak di tingkat gugus depan biasanya di tingkat SLTA.

Peta Pita : Peta yang digambarkan pada gulungan kertas berbentuk pita, berisi informasi seperti waktu, arah, jarak, dan tanda-tanda medan di sepanjang perjalanan


Cerpen ini menjadi bagian dari buku Kumpulan Cerpen Anafis '93, delapan kisah yang berpadu dalam satu napas: kisah, waktu, dan keheningan.

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)