Cerpen - Di Stasiun Tennoji, Masih Menanti



Kereta JR yang ditumpangi Wiyaga mengerem perlahan. Bunyi besi beradu di antara roda kereta dan rel yang memanjang, seperti helaan napas yang ditahan terlalu lama. Pintu terbuka, dan satu per satu penumpang turun ke peron Stasiun Tennoji. Sore di Osaka berwarna kelabu pucat; langit seolah menahan hujan, sementara angin akhir musim semi membawa sisa bau besi, oli, dan keringat manusia yang baru pulang bekerja.

Wiyaga secara harfiah berarti tempat menyimpan rasa dan nilai, dan dalam tafsir sastra dapat dimaknai sebagai wadah iman atau kantong agama. Namun di tengah hari-hari yang bergerak cepat, ia memilih dipanggil Aga—nama yang lebih ringan—agar ia dapat berjalan di antara keramaian tanpa perlu menjelaskan beban makna yang diam-diam ia bawa.

Aga melangkah turun bersama arus manusia itu. Kemejanya masih rapi menempel di tubuh, meski kelelahan terasa mengendap di bahu dan pelipisnya. Sejak pagi ia berada di pabrik, menjalani magang sebagai trainee—bukan di lantai produksi, melainkan di ruang pengembangan, menatap layar, baris kode, dan rangkaian logika yang menuntut ketelitian, disiplin, serta kesabaran panjang. Jemarinya masih terasa kaku setelah berjam-jam mengetik dan menguji software serta firmware untuk sebuah perangkat elektronik; telinganya masih menyimpan dengung kipas mesin dan bunyi halus perangkat uji. Namun begitu kakinya menapak di Tennoji, di tengah hiruk-pikuk peron dan langkah orang-orang pulang, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dadanya: sepi.

Ia berdiri sejenak di tepi peron, menunggu kereta berikutnya yang akan membawanya lebih dekat ke tempat tinggalnya—Kansai Kenshu Center, asrama para trainee asing di Osaka. Jam di dinding stasiun menunjukkan waktu yang tidak terlalu larut, tetapi Tennoji tetap ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Ada yang tergesa, ada yang tenang, ada pula yang sekadar menunggu seperti dirinya.

Aga mengambil posisi di dekat tiang, menyandarkan punggungnya. Pandangannya mengikuti jalur rel, ke arah kereta yang akan datang. Dan entah mengapa, di tengah keramaian itu, pikirannya justru melayang jauh—menyeberangi laut, menembus waktu.

Dua tahun lalu.

Stasiun KRL Universitas Indonesia.

Kenangan itu datang tanpa diundang, seperti kereta yang tiba-tiba muncul dari kejauhan. Ia teringat dirinya yang masih menjadi mahasiswa Fisika tingkat akhir di Universitas Indonesia Depok, dengan tas selempang lusuh berisi buku-buku tebal. Dan di sana—di peron yang sederhana, di antara mahasiswa yang lalu-lalang—ia  duduk menunggu seorang gadis.

Namanya Muliasari.

Saat itu hubungan mereka tampak sederhana, setidaknya dalam sebutan: kakak dan adik. Mereka berasal dari desa yang sama, dan kedekatan itu terasa alami, seperti sesuatu yang sudah lama disepakati tanpa pernah diucapkan. Muliasari baru memulai kuliah di Akademi Pariwisata di Pondok Cabe; dunia kampus masih terasa asing, membuatnya kerap ragu melangkah sendiri. Jadwal yang padat, tugas yang menumpuk, dan kebingungan membaca peta akademik menjadi alasan baginya untuk mencari Aga—dan mungkin juga alasan bagi Aga untuk selalu menunggu. Hampir setiap pekan mereka bertemu; untuk belajar, atau terkadang sekadar berjalan menyusuri kampus, membiarkan waktu mengalir di antara langkah-langkah pelan, cerita ringan, dan tawa kecil yang diam-diam menetap lebih lama di hati.

Aga mengingat caranya menunggu Muliasari di stasiun. Duduk di bangku peron dengan perasaan yang sulit ia namai. Ia selalu berpura-pura biasa saja, seolah menunggu itu hanyalah bagian dari rutinitas. Padahal setiap bunyi kereta yang datang membuat dadanya berdebar. Setiap pintu yang terbuka, matanya tak berkedip, mencari satu wajah yang sudah ia kenal di luar kepala.

Dan ketika Muliasari akhirnya muncul—biasanya dengan langkah setengah berlari dan senyum yang sedikit malu—ada rasa lapang yang mengalir pelan di hatinya.

Di Tennoji, Aga tersenyum tipis. Waktu telah memindahkannya jauh, tetapi perasaan itu rupanya belum benar-benar pergi. Jepang memberinya jarak, tetapi kenangan justru tumbuh lebih jernih.

Ia melirik papan jadwal kereta; beberapa menit lagi rangkaian berikutnya akan tiba. Orang-orang telah berdiri berbaris rapi di tepi peron. Di antara wajah-wajah asing itu, Aga merasa seolah sedang mengulang adegan lama—menunggu seseorang yang, meski ia tahu, tak mungkin turun di stasiun ini.

Namun dalam diam itu, sebuah puisi mulai terbentuk di kepalanya.

Bukan puisi yang sengaja ia rencanakan. Kata-kata itu mengalir begitu saja, mengikuti ritme kereta, detak jantung, dan ingatan yang berlapis-lapis. Ia merasa seolah kembali menjadi Aga dua tahun lalu—duduk di bangku peron stasiun UI, menunggu Muliasari, dengan harapan yang belum berani ia beri nama.

Kereta datang. Aga naik dan berdiri di dekat pintu. Wajahnya terpantul samar di kaca. Ada Aga yang sekarang—trainee di negeri orang. Ada pula Aga yang dulu—mahasiswa yang diam-diam belajar menunggu.

Sesampainya di Kansai Kenshu Center, malam telah turun sepenuhnya. Asrama itu tidak benar-benar sunyi; lorong-lorongnya dipenuhi suara langkah, tawa lirih, dan percakapan dalam berbagai bahasa para trainee dari negara lain yang baru kembali dari tempat magang masing-masing. Lampu-lampu koridor menyala terang, memantulkan bayang-bayang tubuh yang lalu-lalang. Di tengah keramaian itu, Aga justru merasakan kesunyian yang berbeda. Ia masuk ke kamarnya, melepas sepatu, lalu duduk di meja kecil dekat jendela, membiarkan hiruk-pikuk di luar pintu menjauh perlahan dari hatinya.

Ia membuka buku catatan.

Tanpa banyak berpikir, ia menulis puisi yang sedari tadi sudah ada di kepalanya.

 

DI STASIUN INI AKU MENANTI

Di stasiun ini aku menanti
Setiap kereta yang datang,
Membuatku tak berkedip memandang
Adakah engkau yang datang
Dan menghambur lari ke arahku

Di stasiun ini aku menanti
Setiap kereta yang datang,
Membuatku berdebar kencang
Bilakah engkau datang
Membawa hati nan riang

Ini adalah stasiun harapan
Tempat yang kau janjikan
Kereta yang manakah
Yang membawa kerinduanmu

Jika engkau telah datang
Kan kusambut dengan lapang
Agar hatimu berubah senang
Dan hatiku kan berdendang

Di stasiun ini aku menanti
Karena hati ini ingin terus menyanyi
Bersama yang dinanti

Osaka, 19 Juni 1999

Aga menatap tulisan itu lama. Ia tidak tahu apakah puisi itu indah atau tidak. Yang ia tahu, setiap barisnya jujur. Setiap kata lahir dari ruang sunyi yang selama ini ia simpan.

Ia lalu mengambil selembar kertas lain dan menulis surat satu halaman. Ia tidak menuntut apa pun. Ia hanya ingin Muliasari tahu: ada seseorang yang pernah menunggunya, dan masih menunggu, di stasiun yang berbeda.

Malam semakin larut. Dari jendela, lampu-lampu Osaka berpendar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aga melipat surat dan puisi itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menuliskan alamat Muliasari di Jakarta.

Besok, surat itu akan ia titipkan ke resepsionis untuk dikirim.

Di tempat yang jauh, di waktu yang berbeda, ia tidak tahu apakah Muliasari akan membacanya dengan senyum, dengan diam, atau hanya sekilas lalu lupa. Tetapi bagi Aga, menulis dan mengirimkannya sudah cukup.

Karena di stasiun ini—dan di banyak stasiun lain dalam hidupnya—ia telah belajar satu hal:

Bahwa menunggu, kadang bukan tentang kedatangan.
Melainkan tentang kesetiaan hati pada kenangan yang pernah membuatnya bernyanyi.

TAMAT

Depok, 4 Januari 2026

 

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)