Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta
Aku mengenal Junaidi sejak kami masih kecil. Dua tahun lalu, kami sama-sama menginjakkan kaki di Jakarta, berangkat dari desa yang sama—sebuah desa kecil di kaki perbukitan, dengan jalan-jalan tanah dan hamparan sawah yang setiap pagi basah oleh embun. Dari desa itulah aku dan Junaidi, sama-sama lulusan politeknik di kota kelahiran kami, memilih merantau. Junaidi meninggalkan Sekar Ayu Lestari, kekasihnya sejak SMA—gadis yang namanya selalu ia ucapkan lirih, seolah takut patah bila disebut terlalu keras.
Aku, Kudin, datang ke Jakarta dengan ransel usang dan kepala penuh rencana sederhana: bekerja, bertahan, lalu pulang jika waktunya tiba. Junaidi berbeda. Ia datang dengan mimpi yang lebih besar—menikah, membangun rumah kecil, dan membebaskan ibunya dari kerja kasar yang tak pernah selesai.
Pada awalnya, hidup kami nyaris serupa. Kami menyewa sebuah kamar kontrakan sempit di gang yang tak pernah benar-benar sepi. Bau gorengan, asap knalpot, dan cucian basah bercampur menjadi aroma khas—aroma yang lambat laun tak lagi kami sadari keberadaannya. Junaidi bekerja lebih keras dariku; ia kerap lembur dan sesekali mencari objekan di luar pekerjaan resminya. Ia jarang mengeluh, jarang pulang kampung, dan hampir tak pernah membeli sesuatu selain kebutuhan pokok. Semua itu ia jalani demi satu tujuan sederhana namun teguh: mengumpulkan modal pernikahan.
Sekar sering menelepon Junaidi setiap malam. Aku tahu dari caranya tersenyum sendiri sambil duduk di tepi kasur, ponsel di tangan, matanya memandang lantai seolah di sana terpampang masa depan yang ingin ia capai.
“Awal tahun depan, setelah Lebaran,” katanya suatu malam kepadaku. “Aku pulang bawa kepastian.”
Aku ikut tersenyum waktu itu.
***
Sekitar setahun kemudian, aku mulai melihat perubahan kecil pada diri Junaidi. Ia sering membaca artikel keuangan, menonton video tentang pengelolaan dana, dan berbicara tentang sebuah lembaga bernama Dana Amanah Nusantara—sebuah platform investasi lending p2p berbasis prinsip syariah, katanya. Legal, diawasi, lengkap.
“Ini bukan main-main, Gais,” ujarnya dengan mata berbinar. “Aku sudah cek. Insya Allah Aman.”
Aku mengangguk, meski tak benar-benar paham. Aku sendiri memilih menyimpan uang di rekening biasa. Bagiku, bertahan hidup di kota sudah cukup berisiko tanpa perlu menambah taruhan.
Junaidi tak setengah-setengah. Semua uang hasil kerjanya—bahkan tabungan lama sebelum merantau—ia masukkan ke sana. Ia menyebutnya sebagai jalan pintas yang halal menuju masa depan. Aku sempat mengingatkannya agar tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang, tapi ia hanya tersenyum.
“Kalau kita tidak berani, kita akan selamanya di tempat yang sama.”
Aku tidak menyanggah lagi.
***
Musim hujan tahun berikutnya datang lebih cepat dari biasanya, bersamaan dengan kabar yang pelan-pelan menggerogoti wajah Junaidi. Awalnya hanya soal keterlambatan pencairan.
“Mungkin sistem,” katanya, mencoba tenang.
Namun Oktober itu menjadi titik balik yang tak pernah benar-benar bisa ia sebutkan dengan kata-kata. Uang yang ia tarik tak kunjung kembali. Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan. Ponsel Junaidi tak pernah jauh dari tangannya, menunggu notifikasi yang tak pernah muncul.
Pada saat yang sama, ia kehilangan pekerjaannya. Proyek berhenti. Perusahaan merampingkan karyawan. Semua datang bersamaan, seolah kota ini sengaja menguji batas ketahanan seseorang.
Aku melihatnya mulai jarang makan. Kontrakan sering dibayar terlambat. Kadang aku pura-pura membeli makanan berlebih agar bisa berbagi tanpa membuatnya merasa dikasihani. Tapi Junaidi bukan orang bodoh. Ia tahu. Dan rasa bersalah itu menumpuk di pundaknya.
“Di sana juga ada uang ibu dan mbayuku,” katanya suatu malam dengan suara hampir tak terdengar. “Mereka titipkan ke aku.”
Aku tak tahu harus berkata apa.
***
Sekar masih menelepon, tapi kini nada suaranya berubah. Bukan marah—lebih ke cemas yang ditahan. Junaidi sering mematikan telepon sebelum air matanya jatuh. Ia takut suaranya bergetar. Ia takut Sekar mendengar kehancuran yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Pernikahan yang dulu dibicarakan dengan tanggal dan rencana kini hanya disebut sebagai nanti. Kata yang semakin lama semakin kosong.
Junaidi jarang tidur. Jika terlelap, ia terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi bantal tipisnya. Aku sering mendengar langkahnya mondar-mandir di malam hari, seperti orang mencari pintu keluar dari ruangan yang tak terlihat.
“Aku takut pulang,” katanya padaku suatu pagi. “Takut ditanya. Takut mengecewakan.”
Ia merasa terjebak—di kota tanpa pekerjaan dan tanpa uang, di desa tanpa keberanian untuk kembali. Jakarta yang dulu ia sebut kota harapan kini berubah menjadi labirin tanpa peta.
***
Kabar tentang Dana Amanah Nusantara akhirnya pecah ke permukaan. Gagal bayar. Sedang diinvestigasi. Kena sanksi pengawas. Janji tanggung jawab yang terdengar semakin abstrak. Aku melihat Junaidi membaca berita itu dengan wajah pucat, seolah kata-kata di layar ponsel adalah vonis yang tak bisa ditawar.
Ia menyalahkan dirinya sendiri. Setiap hari. Setiap jam.
“Harusnya aku tidak serakah,” katanya.
“Harusnya aku lebih hati-hati.”
“Harusnya aku dengar kamu.”
Aku tahu kata harusnya tak pernah menyelamatkan siapa pun.
Junaidi mulai sakit-sakitan. Demam datang dan pergi. Nafsu makan hilang. Ia mencoba mencari kerja lagi, tapi pikirannya tak pernah benar-benar hadir. Setiap formulir lamaran terasa seperti ejekan ketika rekeningnya kosong dan masa depannya buram.
Aku hanya bisa menemani—mendengarkan, menyeduh teh murah, dan duduk diam ketika kata-kata tak lagi berguna.
***
Suatu malam, langit Jakarta terlihat lebih gelap dari biasanya. Junaidi duduk di depan kontrakan, menatap lampu jalan yang berkedip-kedip.
“Aku cuma ingin mereka bertanggung jawab,” katanya lirih. “Aku tidak minta lebih. Cuma uangku kembali. Biar aku bisa hidup lagi.”
Aku tahu yang ia maksud bukan hanya uang. Tapi harga diri, harapan, dan keberanian untuk menatap Sekar tanpa rasa malu.
Aku tak ikut investasi itu. Aku tak kehilangan tabungan. Tapi malam itu aku merasa kehilangan sesuatu juga—keyakinan bahwa kerja keras tidak selalu berujung pada hasil yang setimpal.
***
Hari ini, Junaidi masih di Jakarta. Sekar masih menunggu di desa, dengan kesabaran yang mulai retak oleh waktu. Pernikahan mereka berada di ambang kegagalan—bukan karena cinta yang hilang, tapi karena keadaan yang terlalu berat dipikul sendirian.
Aku menulis kisah ini bukan sebagai hakim, bukan pula sebagai pahlawan. Aku hanya saksi—teman seperjalanan yang melihat bagaimana sebuah mimpi bisa runtuh bukan oleh kemalasan, melainkan oleh kepercayaan yang dikhianati.
Di kota ini, banyak anak muda seperti Junaidi. Datang dengan harapan, pulang dengan luka yang tak selalu terlihat. Dan aku tahu, kabut itu belum sepenuhnya pergi.
Namun selama Junaidi masih bangun setiap pagi, meski dengan mata lelah dan hati yang retak, aku percaya satu hal:
ia belum kalah—hanya sedang tersesat, menunggu peta yang cukup jujur untuk membimbingnya bangkit kembali.
