Cerpen - Akuarium di Ruang Tamu
Aku adalah seekor ikan kecil berwarna orange putih, baru tiga hari hidup di dalam akuarium yang diletakkan di ruang tamu sebuah rumah besar. Airku jernih, batu-batu hias berkilau seperti permata palsu, dan tanaman plastik berdiri kaku seolah tak pernah lelah. Dari balik dinding kaca ini, aku menyaksikan dunia manusia—dunia yang bergerak cepat, penuh bunyi, dan penuh sesuatu yang belum kupahami sepenuhnya.
Hari pertama aku tiba, aku masih sibuk menyesuaikan napas. Insangku belajar irama baru, siripku mencoba berdamai dengan arus buatan dari mesin penyaring. Dari dalam akuarium, ruang tamu tampak seperti panggung. Sofa empuk berwarna gading, meja marmer yang dingin, lukisan-lukisan mahal yang seolah memandang siapa pun yang lewat dengan tatapan angkuh. Di dinding, jam besar berdetak pelan, mengukur waktu dengan kesabaran yang tidak dimiliki penghuninya.
Keluarga itu tinggal di sini: seorang Bapak yang jarang pulang sebelum malam, seorang Ibu yang selalu tampak rapi dan wangi, serta dua orang anak—perempuan yang sudah kuliah dan laki-laki yang baru duduk di kelas satu SMA. Mereka sering berlalu-lalang di depanku, tapi jarang menatapku. Aku hanya ornamen, pelengkap keindahan ruang tamu, seperti vas bunga atau patung abstrak.
Adegan pertama yang kulihat terjadi pada hari ketigaku.
Pagi itu, rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Tawa terdengar sejak matahari belum tinggi. Anak laki-laki itu berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya berseri-seri. Balon-balon berwarna metalik memenuhi sudut ruangan, dan kue besar bertingkat diletakkan di meja. Angka usia menyala dengan lilin-lilin kecil.
"Selamat ulang tahun," kata Bapak dengan suara berat namun hangat.
Tak lama kemudian, pintu garasi terbuka. Dari celah yang terlihat dari tempatku, sebuah mobil mengilap masuk ke halaman. Catnya hitam pekat, refleksinya memantulkan langit pagi. Anak laki-laki itu tertegun sejenak, lalu melompat kegirangan.
"Untukku?" tanyanya, suaranya bergetar antara tak percaya dan bahagia.
Bapak mengangguk. Ibu tersenyum bangga. Anak perempuan itu—yang lebih dewasa—ikut tersenyum, meski matanya menyimpan sesuatu yang lain, mungkin heran, mungkin ragu.
Aku mengibaskan ekorku pelan. Di duniaku, tak ada ulang tahun, tak ada mobil. Kami merayakan hidup dengan bertahan satu hari lagi tanpa dimakan pemangsa. Hadiah terbesarku hanyalah air yang bersih.
Beberapa hari kemudian, aku menyaksikan adegan lain.
Malam itu hujan turun rintik-rintik. Lampu ruang tamu redup, hanya cahaya kuning lembut yang menyinari sofa. Seorang tamu datang—seorang pria berjas mahal, sepatu mengilap, dan senyum yang terlalu lebar. Mereka duduk berhadapan. Aku melihat dari balik kaca akuarium, tubuhku melayang diam di antara tanaman plastik.
Percakapan mereka lirih, terputus-putus. Aku tak mengerti kata-kata manusia, tapi aku mengerti bahasa gerak. Tangan yang terlalu sering menyentuh meja. Mata yang saling mengunci terlalu lama. Lalu, sebuah amplop cokelat berpindah tangan.
Gerakannya cepat, seolah takut dilihat, padahal aku melihat semuanya.
Bapak mengangguk pelan. Tamu itu tersenyum lega. Tak ada teriakan, tak ada konflik. Hanya kesepakatan sunyi yang mengendap di udara, seperti kotoran halus di dasar akuarium yang lama-lama mengeruh jika tak dibersihkan.
Aku teringat duniaku. Di air, segalanya jujur. Jika ada makanan, kami berebut. Jika ada bahaya, kami lari. Tak ada amplop, tak ada senyum palsu. Hanya naluri.
Beberapa hari berlalu. Aku mulai hafal ritme rumah ini. Pagi yang sibuk, siang yang sepi, malam yang kadang penuh tamu.
Lalu datanglah hari arisan.
Ruang tamu berubah menjadi arena pameran. Ibu dan teman-temannya—para perempuan dengan pakaian berkilau dan tas-tas bermerek—duduk melingkar. Tawa mereka nyaring, wangi parfum bercampur di udara. Di meja, barang-barang dari luar negeri dipajang: tas, sepatu, perhiasan, kosmetik mahal. Mereka memamerkan asal-usulnya seolah itu medali kehormatan.
"Ini dari Paris," kata seorang.
"Kalau yang ini Milan," sahut yang lain.
Ibu tersenyum paling lebar. Tangannya sesekali membelai tas mahal di pangkuannya. Anak perempuan itu melintas sebentar, memandang pemandangan itu dengan wajah datar, lalu menghilang ke kamarnya.
Aku berenang memutar. Kaca akuarium memantulkan cahaya lampu, membuat dunia tampak berkilau, tapi aku tahu kilau itu palsu—seperti batu hias di dasar tempat tinggalku.
Waktu berjalan. Satu bulan berlalu.
Pagi itu, suasana rumah berbeda. Tak ada tawa. Tak ada parfum menyengat. Yang ada hanyalah ketegangan yang membuat air di akuariumku seolah lebih berat. Pintu depan terbuka keras. Beberapa orang masuk dengan rompi bertuliskan tiga huruf yang tak kupahami, tapi getar suaranya membuat siripku gemetar.
Mereka bergerak cepat. Laci dibuka, lemari digeledah. Kertas-kertas berserakan. Ibu terduduk, tangannya menutup mulut. Anak perempuan itu menangis pelan. Anak laki-laki berdiri kaku, wajahnya pucat.
"Bapaknya sudah di gedung KPK," kata salah satu dari mereka.
"Tertangkap tangan," sahut yang lain.
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam air.
Aku melihat kesedihan. Aku merasakannya meski aku hanya seekor ikan. Airku tetap jernih, tapi dadaku terasa sempit. Mereka terdiam, menangis, dan sedih—semua kecuali sang Bapak, yang tak ada di rumah.
Aku mengerti satu hal: dunia manusia penuh lapisan. Di balik kemewahan ada ketakutan. Di balik senyum ada kesepakatan gelap. Di balik hadiah ada harga yang harus dibayar.
Aku berenang perlahan, menyusuri kaca akuarium. Dunia ikanku sederhana. Kami hidup dan mati dengan jujur. Kami tidak menyembunyikan apa pun di balik amplop. Kami tidak memamerkan apa pun selain warna sisik kami sendiri.
Aku bersyukur tidak menjadi manusia.
Karena ternyata kehidupan mereka begitu rumit, begitu penuh tipu daya. Dan dari akuarium kecil di ruang tamu ini, aku belajar: kadang, kebebasan justru ada di balik kaca—di dunia yang dianggap kecil, tapi jujur.
