Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika
Malam itu, aroma tanah basah sehabis hujan menyelinap masuk ke gubuk reot kami. Ibu terbaring lemah, napasnya tersengal. Aku, yang saat itu baru duduk di kelas lima SD, duduk di sampingnya. Di sebelahku, Hapsari—adik mungilku yang masih kelas satu SD—memeluk lututnya, diam dan pucat. Ibu memanggilku. Tangannya yang kurus menggapai tangan kecilku.
“Nak, kamu anak sulung,” bisik Ibu dengan suara serak nyaris tak terdengar. “Ibu titip Hapsari... Jaga adikmu. Gantikan Ibu. Jangan sampai dia merasa sendiri.”
Tatapannya menembus hatiku—perpaduan cinta tak terhingga dan permohonan yang mengguncang jiwa. Aku mengangguk. Saat itu aku belum tahu seberapa berat janji yang kuucapkan. Tak lama kemudian, napas Ibu terhenti. Sunyi melingkupi kami, menyisakan hanya bisikan angin dan janji yang menggantung di udara.
Bapak sudah lebih dulu tiada, beberapa tahun sebelumnya. Sejak itu, kami hanya bersandar pada sebidang tanah warisan yang diurus Pakde Karjo — tetangga dekat kami, untuk disewakan dan hasilnya buat hidup kami berdua yang sebenarnya juga Pakde Karjo kadang menambahi kekurangannya.
Tahun-tahun berlalu. Janji itu kadang pudar tertimpa riuhnya masa remaja. Saat aku duduk di kelas dua SMA, aku mulai mengenal cinta pertama. Waktuku habis untuk kekasih, sementara Hapsari—yang saat itu masih kelas satu SMP—kian sering sendirian. Padahal dia adalah titipan paling berharga dari Ibu.
Suatu malam, sepulang dari kencan, pintu gubuk terbuka. Hapsari berdiri di ambang pintu. Matanya sembap, bibirnya cemberut. Tanpa menyapa, ia berlari masuk ke kamar dan membanting pintu. Samar kudengar isakannya.
Jantungku berdegup kencang. Aku mengetuk dan masuk perlahan. Di sana, kulihat bahunya bergetar.
“Mas jahat!” isaknya, menatapku dengan air mata membanjir. “Mas sudah enggak sayang sama aku! Mas bohong! Ibu pasti sedih!”
Setiap kata adalah luka. Air matanya memantulkan wasiat Ibu yang telah kulanggar. Rasa bersalah menenggelamkanku. Malam itu, di bawah temaram lampu yang redup, aku memeluknya erat. Aku meminta maaf berkali-kali. Esok harinya, dengan hati remuk, aku memutuskan hubungan dengan kekasihku. Pahit. Tapi janji pada Ibu lebih suci dari segalanya.
Kami berdua berziarah ke makam Ibu dan Bapak yang berdampingan. Di bawah naungan pohon kamboja, aku berbisik pada pusara:
“Bu... Pak... Aku berjanji akan menjaga Hapsari. Merawatnya sampai ia menikah.”
Janji itu kini terpatri dalam jiwaku.
****
November 1994
Angin Depok lebih hangat dari angin desa di Tegal —kampung halamanku. Di kamar kos yang sempit ini di Kukusan, setiap hembusan angin membawaku kembali pada kenangan tentang Hapsari, yang kini duduk di bangku kelas satu SMA, dan pada janji yang terucap sebelum aku mengenal apa itu cincin newton dan mekanika klasik.
Aku masih ingat betul saat dia masih kelas tiga SMP, tangisnya ketika aku pamit hendak berangkat kuliah ke Depok. Ia memelukku erat, seolah enggan melepaskan.
“Mas… Hapsari sendirian,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku mengelus rambutnya. “Nanti Mas kirim surat. Tiap minggu. Biar kamu enggak kesepian.”
“Mas janji ya... perhatian dan sayang Mas cuma buat Hapsari seorang.”
“Iya, Mas janji.”
Ia masih menangis. “Mas… jangan suka sama cewek di sana ya... Hapsari takut.”
Aku menatap matanya. “Tidak, sayang. Mas enggak akan jatuh cinta lagi. Mas janji.”
Aku mengecup keningnya. Kemudian, diantar motor butut milik Pakde Karjo, aku menuju Terminal.
Itulah kenangan satu setengah tahun lalu, saat Hapsari baru duduk di kelas tiga SMP—usia yang masih terlalu belia untuk menjalani hari-hari seorang diri.
Saat ini aku adalah mahasiswa semester tiga jurusan Fisika di Universitas Indonesia. Hidup di kota Depok ini tidak murah, dan beasiswa yang kuterima hanya cukup untuk membayar kuliah. Untuk menutup kebutuhan lain, aku mengajar les privat. Setiap harinya, aku menjadwalkan waktu di luar jam kuliah untuk mengunjungi para siswa—mengajarkan Fisika dan Matematika sambil menjaga asa.
Salah satu muridku adalah Ira Miranti, siswi kelas satu SMA di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dia seusia dengan Adikku. Ira bukan gadis biasa. Cantik, periang, cerdas, dan pandai membaca suasana. Sesungguhnya ia tak memerlukan les. Tapi entah kenapa, ia tetap memintaku datang setiap Senin dan Rabu malam.
Awalnya, hubungan kami murni profesional. Namun perlahan, Ira menunjukkan gelagat berbeda. Senyumnya sering terarah padaku, pandangannya terasa lebih dalam. Setiap kali sesi belajar usai, ia menahanku agar lebih lama: menawarkan makanan, mengajak bicara ringan.
“Pokoknya jangan lupa jadwal hari Senin, ya. Awas kalau enggak datang!” katanya sambil bercanda, kadang dengan mata yang memelas. Ada kehangatan yang janggal, tapi aku diam. Aku menahan diri.
Aku hanya mengangguk. Setiap “iya”-ku selalu dibalas dengan nada lembut, “Terima kasih, Kakak...”
Sampai suatu hari, ia menunjukan brosur pameran IPTEK di Balairung UI. “Kak, temenin Ira ke sana ya? Hari Sabtu, please…”
Dan seperti daun jatuh yang tak mampu menolak angin, aku mengangguk.
Hari itu… langit cerah. Ira datang dengan blouse dan celana jeans biru muda, dan rambut diikat sederhana. Tapi wajahnya memancarkan cahaya tak biasa. Dia sudah menungguku di halte Balairung, tinggal selangkah lagi kami masuk ke ruang pameran.
Bukannya langsung ke pameran, dia malah mengajakku ke mal. Aku ragu, tapi ia tersenyum
“Kak, jalan-jalan dulu ke mal, yuk!” pintanya dengan mata berbinar.
Seolah kami sepasang kekasih, kami berjalan bersama, makan, bercanda, tertawa. Ia terlihat begitu bahagia. Di tengah candanya, ia mulai menanyakan tentang keluargaku—tentang Hapsari. Aku menjawab sekenanya, belum sadar sejauh apa ia ingin mengenalku.
Di pameran kami hanya sebentar. Aku sadar bahwa semua ini hanyalah strategi Ira untuk sesuatu yang lebih personal. Ira ingin dekat. Lebih dekat dari sekadar guru dan murid.
***
Ira selalu membawa buku catatan saat belajar. Tapi aku belum pernah tahu isinya selain soal dan rumus-rumus. Hingga suatu hari, saat ia ke dapur dan lupa menutup bukunya, aku melihat sesuatu yang mengejutkan: di antara rumus fisika SMA, tersemat doa-doa.
“Ya Allah… kenapa hati ini bergetar saat berjumpa Kakak?”
“Kak, semoga kamu tahu yang kurasa ini...”
“Semoga Kakak juga merasakan seperti yang aku rasa…”
Jantungku berdegup kencang. Ada rasa haru, rasa bersalah, juga kekaguman akan ketulusannya. Namun, wasiat Ibu. Janji pada Hapsari. Mereka adalah tembok tak kasat mata yang tak bisa kutembus.
Akhirnya, pada satu malam, selesai mengajar, aku sampaikan semuanya. Di ruang belajar, di antara tumpukan buku dan sisa harapan.
“Ira… Maaf, Kakak harus berhenti mengajar…”
Ia menatapku. “Kenapa, Kak?”
Aku menarik napas. “Kakak punya luka. Ada janji Kakak yang belum lunas. Kakak pernah melukai Hapsari, adik Kakak karena soal cinta. Kakak enggak mau jatuh ke lubang yang sama…”
Wajahnya memucat. “Kak… jangan…”
“Ira anak baik. Tapi Kakak enggak bisa. Mungkin ini menyakitkan, tapi ini yang terbaik…”
Tangisnya pecah, seperti hujan deras di musim kemarau. Ia memalingkan wajah, menutup mata dengan lengan kecilnya.
“Ira cuma… pengin Kakak ada…”
Aku bangkit, menatapnya sejenak, lalu melangkah pergi menuju pintu keluar.
Hatiku hancur. Tapi aku tahu: aku harus memilih yang benar, bukan yang membuatku nyaman.
Dua sesi pertemuan kami yang tersisa setelah itu terasa hambar. Lebih hambar dari hari pertama aku mengajarnya. Tak ada lagi senyum cerah, tak ada candaan manja, tak ada ucapan “Terima kasih, Kakak.” Setiap aku pamit, Ira hanya menutup pintu dengan cepat, seolah ingin menghapus jejakku dari hidupnya.
Melihatnya seperti itu, hatiku terasa tercabik. Tapi aku tahu: ini bukan tentang cinta. Ini tentang janji. Dan janji adalah kehormatan—yang tak bisa dikorbankan demi ilusi kebahagiaan sesaat.
Di hari terakhir pertemuan, diam-diam Ira memasukan sepucuk surat ke tasku, dan baru kutemukan paginya dan aku membacanya.
Kak…
Aku tahu aku hanya bayangan singkat dalam lorong panjang hidupmu. Tapi izinkan aku menulis ini untukmu.
Aku menyukaimu, Kak. Bukan karena engkau guru lesku. Tapi karena di matamu aku melihat dunia yang tenang, dunia yang dewasa, dunia yang membuatku merasa diterima dan dihargai. Bukan seperti remaja-remaja yang hanya bermain-main dengan kata cinta.
Setiap detik bersamamu, aku menyimpan harapan. Harapan kecil yang tumbuh diam-diam di sela catatan rumus-rumus fisika. Harapan yang kutulis dalam doa, dalam bisik yang tak pernah kudengar jawabannya. Aku tahu itu mungkin keliru… tapi perasaan ini bukan sesuatu yang kupilih. Ia hadir, tumbuh, dan mencintaimu dengan caranya sendiri.
Lalu kakak berkata akan pergi. Bahwa aku adalah luka yang kau hindari. Bahwa cintamu sudah diberikan—untuk adikmu, untuk janji lama yang tak bisa kau khianati.
Kak… aku tidak cemburu pada Hapsari. Aku justru kagum pada kesetiaanmu. Tapi tak bisakah kau membiarkan aku hanya berada di dekatmu? Tak untuk dicintai, cukup untuk tidak diabaikan.
Aku bukan ingin memecah janjimu. Aku hanya ingin menjadi bagian kecil dari hidupmu, bahkan jika hanya sebagai kenangan.
Ira
Aku tak akan membalas surat Ira dengan kata-kata tertulis. Tidak akan pernah. Tapi dalam sunyi, dalam ruang paling rahasia dalam hatiku, aku membatin:
Maaf, Ira… Tidak bisa. Bahkan jika hanya sekadar kedekatan, itu sudah terlalu dekat bagiku. Di matamu, mungkin itu sebatas perhatian atau kebersamaan biasa… Tapi bagiku, itu adalah tepi jurang. Jurang yang tak bisa kudekati tanpa risiko mengingkari janji yang menjadi prinsip hidupku. Aku tak bisa bermain-main di sana, meski hatiku ingin. Karena sekali aku tergelincir, aku bukan hanya jatuh… aku menghancurkan segalanya.
*****
September 1997
Komunikasiku dengan adikku, Hapsari, tetap terjaga lewat surat-surat yang kami kirimkan hampir setiap dua pekan. Bagi kami, itu bukan sekadar kebiasaan—melainkan ikatan batin yang terus kami pelihara. Dan bagiku, itu adalah bagian dari janji. Janji kepada Ibu. Janji kepada diri sendiri. Janji yang membuatku tetap teguh dan utuh, meski kehidupan di Depok tak pernah benar-benar mudah.
Siang itu, aku duduk di depan meja kos, membuka surat terbaru dari Hapsari. Tulisan tangannya masih sama seperti dulu—rapi, bersih, dengan sedikit coretan kecil di tepi halaman. Kebiasaan lamanya yang entah mengapa selalu membuatku tersenyum.
Isinya pun masih seperti biasanya: cerita ringan, kadang lucu, tentang perkuliahan, tentang dosen favoritnya yang suka menyelipkan kisah wayang saat menjelaskan struktur bangunan. Ada pula curahan kecil tentang rindu—rindu masa kecil, rindu pada Ibu, dan rindu pada suara azan dari surau kecil dekat rumah yang dulu menemani senja kami.
Namun, ada satu bagian yang membuatku terdiam lebih lama dari biasanya. Tulisannya sedikit lebih rapi, seolah ia menulis dengan napas yang ditahan:
"Mas... saat pertama kali aku mengenakan hijab, sebenarnya aku teringat pada Ibu. Tapi bukan itu saja. Aku juga ingin membuat Mas bangga. Aku tahu, Mas sedang berjuang di sana, menunda banyak hal demi aku. Karena itu, aku ingin menjadi seseorang yang pantas atas semua pengorbanan Mas..."
Aku menghela napas panjang. Ada sesuatu yang hangat dan pedih mengalir dalam dadaku. Rasa haru. Rasa bersyukur. Rasa bersalah yang diam-diam selalu kutahan.
Dalam balasanku, aku pun membuka sedikit ruang tentang hatiku. Kuceritakan tentang Ira—murid lesku yang diam-diam menaruh rasa. Tentang kedekatan kami yang perlahan kutinggalkan, meski tidak mudah. Aku menuliskannya bukan untuk mencari pembenaran, melainkan sebagai bukti. Bukti bahwa janjiku kepadanya bukan sekadar kata-kata. Bahwa aku ingin tetap lurus, tetap menjaga batas. Demi diriku. Demi adikku. Demi Ibu..
Hapsari kini mahasiswi Jurusan Arsitektur di Universitas Diponegoro, Semarang. Aku ingat dua bulan lalu aku yang mengantarnya, mencarikan kos, dan memastikan semua berjalan baik. Rasanya aneh. Adikku sudah kuliah, sedangkan aku sendiri masih bergelut menyelesaikan sisa mata kuliah dan proposal skripsi—aku belum lulus. Di semester sembilan ini, aku hanya menyisakan dua mata kuliah, dan hampir semua waktuku tersita di laboratorium.
Kini aku lebih banyak menghabiskan waktu di tiga laboratorium: Fisika Dasar, Fisika Lanjutan, dan Instrumentasi. Di Lab Fisika Dasar, aku bahkan dipercaya sebagai Penanggung Jawab Praktikum hari Selasa siang, untuk mahasiswa dari luar Fakultas MIPA— dari Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro.
Dan di praktikum pekan pertama itulah, aku melihatnya kembali: Ira.
Ira yang dulu murid lesku. Ira yang kutinggalkan demi menjaga janji. Kini dia duduk di antara para praktikan, mengenakan baju dan jaket kampus, rambutnya diikat sederhana seperti biasa. Penampilannya masih seperti dulu, hanya sekarang lebih dewasa, lebih tenang, lebih berani.
Ada jeda saat mata kami bertemu. Senyumnya kecil, tenang, tak memaksa. Tapi cukup untuk membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Setelah sesi pengantar selesai, ia menghampiriku. “Kak… kita ngobrol sebentar yuk. Ke kantin.”
Kami duduk di bangku pojok kantin FMIPA. Ia banyak bertanya tentang Hapsari. Tentang kuliahnya, kegiatannya. Matanya berbinar saat kutunjukkan foto Hapsari—berjilbab rapi, berdiri di sampingku.
“Adikmu berhijab ya? Wah… cantik. Kelihatan kalem.”
Ia tersenyum kagum.
Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Dalam hati, aku ingin bilang: Kau pun tak kalah cantik, Ira. Tapi kalian dari dunia yang berbeda.
Lalu dengan nada santai, ia berkata, “Aku ingin ketemu dia, Kak. Boleh?”
Hari berikutnya, ketika kutulis tentang pertemuan itu dalam suratku untuk Hapsari, reaksinya dingin. Jawabannya tak lebih dari satu kalimat: “Terserah Mas aja.”
Namun ketika liburan semester datang dan Hapsari menemuiku di Depok, ternyata bukan untuk Ira—melainkan untukku, untuk melepas rindu pada kakaknya—aku kembali memohon padanya, “Sekali saja, Sari. Temui dia.”
Setelah sedikit tarik-ulur, ia mengangguk. Diam, tapi mengangguk.
Hari itu kami bertiga mencari warung makan di sekitar Margonda. Setelah makan, kami melangkah ke Masjid UI. Aku arahkan mereka ke selasar kiri, dekat danau. Aku sendiri mengambil wudhu dan shalat sunnah di dekat mihrab.
Saat shalat, aku berusaha meredam gelombang perasaan aneh dalam dadaku. Aku tahu dua dunia sedang bertemu di sana:
Ira, si gadis kota dari Teknik Elektro UI, dengan rambut panjang yang tak tertutup, pembawaan riang dan terbuka
dan Hapsari, adikku dari desa, mahasiswi Arsitektur Undip, dengan jilbab rapi dan sikap sederhana yang tumbuh dari tangis masa kecil dan kepergian Ibu.
Dari kejauhan, seusai shalat, aku perhatikan mereka berbincang. Awalnya tampak canggung, tapi perlahan suasana berubah. Keakraban mulai terasa, tatapan saling bertemu, bahkan mereka berjalan bergandengan menuju ke arahku. Aku cukup heran. Saat pertama kali berkenalan, Hapsari bersikap dingin. Bahkan saat makan dan sepanjang perjalanan menuju masjid, ia lebih banyak diam.
Saat kami hendak berpisah, di halte masjid, mereka berpelukan lama. Ira berbisik pada Hapsari, “Kapan-kapan aku main ke rumahmu ya, di desa.”
Dan Hapsari menjawab, kali ini tanpa ragu, “Boleh, kapan aja.”
Kami pun menjawab salam Ira bersamaan.
Dalam perjalanan kembali ke Kukusan, aku ingin bertanya. Tapi Hapsari hanya menatap ke luar jendela bus kuning, wajahnya tenang. Tak seperti sebelumnya. Bahkan ketika malamnya kutanya langsung:
“Ngobrol apa aja tadi?”
Ia hanya menjawab singkat, “Urusan perempuan, Mas.”
Aku diam. Tapi diamku tak menghapus pertanyaan yang menggelayut di dalam dada: Apa yang mereka bicarakan? Apa yang membuat Hapsari begitu tenang sekarang?
Dan pertanyaan yang lebih mengusik:
Apakah pertemuan dua dunia ini akan menumbuhkan sesuatu yang tak bisa lagi kuabaikan?
Sabtu, 29 Agustus 1998
Langit Depok pagi itu sedikit mendung, namun suasana Balairung UI dipenuhi cahaya—bukan dari mentari, melainkan dari wajah-wajah bahagia para wisudawan dan keluarganya. Pita-pita, toga, senyum bangga, dan kamera yang berlomba membekukan momen.
Aku berdiri di tengah kerumunan, mengenakan toga kebanggaan, tapi tanpa orang tua di sampingku. Hanya Hapsari yang menemani—adikku, satu-satunya yang selalu ada sejak awal. Ia menggamit tanganku erat saat kami masuk ke barisan, tatapannya teduh. Aku tahu, hari ini bukan hanya hari kelulusanku, tapi juga hari penggenapan janji—janji kepada Ibu, janji kepada Hapsari, dan janji kepada diriku sendiri.
Upacara wisuda berlangsung khidmat. Sambutan rektor, pengalungan medali, lantunan lagu "Mars UI" dan "Hymne UI", semua mengalir bagai arus sungai yang tenang. Tapi dadaku bergemuruh. Bukan karena bangga—tapi karena ada kekosongan kecil yang tak bisa kusebutkan dengan kata. Mungkin karena Bapak dan Ibu tak lagi bisa melihat hari ini.
Selesai upacara, Hapsari tiba-tiba menggamit lenganku lagi, kali ini lebih pelan.
“Mas, kita ke sana yuk... ke dekat rotunda.”
Aku mengernyit. “Ada apa, Sari?”
Ia tersenyum penuh rahasia. “Pokoknya ikut aja. Ada kejutan buat Mas.”
Aku menuruti. Kami berjalan melewati taman-taman kecil, menyusuri jalan setapak yang rindang. Dan ketika aku sampai di pelataran dekat rotunda… aku terpaku.
Ira berdiri di sana.
Bersama angin yang lembut, ia hadir dalam wujud yang sama sekali berbeda dari terakhir aku melihatnya. Ia mengenakan jilbab dan gamis warna krem, kontras dengan biru muda yang dipakai adikku. Anggun, dan senyumnya membuatku tercekat. Ira... kini berhijab. Pandangannya teduh, bukan lagi pandangan gadis remaja yang dulu mengajakku bercanda di sela les fisika, melainkan seorang perempuan yang telah melewati perjalanan batin yang panjang.
Ia melangkah pelan, menyerahkan buket bunga mawar merah putih kepadaku. Di sela tangkainya terselip sebuah amplop berwarna cokelat muda. Mataku tak sanggup menatapnya lama-lama. Aku hanya bisa berkata, “Ira…”
Ia menunduk sedikit. “Selamat wisuda, Kak.”
Tak ada kata lebih dari itu. Tapi dalam nada suaranya, dalam sorot matanya, aku tahu: ada hal besar yang baru saja terjadi di balik waktu yang kulewatkan tanpa kehadirannya.
Kami bertiga—aku, Hapsari, dan Ira—menghabiskan sisa siang hingga sore dengan tawa ringan. Tidak ada bahasan tentang masa lalu, tidak ada luka yang diungkit. Seolah semuanya sudah dibereskan diam-diam, lewat surat, lewat doa, lewat perubahan.
Yang masih jadi teka-teki bagiku: apa yang sebenarnya terjadi antara Hapsari dan Ira? Sejak kapan mereka menjadi begitu akrab, begitu dekat, seakan dua saudari yang tumbuh bersama?
Namun aku menahan tanya itu. Mungkin belum waktunya.
Keesokan paginya, aku mengantar Hapsari ke Stasiun Gambir. Ia akan kembali ke Semarang untuk memulai semester barunya. Kami tak banyak bicara. Di peron, ia hanya menggenggam tanganku dan berkata, “Aku bangga sama Mas.”
Dan seketika aku merasa... segala perjuangan itu tak sia-sia.
Malamnya, di kamar kos, aku duduk sendiri. Hening. Hanya suara serangga malam dan denting kipas angin menemani. Aku membuka buket bunga dan mengeluarkan amplop dari sela tangkainya. Tangan ini sedikit bergetar saat merobek segelnya. Lalu kubaca isi surat yang terlipat rapi.
Depok, 29 Agustus 1998
Untuk Kakak yang berbahagia
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertama-tama, izinkan aku mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya atas kelulusan Kakak. Hari ini, Kakak berdiri dengan kepala tegak di Balairung UI, mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana yang diperoleh dari perjuangan panjang dan keringat yang tak sedikit. Aku tahu, semua itu bukan jalan yang mudah. Dan mungkin, kehadiranku hari ini adalah kejutan yang tak Kakak duga.
Maafkan aku jika kedatanganku membuat Kakak terkejut. Tapi aku ingin hadir—sekadar menjadi bagian kecil dari hari besar Kakak. Sebagai seseorang yang pernah singgah dalam cerita hidup Kakak, walau sebentar.
Kakak,
Sejak pertama kali Kakak menolak perasaanku dengan tenang dan penuh kebijaksanaan, aku belajar satu hal penting: bahwa cinta yang baik tidak selalu harus dikejar. Sejak itu, aku berhenti mengejar. Aku memilih diam. Aku fokus pada studiku, pada mimpiku, dan pada pencarian makna hidup yang lebih dalam. Tapi aku tidak pernah membenci. Tidak pernah menyesal telah menyukai Kakak. Justru dari sanalah banyak hal berubah dalam diriku.
Ketika kita bertemu kembali di Lab Fisika Dasar, dan aku mengajak Kakak ke kantin, sesungguhnya aku tak memiliki niat apa-apa. Namun saat Kakak menunjukkan foto Hapsari, adik Kakak, entah mengapa ada rasa teduh yang menyentuh hatiku. Diam-diam, aku iri padanya. Aku ingin bisa seperti dia. Maka aku meminta Kakak agar mempertemukanku dengannya.
Aku tahu, pada awalnya Hapsari bersikap dingin. Mungkin karena Kakak telah menceritakan siapa aku dan seperti apa dulu hubungan kita. Mungkin baginya itu adalah luka lama. Tapi saat kami duduk berdua di selasar Masjid, aku memberanikan diri memohon agar ia bersedia membimbingku. Dan Hapsari menyambutku dengan hangat, menerima aku layaknya sahabat lama.
Tanpa sepengetahuan Kakak, kami mulai saling berkirim surat. Ia membalas setiap pertanyaanku, membimbingku perlahan. Ia tidak menghakimi, tidak memaksa. Ia hanya mengajak... dengan kelembutan yang tak pernah kupikir bisa berasal dari gadis semuda itu. Dari Hapsari, aku belajar tentang hijab, tentang hati yang bersih, tentang istiqamah, dan tentang cinta yang tak menuntut balas.
Kini aku berhijab. Bukan karena ingin terlihat taat, tetapi karena aku merasa inilah versi terbaik dari diriku yang seharusnya tumbuh sejak lama. Aku tahu Kakak mungkin tak pernah menyangka akan melihatku seperti ini. Tapi aku ingin Kakak tahu: di balik perubahan ini, ada bagian kecil dari peran Kakak juga. Tanpa Kakak, aku tak akan pernah mengenal Hapsari. Dan tanpanya, aku mungkin tak akan pernah melangkah sejauh ini.
Terima kasih, Kak,
Atas semua pelajaran yang pernah Kakak berikan. Atas sikap Kakak yang tegas namun tak melukai. Atas keberanian Kakak menjaga hati, bahkan ketika itu berarti harus kehilangan. Dunia ini kekurangan lelaki seperti Kakak—yang bukan hanya cerdas dalam ilmu, tapi juga kuat dalam prinsip.
Maafkan aku jika dulu pernah bersikap terlalu berani. Maaf jika kehadiranku hari ini menimbulkan pertanyaan. Aku tak mengharap apa-apa, Kak. Aku hanya ingin menyampaikan semua ini... sebelum jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda.
Buket bunga ini hanya simbol—bahwa aku selalu mendoakan Kakak: agar Kakak mekar dalam ilmu, dalam amal, dan dalam ketakwaan.
Semoga Allah senantiasa menjaga Kakak dalam setiap langkah. Semoga hidup Kakak dipenuhi keberkahan. Dan bila suatu hari nanti Kakak menikah, semoga istri Kakak adalah perempuan yang lebih baik dariku—lebih sabar, lebih kuat, dan mampu mendampingi Kakak dalam jihad kehidupan.
Terakhir, aku hanya ingin Kakak tahu:
Aku memang pernah jatuh cinta kepada Kakak. Tapi kini aku lebih mencintai jalan yang mengantarkanku kepada-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ira
Aku menutup surat itu perlahan. Hening menjalari tubuhku. Tak ada air mata—hanya keheningan yang hangat. Aku langsung mengambil pena dan beberapa lembar kertas surat lalu kutulis pesan untuknya.
Depok, 30 Agustus 1998
Untuk Ira...
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Aku tak tahu harus memulai dari mana, Ira. Suratmu—yang kubaca malam ini—telah menggugah sisi terdalam dalam hatiku. Aku membacanya pelan-pelan, beberapa kali terhenti, bukan karena tak sanggup memahami, tapi karena terlalu banyak rasa yang bangkit bersamaan.
Terima kasih, Ira. Terima kasih telah datang di hari itu, hari yang bagiku terasa sunyi di tengah keramaian. Saat semua orang datang dengan orang tuanya, aku hanya datang dengan satu sosok: adik perempuanku, Hapsari—penjaga janjiku, saksi atas hidup yang kutunda demi amanah Ibu. Dan entah bagaimana, ternyata kaulah kejutan di balik senyumnya.
Ira,
Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa kehadiran singkatku di hidupmu, yang hanya sebagai guru les beberapa bulan, bisa meninggalkan jejak sedalam itu. Ketika dulu aku menolak perasaanmu, itu bukan karena aku tak menganggapmu berarti. Tapi justru karena aku takut—takut kehilangan arah, takut mengingkari janji yang sudah kutanam dalam hati sejak Ibu meninggal.
Bagiku, setiap detik yang kujalani bukanlah milikku sepenuhnya. Ada hak adikku di sana. Ada amanah yang tak boleh kugadaikan dengan emosi sesaat, meski hati kadang goyah.
Tapi hari ini…
Membaca bahwa kau memilih menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih taat… membuatku merasa kalah dalam diam. Karena ternyata, dari jarak yang tidak pernah kita dekati, kau berjalan lebih jauh dari yang kusangka. Dan diam-diam, aku bangga.
Aku bersyukur kau bertemu Hapsari. Ia memang tumbuh dewasa begitu cepat. Dalam sunyi, ia belajar menjadi cahaya bagi orang lain. Dan kau adalah salah satu buktinya.
Ira,
Terima kasih sudah memaafkan, berterima kasih, dan tetap mendoakan. Tak semua perasaan harus memiliki ujung berupa kebersamaan. Kadang, cukup tahu bahwa seseorang yang pernah kita sayangi, kini tumbuh dalam kebaikan, itu sudah menjadi bentuk paling utuh dari kebahagiaan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi suratmu telah menenangkan banyak hal dalam diriku. Jika waktu mengizinkan, semoga kita akan bertemu lagi—dalam bentuk yang lebih matang, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya.
Doaku menyertaimu, Ira.
Semoga hijrahmu istiqamah. Semoga ilmu dan kebaikanmu terus bertumbuh. Dan semoga Allah mempertemukanmu dengan lelaki yang mampu mencintaimu dalam kebaikan, sebagaimana engkau mencintai dalam diam dan doa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dariku yang pernah menjadi guru lesmu
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah wisuda, aku benar-benar merasa telah lulus. Bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai seorang kakak, sebagai laki-laki, dan sebagai manusia. Malam itu, aku tertidur dengan tenang.
Menjelang subuh, saat aku terbangun, mataku menangkap sebuah amplop di antara tumpukan buku. Perlahan aku membukanya—ternyata dari Hapsari, adikku. Aku membaca isinya dengan pelan.
Depok, 30 Agustus 1998
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mas,
Aku menulis surat ini setelah selesai tahajud, pagi sebelum berangkat kembali ke Semarang. Entah kenapa, rasanya seperti ada benang halus yang menahan langkahku, seakan tangan ini enggan benar-benar meninggalkan Depok. Tapi aku tahu, aku harus kembali melanjutkan perjalananku sendiri.
Mas,
Terima kasih untuk waktu singkat yang terasa begitu penuh makna. Aku tahu Mas sedang letih. Tapi Mas tetap tersenyum, bahkan ketika harus duduk sendiri di Balairung, tanpa siapa pun dari rumah. Aku hanya ingin Mas tahu... aku bangga. Bangga menjadi adik dari seorang lelaki yang mungkin tak dikenal dunia, tapi diam-diam memikul beban berat dengan hati yang tabah dan suara yang tenang.
Dan… tentang kejutan kemarin—maaf ya kalau Mas sempat terkejut. Semua itu memang rencana kami—aku dan Ira. Kami sering bertukar surat. Bukan hanya tentang agama, tapi juga tentang Mas. Tentang bagaimana Mas menanam begitu banyak benih, lalu memilih pergi diam-diam sebelum sempat menyaksikan bunga-bunganya bermekaran.
Mas,
Jangan marah ya... kalau aku kadang masih ingin menjadi gadis kecil yang bisa memeluk Mas tanpa takut pada waktu dan batas. Tapi aku tahu, aku harus belajar melepaskan. Belajar menjadi dewasa. Sebagaimana Mas telah mengajariku arti menahan diri, menjaga janji, dan mencintai tanpa meminta balas.
Jaga diri baik-baik ya, Mas. Jangan lupa makan yang cukup, tidur yang cukup, dan jangan terlalu lama menunda kebahagiaan. Karena seseorang yang telah belajar menahan luka... pantas juga untuk disinari cahaya.
Terima kasih, Mas…
Untuk segalanya. Untuk semua yang tak pernah sempat diucapkan.
Aku pulang membawa doa,
Dan meninggalkan sepotong rindu...
di Kukusan—tempat Mas kos.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hapsari
Kembali aku menulis balasan, kali ini untuk adikku.
Depok, 31 Agustus 1998
Hapsari adikku tersayang,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Suratmu kutemukan pagi ini, tepat ketika aku baru bangun menjelang subuh. Aku membacanya perlahan, mungkin tiga atau empat kali, sebelum aku bisa menenangkan dada yang mendadak sesak entah oleh apa.
Adikku sayang…
Kau tumbuh begitu cepat. Dulu aku membawamu ke sekolah dengan rambut diikat ekor kuda dan celotehmu yang tak pernah berhenti. Sekarang, aku melihatmu duduk tenang di barisan wali para wisudawan, mengenakan jilbab dan senyum dewasa yang menahan banyak hal di baliknya.
Terima kasih karena selalu menepati janjimu. Karena tidak pernah membiarkanku benar-benar sendiri di tempat ini. Surat-suratmu adalah selimut malamku, adalah tiang yang menyangga agar aku tidak goyah dalam sepi panjang.
Tentang Ira… aku sungguh kaget karena kalian merancang kejutan itu. Tapi apa pun niatmu, terima kasih. Kadang seseorang memang perlu sedikit didorong untuk menengok masa lalu, agar tak terus berlari dari sesuatu yang mungkin patut dipahami, bukan ditinggalkan.
Tapi yang paling membuatku diam lama adalah bagian akhir suratmu—tentang menjadi gadis kecil yang ingin memeluk waktu.
Adikku Sayang…
Kau akan selalu jadi gadis kecil itu bagiku. Tapi waktu memang tak bisa kita peluk selamanya. Ada masa di mana kakak harus benar-benar menjadi kakak. Bukan hanya karena Ibu pernah menitipkanmu padaku, tapi karena aku ingin kau bisa berjalan sendiri, menjemput takdirmu sendiri, dengan bahagia yang utuh.
Aku tahu kita telah berbagi banyak hal: rindu, luka, bahkan mungkin diam-diam cinta yang menyejukkan, Cinta yang hadir di sela-sela jeda hidup kita. Tapi kita tahu, bukan? Cinta yang benar adalah yang tahu batas. Yang tahu kapan menepi, dan kapan cukup menjadi doa saja.
Berbahagialah, Adikku. Belajarlah, berkaryalah, dan terus jadi cahaya seperti yang Ibu bayangkan dulu.
Dan kapan pun kau rindu rumah—atau hanya ingin mendengar langkah Masmu di balik pintu kos—aku di sini. Selalu.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Peluk dari jauh,
Masmu
Kini aku telah lulus, dengan ijazah di tangan dan berjuta kenangan di dada. Tapi lebih dari itu, aku pulang membawa bekal yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah: kesabaran, keikhlasan, dan pengertian bahwa cinta sejati tak selalu menuntut balasan.
Tanggal 19 Oktober 1998 adalah hari pertama aku bekerja di sebuah perusahaan elektronik di Depok, tidak jauh dari kampusku. Enam bulan kemudian, aku sudah berada di Osaka. Kehidupan kami kini jauh lebih baik. Namun aku tak pernah lupa pada jasa dan pengorbanan Pakde Karjo—dialah yang mengurus dan merawat kami saat kami masih kecil, dan yang menjaga Hapsari ketika aku harus meninggalkannya sendirian demi menempuh kuliah di Depok.
Aku dan Hapsari tetap berkomunikasi lewat surat. Dua minggu sekali, surat darinya datang, dan aku membalasnya. Ada kedekatan dan kehangatan yang sulit dijelaskan dalam hubungan kakak-adik ini. Hapsari tetaplah adik yang kusebut dalam setiap doa—gadis kecil yang kini tumbuh menjadi perempuan tangguh.
Meski Hapsari pernah memberi isyarat dalam suratnya, agar aku tak menunda kebahagiaan terlalu lama, aku tetap memilih menundanya. Aku akan menunggu sampai saat aku bisa menjadi wali nikahnya sendiri. Karena itulah janji yang pernah kuucapkan di hadapan makam Ibu dan Bapak.
Penutup
Aku menutup kisah ini seperti menutup halaman terakhir dari sebuah buku yang ditulis oleh waktu, oleh doa, oleh diam-diam pengorbanan yang tak pernah benar-benar selesai.
Kini, jarak tak lagi sekadar tentang ribuan kilometer, tapi tentang ruang-ruang hati yang telah belajar melepaskan dan memahami.
Ira perlahan menghilang dari kehidupanku, bukan karena luka, tapi karena ia tahu: ada cinta yang lebih matang, lebih dalam, dan lebih diam.
Dan Hapsari—adikku yang dulu kuelus keningnya ketika demam, kini menatapku dengan mata perempuan dewasa. Sejak hari itu, doanya untukku terdengar lebih panjang, lebih lirih, dan lebih tulus.
Aku tetap menjalani hari-hariku. Menjadi penyangga bagi Hapsari sampai ia menemukan sosok yang pantas menuntunnya menuju pelaminan. Dan aku, entah kapan, akan menyusul menata hidupku sendiri.
Tapi hingga saat itu tiba, aku tahu…
Ada dua nama yang akan selalu kutulis diam-diam di sudut hatiku:
Hapsari, adikku—dan Ira, yang pernah mengetuk pintu cintaku dengan penuh kesabaran.
Tamat
Depok, 26 Juli 2025
Cerpen ini menjadi bagian dari buku Kumpulan Cerpen Anafis '93, delapan kisah yang berpadu dalam satu napas: kisah, waktu, dan keheningan.

