Postingan

Memoar - Kepethuk di Jalan Kemurnian

Gambar
Puisi itu lahir dari perjumpaan yang sederhana, nyaris sepele, tetapi berumur panjang dalam batin. Ia ditulis bukan sebagai pengakuan cinta, melainkan sebagai doa—doa yang kala itu hanya kusimpan, kutitipkan pada bahasa, dan kuserahkan pada waktu. Aku menulisnya untuk seorang gadis yang baru beberapa bulan kukenal. Namanya Hapsi. Dalam puisi itu ia kusapa  Nona —sebuah sebutan puitis yang tak pernah kupakai dalam keseharian. Sehari-hari aku memanggilnya dengan cara yang lebih biasa, lebih hangat, dan lebih jujur pada peran: De Hapsi. Kami berjumpa di awal tahun 1993, pada masa ketika banjir melanda desa kami. Saat itu ia menyapaku ketika aku berangkat sekolah, mengayuh sepeda menerjang genangan yang meluap di depan rumahnya. Aku—entah karena kikuk, takut, atau terlalu menjaga jarak—tidak membalas sapaan itu. Sapaan tersebut pun hanyut bersama arus banjir, dan peristiwa kecil itulah yang kelak kucatat dalam cerpen  “Sapaan yang Hanyut Terbawa Banjir.”  Sejak saat itu, hubu...

Memoar - Tiga Hari yang Panjang

Gambar
Sidakaton, 19 Agustus 1994 Aku membaca surat itu di beranda rumah, sore yang lambat, dengan angin desa membawa bau tanah basah dan sisa panas matahari. Kertasnya tipis, tulisannya berlarian—seperti Hapsi kalau sedang bicara, tidak pernah mau berhenti di satu kalimat. “Langsung aza yah … Mas.” Aku tersenyum kecil. Nada itu. Nada yang hanya ia pakai padaku. Seolah aku duduk tepat di depannya, bukan berjarak beberapa kilometer dari bumi perkemahan di pinggir waduk Cacaban. Namaku ia tulis berkali-kali. Terlalu sering, mungkin. Tapi justru di situlah aku merasa dipanggil, ditarik keluar dari liburanku yang sepi. Seakan ia takut aku pergi terlalu jauh bila tidak diikat oleh namaku sendiri. Ia meminta jaket. Bukan sekadar jaket, ternyata. Ia ingin jaket yang kupakai sebagai mahasiswa. Jaket yang—menurutnya—jaket UI, meski sebenarnya jaket angkatan Fisika '93. Jaket yang berat, tebal, dan hangat. Jaket yang sering kupakai malam-malam di puncak mengikuti rihlah, atau saat angin turun dari ...

Memoar - Mencintai Tanpa Mengubah Peran

Gambar
Agustus 1997. Malam itu Jakarta tidak benar-benar tidur. Ia hanya menurunkan suaranya—seperti orang dewasa yang lelah, tapi masih harus terjaga. Aku menunggu angkot D01 di Tanah Kusir dengan kepala penuh coretan tangan dan kalimat-kalimat yang baru saja kami rapikan. Makalah itu—tulisan tangan yang besok harus diketik dan dicetak—masih hangat di benakku, seperti bara kecil yang dijaga agar tidak padam. Aku pikir tidak ada bus ke Depok yang masuk akal untuk kutunggu. Jam sudah terlalu larut, dan besok pagi kami harus mencari rental komputer. Maka aku turun dari angkot dan langkah kakiku berbelok ke masjid di Pondok Pinang. Lampunya temaram, lantainya dingin, dan udara malam merayap ke tulang. Aku menempelkan punggung pada karpet. Di sudut-sudut, nyamuk bekerja tekun, seakan tahu siapa yang tak punya pilihan selain pasrah. Aku tidak mengeluh. Tidak ada satu pun pikiran yang meminta imbalan. Yang ada hanya satu kalimat sederhana berulang di dada:  biarlah aku di sini, asal lusa ia tid...

Cerpen - Perjalanan yang Menjadi Puisi

Gambar
Tanggal 29 Agustus 1995, Jakarta belum sepenuhnya terjaga.  Jalan-jalan dipenuhi wajah-wajah letih, klakson saling bersahutan tanpa irama, dan asap knalpot menggantung rendah, seperti pikiran yang enggan menjadi jernih. Aku berdiri di terminal Blok M dengan ransel lusuh di punggung, sisa debu perjalanan dari Tangerang masih melekat di sepatu—dan di ingatan. Libur kuliah telah selesai. Semester enam menungguku dengan tumpukan diktat, praktikum, dan kegelisahan yang tak pernah tertulis di KRS. Aku kembali ke Depok bukan hanya membawa buku-buku kuliah, tetapi juga sesuatu yang tak pernah berani kusebutkan pada siapa pun: perasaan yang terlalu dewasa untuk disebut cinta, tapi terlalu dalam untuk disebut sayang seorang kakak. Metro Mini 75 jurusan Pasar Minggu datang dengan bunyi mesin yang terbatuk-batuk. Aku naik, duduk di bangku dekat jendela. Angin panas menyapu wajah ketika pintu ditutup paksa oleh kernet yang berteriak lebih keras dari klakson. Jakarta bergerak pelan, seperti oran...

Cerpen Sains - Dalam Batas Ketidakpastian

Gambar
Depok, 1995.   Suara mesin Bus Kuning yang menderu dan bau khas kursi vinil menjadi rutinitas harianku sebagai mahasiswa tahun ketiga Fisika Universitas Indonesia. Kosanku di Kukusan, tepat di belakang kampus, adalah markas kecil di mana buku-buku teks tebal karya Halliday-Resnick berserakan dengan catatan rumus yang belum tuntas. Untuk menambah uang saku, aku menjadi guru les privat di sebuah lembaga bimbingan belajar ternama. Muridku tersebar dari Kembangan hingga Depok, namun rute favoritku adalah daerah Pondok Labu dan Lebak Bulus. Di sanalah aku bertemu Ariani—atau yang akrab kupanggil Ani. Ani adalah siswi kelas 3 SMA yang sedang berjuang menghadapi hantu bernama EBTANAS dan UMPTN. Rumahnya berada di sebuah perumahan asri di Lebak Bulus, tak jauh dari lokasi syuting  Si Doel Anak Sekolahan . Setiap kali aku melewatinya dengan angkot, aku sering membayangkan betapa sederhananya masalah hidup Si Doel dibandingkan kerumitan mekanika kuantum yang sedang kupelajari. Analogi d...

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi

Gambar
  Adikku..... Aku akhirnya mengerti: tidak semua yang tumbuh harus segera dipetik. Ada cinta yang tidak meminta disebut nama, karena ia tahu, begitu dinamai, ia akan menuntut hak— dan aku tidak ingin menuntut apa pun darimu. Aku melihatmu bertambah tinggi bukan hanya oleh waktu, tapi oleh luka-luka kecil yang kau simpan rapi. Dan aku tahu, tugasku bukan mengisi ruang kosongmu, melainkan memastikan ruang itu aman untuk kau isi sendiri. Sering kali aku ingin jujur— bukan padamu, tapi pada diriku sendiri. Mengakui bahwa ada getar yang tidak lagi bisa kusebut sayang biasa. Namun setiap kali getar itu muncul, aku bertanya: apakah kejujuran ini akan membebaskanmu, atau justru mengikatmu? Jika jawabannya mengikat, maka diam adalah bentuk kejujuran yang lebih tinggi. Aku belajar dari waktu. Bahwa ia tidak bisa dibujuk, tidak bisa dipercepat. Bahwa setiap fase punya hukum sendiri. Dan melompatinya—betapapun niatnya suci— adalah bentuk kekerasan yang paling halus. Aku tidak ingin menjadi lel...

Memoar Spiritual - Sapaan yang Menjadi Ziarah

Gambar
  Bagian I — Sapaan Pagi itu, awal tahun 1993, hujan turun tanpa bertanya. Ia mengguyur desa sejak malam, membuat tanah menghitam, parit-parit meluap, dan jalanan berubah menjadi alur air yang mengalir pelan namun pasti. Embun masih menggantung di ujung daun ketika aku mengayuh sepeda tuaku, menembus udara dingin yang menyisakan bau tanah basah. Langit pucat, seperti wajah seseorang yang belum sepenuhnya terjaga dari mimpi. Jarak ke sekolah di kota tidak pernah terasa ringan. Dua belas kilometer adalah ukuran yang cukup untuk membuat tubuh lelah, tetapi tidak pernah cukup untuk menghentikanku. Ada sesuatu dalam gerak mengayuh itu—ritme berulang yang membuat pikiranku melayang. Tentang masa depan yang samar, tentang hidup yang terasa harus segera dijalani meski belum sepenuhnya dipahami. Air menggenang di beberapa bagian jalan. Aku mengurangi kecepatan, menahan keseimbangan agar tidak tergelincir. Di antara deret rumah sederhana yang berdiri rapat di pinggir jalan, pandanganku tertu...

Cerpen - Fisika Tentang Kita yang Berbeda Lintasan

Gambar
  1 Tahun 1995. Aku mahasiswa Fisika Universitas Indonesia, tahun ketiga, tinggal di sebuah kamar kos sempit di Kukusan, tepat di belakang kampus. Jendela kamarku dari kaca nako menghadap halaman rumah ibu kos, dan setiap malam suara jangkrik bercampur dengan dengung kipas angin tua yang berputar tak seimbang—seperti pikiranku yang jarang benar-benar diam. Sebulan sekali, biasanya Jumat sore, aku pulang ke rumah orang tua di Pasar Kemis, Tangerang. Bukan karena rindu berlebihan, tapi karena ada semacam keharusan batin: pulang, mencium tangan ibu, mencengkrama dengan saudara dan keponakan. Rutenya selalu sama. Dari halte UI naik bus Miniarta ke Pasar Minggu. Lalu Metro Mini 75 ke Blok M. Di sana aku shalat Maghrib—kadang di masjid terminal, kadang di mushala kecil yang pengap. Setelah itu naik bus Patas PPD 45 jurusan Cimone, Tangerang. Dari Cimone, angkot 08 membawaku masuk lebih jauh ke Pasar Kemis, hingga akhirnya turun di Kampung Cilongok. Perjalanan panjang itu sudah seperti ri...

Esai Reflektif - Sungai Kemiri dan Aliran Waktu

Gambar
Sungai Kemiri mengalir dari selatan, dari wilayah Kecamatan Dukuhturi, lalu menyusuri batas-batas desa dan kota hingga akhirnya berlabuh di muara Pantai Utara Jawa. Di Kota Tegal, muaranya dikenal sebagai Muara Reja—kini menjadi objek wisata, tempat orang-orang datang untuk menikmati senja dan semilir angin laut. Namun bagiku, Sungai Kemiri bukan sekadar bentangan air yang mengalir menuju laut. Ia adalah aliran waktu, tempat kenangan-kenangan masa kecil dan remaja tertambat, meski tubuhku telah jauh melangkah. Sungai itu hanya melintas sepotong kecil di desaku, tak lebih dari seratus meter. Pendek, seakan tak sempat meninggalkan jejak. Namun justru di situlah ia menjadi penting—karena tak selalu yang panjang itu yang paling membekas. Di desa sebelah, sungai ini dibendung untuk irigasi dan penanggulangan banjir. Orang-orang menyebutnya  Pintu Seng , barangkali karena atap bendungannya terbuat dari seng. Nama itu sederhana, lahir dari keseharian, sebagaimana kenangan yang kemudian tu...

Cerpen - Tiang yang Menahan Langit

Gambar
Ini bukan cerita tentang ibuku.  Namun sekitar tahun 90-an, beliau pernah berjualan nasi bungkus setiap pagi—memasaknya sendiri dan menjajakannya di depan sebuah pabrik di daerah Pasar Kemis, Tangerang—demi menambah uang saku kuliahku. Kini beliau telah tiada, tetapi jiwanya tetap hidup di dalam hatiku. Barangkali karena itulah, setiap kali aku melihat seorang perempuan tua menggelar nasi bungkus di pinggir jalan, ingatanku selalu tertarik ke satu titik yang sama: ke tangan-tangan sederhana yang bekerja bukan untuk menumpuk, melainkan untuk menopang. Dari sanalah kisah ini bermula. Setiap subuh, ketika langit masih memeluk warna abu-abu pucat dan burung-burung belum sempat berembuk tentang arah terbangnya, wanita tua itu sudah duduk di pinggir jalan. Tubuhnya gemuk, tidak tinggi, dengan pipi bulat yang selalu menyisakan senyum jenaka, seolah hidup—betapapun keras—tak pernah benar-benar sanggup mengalahkannya. Ia menggelar tikar plastik yang lusuh, lalu menyusun nasi bungkus satu pe...

✨ Tentang Penulis ✨

Setiap cerita lahir dari harapan, doa, dan cinta yang tersembunyi.
Siapakah sosok di balik kisah-kisah ini? Temukan jawabannya...

CERPEN KARYA ANAFIS '93

Sebuah memoar tentang tiga hari yang tampak sepele menjadi awal sebuah perjalanan batin, ketika permintaan jaket dari seseorang yang dianggap adik perlahan berubah menjadi panggilan hidup yang kelak menyatukan dua hati dalam satu rumah.

Seorang yang membungkus cintanya dalam hubungan kakak-adik, memilih bermalam di lantai dingin masjid agar sang adik melangkah tanpa gugup ke masa depan, dan belajar mencintai dengan setia pada batas.

Seorang mahasiswa dalam perjalanan Blok M–Depok pada 29 Agustus 1995 merekam pergulatan batinnya saat menyadari cintanya yang dibungkus peran kakak—cinta yang memilih menahan diri, hadir tanpa memiliki, demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

Seorang mahasiswa fisika pada tahun 1995 merefleksikan hubungannya dengan murid lesnya, ketika Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menjadi metafora tentang batas pengetahuan, jarak etis, dan keberanian yang tak pernah ia ambil untuk mengukur kedekatan hati.

Sajak - Cinta yang Paling Sunyi : Pengakuan batin seorang lelaki yang menyamarkan cintanya dalam “bungkus” hubungan kakak–adik, memilih diam dan menunda hasrat demi menjaga kebebasan, pertumbuhan, dan keutuhan perempuan yang dicintainya sebagai wujud cinta paling sunyi dan bertanggung jawab.

Berangkat dari sapaan kecil di pagi banjir hingga ziarah bersama di Tanah Suci, memoar spiritual ini menuturkan perjalanan cinta yang dijaga dengan kesabaran, dimurnikan oleh jarak dan waktu, lalu diserahkan sepenuhnya sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Seorang mahasiswa Fisika-anak kos yang tiap bulan pulang ke rumah pada tahun 1995 mengalami perjumpaan singkat namun membekas dengan seorang siswi SMA di perjalanan bus dan angkot Jakarta–Tangerang, sebuah singgah yang tak pernah menjadi tujuan, tetapi menetap sebagai ingatan paling sunyi dalam hidupnya.

Berangkat dari kenangan sunyi tentang ibunya, cerpen ini menuturkan kisah seorang perempuan tua penjual nasi bungkus yang dengan kerja sederhana namun penuh makna menjadi tiang tak terlihat yang menopang kesejahteraan orang-orang kecil dan menjaga langit kemanusiaan agar tidak runtuh.

Di Osaka, seorang trainee Indonesia bernama Wiyaga menunggu kereta sambil mengenang pertemuannya dengan Muliasari di masa lalu, hingga dari peron negeri asing itu lahir sebuah puisi dan surat tentang penantian yang tak pernah selesai.

Dalam Kenangan ’93: Jejak Cahaya Jelita, seorang fotografer bernama Rangga kembali menelusuri masa lalunya saat reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Jelita — cinta pertamanya yang hilang dua puluh tahun lalu — untuk menyadari bahwa beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang dengan damai.

Kabut di Kota Tanpa Peta adalah cerita tentang cinta yang tertunda, mimpi yang nyaris gagal, dan realitas pahit kehidupan perantauan, sekaligus potret getir anak muda yang tersesat di antara harapan dan kenyataan, menunggu secercah cahaya untuk menemukan jalan pulang.

Seorang pengusaha sukses di Osaka yang membangun hidupnya dari dendam setelah ditinggal kekasihnya akhirnya menemukan di pemakaman bahwa perpisahan itu adalah pengorbanan diam-diam sang kekasih yang sekarat, dan seribu origami bangau menjadi saksi cinta yang baru dipahami ketika semuanya telah terlambat.

Kali Sewo adalah legenda kelam tentang dua anak yang tumbuh di tengah kemiskinan dan pengkhianatan darah, ketika dosa orang tua menjelma sungai yang menagih penebusan, hingga seorang anak memilih menjadi penjaga agar kutukan itu tak terus diwariskan.

Seorang sopir bajaj dan seorang gadis yang terluka dipertemukan berulang kali di depan gang yang sama, hingga dari tamparan, iba, dan keberanian, lahir sebuah rasa yang mungkin hanya menjadi cinta yang singgah—atau awal pulang bagi hati yang lelah.

Seorang pria terperangkap dalam kejayaan sebelas tahun silam, merawat potret kemenangannya seperti hidup yang tak mau bergerak, hingga kenyataan menyadarkannya bahwa yang ia jaga kini bukan cahaya, melainkan lumut waktu.

Seorang pemuda pengangguran bernama Sarwono mengejar cinta Kasri dengan segala cara kocak dan nekat, hingga akhirnya ia sadar bahwa hanya perubahan diri dan kerja keraslah yang bisa membuat cintanya dilirik.

Dalam perkemahan pramuka tahun 1990 di kaki Gunung Slamet, kebencian kecil Sari kepada Kudin berubah menjadi kedekatan ketika badai menyesatkan mereka di hutan pinus dan keberanian Kudin menjadi penyelamat bagi keduanya.

Kisah tentang dua jiwa yang mencinta melampaui waktu — ketika cinta tak lagi berwujud pertemuan, melainkan napas yang hidup dalam puisi.

Kisah seorang gadis desa pada era 80-an yang jatuh cinta pada pemuda sederhana, terhalang restu keluarga, lalu bersumpah setia dalam sunyi untuk menjaga cinta pertamanya hingga menua, menjadikan janji itu sebagai bukti abadi bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki, melainkan tentang kesetiaan jiwa.

Sebuah kisah nostalgia tentang latihan pramuka tahun 1989 yang berubah menjadi pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, kesabaran, dan kebersamaan

Kisah tentang Rani dan Hanif, dua jiwa yang saling mencintai namun terikat oleh sebutan adik tersayang—cinta yang tumbuh dari surat-surat sederhana, terhalang kata, namun akhirnya abadi karena keduanya belajar bahwa kasih sejati tak selalu perlu nama untuk hidup selamanya.

Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di antara kebohongan dan kejujuran, antara dua wajah yang sama, dan seorang perempuan yang memilih kehilangan demi menjaga kemurnian cinta itu sendiri.

Seorang dosen Fisika menemukan makna cinta melalui mahasiswinya, saat hukum gravitasi berubah menjadi metafora tentang rasa yang saling menarik namun tak bisa dimiliki. Cinta di antara mereka tidak pernah terucap, hanya hadir dalam bentuk pengertian, penghormatan, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perjalanannya sebagai gadis sederhana yang jatuh cinta pada rekan kerja barunya, Adipta harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa debar yang ia simpan tak pernah berbalas, hingga akhirnya ia menemukan bahwa cinta sejati bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang kerelaan untuk mencintai dalam diam dan merelakannya lewat doa.

Cerita ini mengisahkan cinta tragis antara Baridin, pemuda miskin Jagapura Lor Kabupaten Cirebon, dan Suratminah, putri juragan kaya, yang berakhir nestapa oleh jurang derajat, hinaan, dan takdir.

Cerpen Remaja ini mengisahkan tentang cinta pertama yang lahir di bawah nyala api unggun, terjaga dalam diam, dan abadi dalam kenangan.

Cerpen ini menyiratkan perjalanan tobat dan kesadaran spiritual yang dalam, serta pencarian akan rekonsiliasi dengan diri sendiri — sebagai langkah awal untuk menata hidup yang lebih baik.

Kisah tragis tentang Dirman dan Surti, dua sejoli yang cintanya kandas oleh kepercayaan weton hingga berakhir di dua pusara berdampingan, menjadi pelajaran bahwa hidup dan mati hanyalah di tangan Allah, bukan ramalan.

Di balik senyum dan jilbabnya yang teduh, Anggraeni menyembunyikan cinta sunyi pada dosennya—cinta yang tak pernah berani ia ucapkan, hanya bisa ia rawat dalam doa dan diam, tumbuh sebagai rahasia manis sekaligus luka halus yang terus ia tanggung sendirian

Kasih dalam Sebutan Adik adalah kisah epistolari tentang hubungan yang bermula dari panggilan kakak-adik antara Ati dan Azis, namun perlahan berkembang menjadi cinta yang indah sekaligus rumit, terjalin lewat surat, kerinduan, dan pertanyaan tentang batas kasih sayang.

Kisah ini mengurai pertemuan seorang trainee Indonesia dan Haruka di Osaka, yang masih dibayangi hubungan pahitnya dengan Tio—seorang trainee lain dari Indonesia yang pernah ia cintai—hingga lewat surat-surat dan kenangan masa lalu mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kadang harus melewati luka dan perpisahan sebelum berlabuh pada pintu maaf.

Melepasmu Dua Kali adalah kisah tentang dua sahabat SMA yang pernah berbagi kenangan indah bersama, lalu dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun dalam reuni, namun akhirnya harus berani mencintai tanpa memiliki dan ikhlas melepas demi kebaikan.

Sahabat Terbaik mengisahkan dua sahabat kecil yang dipertemukan kembali oleh surat yang salah paham, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak pernah terucap, dan akhirnya hanya bisa disimpan sebagai doa, kenangan, serta pengakuan tulus dalam diam.

Kisah ini menuturkan pertemuan tak terduga antara Hiro dan Michiyo yang tumbuh menjadi persahabatan hangat, lalu cinta yang akhirnya diakui namun harus dilepaskan, meninggalkan jejak indah tentang pertemuan, perpisahan, dan keikhlasan melepaskan.

Kisah ini mengurai perjalanan seorang kakak yang berpegang pada wasiat ibunya untuk menjaga adiknya, hingga di tengah perjuangan hidup dan pertemuan dengan cinta yang tak bisa dimiliki, ia belajar bahwa pengorbanan, tanggung jawab, dan kasih tanpa pamrih justru meninggalkan jejak paling dalam.

Pada reli Pramuka hujan Februari 1991, seorang remaja menemukan kehangatan tak bernama cinta dengan seorang siswi, yang kelak ia pahami sebagai pelajaran jiwa bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, cukup dikenang sebagai doa sunyi di dalam hati.

'Haji Bersama Kekasih : Perjalanan Iman dan Cinta di Tanah Suci' adalah catatan perjalanan ibadah haji tahun 2024 yang ditulis dengan gaya romansa

Kisah ini menceritakan pertemuan sederhana seorang siswa SMA dengan adik temannya bernama Hapsi, yang berawal dari sapaan kecil di pagi banjir dan tumbuh menjadi ikatan manis kakak-adik penuh rahasia serta kehangatan yang tak pernah mereka sebut cinta.

Kisah ini menggambarkan hubungan samar antara seorang lelaki misterius dan Non, gadis kecil yang tumbuh dengan puisi-puisinya, di mana setiap kehadiran dan sepucuk amplop berisi kata-kata menjadi tanda kasih sayang tersembunyi yang menuntunnya menuju kedewasaan.

Kakak Berjilbab mengisahkan seorang mahasiswa baru Fisika UI pada tahun 1993 mengalami dua perjumpaan singkat namun membekas dengan kakak senior berjilbab, meninggalkan kenangan manis yang tak pernah terlupa meski namanya tak pernah benar-benar diingat.

Seorang kenshusei Indonesia di Yokohama tahun 1999 menemukan hiburan sekaligus “takdir aneh” lewat kaset-kaset Tan Sri P. Ramlee yang selalu muncul di momen tak terduga, hingga membuat sahabat sebelah kamarnya yakin dunia ini diam-diam diatur oleh Ramlee.

Sebuah kisah tentang suami-istri yang, di tengah lautan jamaah haji di Makkah, menemukan makna cinta terdalam melalui thawaf, sa’i, dan potongan rambut kecil yang menjelma menjadi janji suci pengabdian bersama menuju Allah.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan keteduhan di balik senyum resepsionis bernama Nagabayashi, yang dengan sapaan sederhana, surat-surat dari tanah air, dan satu foto perpisahan, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan di tengah hari-hari keras perantauan.

Seorang dosen yang terbiasa dengan rutinitas Sabtunya di kampus dan warung Padang tiba-tiba mengalami pertemuan singkat dengan seorang mahasiswi kampus sebelah yang meninggalkan senyum hangat—dan sepiring ayam bakar tak terbayar—membuatnya bertanya apakah itu sekadar kebetulan atau isyarat kecil dari semesta.

Di tengah panas lembab musim panas Osaka 1999, seorang trainee menemukan seberkas kebahagiaan sederhana dari sapaan kasir kantin yang setiap hari menyebut “nana juu en desu”, hingga julukan “Mba Nana” pun lahir dan menjadi kenangan manis yang tak ternilai.

Keyakinan sederhana seorang istri yang menggenggam uang lima ribu rupiah di tahun 2008 menjadi awal perjalanan suci pasangan ini hingga akhirnya Allah mengundang mereka ke Baitullah.

Menjadi sekretaris RW bukan hanya soal tanda tangan dan arsip, tapi juga membuka pintu pada kisah-kisah tak kasat mata—seperti pertemuan istriku dengan sosok anak kecil yang seharusnya sudah tiada.

Sekelompok siswa SMAN 1 Tegal pada tahun 1991 membuktikan bahwa gamelan dan band bisa berpadu harmonis di panggung lomba musik Semarang, meninggalkan kenangan tak terlupakan tentang mimpi yang pernah hidup dengan gemuruh sorak penonton.

A man who secretly replaces someone else in a woman’s heart struggles between truth and silence, torn by the borrowed love that warms him even though he knows the light was never meant for him.

Perjalanan haji yang penuh haru dimulai dengan pelepasan sederhana di rumah dan kampus UIII, ketika doa, tangis, dan pelukan terakhir dari anak tercinta menjadi bekal hati menuju tanah suci.

Seorang pemuda yang terjebak hujan tanpa sengaja dipertemukan dengan keponakan yang lama hilang, lalu menguak kisah kelam keluarganya hingga membawanya pada janji untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seorang kakak yang sibuk kerja akhirnya memilih menulis cerpen penuh nasehat sebagai hadiah ulang tahun sederhana namun bermakna untuk sahabatnya, setelah melalui kehebohan bersama adiknya yang usil namun penuh perhatian.

Kisah Kisdanu dan Hapsari adalah perjalanan panjang dua sejoli dari desa, yang berawal dari hubungan kakak-adik penuh kasih sayang hingga akhirnya menemukan cinta sejati dan dipersatukan dalam pernikahan, setelah melewati ujian jarak, keraguan, dan kesetiaan.

Seorang trainee Indonesia di Osaka menemukan kehangatan tak terduga ketika lensa kameranya menjadi jembatan sederhana antara dirinya dan tawa siswi SMP di seberang gedung, menghadirkan sejenak pertemuan dua dunia yang berbeda.

Buku kumpulan cerpen ini menghadirkan delapan kisah yang merentang dari cinta masa remaja, persahabatan, pengorbanan, hingga perenungan spiritual. Masing-masing cerita bukan sekadar fiksi, tetapi berangkat dari pengalaman batin yang diolah menjadi narasi penuh makna