Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari
Kisah tentang sepotong perjalanan pramuka yang perlahan menjelma menjadi ziarah batin
Sabtu sore di bulan Februari tahun 1991, langit menggantungkan kelamnya di atas kota kami—sebuah kanopi muram seolah mengiringi langkah perjalanan kami dengan doa yang tak bersuara. Di halaman GOR Wisanggeni yang mulai teduh selepas Ashar, dua sangga dari SMA kami bersiap: sangga putra, tempat aku berdiri bersama sembilan jiwa sebaya yang seirama, dan sangga putri, yang tampak lebih rapi, lebih anggun—seperti bait doa yang dilantunkan diam-diam dari kitab Pramuka. Kami, dua sangga yang ditunjuk sebagai duta Ambalan sekolah, bergabung dengan puluhan sangga lain dari seantero SMA dan SMK kota, menyongsong petualangan dalam reli, semacam ziarah sunyi menyusuri rimba dan jalan tanah, dalam nama persaudaraan dan semangat jelajah.
Di tangan kami tergulung peta pita, bukan sekadar petunjuk arah, melainkan jantung dari perjalanan hari itu. Satu per satu sangga dari seluruh peserta dilepas, mulai dari sangga putri, lalu giliran kami ketika jam hampir menuju senja sempurna.
Langkah-langkah kami menyusuri tepian sungai Prepil yang teduh, seolah menyibak tirai sunyi dari sungai tua yang menyimpan gema masa silam - warisan sunyi dari sodetan sungai Gung pada zaman kolonial. Airnya mengalir dalam diam, dan di atasnya langit mulai membiru gelap. Di antara tawa, candaan, dan teriakan riang, kami menyusuri jalur licin, menembus rerumputan liar dan hutan bakau, sampai akhirnya kami menatap Pantai Alam Indah yang menyambut muara sungai dengan deburnya yang menggigil.
Langit membalas langkah kami dengan hujan. Deras. Hujan yang tidak datang sebagai gangguan, tetapi sebagai bagian dari ujian. Peta kami berubah jadi bubur kertas yang tak lagi terbaca. Tapi kami bukan pereli yang akan menyerah hanya karena arah hilang. Kami terus melangkah, basah kuyup, menyisir pantai, tempat pelabuhan menanti.
Gelap menebal, hujan belum juga habis, dan aroma ikan asin kering dari pemukiman nelayan menyambut langkah kami yang mulai berat. Jam delapan malam, kami tiba di musala kecil, tempat perhentian suci dari perjalanan yang mulai menggoda batas ketahanan.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Ia berdiri di antara barisan sangga putri sekolah kami, separuh wajahnya tersembunyi dalam remang cahaya lampu musala. Namun senyum yang ia layangkan—bersama senyum teman-temannya yang lain saat menyambut kedatangan kami—cukup untuk meredakan letih yang menggumpal di langkah kami. Seakan senyum itu, sesederhana dan setenang malam, menyisipkan secercah hangat di sela-sela dingin perjalanan.
Selepas melepas lelah dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa, kami sepakat melangkah bersama—sangga putra dan putri menyatu dalam irama langkah yang seragam, seakan menjadi detak satu tubuh besar bernama Ambalan. Jalanan kian lengang, malam pun semakin menebalkan sunyinya. Sungai Kemiri kami seberangi dalam diam yang khidmat, dan hamparan sawah berlumpur menjelma menjadi panggung kesetiakawanan—kebersamaan yang tulus, tanpa hitung-hitungan.

Tangan-tangan yang semula asing kini saling menggenggam, tak lagi membedakan siapa putra, siapa putri; hanya ada satu tekad yang menyatu dalam langkah kami—langkah yang terseok oleh lumpur sawah dan gelapnya malam.
"Satu sekolah, satu jiwa"—semboyan lama itu tiba-tiba hidup kembali. Bukan sekadar kata, melainkan nyala yang menyatu dalam dada, berbaur dengan napas dan gerak kami malam itu.
Dalam gulita yang hanya diterangi cahaya bintang yang malu-malu, langkah kami memasuki jalan tanah yang hanya menyisakan sedikit lumpur dari hujan yang telah reda. Saat itulah aku tersadar—tanpa rencana, tanpa isyarat, aku berjalan berdua dengannya. Entah bagaimana, semesta memisahkan kami beberapa langkah dari yang lain, menempatkan kami dalam lorong bisik yang hanya bisa diisi oleh dua suara: suaraku dan suaranya. Suara-suara lain—tawa dan candaan dari kejauhan—seolah hanya gema hampa. Tak berarti. Tak menembus ruang sunyi yang tengah kami jaga berdua.
Awalnya ringan. Obrolan tentang sekolah, makanan kesukaan, guru yang galak, dan mata pelajaran yang dibenci. Tapi seperti air yang mengikis tebing, perlahan kami mulai menggali isi masing-masing. Sifat, luka kecil masa lalu, harapan yang belum sempat dirapal, bahkan mimpi tentang masa depan.
Sebelumnya, aku tak tahu siapa namanya, bahkan wajahnya pun belum sempat menetap dalam ingatanku. Kami baru delapan bulan berada di SMA yang sama — itupun tidak sekelas. Namun malam itu—entah mengapa—aku merasa seolah telah mengenalnya jauh melampaui batas nama dan rupa; seakan jiwa kami pernah bersinggungan di masa silam namun tak tercatat.
Jam sebelas malam, kami tiba di garis akhir: kantor kecamatan di selatan kota. Kami, para putra, menginap di emperannya yang dingin. Sang putri, sebagian dijemput, sebagian menghilang ke dalam kelam malam yang tidak mau menjelaskan arah mereka.
***
Senin datang seperti pagi yang mencibir. Di koridor sekolah, tawa teman-teman menyambut gosip tentangku dan dia. Kami katanya telah 'jadian' di tengah sawah berlumpur. Aku tidak menanggapi. Tidak perlu menjelaskan. Tidak perlu membantah. Karena memang tidak ada yang perlu disangkal atau dibenarkan.
Kuakui, sejak malam itu—malam di tengah sawah yang sunyi dan berselimut lumpur—kami mulai saling mengenal dan menyapa. Sesekali berbincang ringan saat jam istirahat sekolah, dan beberapa kali pulang sekolah bersepeda beriringan. Tak pernah lebih dari itu. Tak ada janji, tak ada kata cinta. Hanya ada rasa—seperti lumpur malam itu: lengket, sukar dibersihkan, namun enggan untuk dilupakan.
Lalu, waktu berjalan dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh yang bersabar.
Suatu hari, saat pembagian rapor, kulihat dia sendiri di depan kelasnya, murung. Tatapannya mencari, gelisah. Orang tuanya tak bisa hadir. Aku hampiri, dan tawarkan bantuan. Kakak iparku, yang datang untukku, dengan senang hati membantunya juga.
Ramadan datang dengan suasana yang berbeda. Pesantren kilat digelar oleh Rohis. Aku ikut, tak berharap apapun. Tapi ternyata dia juga hadir. Aneh, selama tiga hari di pesantren kilat, kami tak pernah bertemu. Seolah semesta ingin kami menyendiri di lintasan iman masing-masing.
Beberapa hari setelahnya, dia mulai berhijab. Penampilannya berubah—sederhana, tapi terasa mendalam.
Saat kami pulang sekolah bersepeda beriringan, aku bertanya pelan,
“Mengapa?”
Dia menjawab,
“Karena aku ingin menjadi lebih baik.”
Kalimat itu jatuh bagai gerimis di tengah musim kering—
tenang, tapi mengetuk hati.
Sejak hari itu, kami tak lagi saling bicara. Bahkan menatap pun hanya sepintas, seperti sekilas bayangan yang tak sengaja tertangkap mata. Namun godaan teman-teman belum juga reda. Dan aku tahu: ada sesuatu yang tak akan pernah mereka pahami.
Sesuatu yang tumbuh bukan karena janji, bukan karena status-'jadian', tapi karena malam hujan, lumpur sawah, dan sepotong percakapan di bawah langit Februari yang hanya kami berdua yang tahu.
Di antara lumpur sawah dan malam hujan di bulan Februari, aku menyimpan kenangan itu: bukan sebagai cinta yang ingin memiliki, tapi sebagai sajak sunyi yang hanya dibacakan pada diri sendiri.
Dua Puluh Empat Tahun Kemudian
Tahun itu, reuni perak almamater kami digelar di gedung serbaguna yang dulu pernah menjadi tempat Penataran P4 saat aku baru masuk SMA. Aku datang bersama istri dan anak laki-lakiku. Wajah-wajah lama bermunculan, sebagian masih kukenali, sebagian harus kucocokkan dulu dengan nama di name tag dan kenangan samar di masa remaja.
Senyum-senyum, pelukan, tepukan di pundak, dan kisah-kisah yang diceritakan ulang dengan bumbu nostalgia memenuhi udara pagi menjelang siang itu. Tapi ada satu yang tak tampak: dia.
Aku tahu dia tak hadir. Bahkan sejak undangan reuni mulai beredar di grup alumni, aku sudah mendengar bahwa kini ia tinggal jauh, di luar Jawa, bersama keluarganya. Teman-teman bilang, sesekali ia pulang, tapi selalu memilih diam, tak pernah muncul di pertemuan besar. Entah karena kesibukan, entah karena alasan lain yang hanya hatinya yang tahu.
Aku tidak mencarinya. Tidak juga menantikan sesuatu. Hanya sesekali menatap kursi kosong di sisi utara ruangan, seperti berharap satu bayangan lama bisa muncul sekejap—bukan untuk mengulang cerita, tapi untuk menutupnya dengan senyuman.
Namun justru pada saat itulah, ketika aku berdiri di dekat meja hidangan bersama istri dan anakku, seorang teman lama—Rina namanya, dulu sekelas dengan dia—datang dan tersenyum lebar.
"Eh, Mas... masih ingat nggak, dulu sempat heboh kamu dan si anu..." katanya, menyebut namanya dengan nada menggoda, sambil melirik ke arah istriku. Candaan khas reuni, mungkin.
Aku tersenyum. Istriku pun ikut tertawa ringan, tanpa rasa canggung.
“Ya, aku tahu kisah itu,” ujar istriku sambil menggandeng tanganku. “Dia pernah cerita padaku... tentang malam hujan, sawah, lumpur, dan percakapan sunyi itu. Katanya, itu bukan kisah cinta. Tapi lebih seperti... pelajaran jiwa.”
Rina terdiam sejenak, lalu tersenyum kembali. “Wah, kamu beruntung, Mbak. Dapat suami yang jujur dan puitis.”
Aku hanya tersenyum kecil, menatap istriku dan akhirnya kami tertawa berdua.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.
Bahwa hidup, seperti perjalanan malam itu, bukan tentang siapa yang tetap berjalan di samping kita sepanjang jalan. Tapi tentang siapa yang kita pilih untuk berjalan bersama. Dan istriku—dialah orang yang kupilih, setelah aku selesai menziarahi masa laluku.
Langit siang itu terang, tak ada hujan. Tapi ada semacam kelegaan yang turun dari langit dalam bentuk lain: semacam kedamaian, karena masa lalu sudah diceritakan, dikenang, dan dibereskan. Tak ada yang perlu disembunyikan. Tak ada luka yang disimpan dalam diam.
Dan aku tahu, jika suatu hari aku kembali melewati pinggir sawah itu, atau musala kecil di dekat pantai, aku akan tersenyum. Bukan karena ingin kembali ke masa lalu, tapi karena aku pernah melewatinya dengan utuh.
Dan aku telah sampai.
Sangga : Satuan terkecil dalam organisasi Pramuka Penegak. Atau kata lain dari regu.
Ambalan : Satuan organisasi yang menghimpun anggota Pramuka Penegak di tingkat gugus depan biasanya di tingkat SLTA.
Peta Pita : Peta yang digambarkan pada gulungan kertas berbentuk pita, berisi informasi seperti waktu, arah, jarak, dan tanda-tanda medan di sepanjang perjalanan.
Cerpen ini menjadi bagian dari buku Kumpulan Cerpen Anafis '93, delapan kisah yang berpadu dalam satu napas: kisah, waktu, dan keheningan.



