Cerpen - Kabut di Kota Tanpa Peta

 


Aku mengenal Junaidi sejak kami masih kecil. Dua tahun lalu, kami sama-sama menginjakkan kaki di Jakarta, berangkat dari desa yang sama—sebuah desa kecil di kaki perbukitan, dengan jalan-jalan tanah dan hamparan sawah yang setiap pagi basah oleh embun. Dari desa itulah aku dan Junaidi, sama-sama lulusan politeknik di kota kelahiran kami, memilih merantau. Junaidi meninggalkan Sekar Ayu Lestari, kekasihnya sejak SMA—gadis yang namanya selalu ia ucapkan lirih, seolah takut patah bila disebut terlalu keras.

Aku, Kudin, datang ke Jakarta dengan ransel usang dan kepala penuh rencana sederhana: bekerja, bertahan, lalu pulang jika waktunya tiba. Junaidi berbeda. Ia datang dengan mimpi yang lebih besar—menikah, membangun rumah kecil, dan membebaskan ibunya dari kerja kasar yang tak pernah selesai.

Pada awalnya, hidup kami nyaris serupa. Kami menyewa sebuah kamar kontrakan sempit di gang yang tak pernah benar-benar sepi. Bau gorengan, asap knalpot, dan cucian basah bercampur menjadi aroma khas—aroma yang lambat laun tak lagi kami sadari keberadaannya. Junaidi bekerja lebih keras dariku; ia kerap lembur dan sesekali mencari objekan di luar pekerjaan resminya. Ia jarang mengeluh, jarang pulang kampung, dan hampir tak pernah membeli sesuatu selain kebutuhan pokok. Semua itu ia jalani demi satu tujuan sederhana namun teguh: mengumpulkan modal pernikahan.

Sekar sering menelepon Junaidi setiap malam. Aku tahu dari caranya tersenyum sendiri sambil duduk di tepi kasur, ponsel di tangan, matanya memandang lantai seolah di sana terpampang masa depan yang ingin ia capai.
“Awal tahun depan, setelah Lebaran,” katanya suatu malam kepadaku. “Aku pulang bawa kepastian.”

Aku ikut tersenyum waktu itu.

***

Sekitar setahun kemudian, aku mulai melihat perubahan kecil pada diri Junaidi. Ia sering membaca artikel keuangan, menonton video tentang pengelolaan dana, dan berbicara tentang sebuah lembaga bernama Dana Amanah Nusantara—sebuah platform investasi lending p2p berbasis prinsip syariah, katanya. Legal, diawasi, lengkap.
“Ini bukan main-main, Gais,” ujarnya dengan mata berbinar. “Aku sudah cek. Insya Allah Aman.”

Aku mengangguk, meski tak benar-benar paham. Aku sendiri memilih menyimpan uang di rekening biasa. Bagiku, bertahan hidup di kota sudah cukup berisiko tanpa perlu menambah taruhan.

Junaidi tak setengah-setengah. Semua uang hasil kerjanya—bahkan tabungan lama sebelum merantau—ia masukkan ke sana. Ia menyebutnya sebagai jalan pintas yang halal menuju masa depan. Aku sempat mengingatkannya agar tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang, tapi ia hanya tersenyum.
“Kalau kita tidak berani, kita akan selamanya di tempat yang sama.”

Aku tidak menyanggah lagi.

***

Musim hujan tahun berikutnya datang lebih cepat dari biasanya, bersamaan dengan kabar yang pelan-pelan menggerogoti wajah Junaidi. Awalnya hanya soal keterlambatan pencairan.
“Mungkin sistem,” katanya, mencoba tenang.

Namun Oktober itu menjadi titik balik yang tak pernah benar-benar bisa ia sebutkan dengan kata-kata. Uang yang ia tarik tak kunjung kembali. Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan. Ponsel Junaidi tak pernah jauh dari tangannya, menunggu notifikasi yang tak pernah muncul.

Pada saat yang sama, ia kehilangan pekerjaannya. Proyek berhenti. Perusahaan merampingkan karyawan. Semua datang bersamaan, seolah kota ini sengaja menguji batas ketahanan seseorang.

Aku melihatnya mulai jarang makan. Kontrakan sering dibayar terlambat. Kadang aku pura-pura membeli makanan berlebih agar bisa berbagi tanpa membuatnya merasa dikasihani. Tapi Junaidi bukan orang bodoh. Ia tahu. Dan rasa bersalah itu menumpuk di pundaknya.

“Di sana juga ada uang ibu dan mbayuku,” katanya suatu malam dengan suara hampir tak terdengar. “Mereka titipkan ke aku.”

Aku tak tahu harus berkata apa.

***

Sekar masih menelepon, tapi kini nada suaranya berubah. Bukan marah—lebih ke cemas yang ditahan. Junaidi sering mematikan telepon sebelum air matanya jatuh. Ia takut suaranya bergetar. Ia takut Sekar mendengar kehancuran yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

Pernikahan yang dulu dibicarakan dengan tanggal dan rencana kini hanya disebut sebagai nanti. Kata yang semakin lama semakin kosong.

Junaidi jarang tidur. Jika terlelap, ia terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi bantal tipisnya. Aku sering mendengar langkahnya mondar-mandir di malam hari, seperti orang mencari pintu keluar dari ruangan yang tak terlihat.

“Aku takut pulang,” katanya padaku suatu pagi. “Takut ditanya. Takut mengecewakan.”

Ia merasa terjebak—di kota tanpa pekerjaan dan tanpa uang, di desa tanpa keberanian untuk kembali. Jakarta yang dulu ia sebut kota harapan kini berubah menjadi labirin tanpa peta.

***

Kabar tentang Dana Amanah Nusantara akhirnya pecah ke permukaan. Gagal bayar. Sedang diinvestigasi. Kena sanksi pengawas. Janji tanggung jawab yang terdengar semakin abstrak. Aku melihat Junaidi membaca berita itu dengan wajah pucat, seolah kata-kata di layar ponsel adalah vonis yang tak bisa ditawar.

Ia menyalahkan dirinya sendiri. Setiap hari. Setiap jam.
“Harusnya aku tidak serakah,” katanya.
“Harusnya aku lebih hati-hati.”
“Harusnya aku dengar kamu.”

Aku tahu kata harusnya tak pernah menyelamatkan siapa pun.

Junaidi mulai sakit-sakitan. Demam datang dan pergi. Nafsu makan hilang. Ia mencoba mencari kerja lagi, tapi pikirannya tak pernah benar-benar hadir. Setiap formulir lamaran terasa seperti ejekan ketika rekeningnya kosong dan masa depannya buram.

Aku hanya bisa menemani—mendengarkan, menyeduh teh murah, dan duduk diam ketika kata-kata tak lagi berguna.

***

Suatu malam, langit Jakarta terlihat lebih gelap dari biasanya. Junaidi duduk di depan kontrakan, menatap lampu jalan yang berkedip-kedip.
“Aku cuma ingin mereka bertanggung jawab,” katanya lirih. “Aku tidak minta lebih. Cuma uangku kembali. Biar aku bisa hidup lagi.”

Aku tahu yang ia maksud bukan hanya uang. Tapi harga diri, harapan, dan keberanian untuk menatap Sekar tanpa rasa malu.

Aku tak ikut investasi itu. Aku tak kehilangan tabungan. Tapi malam itu aku merasa kehilangan sesuatu juga—keyakinan bahwa kerja keras tidak selalu berujung pada hasil yang setimpal.

***

Hari ini, Junaidi masih di Jakarta. Sekar masih menunggu di desa, dengan kesabaran yang mulai retak oleh waktu. Pernikahan mereka berada di ambang kegagalan—bukan karena cinta yang hilang, tapi karena keadaan yang terlalu berat dipikul sendirian.

Aku menulis kisah ini bukan sebagai hakim, bukan pula sebagai pahlawan. Aku hanya saksi—teman seperjalanan yang melihat bagaimana sebuah mimpi bisa runtuh bukan oleh kemalasan, melainkan oleh kepercayaan yang dikhianati.

Di kota ini, banyak anak muda seperti Junaidi. Datang dengan harapan, pulang dengan luka yang tak selalu terlihat. Dan aku tahu, kabut itu belum sepenuhnya pergi.

Namun selama Junaidi masih bangun setiap pagi, meski dengan mata lelah dan hati yang retak, aku percaya satu hal:
ia belum kalah—hanya sedang tersesat, menunggu peta yang cukup jujur untuk membimbingnya bangkit kembali.

 TAMAT

Depok, 31 Desember 2025

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna

Postingan Populer

Cerpen - Sapaan Yang Hanyut Terbawa Banjir

Cerpen Remaja - Rajawali dan Anyelir yang Tersesat

Cerpen - Cinta yang Terselip di Antara Rumus-rumus Fisika

Cerpen - Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari

Puisi - SEJAK KAU MENANGIS

Haji Bersama Kekasih: Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci

Cerpen - Jejak Non yang Mulai Dewasa

Cerpen - Dalam Napasmu, Aku Menemukan Lagu

Cerpen - Di Bawah Tokyo Tower, Malam Berbisik (東京タワーの下、夜が囁く)