Memoar - Kepethuk di Jalan Kemurnian
Puisi itu lahir dari perjumpaan yang sederhana, nyaris sepele, tetapi berumur panjang dalam batin. Ia ditulis bukan sebagai pengakuan cinta, melainkan sebagai doa—doa yang kala itu hanya kusimpan, kutitipkan pada bahasa, dan kuserahkan pada waktu.
Aku menulisnya untuk seorang gadis yang baru beberapa bulan kukenal. Namanya Hapsi. Dalam puisi itu ia kusapa Nona—sebuah sebutan puitis yang tak pernah kupakai dalam keseharian. Sehari-hari aku memanggilnya dengan cara yang lebih biasa, lebih hangat, dan lebih jujur pada peran: De Hapsi.
Kami berjumpa di awal tahun 1993, pada masa ketika banjir melanda desa kami. Saat itu ia menyapaku ketika aku berangkat sekolah, mengayuh sepeda menerjang genangan yang meluap di depan rumahnya. Aku—entah karena kikuk, takut, atau terlalu menjaga jarak—tidak membalas sapaan itu. Sapaan tersebut pun hanyut bersama arus banjir, dan peristiwa kecil itulah yang kelak kucatat dalam cerpen “Sapaan yang Hanyut Terbawa Banjir.” Sejak saat itu, hubungan kami tumbuh dalam garis yang jelas dan terjaga: kakak dan adik.
Rentang tahun-tahun berikutnya menegaskan garis itu. Juli 1994, dalam cerpen “Jejak Non yang Mulai Dewasa,” aku hadir pada syukuran saat Hapsi diterima di SMK Negeri. Aku memberinya puisi—sekali lagi, bukan sebagai rayuan, melainkan sebagai restu seorang kakak yang ingin melihat adiknya bertumbuh. Agustus 1994, memoar “Tiga Hari yang Panjang” mencatat permintaan sederhana: jaket Fisika '93 yang ia minta untuk dipakai saat kemah. Permintaan kecil, tetapi sarat makna tanggung jawab.
Agustus 1995, perjalanan dari Blok M ke Depok menjelma menjadi puisi dalam cerpen “Perjalanan yang Menjadi Puisi.” Dan Agustus 1997, dalam memoar “Mencintai Tanpa Mengubah Peran,” aku membantunya menyusun makalah penataran P4 saat awal kuliahnya—sekali lagi, kerja sunyi yang menjaga batas, menegakkan peran, dan memuliakan niat.
Di semua catatan itu, tak ada romantisme yang dinyatakan. Kami sama-sama menjaga diri. Aku sebagai kakak yang menyayangi; Hapsi sebagai adik yang manja dan percaya. Namun pada diriku sendiri, sejak awal ada rasa yang tak pernah kuberi nama di hadapannya. Ia tumbuh diam-diam, matang pelan-pelan, dan kupelihara agar tak melanggar peran. Berbeda dengan Hapsi—hingga tahun 2000, ia belum menyadari rasa itu. Waktu yang berjalanlah yang kelak membuka mata dan hati.
Puisi itu ditulis pada bulan-bulan awal tahun 1993, di Sidakaton desa kelahiran kami. Aku menuliskannya dengan bahasa yang kupilih sengaja: bahasa perjumpaan (kepethuk), bahasa kemurnian, bahasa iman. Aku membayangkan pertemuan yang jujur—selepas dhuhur, sehabis shalat—di mana hak dipahami dan kewajiban dijaga. Aku menutupnya bukan dengan janji manusia, melainkan dengan harap yang kupasrahkan kepada Allah: kepethuk di dunia, insya Allah kepethuk di sana, di alam kekal, dalam syurga Allah, karena iman.
Bertahun-tahun kemudian, doa itu menemukan jalannya. Oktober 2001, tanpa gegap gempita, harap yang dulu hanya puisi akhirnya menjadi kenyataan: kami menikah.
Maka memoar ini bukan tentang cinta yang diumbar, melainkan tentang kesabaran yang dijaga, peran yang dimuliakan, dan doa yang dititipkan pada bahasa. Puisi itu adalah saksi: bahwa perjumpaan paling jujur sering kali lahir dari kesunyian, dan harapan yang paling kuat adalah yang berani menunggu.
Depok, 28 Januari 2026
