Cerpen - Di Stasiun Tennoji, Masih Menanti
Kereta JR yang ditumpangi Wiyaga mengerem perlahan. Bunyi besi beradu di antara roda kereta dan rel yang memanjang, seperti helaan napas yang ditahan terlalu lama. Pintu terbuka, dan satu per satu penumpang turun ke peron Stasiun Tennoji. Sore di Osaka berwarna kelabu pucat; langit seolah menahan hujan, sementara angin akhir musim semi membawa sisa bau besi, oli, dan keringat manusia yang baru pulang bekerja.
Wiyaga secara harfiah berarti tempat menyimpan rasa dan nilai, dan dalam tafsir sastra dapat dimaknai sebagai wadah iman atau kantong agama. Namun di tengah hari-hari yang bergerak cepat, ia memilih dipanggil Aga—nama yang lebih ringan—agar ia dapat berjalan di antara keramaian tanpa perlu menjelaskan beban makna yang diam-diam ia bawa.
Aga melangkah turun bersama arus manusia itu. Kemejanya masih rapi menempel di tubuh, meski kelelahan terasa mengendap di bahu dan pelipisnya. Sejak pagi ia berada di pabrik, menjalani magang sebagai trainee—bukan di lantai produksi, melainkan di ruang pengembangan, menatap layar, baris kode, dan rangkaian logika yang menuntut ketelitian, disiplin, serta kesabaran panjang. Jemarinya masih terasa kaku setelah berjam-jam mengetik dan menguji software serta firmware untuk sebuah perangkat elektronik; telinganya masih menyimpan dengung kipas mesin dan bunyi halus perangkat uji. Namun begitu kakinya menapak di Tennoji, di tengah hiruk-pikuk peron dan langkah orang-orang pulang, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dadanya: sepi.
Ia berdiri sejenak di tepi peron, menunggu kereta berikutnya yang akan membawanya lebih dekat ke tempat tinggalnya—Kansai Kenshu Center, asrama para trainee asing di Osaka. Jam di dinding stasiun menunjukkan waktu yang tidak terlalu larut, tetapi Tennoji tetap ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Ada yang tergesa, ada yang tenang, ada pula yang sekadar menunggu seperti dirinya.
Aga mengambil posisi di dekat tiang, menyandarkan punggungnya. Pandangannya mengikuti jalur rel, ke arah kereta yang akan datang. Dan entah mengapa, di tengah keramaian itu, pikirannya justru melayang jauh—menyeberangi laut, menembus waktu.
Dua tahun lalu.
Stasiun KRL Universitas Indonesia.
Kenangan itu datang tanpa diundang, seperti kereta yang tiba-tiba muncul dari kejauhan. Ia teringat dirinya yang masih menjadi mahasiswa Fisika tingkat akhir di Universitas Indonesia Depok, dengan tas selempang lusuh berisi buku-buku tebal. Dan di sana—di peron yang sederhana, di antara mahasiswa yang lalu-lalang—ia duduk menunggu seorang gadis.
Namanya Muliasari.
Saat itu hubungan mereka tampak sederhana, setidaknya dalam sebutan: kakak dan adik. Mereka berasal dari desa yang sama, dan kedekatan itu terasa alami, seperti sesuatu yang sudah lama disepakati tanpa pernah diucapkan. Muliasari baru memulai kuliah di Akademi Pariwisata di Pondok Cabe; dunia kampus masih terasa asing, membuatnya kerap ragu melangkah sendiri. Jadwal yang padat, tugas yang menumpuk, dan kebingungan membaca peta akademik menjadi alasan baginya untuk mencari Aga—dan mungkin juga alasan bagi Aga untuk selalu menunggu. Hampir setiap pekan mereka bertemu; untuk belajar, atau terkadang sekadar berjalan menyusuri kampus, membiarkan waktu mengalir di antara langkah-langkah pelan, cerita ringan, dan tawa kecil yang diam-diam menetap lebih lama di hati.
Aga mengingat caranya menunggu Muliasari di stasiun. Duduk di bangku peron dengan perasaan yang sulit ia namai. Ia selalu berpura-pura biasa saja, seolah menunggu itu hanyalah bagian dari rutinitas. Padahal setiap bunyi kereta yang datang membuat dadanya berdebar. Setiap pintu yang terbuka, matanya tak berkedip, mencari satu wajah yang sudah ia kenal di luar kepala.
Dan ketika Muliasari akhirnya muncul—biasanya dengan langkah setengah berlari dan senyum yang sedikit malu—ada rasa lapang yang mengalir pelan di hatinya.
Di Tennoji, Aga tersenyum tipis. Waktu telah memindahkannya jauh, tetapi perasaan itu rupanya belum benar-benar pergi. Jepang memberinya jarak, tetapi kenangan justru tumbuh lebih jernih.
Ia melirik papan jadwal kereta; beberapa menit lagi rangkaian berikutnya akan tiba. Orang-orang telah berdiri berbaris rapi di tepi peron. Di antara wajah-wajah asing itu, Aga merasa seolah sedang mengulang adegan lama—menunggu seseorang yang, meski ia tahu, tak mungkin turun di stasiun ini.
Namun dalam diam itu, sebuah puisi mulai terbentuk di kepalanya.
Bukan puisi yang sengaja ia rencanakan. Kata-kata itu mengalir begitu saja, mengikuti ritme kereta, detak jantung, dan ingatan yang berlapis-lapis. Ia merasa seolah kembali menjadi Aga dua tahun lalu—duduk di bangku peron stasiun UI, menunggu Muliasari, dengan harapan yang belum berani ia beri nama.
Kereta datang. Aga naik dan berdiri di dekat pintu. Wajahnya terpantul samar di kaca. Ada Aga yang sekarang—trainee di negeri orang. Ada pula Aga yang dulu—mahasiswa yang diam-diam belajar menunggu.
Sesampainya di Kansai Kenshu Center, malam telah turun sepenuhnya. Asrama itu tidak benar-benar sunyi; lorong-lorongnya dipenuhi suara langkah, tawa lirih, dan percakapan dalam berbagai bahasa para trainee dari negara lain yang baru kembali dari tempat magang masing-masing. Lampu-lampu koridor menyala terang, memantulkan bayang-bayang tubuh yang lalu-lalang. Di tengah keramaian itu, Aga justru merasakan kesunyian yang berbeda. Ia masuk ke kamarnya, melepas sepatu, lalu duduk di meja kecil dekat jendela, membiarkan hiruk-pikuk di luar pintu menjauh perlahan dari hatinya.
Ia membuka buku catatan.
Tanpa banyak berpikir, ia menulis puisi yang sedari tadi sudah ada di kepalanya.
DI STASIUN INI AKU MENANTI
Di stasiun ini aku menanti
Setiap kereta yang datang,
Membuatku tak berkedip memandang
Adakah engkau yang datang
Dan menghambur lari ke arahku
Di stasiun ini aku menanti
Setiap kereta yang datang,
Membuatku berdebar kencang
Bilakah engkau datang
Membawa hati nan riang
Ini adalah stasiun harapan
Tempat yang kau janjikan
Kereta yang manakah
Yang membawa kerinduanmu
Jika engkau telah datang
Kan kusambut dengan lapang
Agar hatimu berubah senang
Dan hatiku kan berdendang
Di stasiun ini aku menanti
Karena hati ini ingin terus menyanyi
Bersama yang dinanti
Osaka, 19 Juni 1999
Aga menatap tulisan itu lama. Ia tidak tahu apakah puisi itu indah atau tidak. Yang ia tahu, setiap barisnya jujur. Setiap kata lahir dari ruang sunyi yang selama ini ia simpan.
Ia lalu mengambil selembar kertas lain dan menulis surat satu halaman. Ia tidak menuntut apa pun. Ia hanya ingin Muliasari tahu: ada seseorang yang pernah menunggunya, dan masih menunggu, di stasiun yang berbeda.
Malam semakin larut. Dari jendela, lampu-lampu Osaka berpendar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aga melipat surat dan puisi itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menuliskan alamat Muliasari di Jakarta.
Besok, surat itu akan ia titipkan ke resepsionis untuk dikirim.
Di tempat yang jauh, di waktu yang berbeda, ia tidak tahu apakah Muliasari akan membacanya dengan senyum, dengan diam, atau hanya sekilas lalu lupa. Tetapi bagi Aga, menulis dan mengirimkannya sudah cukup.
Karena di stasiun ini—dan di banyak stasiun lain dalam hidupnya—ia telah belajar satu hal:
Bahwa menunggu, kadang bukan tentang kedatangan.
Melainkan tentang kesetiaan hati pada kenangan yang pernah membuatnya bernyanyi.
TAMAT
Depok, 4 Januari 2026
