Puisi - Cinta Pada Cermin
Tidakkah engkau melihat cinta di belakang cermin
Walau sama dekatnya dengan perasaan tapi semu
Hingga tak satu hati pun bisa menangkapnya
Sebab kau tidak merelakan sinar mata menembusnya
Andaikan engkau menggantinya seumpama pipimu
Niscaya terdapatlah cinta yang semakin dekat
Lebih dekat dari perasaan yang terfokus itu
Namun tidak sebesar yang diharapkan
Dan lagi semuanya masih tetap semu
Kecuali jika engkau rela membuka tabir matamu
Memperlihatkan cekungan matamu
Di sana sudah menunggu hati yang putih
Mendamba cinta sejati
Tak peduli ke arah mana bumi dipijak
Tak peduli seberapa besar cinta diwartakan
Asalkan cinta sejati itu....
Bersemayam di hatimu yang suci
Catatan Kaki: Fisika–Metaforis
-
Cermin datar dalam puisi ini melambangkan cinta yang terpantul tetapi tertutup. Seperti bayangan pada cermin datar, cinta tampak sama dekatnya dengan perasaan, namun bersifat maya—tidak dapat ditangkap atau diwujudkan—karena cahaya hanya dipantulkan, bukan dibiarkan menembus.
-
Cermin cembung dihadirkan melalui citra pipi dan lengkung wajah. Secara fisika, cermin ini selalu menghasilkan bayangan maya dan diperkecil. Dalam metafora cinta, ia melukiskan hubungan yang terasa aman dan mendekat, tetapi maknanya mengecil: ada kehangatan, namun kedalaman tidak pernah benar-benar tercapai.
-
Cermin cekung menjadi simbol keterbukaan batin. Berbeda dari dua sebelumnya, cermin cekung dapat menghasilkan bayangan nyata, asalkan cahaya dibiarkan masuk dan jarak dipenuhi dengan kesadaran. Inilah cinta sejati dalam puisi: lahir dari hati yang bersedia merendah, menampung cahaya, dan tidak menolak kenyataan.
-
Peralihan dari bayangan maya menuju nyata menandai perjalanan batin manusia: dari cinta yang hanya tampak, menuju cinta yang benar-benar hadir dan bersemayam. Pada titik ini, hukum optika berhenti bekerja, dan kemurnian hati menjadi penentu.
