Cerpen - Seribu Origami di Bawah Hujan Osaka
Hujan musim semi turun deras di kota Osaka, mengetuk atap mobil hitam Takumi Aoyama seperti denting kenangan yang dipaksa bangkit dari kuburnya. Dari balik kaca depan, ia melihat sepasang orang tua berjalan perlahan menuju sebuah pemakaman kecil di pinggir kota—di antara rumah-rumah tua dan pohon sakura yang kelopaknya rontok basah di aspal.
Langkah mereka tertatih. Jas tipis dan mantel tua yang mereka kenakan tak mampu menahan hujan yang meresap hingga ke tulang. Ada tarikan aneh di dada Takumi—sebuah dorongan halus, nyaris tak masuk akal—yang membuatnya mematikan mesin dan turun dari mobil.
Dunia seperti membuka kembali pintu lama yang sudah lama ia kunci rapat.
Pintu menuju masa ketika hidupnya hanya berisi cinta sederhana dan mimpi-mimpi kecil bersama Hoshino Airi.
Dulu, ketika Takumi dan Airi masih mahasiswa tingkat awal di sebuah universitas swasta Osaka, cinta mereka tumbuh dengan pelan dan bersahaja. Mereka berbagi kopi kaleng murah dari vending machine, belajar di perpustakaan hingga larut, dan membicarakan masa depan di bawah lampu jalan yang temaram.
Untuk merayakan ulang tahun jadian pertama mereka, Takumi melipat seribu origami bangau—senbazuru. Tangannya pegal, matanya perih, namun ia terus melipat di sela-sela waktu kuliah dan kerja paruh waktunya. Origami-origami itu ia gantungkan di kamar kecil Airi, memenuhi langit-langit dan jendela dengan sayap kertas warna-warni.
“Kenapa harus seribu?” tanya Airi dengan suara bergetar, matanya basah.
Takumi menjawab dari belakang.
“Di negeri kita, seribu bangau adalah doa,” bisiknya.
“Kalau suatu hari aku tak bisa menjagamu… biarlah origami-origami ini yang melakukannya.”
Airi tersenyum di bawah cahaya bulan, dikelilingi senbazuru yang bergerak perlahan oleh angin malam. Saat itu, mereka percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang akan selalu bertahan.
Namun tak ada yang benar-benar abadi.
Perubahan kecil mulai muncul pada diri Airi. Pesan LINE yang dulu dibalas secepat kilat kini mengendap berjam-jam tanpa jawaban. Panggilan telepon sering berakhir tanpa respons. Tatapannya tak lagi hangat, seolah ada jarak tak kasat mata yang tumbuh di antara mereka.
Takumi merasa dirinya seperti origami tua—pernah indah, pernah dijaga, namun perlahan kehilangan warna.
Hingga suatu sore kelabu di sebuah taman kota, Airi duduk di bangku kayu dengan wajah pucat dan senyum yang dipaksakan.
“Takumi…” katanya pelan.
“Kita harus berakhir. Aku ingin masa depan yang stabil. Kamu terlalu miskin. Aku ingin menikah dengan seseorang yang bisa membawaku tinggal di luar negeri… ke Eropa.”
Kata-kata itu terasa asing, dingin, dan menyayat.
Takumi tak membantah. Amarah membuncah, bercampur rasa malu dan harga diri yang remuk. Tanpa menoleh, ia pergi. Langkahnya kaku, dadanya dipenuhi dendam yang menutup seluruh kenangan tentang Airi.
Setelah itu, hidup Takumi runtuh—dan dibangun kembali dengan cara yang kejam.
Ia kuliah sambil menjadi pekerja paruh waktu (baito) di minimarket, kurir pengantaran barang, hingga staf gudang logistik yang pulang ketika kota sudah tertidur. Tangannya kasar, punggungnya sakit, tapi satu kalimat terus bergema di kepalanya: “terlalu miskin.”
Kemarahan menjadi bahan bakarnya.
Dari pengalaman di lapangan, Takumi melihat celah: sistem logistik Jepang yang padat. Dengan sisa tabungan dan hutang kecil, ia mendirikan startup logistik berbasis teknologi—menghubungkan gudang kecil, kurir lokal, dan sistem digital efisien.
Perlahan, usahanya tumbuh. Investasi datang. Nama Takumi Aoyama dikenal di dunia bisnis. Ia menjadi kaya—jauh lebih kaya dari apa pun yang pernah Airi bayangkan.
Namun di laci mejanya, tersimpan sebuah kotak kecil berisi origami bangau tua—kusam, rapuh, dan tak pernah ia buang.
Bertahun-tahun kemudian, di tengah hujan seperti hari ini, Takumi melihat sepasang orang tua berjalan menuju pemakaman.
Ia mengikuti mereka.
Di bawah pohon sakura tua yang hampir tak berbunga, berdiri sebuah batu nisan sederhana.
HOSHINO AIRI
Di sekelilingnya, puluhan origami bangau lusuh tergantung basah, warnanya pudar, sayapnya lepek.
Takumi tercekik napasnya.
Ayah Airi mendekat, suaranya serak.
“Takumi… Airi tidak pernah menikah. Dan dia tidak pernah pergi ke luar negeri.”
Hujan seakan berhenti.
“Ia mengidap leukemia sejak sebelum kalian berpisah,” lanjutnya.
“Dia tidak ingin kamu melihatnya melemah. Dia takut kamu menghancurkan hidupmu demi merawatnya.”
Ibunya terisak.
“Dia memutuskanmu agar kamu membencinya. Dia percaya hanya kebencian yang cukup kuat untuk membuatmu bertahan.”
Takumi runtuh.
Sebuah kertas kecil dilaminasi diserahkan kepadanya. Tulisan tangan Airi tertera:
Jika Takumi suatu hari datang,
bawakan aku origami lagi.
Karena hatiku tak pernah berhenti menghitung ketulusannya.
Keesokan harinya, Takumi melipat seribu senbazuru baru.
Ia menggantungkannya di sekitar makam Airi—warna cerah, lipatan rapi.
Saat ia beranjak pergi, satu origami kecil tergeletak di atas nisan.
Bukan buatannya.
Takumi terdiam.
Hujan telah berhenti, tetapi cinta—tidak.
TAMAT
Depok, 28 Desember 2025
