Puisi - Tujuh Laut Cinta
Aku menyeberangi tujuh laut malam
dengan angin yang tak pernah mengenal nama-Mu.
Tak ada peta di tanganku,
tak ada alamat di langit,
hanya degup rindu
yang terus menunjuk kepada-Mu.
Aku berjalan mengikuti cahaya petunjuk-Mu
seperti ombak mengejar bulan,
meski tahu
ia tak pernah benar-benar sampai.
Di setiap pelabuhan
aku meninggalkan sepotong diriku sendiri—
sehelai doa,
setangkai kenangan,
dan air mata yang kusembunyikan
di balik senyum para perantau.
Wahai Pemilik hati yang gelisah,
aku datang tanpa membawa apa-apa
selain jiwa
yang lama haus akan rahmat-Mu.
Dari jendela malam
pernah kupanggil nama-Mu pelan-pelan,
namun angin hanya mengembalikannya
sebagai gema kesepian.
Maka aku turun dari menara gengsi,
menginjak jalan-jalan sunyi,
dan mencari tanda-tanda kebesaran-Mu
di antara lampu kota yang letih.
Aku telah meninggalkan
kebun masa kecilku,
rumah dengan aroma hujan,
serta tangan ibu
yang dulu selalu menahan langkahku.
Kini aku bersimpuh di hadapan-Mu—
lelah,
namun utuh oleh harap.
Jika Engkau berkenan,
jadikanlah aku seperti laut
yang tak lelah menuju pantai takdir-Mu.
Namun bila aku masih jauh dari rahmat-Mu,
biarkan aku tetap mengetuk
pintu ampunan-Mu
meski dari kejauhan.
Depok, 7 Juni 2026