Refleksi - Kami yang Berjuang Bersamamu Sampai Akhir
" Kami yang Berjuang Bersamamu Sampai Akhir "
Kalimat itu tertulis di sebuah spanduk panjang.
Di bawahnya berjajar ratusan foto wajah—lebih dari lima ratus karyawan—yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari denyut hidup sebuah perusahaan elektronik di Depok. Wajah-wajah yang tidak sekadar datang untuk bekerja, tetapi tumbuh bersama waktu.
Ada yang masuk ketika masih lajang, lalu menikah, membesarkan anak, bahkan kini telah menggendong cucu. Ada yang rambutnya dulu hitam legam, kini mulai memutih. Ada yang dulu datang dengan motor pinjaman, lalu perlahan mampu membeli rumah sederhana dari hasil kerja bertahun-tahun.
Lebih dari separuh umur kami dihabiskan di tempat itu.
Pabrik itu bukan sekadar bangunan berisi mesin dan target produksi. Ia adalah ruang tempat kami belajar bertahan hidup, belajar disiplin, belajar tentang persahabatan, dan tentang arti memperjuangkan keluarga.
Di sana kami pernah tertawa bersama saat target tercapai.
Pernah saling membantu ketika ada yang sakit atau terkena musibah.
Pernah berbagi makanan saat lembur malam.
Pernah diam-diam menangis karena tekanan hidup, tetapi tetap masuk kerja keesokan harinya karena anak di rumah harus tetap makan dan sekolah.
Hari ini semuanya harus berakhir.
Kesedihan tentu ada. Sangat ada.
Karena yang pergi bukan hanya pekerjaan, tetapi juga rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidup kami selama puluhan tahun. Kami kehilangan suara mesin yang setiap hari kami dengar, kehilangan sapaan teman kerja di pagi hari, kehilangan kebiasaan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini terasa begitu berharga.
Namun di balik kesedihan itu, ada sesuatu yang tidak ikut berakhir: kenangan dan perjuangan kami bersama.
Perusahaan mungkin tutup.
Seragam mungkin tak lagi dipakai.
Kartu identitas mungkin dikembalikan.
Tetapi pengabdian puluhan tahun itu tidak pernah sia-sia.
Kami telah memberikan bagian terbaik dari hidup kami di sana. Dan tempat itu pun telah menjadi saksi perjalanan hidup kami—tentang muda yang perlahan menua, tentang harapan yang jatuh bangun, tentang keluarga yang bertahan karena kerja keras yang sederhana namun jujur.
Hari ini kami pulang dengan hati yang berat.
Tetapi kami juga pulang dengan kepala tegak. Karena kami tahu, kami telah berjuang sampai akhir.
Dan mungkin, bertahun-tahun nanti, ketika kami melihat kembali foto di spanduk panjang itu, kami akan berkata dalam hati:
"Di situlah pernah ada bagian penting dari hidup kami."
Depok, 23 Mei 2026
