Esai Reflektif: Sungai Prepil, Aliran yang Menjaga Kisahku
Sungai Prepil di Tegal bukanlah sungai yang lahir dari kehendak alam. Ia adalah sungai yang dibentuk tangan manusia pada zaman kolonial—sebuah sodetan dari aliran Kali Gung, mengalir mulai dari Kalimati di Adiwerna hingga Jembatan Pantura. Dari titik itu, alirannya berganti nama menjadi Kali Ketiwon, kemudian terus melangkah pelan menuju Laut Jawa, tepat di sisi timur Pantai Alam Indah.
Kali Gung sendiri bersumber jauh di pegunungan—dari lereng Gunung Agung atau sekarang disebut Gunung Slamet—mengalir bagai kisah yang turun dari langit tinggi menuju kehidupan manusia di Tegal. Namun aliran itu pernah dipecah, dibelokkan, dan diarahkan ulang. Sejak itu sungai ini tak hanya menjadi aliran air, tetapi juga garis batas: dari Pasar Langon atau Pasar Kambing hingga ke muara, Prepil dan Ketiwon membelah Tegal menjadi dua sisi—timur yang menjadi bagian Kabupaten, dan barat yang masuk wilayah Kota.
Di antara kisah geografi dan sejarah itu, aku menemukan diriku sendiri.
Sungai ini bukan hanya garis di peta, melainkan ada potongan garis pada hidupku.
Aku pertama kali menyusuri tepian Sungai Prepil ketika masih kelas satu SMA di tahun 1990. Waktu itu, kami masih disebut tamu penegak dalam kepramukaan. Untuk menyandang gelar Penegak, kami harus mengikuti Wisata Malam—perjalanan panjang yang menguji ketahanan, kekompakan, juga keberanian diam-diam di dalam diri.
Kami berjalan dari sekolah, menembus malam yang pekat, dan pada titik tertentu jalur kami membawa kaki-kaki remaja itu ke tepi Sungai Prepil. Airnya mengalir dengan warna gelap, menyimpan gema yang tak bisa kami tafsirkan.
Aku tak ingat semua detailnya, tapi aku ingat degup hatiku ketika langkah kami melambat di tepian sungai itu—seakan airnya memanggil kenangan yang belum terjadi.
Perjalanan itu berakhir di halaman sebuah sekolah. Di situlah kami diwisuda menjadi Penegak. Foto-foto mungkin telah hilang, namun suara sungai malam itu tetap tinggal.
Belum lama setelah itu, masih di kelas satu, aku kembali menyusuri sungai yang sama dalam kegiatan Reli Semut bersama beberapa teman yang menjadi duta sekolah. Malam itu lebih panjang, jaraknya lebih jauh, dan langkah-langkah kami terasa lebih sunyi.
Sungai Prepil tak berubah, tapi aku merasakannya berbeda.
Ada udara Februari yang lembab, ada lampu-lampu kota yang memantul pada air, ada sepi yang begitu kuat hingga terasa seperti menyentuh jiwaku. Dari perjalanan reli itulah sebuah cerpen lahir —cerita yang kemudian kutulis dengan judul “Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari.”
Entah kenapa, sungai itu selalu menjadi tempat kata-kata menemukan jalannya.
Ketika aku naik ke kelas dua, jalannya tetap sama tapi peranku berubah.
Kini aku berjalan di tepian Sungai Prepil bukan sebagai peserta, melainkan sebagai panitia. Kami mendampingi adik-adik kelas yang akan diwisuda sebagai Penegak. Ada kebanggaan kecil, ada nostalgia yang samar, ada perasaan seperti kembali bertemu teman lama.
Sungai itu diam, tapi seolah memahami bahwa kali ini aku datang dengan tanggung jawab yang berbeda.
Bertahun-tahun berlalu.
Hidup membawa langkahku jauh dari Tegal.
Namun pada akhir 2020, ketika dunia dilanda Covid-19, aku kembali ke tanah kelahiranku dalam keadaan yang tidak pernah kubayangkan. Ibuku wafat.
Aku sendiri divonis terinfeksi Covid-19. Pada saat pemakaman, aku hanya bisa berdiri jauh, menyaksikan kepergian sosok yang membesarkanku dari jarak yang tak pernah terbayangkan: antara cinta dan protokol, antara duka dan keterpaksaan.
Karena keadaan, aku, istriku, dan anakku harus menginap di sebuah hotel di kota—jauh dari desa kelahiranku—untuk mengisolasi diri. Tak kusangka, hotel itu berdiri tak jauh dari Sungai Prepil, sungai yang diam-diam telah menyimpan beberapa potong jejak hidupku.
Sore setelah pemakaman, ketika duka masih setengah kubendung, aku mengajak istriku berjalan. Kaki kami membawa kami kembali ke tepian sungai itu. Angin sore mengusap pelan, airnya tetap mengalir, seolah tak peduli pada zaman atau wabah.
Di situ, aku menceritakan kepadanya semua kisahku: tentang Wisata Malam, tentang reli semut, tentang masa SMA yang penuh langkah-langkah ragu tapi penuh harapan.
Sungai Prepil menjadi saksi lagi—kali ini bukan masa remaja, melainkan masa ketika aku belajar menerima kehilangan.
Kini ketika kukenang kembali, Sungai Prepil bukan sekadar aliran buatan.
Ia adalah teman sunyi yang hadir di tiga masa hidupku:
masa remaja yang belajar menjadi penegak,
masa muda yang belajar menemukan suara sendiri,
dan masa dewasa yang belajar merelakan.
Sungai itu mungkin hanya air yang mengalir di antara dua wilayah, tetapi ia juga sepotong batas yang melintas dalam diriku: antara dulu dan kini, antara kehilangan dan keteguhan, antara luka dan ketabahan.
Di tepian Prepil, aku pernah menjadi banyak versi dari diriku sendiri.
Dan entah bagaimana, aku merasa sungai itu selalu bersedia mendengarkan—tanpa pernah sekalipun berhenti mengalir.
Depok, 29 November 2025
