Cerpen - Tiang yang Menahan Langit



Ini bukan cerita tentang ibuku. Namun sekitar tahun 90-an, beliau pernah berjualan nasi bungkus setiap pagi—memasaknya sendiri dan menjajakannya di depan sebuah pabrik di daerah Pasar Kemis, Tangerang—demi menambah uang saku kuliahku. Kini beliau telah tiada, tetapi jiwanya tetap hidup di dalam hatiku.

Barangkali karena itulah, setiap kali aku melihat seorang perempuan tua menggelar nasi bungkus di pinggir jalan, ingatanku selalu tertarik ke satu titik yang sama: ke tangan-tangan sederhana yang bekerja bukan untuk menumpuk, melainkan untuk menopang. Dari sanalah kisah ini bermula.

Setiap subuh, ketika langit masih memeluk warna abu-abu pucat dan burung-burung belum sempat berembuk tentang arah terbangnya, wanita tua itu sudah duduk di pinggir jalan. Tubuhnya gemuk, tidak tinggi, dengan pipi bulat yang selalu menyisakan senyum jenaka, seolah hidup—betapapun keras—tak pernah benar-benar sanggup mengalahkannya.

Ia menggelar tikar plastik yang lusuh, lalu menyusun nasi bungkus satu per satu. Jumlahnya tak banyak—tak pernah lebih dari tiga puluh. Nasi putih hangat, sambal tempe, sepotong telur dadar tipis, kadang ikan asin. Bungkusannya sederhana: kertas cokelat berlapis plastik tipis, yang kini perlahan mulai tergantikan oleh mika atau styrofoam.

Tak lama kemudian, suara langkah berat mulai terdengar. Para kuli bangunan dan buruh angkut berdatangan dari gang-gang sempit, sebagian masih menguap, sebagian sudah tertawa, sebagian lagi hanya diam menahan kantuk dan lapar. Mereka mengerubungi lapak kecil itu seperti lebah menemukan bunga yang tak pernah ingkar memberi madu.

“Bu, satu!”
“Bu, saya juga!”
“Bu, utang dulu, nanti sore!”

Wanita tua itu tak pernah mencatat. Tak pernah bertanya. Tangannya cekatan, senyumnya tetap utuh.

Bagi para lelaki itu, rasa bukan persoalan. Menu pun bukan tuntutan. Yang terpenting adalah harga. Murah. Teramat murah. Nyaris mustahil di kota ini—yang harga kopinya saja bisa setara makan siang—ada orang berjualan dengan angka serendah itu.

Aku pernah bertanya, setengah heran, setengah curiga, “Bu, nggak rugi?”

Wanita itu terkekeh, tawa kecil yang menggoyangkan pipinya.
“Rugi itu kalau perut mereka kosong,” katanya sambil menunjuk para lelaki yang sedang duduk jongkok, membuka bungkus nasi dengan lahap.

“Terus untungnya apa, Bu?”

Ia kembali terkekeh. “Bisa numpang makan, Nak. Sama beli sedikit sabun.”

Aku terdiam. Aku menghitung cepat di kepala: harga beras, telur, minyak, gas. Tak masuk akal.

“Kenapa nggak dinaikkan sedikit, Bu?” tanyaku lagi.

Wanita itu menggeleng pelan. “Lalu mereka makan apa? Siapa yang mau nyediain sarapan buat orang-orang itu?”

Ia menunjuk ke arah para kuli yang kini sudah berdiri, sebagian meloncat ke bak truk, sebagian menyalakan rokok sebelum bekerja. Wajah-wajah keras yang menyimpan kelelahan panjang, wajah-wajah yang jarang dipandang dengan hormat oleh kota.

Truk itu melaju, meninggalkan debu, meninggalkan senyum wanita tua yang masih menggantung di udara subuh.

***

Aku sering melewati jalan itu. Awalnya hanya kebetulan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Dan akhirnya menjadi pelajaran.

Di tengah kota yang bergerak cepat, di antara baliho motivasi dan seminar tentang sukses, wanita tua itu seperti ironi. Ia tidak bicara tentang mimpi besar, tidak memamerkan visi, tidak pernah menyebut kata “produktif”. Ia hanya duduk, menggelar nasi, dan memastikan orang-orang yang hampir tak dianggap itu bisa memulai hari tanpa perut kosong.

Suatu pagi aku kembali duduk di dekatnya.

“Bu, sudah lama jualan di sini?”

“Sejak jalan ini masih tanah,” jawabnya ringan.

“Kenapa nggak pindah ke tempat yang lebih ramai?”

Ia tersenyum. “Di sini lebih dibutuhkan.”

Aku diam. Kota mengajarkanku bahwa ramai adalah peluang. Wanita tua ini mengajarkanku bahwa kebutuhan adalah panggilan.

Aku memperhatikan tangannya—tangan tua dengan garis-garis tebal kehidupan. Tangannya bukan tangan lembut, tapi hangat. Tangannya bukan tangan sukses versi brosur, tapi tangan yang bekerja tanpa ingin dikenang.

“Bu, pernah capek?”

Ia tertawa kecil. “Capek itu biasa. Tapi kalau capeknya bikin orang lain kuat, ya capek yang baik.”

Kalimat itu menetap di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya.

***

Suatu hari, hujan turun lebih deras dari biasanya. Pagi itu jalan sepi. Aku berpikir wanita tua itu tak akan datang. Tapi dari kejauhan, kulihat payung tua berdiri miring. Lapaknya tetap ada.

Nasi bungkus tetap tersusun. Jumlahnya lebih sedikit.

“Kuli-kulinya jarang datang kalau hujan,” katanya tanpa ditanya.

“Terus nasinya?”

“Kalau sisa, ya dimakan. Kalau basi, ya dibagi ke ayam.”

Ia mengucapkannya tanpa nada kehilangan. Seolah hidup memang berputar seperti itu: memberi, menerima, melepaskan.

Aku teringat orang-orang hebat yang sering disebut “pahlawan pembangunan”. Tapi tak satu pun poster menampilkan wanita tua ini. Tak satu pun pidato menyebut jasanya. Padahal tanpanya, mungkin beberapa dari mereka bekerja dengan kepala pusing dan tangan gemetar.

“Bu,” kataku pelan, “ibu sadar nggak kalau ibu ini seperti tiang?”

“Tiang apa?” tanyanya sambil tersenyum geli.

“Tiang yang menyangga langit.”

Ia tertawa lebih keras kali ini. “Ah, kamu kebanyakan baca buku.”

Tapi aku tidak bercanda.

Orang-orang seperti dia—yang bekerja bukan demi nama, bukan demi laba, bukan demi citra—adalah beludru halus di jalan hidup yang berbatu. Tanpa mereka, hidup akan terasa lebih kejam dari yang seharusnya.

***

Beberapa bulan kemudian, lapak itu kosong. Tikarnya tak lagi tergelar. Aku panik dengan cara yang aneh—seolah kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki.

Seorang kuli menjelaskan, “Ibunya sakit. Katanya mau pulang kampung.”

Aku mengangguk, meski dadaku terasa kosong.

Hari-hari setelahnya, para kuli membeli sarapan di tempat lain. Lebih mahal. Lebih sedikit. Beberapa memilih berangkat tanpa makan.

Aku sadar sesuatu: kesejahteraan itu rapuh. Kadang hanya disangga oleh satu orang yang tak pernah kita anggap penting.

***

Beberapa minggu kemudian, sebuah kabar datang: wanita tua itu meninggal. Tak ada berita. Tak ada upacara. Hanya bisik-bisik kecil di antara para kuli.

Pagi itu, aku berdiri di tempat biasa ia duduk. Angin subuh terasa lebih dingin. Jalan terasa lebih keras.

Aku teringat kata-katanya: capek yang baik.

Dalam doa singkatku, aku memahami sesuatu yang selama ini kabur: bahwa kerja bukan soal seberapa besar yang kita kumpulkan, tapi seberapa jauh yang bisa kita ringankan. Bahwa misi hidup tak selalu berwujud megah; kadang ia hanya sebungkus nasi hangat di tangan yang tepat.

Wanita tua itu telah pergi. Tapi langit masih berdiri. Mungkin karena tiang-tiang kecil seperti dirinya pernah ada—menahan runtuhnya dunia, satu pagi, satu perut, satu senyum pada satu waktu.

Dan bukankah demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama—nafi‘ li ghairihi—agar hidup, yang keras ini, masih layak dijalani?

Aku menunduk. Jalan itu tetap berbatu. Tapi entah mengapa, langkahku terasa lebih lembut.

TAMAT

Depok, 10 Januari 2026

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)