Esai Reflektif - Sungai Kemiri dan Aliran Waktu
Sungai Kemiri mengalir dari selatan, dari wilayah Kecamatan Dukuhturi, lalu menyusuri batas-batas desa dan kota hingga akhirnya berlabuh di muara Pantai Utara Jawa. Di Kota Tegal, muaranya dikenal sebagai Muara Reja—kini menjadi objek wisata, tempat orang-orang datang untuk menikmati senja dan semilir angin laut. Namun bagiku, Sungai Kemiri bukan sekadar bentangan air yang mengalir menuju laut. Ia adalah aliran waktu, tempat kenangan-kenangan masa kecil dan remaja tertambat, meski tubuhku telah jauh melangkah.
Sungai itu hanya melintas sepotong kecil di desaku, tak lebih dari seratus meter. Pendek, seakan tak sempat meninggalkan jejak. Namun justru di situlah ia menjadi penting—karena tak selalu yang panjang itu yang paling membekas. Di desa sebelah, sungai ini dibendung untuk irigasi dan penanggulangan banjir. Orang-orang menyebutnya Pintu Seng, barangkali karena atap bendungannya terbuat dari seng. Nama itu sederhana, lahir dari keseharian, sebagaimana kenangan yang kemudian tumbuh di sekitarnya.
Di sanalah masa kecilku berlarian. Saat kelas empat atau lima SD, aku dan teman-teman sering datang ke Pintu Seng untuk mandi dan berenang di anak aliran sungai. suasananya ramai oleh tawa anak-anak, oleh teriakan yang tak mengenal takut atau lelah. Kami berenang bukan untuk menjadi ahli, melainkan untuk merayakan kebebasan. Sungai adalah ruang bermain yang luas, guru yang diam, dan saksi bisu masa kanak-kanak kami.
Tak hanya mandi, kami juga memancing di aliran sungai di bawah Pintu Seng. Aku masih ingat salah satu teman SD yang pernah memancing bersamaku—kini ia menjadi pengusaha warteg yang sangat terkenal. Entah ia masih menyimpan ingatan yang sama atau tidak. Barangkali baginya sungai itu telah larut bersama kesibukan hidup. Tapi bagiku, kenangan itu tetap tinggal, seperti kail yang tak pernah benar-benar ditarik dari dasar ingatan.
Yang paling membekas adalah perjalanan menyusuri Sungai Kemiri dengan sepeda, bersama seorang teman SD, sesaat setelah kami lulus. Kami bersepeda dari hulu kecil itu menuju muara, hingga tiba di pantai. Di sana kami bermain pasir pantai, mencari bubukur, membiarkan hari mengalir tanpa rencana. Seakan itu adalah ritual perpisahan yang tak kami ucapkan secara verbal. Kami bertemu di depan gerbang sekolah dan berangkat dari sana—aku dengan sepeda BMX, sementara jenis sepeda temanku kini tak lagi kuingat. Mungkin karena yang penting bukan sepedanya, melainkan kebersamaan dan keberanian kami meninggalkan satu fase hidup.
Sungai Kemiri juga menyimpan cerita kenekatan masa SMA. Saat itu aku terbiasa mengayuh sepeda sejauh dua belas kilometer pulang-pergi ke sekolah dari desa ke kota. Aku gemar berpetualang, mencari jalan-jalan baru yang belum pernah kulalui. Suatu siang, dalam perjalanan pulang sekolah, aku nekat menyusuri rel kereta hingga sampai ke sebuah jembatan di atas Sungai Kemiri. Aku menuntun sepeda sambil berpikir: jika kereta datang, aku tak akan sempat lari. Dalam benakku, solusi yang muncul begitu saja adalah melempar sepeda ke sungai dan bergelantungan di tiang jembatan. Untunglah, hingga aku tiba di seberang, tak ada kereta yang lewat. Kini, mengenang peristiwa itu, aku tersenyum getir—antara kagum pada keberanian masa muda dan sadar akan rapuhnya hidup.
Kenangan lain datang dari masa SMA pula, saat reli Pramuka di bulan Februari tahun 1991. Di gelap malam, dua sangga—putra dan putri—melintasi jembatan sungai di dekat muara. Setelah itu kami menyusuri tepian sungai, namun tidak tepat di bibirnya, melainkan sedikit menjauh, melewati sawah berlumpur. Malam itu sunyi, langkah-langkah kami berat, dan langit terasa rendah. Dari pengalaman itulah lahir cerpen “Sajak Sunyi di Bawah Langit Februari”. Sungai itu, sekali lagi, menjadi sumber inspirasi—bukan dengan suara, melainkan dengan diamnya.
Kini, di usiaku yang tak lagi muda, Sungai Kemiri masih mengalir. Airnya mungkin telah berubah, tepian-tepiannya mungkin telah disentuh pembangunan, dan anak-anak yang bermain di sana bukan lagi kami. Namun sungai itu tetap setia menjalankan tugasnya: mengalir, membawa sisa hujan, membawa waktu, membawa ingatan. Aku tak lagi mandi di Pintu Seng, tak lagi bersepeda menyusuri muara, dan tak lagi menantang bahaya di atas jembatan. Tapi setiap kali mengingat Sungai Kemiri, aku tahu—sebagian diriku masih tinggal di sana, mengalir bersama air yang tak pernah benar-benar berhenti.
Depok, 13 Januari 2026

