Cerpen - Tiang yang Menahan Langit
Ini bukan cerita tentang ibuku. Namun sekitar tahun 90-an, beliau pernah berjualan nasi bungkus setiap pagi—memasaknya sendiri dan menjajakannya di depan sebuah pabrik di daerah Pasar Kemis, Tangerang—demi menambah uang saku kuliahku. Kini beliau telah tiada, tetapi jiwanya tetap hidup di dalam hatiku.
Barangkali karena itulah, setiap kali aku melihat seorang perempuan tua menggelar nasi bungkus di pinggir jalan, ingatanku selalu tertarik ke satu titik yang sama: ke tangan-tangan sederhana yang bekerja bukan untuk menumpuk, melainkan untuk menopang. Dari sanalah kisah ini bermula.
Setiap subuh, ketika langit masih memeluk warna abu-abu pucat dan burung-burung belum sempat berembuk tentang arah terbangnya, wanita tua itu sudah duduk di pinggir jalan. Tubuhnya gemuk, tidak tinggi, dengan pipi bulat yang selalu menyisakan senyum jenaka, seolah hidup—betapapun keras—tak pernah benar-benar sanggup mengalahkannya.
Ia menggelar tikar plastik yang lusuh, lalu menyusun nasi bungkus satu per satu. Jumlahnya tak banyak—tak pernah lebih dari tiga puluh. Nasi putih hangat, sambal tempe, sepotong telur dadar tipis, kadang ikan asin. Bungkusannya sederhana: kertas cokelat berlapis plastik tipis, yang kini perlahan mulai tergantikan oleh mika atau styrofoam.
Tak lama kemudian, suara langkah berat mulai terdengar. Para kuli bangunan dan buruh angkut berdatangan dari gang-gang sempit, sebagian masih menguap, sebagian sudah tertawa, sebagian lagi hanya diam menahan kantuk dan lapar. Mereka mengerubungi lapak kecil itu seperti lebah menemukan bunga yang tak pernah ingkar memberi madu.
“Bu, satu!”
“Bu, saya juga!”
“Bu, utang dulu, nanti sore!”
Wanita tua itu tak pernah mencatat. Tak pernah bertanya. Tangannya cekatan, senyumnya tetap utuh.
Bagi para lelaki itu, rasa bukan persoalan. Menu pun bukan tuntutan. Yang terpenting adalah harga. Murah. Teramat murah. Nyaris mustahil di kota ini—yang harga kopinya saja bisa setara makan siang—ada orang berjualan dengan angka serendah itu.
Aku pernah bertanya, setengah heran, setengah curiga, “Bu, nggak rugi?”
Wanita itu terkekeh, tawa kecil yang menggoyangkan pipinya.
“Rugi itu kalau perut mereka kosong,” katanya sambil menunjuk para lelaki yang sedang duduk jongkok, membuka bungkus nasi dengan lahap.
“Terus untungnya apa, Bu?”
Ia kembali terkekeh. “Bisa numpang makan, Nak. Sama beli sedikit sabun.”
Aku terdiam. Aku menghitung cepat di kepala: harga beras, telur, minyak, gas. Tak masuk akal.
“Kenapa nggak dinaikkan sedikit, Bu?” tanyaku lagi.
Wanita itu menggeleng pelan. “Lalu mereka makan apa? Siapa yang mau nyediain sarapan buat orang-orang itu?”
Ia menunjuk ke arah para kuli yang kini sudah berdiri, sebagian meloncat ke bak truk, sebagian menyalakan rokok sebelum bekerja. Wajah-wajah keras yang menyimpan kelelahan panjang, wajah-wajah yang jarang dipandang dengan hormat oleh kota.
Truk itu melaju, meninggalkan debu, meninggalkan senyum wanita tua yang masih menggantung di udara subuh.
***
Aku sering melewati jalan itu. Awalnya hanya kebetulan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Dan akhirnya menjadi pelajaran.
Di tengah kota yang bergerak cepat, di antara baliho motivasi dan seminar tentang sukses, wanita tua itu seperti ironi. Ia tidak bicara tentang mimpi besar, tidak memamerkan visi, tidak pernah menyebut kata “produktif”. Ia hanya duduk, menggelar nasi, dan memastikan orang-orang yang hampir tak dianggap itu bisa memulai hari tanpa perut kosong.
Suatu pagi aku kembali duduk di dekatnya.
“Bu, sudah lama jualan di sini?”
“Sejak jalan ini masih tanah,” jawabnya ringan.
“Kenapa nggak pindah ke tempat yang lebih ramai?”
Ia tersenyum. “Di sini lebih dibutuhkan.”
Aku diam. Kota mengajarkanku bahwa ramai adalah peluang. Wanita tua ini mengajarkanku bahwa kebutuhan adalah panggilan.
Aku memperhatikan tangannya—tangan tua dengan garis-garis tebal kehidupan. Tangannya bukan tangan lembut, tapi hangat. Tangannya bukan tangan sukses versi brosur, tapi tangan yang bekerja tanpa ingin dikenang.
“Bu, pernah capek?”
Ia tertawa kecil. “Capek itu biasa. Tapi kalau capeknya bikin orang lain kuat, ya capek yang baik.”
Kalimat itu menetap di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya.
***
Suatu hari, hujan turun lebih deras dari biasanya. Pagi itu jalan sepi. Aku berpikir wanita tua itu tak akan datang. Tapi dari kejauhan, kulihat payung tua berdiri miring. Lapaknya tetap ada.
Nasi bungkus tetap tersusun. Jumlahnya lebih sedikit.
“Kuli-kulinya jarang datang kalau hujan,” katanya tanpa ditanya.
“Terus nasinya?”
“Kalau sisa, ya dimakan. Kalau basi, ya dibagi ke ayam.”
Ia mengucapkannya tanpa nada kehilangan. Seolah hidup memang berputar seperti itu: memberi, menerima, melepaskan.
Aku teringat orang-orang hebat yang sering disebut “pahlawan pembangunan”. Tapi tak satu pun poster menampilkan wanita tua ini. Tak satu pun pidato menyebut jasanya. Padahal tanpanya, mungkin beberapa dari mereka bekerja dengan kepala pusing dan tangan gemetar.
“Bu,” kataku pelan, “ibu sadar nggak kalau ibu ini seperti tiang?”
“Tiang apa?” tanyanya sambil tersenyum geli.
“Tiang yang menyangga langit.”
Ia tertawa lebih keras kali ini. “Ah, kamu kebanyakan baca buku.”
Tapi aku tidak bercanda.
Orang-orang seperti dia—yang bekerja bukan demi nama, bukan demi laba, bukan demi citra—adalah beludru halus di jalan hidup yang berbatu. Tanpa mereka, hidup akan terasa lebih kejam dari yang seharusnya.
***
Beberapa bulan kemudian, lapak itu kosong. Tikarnya tak lagi tergelar. Aku panik dengan cara yang aneh—seolah kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki.
Seorang kuli menjelaskan, “Ibunya sakit. Katanya mau pulang kampung.”
Aku mengangguk, meski dadaku terasa kosong.
Hari-hari setelahnya, para kuli membeli sarapan di tempat lain. Lebih mahal. Lebih sedikit. Beberapa memilih berangkat tanpa makan.
Aku sadar sesuatu: kesejahteraan itu rapuh. Kadang hanya disangga oleh satu orang yang tak pernah kita anggap penting.
***
Beberapa minggu kemudian, sebuah kabar datang: wanita tua itu meninggal. Tak ada berita. Tak ada upacara. Hanya bisik-bisik kecil di antara para kuli.
Pagi itu, aku berdiri di tempat biasa ia duduk. Angin subuh terasa lebih dingin. Jalan terasa lebih keras.
Aku teringat kata-katanya: capek yang baik.
Dalam doa singkatku, aku memahami sesuatu yang selama ini kabur: bahwa kerja bukan soal seberapa besar yang kita kumpulkan, tapi seberapa jauh yang bisa kita ringankan. Bahwa misi hidup tak selalu berwujud megah; kadang ia hanya sebungkus nasi hangat di tangan yang tepat.
Wanita tua itu telah pergi. Tapi langit masih berdiri. Mungkin karena tiang-tiang kecil seperti dirinya pernah ada—menahan runtuhnya dunia, satu pagi, satu perut, satu senyum pada satu waktu.
Dan bukankah demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama—nafi‘ li ghairihi—agar hidup, yang keras ini, masih layak dijalani?
Aku menunduk. Jalan itu tetap berbatu. Tapi entah mengapa, langkahku terasa lebih lembut.
TAMAT
Depok, 10 Januari 2026
